*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Rabu, 24 September 2008

Semua terjadi karena suatu alasan

Dari riwayat Bukhari, bahwa Saad bin Abi Waqqash berkata ,” Aku pernah berkata, ”Wahai Rasulullah. Siapakah orang yang paling berat cobaanya ?”
Beliau menjawab ,” Para Nabi, kemudian orang-orang shalih , kemudian yang sesudah mereka secara berturut-turut menurut tingkat keshalihannya. Seseorang akan diberi ujian sesuai kadar agamanya. Bila ia kuat, akan ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan dimuka bumi ini tanpa dosa sedikitpun ”.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita selanjutnya . Barangkali kita berpikir bahwa kehidupan belum (tidak) berpihak kepada kita. Atau mungkin anda merasa gagal. Ataupun kita merasakan bahwa sekarang ini kita merasa terlalu berat akan cobaan hidup yang kita hadapi. Namun kita haruslah selalu ingat bahwa “Semua terjadi karena suatu alasan”.

Firman Allah yang artinya ,” Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanhya : “Bilakah datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat “. (Qs Al-Baqarah : 214).

Seorang ulama berkata , “Orang yang ditakdirkan untuk masuk syurga, pasti akan merasakan banyak kesulitan”.

Kita bisa menyatakan bahwa kita terlalu keberatan dan tidak suka dengan situasi yang kita hadapi saat ini. Namun kita juga harus terus berupaya untuk berpikir bahwa segala situasi yang kita hadapi ini pasti ada sesuatu yang tersembunyi dan tidak kita ketahui . Dan kita yakin bahwa masalah yang kita hadapi saat ini , tentu tidak datang begitu saja tanpa ada sebuah alasan.

Firman Allah yang artinya, “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ,”Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. “ (Qs Al-Baqarah : 155- 157).

Yang kita perlukan dalam kondisi ini adalah kesabaran. Dari riwayat Bukhari – Muslim bahwa Rasulullah bersabda ,”Pasti akan diterima doa salah satu dari kamu selama tidak keburu, hingga berkata ; “Saya telah berdoa tetapi tidak diterima”.

Sebagimana dikatakan Benyamin Franklin bahwa orang yang memiliki kesabaran juga akan memiliki apa yang dikehendakinya.

Janganlah kita katakan, “Kenapa ,musibah ini menimpaku dan bukan menimpa orang lain “. Jangnalah kita kitakan ,” Tuhan , aku (merasa) sudah menjadi orang baik, dan taat kepada-Mu, tetapi kenapa Engkau timbakan kepadaku penderitaan ini”.
Perkataan-perkataan ini adalah perkataan orang yang tidak beriman. Sosok muslim yang benar adalah sosok yang mampu menanggung musibah-musibah yang dialami-nya dengan hati yang teguh, keyakinan yang mendalam dan kesabaran yang baik. Oleh karena itu, janganlah kita kuatir dan mengatakan sesuatu yang menjadikan Allah SWT marah.

Firman Allah yang artinya ,” Sesungguhnya aku membalas mereka pada hari ini dengan sebab kesabaran mereka. Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan “. (Qs Al-mukminun : 111).

Dari riwayat HR Muslim, bahwa Rasulullah bersabda, “ Alangkah mengagumkan keadaan orang mukmin karena semua urusan itu baik baginya. Bila ia ditimpa kebahagiaan, ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya. Bila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan pula baginya.”.

Tidak selamanya kesulitan itu adalah sesuatu yang harus dibenci. Terkadang kesulitan bisa menimbulkan efek positif. Jangan menyesali penderitaan dan jangan kuatirkan kesengsaraaan, penderitaan itu justru akan memberikan kekuatan pada anda untuk mencapai kebahgiaan Bersabarlah, karena pasti banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Dalam Rahasia ketajaman hati terjemahan dari Mukasyafatul Qulub (Imam Ghazali), dinyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “ Barang siapa ridho kepada Allah dengan sedikitnya rizki, maka Dia ridho dengan sedikti amalnya hamba itu”.
Dan Sabda Rasuluulah ,” Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan menguji dengan bencana, bila sabar maka Allah akan memilihnya...”.

Sumber bacaan : Adil Fathi Abdullah - Isyriin Nasiihah lit-Takhllush min al-Qalaq , Hendra Setiawan- Agar selau ditolong Allah. dst



The secret of Subuh

Shalat subuh berjamaah di masjid ,bisa jadi merupakan ibadah terasa berat untuk dilakukan dengan istiqomah. Mungkin kebiasaan tidur larut kita harus diubah . Rutinitas kehidupan kita berupa siklus kantuk, tidur, bangun, dan beraktivitas merupakan karunia nikmat Allah SWT.
Firman Allah yang artinya ''Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. '' (QS An-Naba' [78]: 9).
Adzan untuk panggilan sholat Subuh ada tambahan ucapan ashsholatu khoirumminan naum sebanyak dua kali yang mengingatkan kepada kita bahwa shalat lebih baik daripada tidur.
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, bahwa pada saat sepertiga malam terakhir bagi siapa :
- yang bermunajat kepada-Nya akan dipenuhi;
- yang memohon ampun akan diampuni,
- yang berdoa akan dikabulkan.

Saudaraku, marilah kita mulai atau istiqomah untuk melakukan qiyamul lail, shalat tahajud. Allah SWT menjanjikan kedudukan yang terpuji bagi mereka yang mendirikan sholat tahajud (QS Al-Israa' [17]: 79).

Rasulullah SAW mengajarkan doa bangun tidur:''Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami akan kembali. '' (HR Bukhari).

Jika sudah terbiasa bisa bangun di akhir malam, akan mudah dan ringan untuk dilaksanakan. Dengan tidur malam di awal waktu dan makan malam secukupnya saja. Di samping itu, menjelang tidur malam kita niatkan akan mendirikan shalat tahajud semata-mata mencari keridhoan-Nya.
Tidak lupa berdo’a sebelum tidur yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW: ''Dengan menyebut nama-Mu wahai Allah, aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu aku mati. '' (HR Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah SAW , “ Berikanlah kabar gembira bahwa barangsiapa yang sering berjalan dalam kegelapan menuju masjid akan mendapatkan cahaya yang sangat terang di hari kiamat “ (HR Abu Dawud, Tirmidzi & Ibnu Majah).

Banyak sekali keutamaan sholat subuh. Mulai dari segi pahalanya sampai dari segi kesehatan atau lainnya ;

  1. Utsman bin Affan r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang shalat Isya berjamaah maka seakan-akan ia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat subuh berjamaah (atau dengan shalat Isya - seperti yang terttera dalam hadits Abu Dawud, dan at-Tirmidzi), maka seakan-akan ia telah melaksanakan shalat satu malam penuh.” (HR. Muslim)
  2. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Kalau sekiranya manusia mengetahui apa yang tersembunyi dalam azan dan shaf pertama, maka mereka tidak akan mendapatkan bagian kecuali dengan jalan diundi di dalamnya, niscaya mereka akan ikut serta dalam undian (banyaknya yang berbondong-bondong guna mendapatkan shaf pertama). Dan jika mereka mengetahui apa yang didapatkan dalam awal kedatangah (shalat jamaah), niscaya akan berlomba-llomba. Dan, jika mereka mengetahui apa yang tersimpan di dalam shalat Subuh dan Isya, maka mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak.” (HR. Bukhari)
  3. Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Dua rekaat Fajar (shalat sunnah sebelum Subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).
  4. Ammarah bin Ruwaihah r.a. meriwayatkan bah Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya matahari.” (HR. Muslim)

Sungguh tak terbayangkan keutamaannya. Sayang sekali , andai kita melalaikan hal ini.

Waktu Subuh hingga matahari terbit adalah waktu yang penuh barokah yang seharusnya kita manfaatkan dengan optimal.

Rasulullah SAW memberikan contoh dengan tidak pernah tidur lagi usai mendirikan sholat Subuh di masjid. Berdzikir, tilawah dan tadabbur Al-Qur’an adalah amalan yang bisa dilakukan ba’da sholat Subuh hingga terbit matahari. Banyak dzikir ma’tsurat diajarkan oleh beliau yang bisa diamalkan.

Jika sholat Subuh kita lakukan di masjid secara rutin dan setelahnya tidak tidur, dengan diikuti dengan amalan di atas hingga matahari terbit, akan banyak keberkahan yang didapatkan. Setelah matahari sepenggalah naik, bisa dilanjutkan dengan sholat dhuha. Semuanya merupakan bekal ruhiyah yang akan memberikan spirit dalam melakukan kegiatan sehari-hari untuk meraih ridho Allah SWT.

Ujian berat
Allah swt. Berfirman dalam kitab-Nya: Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: " Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar. Dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS.Al-Ankabut [29]: 1-3).

Dsari riwayat Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. Bersabda: " Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya' Dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Di balik pelaksanaan dua rakaat di ambang fajar ini, tersimpan rahasia yang menakjubkan.

Pernah suatu hari, pasukan muslim terlambat shalat Subuh ketika berupaya dalam dalam penaklulkan benteng Tastar. 'Kejadian' ini membuat seorang sahabat, Anas bin Malik selalu menangis bila mengingatnya. Untuk apa arti sebuah kemenangan besar penaklukan musuh , bila harus terlambat shalat subuh.
Yang menarik, ternyata Subuh juga menjadi waktu peralihan dari era jahiliyah menuju era tauhid. Kaum 'Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka lainnya, di-azab Allah swt. pada waktu Subuh.

Subhanallah! Allah swt, jangan sampai kita melewatkan moment yang mulia ini. Allah swt akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga salat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam. Tidak akan masuk neraka, orang yang shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari.

Salat Subuh merupakan hadiah besar dari Allah swt.,yang tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertaubat.
Semoga kita selalu diberi hidayah Allah untuk istiqomah shalat Subuh berjamaah di .

sumber : Sigit Indriyono, dikutip dari buku: Misteri Salat SubuhDr. Raghib As-Sirjani. Penerbit Aqwam Jembatan Ilmu. Solo.



Selasa, 23 September 2008

nama-nama lain Sabar

Kebanyakan akhlak keimanan itu termasuk dalam kategori sabar. Karena itu, pada suatu ketika Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam ditanya tentang iman. Beliau menjawab”Iman adalah sabar”. Karena sebagian terbesar dari amalan-amalan iman dan yang paling bernilai adalah sabar. Sebagaimana sabda Beliau “ Haji adalah Arafah”.
Firman Allah Ta’ala yang artinya, “ Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas “, (Qs Azzumar : 10).
Sabar adalah ridha menerima ketetepan Allah. Yaitu orang yang ridha adalah tidak mengharapkan yang melebihi kedudukannya.
Nabi Daud as pernah berkata kepada Sulaiman as,” Ketakwaan seorang mukmin bisa dilihat dari tiga indikasi , (1) bagus tawakalnya menyangkut apa yang belum diperolehnya , (2) bagus ridhanya terhadap apa yang sudah diterimanya, (3) dan bagus sabarnya terhadap apa yang luput darinya”.

Sabar itu ada dua jenis,

  • a. menyangkut badan, misalnya menahan berbagai kesulitan yang menimpa badan. Ini bisa merupakan tindakan, seperti melakukan pekerjan-pekerjaan berat, baik yang merupakan ibadat maupun diluar ibadat. Bisa juga berupa ketahanan, seperti sabar menghadapi pukulan yang berat, sakit, atau luka-luka. Sabar bisa menjadikan sesuatu amalan yang terpuji jika ia selaras dengan ajaran syariat.
  • b. Ada juga sabar jenis lain, yang bisa terpuji secara sempurna, yaitu sabar psikis terhadap keinginan-keinginan tabiat dan tuntutan hawa nafsu.

Dalam sabar kondisi ini , disebut sebagai :

  1. Iffah, bila dilakukan dalam menghadapi nafsu perut dan kemaluan.
  2. Sabar , bila dia dilakukan terhadap musibah. Kebalikannya adalah jaza’ atau hala’ yaitu sikap berkeluh kesah terhadap sesuatu yang dirasakan kurang menyenangkan baginya.
  3. dhabtun nafsi , atau pengendalian diri, yang merupakan ketahanan terhadap harta kekayaan. Kebalikannya disebtu sebagai bathar atau bersikap congkak.
  4. Jika sabar itu berkaitan dengan pertempuran , maka ia disebut syaj’ah (berani), kebalikannya adalah jabn (pengecut).
  5. Hilm atau penyantun, jika sabar itu berkait dengan meredam kemarahan atau emosi. Kebalikannya adalah Tadzammur (suka menggerutu).
  6. Sa’atush shadri (lapang dada), jika sabar itu terkait dengan waktu yang menjemukan, kebalikannya adalah adh dhajru (bosan), Tabarrum (jemu), dhiqush shadri (sempit dada).
  7. Kitmanus sirri (menyimpan rahasia), jika sabar itu berkaitan dengan penyembunyian perkataan , sedangkan pelakuknya disebut sebagai Kartum (orang yang pandai menyimpan rahasia).
  8. Zuhud , jika sabar itu dikaitkan dengan kehidupan yang berkelebihan). Kebalikannya adalah Hirsh (tamak akan dunia).
  9. Qana’ah atau nrimo , jika sabar dalam menerima bagian yang sedikit, kebalikannya adalah syarah (rakus).

Seluruh klasifikasi ini , terhimpun oleh Allah SWT menjadi satu yang disebut-Nya dengan nama sabar. Firman Allah SWT yang artinya ,” Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan (yaitu dalam musibah), penderitaan (yaitu kemiskinan) dan dalam pertempuran. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) ; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa “. (Qs. Al-Baqarah : 177).

Sebenarnya inilah pembagian sabar menurut perbedaan apa yang terkait dengannya. Orang yang mengambil makna dari nama-nama akan menyangka bahwa kondisi-kondisi diatas, hakikat dan substansinya berbeda, karena ia melihat perbedaan nama-namanya.

Akan tetapi , orang yang menempuh jalan lurus dan memandang dengan cahaya Allah, akan menemukan makna-makna lebih dahulu, memahami hakikat-hakikatnya, kemudian baru memperhatikan nama-nama, karena nama-nama itu dibuat untuk menunjukkan makna-makna.

Jadi yang pokok adalah makna-makna, sedangkan kata-kata yang digunakan untuk memberi nama adalah tambahan pengetahuan saja (embel-embel saja).

Allahu a’lam

Sumber : Idrus H Alkaf, Mengungkap rahasia sabar dan syukur, terjemahan dari Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghazali.



Senin, 22 September 2008

agar bisa berenang hrs terjun ke air

Bila anda menjauh dari air, maka selamanya anda tak akan bisa berenang. Bila takut akan suatu hal, maka dekatilah ia. Berusahalah agar hal itu dekat atau menyatu dengan anda, maka selamanya ketakutan itu akan sirna dan akan timbul keberanian dan cinta. Master bola basket Amerika, Michael Jordan, menyatakan tentang rasa takut. “ Saya tidak pernah memikirkan kosekuensi dari lemparan bola yang gagal. Mengapa ? Setiap kali berkonsentrasi pada kegagalan, anda akan takut menghadapi hasil buruknya.”
“ Ketika akan melompat dalam kolam renang, meskipun kita tidak bisa berenang, yang saya pikirkan adalah bagaimana agar bisa berenang, paling tidak agar tidak tenggelam. Saya tidak akan berpikiran ,” Saya tidak bisa berenang, jangan-jangan saya mati tenggelam”. Jika saya masuk dalam apapaun, saya tidak pernah berpikir bagaimana jadinya kalau gagal. “

“ Banyak dari kita dibekukan oleh rasa takut gagal. Rasa takut muncul karena pengaruh rekan atau orang lain, atau terlalu banyak memikirkan konsekuensi buruknya. Atau mungkin takut tampak bodoh atau dipermalukan”. “Rasa takut adalah hambatan, namun bagi saya rasa takut adalah ilusi”.

Memang benar, bila kita memberikan benih rasa takut, maka kita akan menuai rasa takut tersebut. Ada pepatah bahwa tempat yang paling kita takutkan , merupakan tempat yang paling nyaman bagi kita. Seringkali tempat-tempat berbahaya diidentikkan dengan tempat yang menakutkan. Karena ketakutan inilah tempat itu menjadi tidak aman. Padahal belum tnetu benar.

Rasa takutlah yang terkadang membuat tempat aman menjadi tidak aman. Rasa takut ini yang membuat kita sulit melangkah, menghadapi masalah dihadapan kita. Namun bila kita bertekad utnuk menghadang apapun masalah yang ada dihadapan kita, maka berangsur-angsur ketakutan akan berubah menjadai rasa aman.

Akar dari ketakutan adalah keterpisahan. Semakin kita terpisah dari hal yang kita takutkan, maka semakin takutlah kita akan hal itu. Seseorang yang takut untuk tampil menyanyi didepan kelas. Ia menjadi tidak nyaman bila ada pelajaran seni musik. Ia takut dan kuatir , suaranya cempreng atau ketahuan groginya dan menajdi bahan tertawaan orang sekelas. Namun apabila dia nekad dan memberanikan diri utnuk menghadapinya , maka lambat laun dia akan menikmatinya.

Rasa takut disebabkan juga , karena kita terpisah dari kedirian kita, kita takut karena terpisah dari keilahian yang bersemayam dalam diri kita. Akibat keterpisahan itu, kita merasa asing dengan diri kita sendiri. Rasa asing inilah yang membawa kita pada ketakutan. Kita menjadi unggul, hebat dan selamat karena kita tidak terpisah dari kedirian kita yang sesungguhnya. Berkali-kali ia mengingatkan kita, namun berulangkali juga kita lupa akan kesejatian kita itu.
Firman Allah yang artinya, “ Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul”. (Qs. Thaaha : 68).

Sahabat paling tua dan seumur sejarah manusia adalah ketakutan. Bagi Chin Ning Chu, ketakutan adalah nyata, dan bukan ilusi. Kita tidak perlu memperdepatkan apakah ketakutan itu nyata ataupun ilusi, keduanya benar.

Yang menjadi pertanyaan adalah ,
Apa yang membuat keduanya menjadi benar ?
Jawabnya adalah Pikiran.

Pikiran kita sendiri yang membuat sesuatu itu menjadi nyata atau hanya ilusi.

Lalu apa yang harus kita lakukan ?
Anda hanya oerlu mengamati munculnya ketakutan itu. Amati pekerjaanya. Amati sifatnya. Amati gerak-geriknya. Dan amati sepak terjangnya. Anda tidak perlu menilai. Anda tidak perlu menghukum. Anda tidak perlu menghubung-hubungkan. Bahkan anda tidak perlu memberikan pemahaman-pemahaman terhadap munculnya ketakutan itu.
Anda tidak perlu melibtkan apapapun termasuk emosi anda dalam proses pengamatan. Anda hanya menjadi pengamat.
Anda akan melihat hasilnya. Dengan menjadi pengamat ketakutan, maka anda tidak menjadi takut lagi.
Jika anda berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti anda adalah orang kaya yang sebenarnya. Kebahagiaan adalah kunci menuju kesuksesan. Bila anda menyukai apa yang anda kerjakan, maka itulah kesuksesan yang sebenarnya.

Sumber : Yusran Pora, Gagal itu indah.



Minggu, 21 September 2008

Mind Power, pikiran kendalikan anda

Suatu fakta yang perlu diketahui, ahwa sebagian besar orang hanya menggunakan 10% kemampuan otaknya. Beberpa peneliti bahkan menyatakan bahwa angka 10 % itu terlalu tinggi , dan angka itu mungkin lebih tepat 4% ( Mind Power, Cristian H Godefroy). Jadi masih potensi 90% lebih , bagi anda untuk menggunakan kekauatan tersebunyi ini dalam membantu anda.
Inilah yang sesungguhnya dinamakan bawah sadar. Memang terdapat beberapa definisi tentangnya. Konsep bawah sadar ini awalnya dikembangkan oleh Segmund Freud. Dia memandang bawah sadar sebagai sumber dari sebagian besar perilaku mnusia, terutama perilaku yang kita yakini sepenuhnya disadari.

Fakta keberadaan bawah sadar ini tidak dapat dihindari, dan telah diterima oleh masyarakat ilmiah. Manusia memiliki 2 unsur didalam diri yang berperan dalam kehidupannya yaitu unsur fisik dan non fisik. Unsur fisik adalah tubuh anda beserta semua panca inderanya, sedangkan unsur non fisik adalah pikiran anda.
Atau singkatnya , pikiran manusia terbagi menjadi dua bagian :

  1. bagian sadar (conscious), yang hanya aktif saat kita terjaga, mengatur sebagian besar aktifitas rutin dan intelektual kita.
  2. bagian bawah sadar , bagian ini mengendalikan semua fungsi vital, misalnya anda tidak harus memikirkan nafas anda ketika anda bernafas.

Bawah sadar anda juga mencatat dan menyimpan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan anda. Seperti layaknya seuah almari arsip. Daya ingatnya sempurna, dan tidak pernah melupakan apapun.

Keduanya memiliki peran yang berbeda namun berada di dalam satu bentuk yaitu diri anda. Keduanya tidak dapat berdiri sendiri sehingga saling bergantung. Seperti halnya tubuh tidak akan dapat menjalankan fungsinya tanpa adanya pikiran, begitu juga pikiran tidak dapat terwujud tanpa dibantu oleh tubuh sebagai pelaksananya.

Cara Pikiran Bekerja

Anda dapat memilih pikiran-pikiran apa saja untuk melakukan sesuatu. Bila anda pikir bahwa sesuatu itu sulit dilakukan , maka pikiran anda secara otomatis akan membenarkannya. Bila anda memilih untuk berpikir “ aahh bagi saya itu mudah dan simpel saja ..” , maka pikiran anda pun akan membenarkannya.
Pikiran anda benar-benar merupakan alat anda untuk melakukan apa saja yang anda inginkan. Orison Swett Marden , menyatakan “ Kita mengangkat diri sendiri dengan pikiran untuk mendaki impian”. Andalah satu-satunya orang yang bisa mengontrol pikiran anda sendiri.

Anda mungkin tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi atas diri anda adalah hasil dari apa yang ada di pikiran anda. Tubuh anda hanyalah menjalankan perintah dari pikiran yang kemudian akan direspon oleh alam semesta dengan feedback yang sama. Jika anda melakukan sesuatu yang positif, alam semesta akan memberikan feedback yang positif pula. Jika anda melakukan sesuatu yang negatif, maka alam semesta juga akan memberikan feedback yang negatif. Pertanyaannya adalah bagaimana anda bisa melakukan sesuatu yang positif jika perintah yang keluar dari pikiran anda adalah negatif. Tidak mungkin bukan? Dengan kata lain, pikiran lah yang menguasai tubuh.

Bila anda perhatikan game permainan Tetris. Pikiran manusia analog permainan tersebut. Setiap input yang dimasukkan kedalamnya akan membentuk sebuah lapisan yang akan menumpuk terus menerus. Lapisan yang sama akan saling tarik menarik dan akan berkumpul menjadi satu kelompok lapisan. Lapisan-lapisan yang berasal dari input yang negatif akan membentuk kelompok lapisan negatif. Sedangkan lapisan-lapisan yang berasal dari input yang positif akan membentuk kelompok lapisan positif.

Setiap input baru yang masuk kedalam pikiran akan makin memperkuat masing-masing kelompok lapisan tersebut sesuai dengan jenisnya. Beberapa input yang membentuk lapisan positif adalah rasa simpati, kebahagiaan, belas kasih, keikhlasan, rasa percaya diri, optimis, keyakinan, konsentrasi. Beberapa input yang membentuk lapisan negatif adalah kemarahan, kebencian, ketakutan, kekhawatiran, kesombongan, iri hati, keegoisan, keputusasaan, mengasihani diri sendiri, rasa bersalah, pesimis, minder.

Bawah sadar dikendalikan oleh hukum sebab akibat , sama seperti dunia fisik. Setiap pikran merupakan aksi. Pikiran merupakan suatu sebab yang menghasilkan akibat. Tidak ada yang aneh dalam hal ini, bila anda memikirkannya. Dibelakang setiap tindakan dan setiap maksud, terletak pikiran. Hukum seban akibat juga berlaku di berlaku juga untuk alam bawah sadar. Dan untuk menjadikan bawah sadar bekerja baik bagi anda. Anda harus mulai menanam benih pikirna positif hari ini. Pikiran tentang kebahagiaan , kedamaian dan kesehatan.
Anda harus memasukkan program yang baru dalam diri anda sendiri. Yakinlah selalu, secepat setelah ide diterima oleh bawah sadar, ia langsung digunakan.

Pikiran bisa menjadi teman maupun musuh anda. Pikiran merupakan alat yang luar biasa bagi kita untuk menciptakan kehidupan yang kita pilih. Dan kita kebanyakan belum menyadari ini.. Andaikan anda terlalu banyak memasukkan input negatif ke dalam pikiran, maka kelompok lapisan negatif itulah yang akan mendominasi pikiran anda. Dan karena jenisnya sama, tanpa disadari anda juga sedang menarik semua energi negatif dari alam semesta kedalam diri anda. Maka , tidak heran jika kemudian kehidupan anda hanya berisi masalah, rintangan, keributan dan kegagalan.

Jadi tugas anda adalah memastikan bahwa yang masuk kedalam pikiran anda dengan hal-hal yang positif. Bahkan lebih jauh lagi anda perlu memasukkan hal-hal yang optimis ke dalam pikiran anda.
Jangan mudah membiarkan begitu saja pikiran terkontaminasi dengan hal-hal yang merusak diri sendiri tanpa melakukan upaya penjernihan. Dengan pikiran dan cara pandang optimis, segala hal yang anda lakukan akan anda kerjakan dengan positif dan penuh percaya diri. Alhasil, seluruh alam semesta pun akan mendukung anda untuk mewujudkannya. Tanpa sadar, anda sedang menarik semua energi positif yang ada diluar kedalam diri anda. Kalau sudah demikian, keberhasilan dan kesuksesan bukanlah suatu hal yang mustahil.

Anda adalah yanga anda pikirkan
Kata-kata bijak dari sang Budha, “ kita adalah apa yang dipikirkan. Kita semua bangkit dengan pikiran. Dengan pikiran, kami membuat dunia”.
Kita harus sedini mungkin meyeleksi pikiran-pikiran yang masuk dan keluar. Banyak sekali waktu kita terbuang percuma karena memikirkan hal-hal yang tidak perlu yang membikin kita tak pernah bisa maju.

Pikiran manusia memang sangat rapuh dan mudah goyah. Kalau diibaratkan, pikiran kita seperti nyala api lilin ditengah-tengah hembusan angin yang datang dari berbagai arah. Tugas kita adalah menjaga agar nyala api lilin tersebut tidak goyah oleh hembusan angin. Oleh karena itu, pikiran haruslah diperkuat. Memperkuatnya yaitu dengan cara memasukkan hanya hal-hal yang positif secara terus menerus.

Mengapa seseorang terus mengalami depresi? Jawabnya bisa saja sederhana, pikiran. Ya, pikiran kita yang harus diperbaiki. Kita akan menjadi seperti apa yang kita bayangkan.
Orang sering sulit untuk melupakan masa lalunya, susah untuk melupakan kejadian-kejadian yang menyedihkan. Apa yang anda pikirkan , maka ada akan percaya. Apa yang anda percaya , maka anda akan mencipta. Dan apa yang anda cipta , maka anda akan hidup didalamnya.

Pikiran yang kuat akan mudah untuk dikendalikan. Seekor anjing yang belum dijinakkan akan menjadi buas, menggigit dan hanya memberikan masalah bagi tuannya. Namun jika sudah dijinakkan, dia tidak hanya akan menjadi anjing penurut tetapi juga berguna untuk membantu dan melindungi tuannya. Begitu juga dengan pikiran, jika anda tidak dapat menjinakkannya maka anda lah yang akan dikendalikannya dan dia hanya akan memberi anda masalah. Namun jika anda sudah dapat menjinakkan dan mengendalikannya, maka pikiran anda akan membantu menyelesaikan berbagai masalah yang anda hadapi.

Program Ulang Pikiran
Jika anda sudah mengetahui bahwa apa yang anda masukkan di dalam pikiran anda dapat terjadi, bukankah anda ingin memasukkan sesuatu yang ingin anda capai kedalam pikiran anda supaya dapat benar-benar terwujud?

Jangan pernah meremehkan kekuatan pikiran anda. Jika anda saat ini tengah depresi dan menganggap diri anda adalah orang yang gagal, hati-hatilah karena pikiran anda akan mewujudkannya menjadi kenyataan. Jika anda saat ini merasa bahwa nasib anda sudah berakhir dan anda tidak bisa keluar dari masalah yang dihadapi, hati-hatilah karena itulah yang akan terjadi pada diri anda. Rubahlah cara anda melihat sesuatu. Tanamkanlah bahwa selalu ada sisi positif dalam setiap kejadian, dan gunakanlah sisi itu.

Pikirkan hal-hal yang akan anda lakukan ketika semuanya telah ada di genggaman anda. Tanamkan di pikiran bahwa anda saat ini sedang menuju kesana dan akan berhasil. Bila perlu, anda bisa juga menyuarakannya dengan mulut anda sambil membayangkannya. Yang perlu diingat, gunakanlah bentuk kalimat yang positif. Misalnya, katakanlah "Saya adalah orang yang berhasil". Jangan gunakan kalimat "Saya bukan orang yang gagal." Berkacalah di cermin setiap pagi sebelum memulai hari anda, dan katakanlah : keberhasilan adan.

Janganlah anda mengandalkan apapun kepada siapapun. Andalkanlah diri anda sendiri, andalkanlah tuhan yang berada dalam diri anda. Semuanya ada dalam diri manusia.

Wallahu ‘alam bishawab
Sumber : Handoko http://katamataku.blogspot.com , http://pantangmenyerah. blogspot.com. Yusran Pora, Mind Power. Cristian H Godefroy.



build the property in heaven

Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika matahari baru naik. Jumlah rakaatnya miimal 2 maksimal 12. Dari Anas berkata Rasulullah.Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga. (H.R. Tarmiji dan Abu Majah). Mengenai keutamaan shalat Dhuha, banyak riwayat hadits yang menceritakan keutamaan shalat ini.
Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam: “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2). Pernahkah terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai bersumpah pada kedua waktu itu?

Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda “Bagi masing-masing ruas [1] dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahtil (Laa Ilaaha Illallaah) adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik pun juga sedekah, dan mencegah kemunkaran juga sedekah. Dan semua itu bisa disetarakan ganjarannya dengan dua rakaat shalat Dhuha”. Diriwayatkan oleh Muslim[2]

Hadits Abud Darda dan Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah SAW, dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, dimana Dia berfirman. “Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya Aku mencukupimu di akhir siang” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi[3]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, dia berkata :”Tidak ada yang memelihara shalat Dhuha kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah (Awwaab)”. Dan dia mengatakan, “Dan ia merupakan shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (Awwaabin)”. riwayat oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim. [4]

Hukum Shalat Dhuha
Hadits-hadits terdahulu dan juga yang semisalnya menjelaskan bahwa shalat Dhuha pada waktu Dhuha (pagi hari) merupakan suatu hal yang baik lagi disukai. [5]
Selain itu, di dalam hadits-hadits tersebut juga terkandung dalil yang menunjukkan disyariatkannya kaum muslimin untuk senantiasa mengerjakannya. [6] Dan tidak ada riwayat yang menun jukkan diwajibkannya shalat Dhuha.

Waktu Shalat Dhuha
Waktu shalat Dhuha dimulai sejak terbit matahari sampai zawal (condong). Dan
waktu terbaik untuk mengerjakan shalat Dhuha adalah pada saat matahari terik.

Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut.



  • Adapun permulaan waktunya, telah ditunjukkan oleh hadits Abud Darda dan Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhuma terdahulu. Letak syahidnya di dalam hadits tersebut adalah ; “Ruku-lah untuk-Ku dari awal siang sebanyak empat rakaat”.
  • Demikian juga riwayat yang datang dari Anas Ra, dia bercerita, Rasulullah SAW bersabda. “Barangsiapa mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah lalu duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit dan kemudian mengerjakan shalat dua raka’at [7], maka pahala shalat itu baginya seperti pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya” [8]
  • dari Abu Umamah, dia bercerita, Rasulullah SAW bersabda.“Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berada di dalamnya sehingga dia mengerjakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang menunaikan ibadah haji atau orang yang mengerjakan umrah, sama persis (sempurna) seperti ibadah haji dan umrahnya”.
  • Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.Dan dalam sebuah riwayat disebutkan.“Barangsiapa mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah, kemudian dia duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit…” Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.[9]

Adapun keluarnya waktu shalat Dhuha pada waktu zawal, karena ia merupakan shalat Dhuha (pagi).

Sedangkan waktu utamanya telah ditunjukkan oleh apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, bahwasanya dia pernah melihat suatu kaum yang mengerjakan shalat Dhuha. Lalu dia berkata “Tidaklah mereka mengetahui bahwa shalat selain pada saat ini adalah lebih baik, karena sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda.“Shalat awaabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah merasa kepanasan”[10]. Diriwayatkan oleh Muslim [11]

Jumlah Rakaat dan Sifatnya
Disyariatkan kepada orang muslim untuk mengerjakan shalat Dhuha dengan dua,
empat, enam, delapan atau dua belas rakaat.

  1. Jika mau, dia boleh mengerjakannya dua rakaat dua rakaat. Adapun shalat Dhuha yang dikerjakan dua rakaat telah ditunjukkan oleh hadits Abu Dzar Ra, Rasulullah SAW bersabda.“Bagi masing-masing ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekah …Dan semua itu setara dengan ganjaran dua rakaat shalat Dhuha” Diriwayatkan oleh Muslim.[12]
  2. Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan empat rakaat, telah ditunjukkan oleh Abu Darda dan Abu Dzar Ra, dari Rasulullah SAW, dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, dimana Dia berfirman :”Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir siang” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. [13]
  3. Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan enam rakaat, ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik Ra : “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat Dhuha enam rakaat” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi di dalam kitab Asy-Syamaa-il. [14]
  4. Dan shalat Dhuha yang dikerjakan delapan rakaat ditunjukkan oleh hadits Ummu Hani, di mana dia bercerita :”Pada masa pembebasan kota Makkah, dia mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau berada di atas tempat tinggi di Makkah. Rasulullah SAW beranjak menuju tempat mandinya, lalu Fathimah memasang tabir untuk beliau. Selanjutnya, Fatimah mengambilkan kain beliau dan menyelimutkannya kepada beliau. Setelah itu, beliau mengerjakan shalat Dhuha delapan rekaat” [15] Diriwayatkan Asy-Syaikhani. [16]
  5. Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan dua belas rakaat ditunjukkan oleh hadits Abud Darda Ra, di mana dia bercerita, Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.[17] Rasulullah bersabda,
  • “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah.
  • Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah.
  • Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu.
  • Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh.
  • Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya”

Dapat dikatakan bahwa berdasarkan hadits-hadits ini, diarahkan kemutlakan yang diberikan Sayyidah Aisyah Ra saat ditanya oleh Mu’adzah :”Berapa rakaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhuha?” Dia menjawab : “Empat rakaat dan bisa juga lebih, sesuai kehendak Allah” [18]

Dan shalat Dhuha yang dikerjakan dua rakaat dua rakaat, telah ditunjukkan oleh keumuman sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :”Shalat malam dan siang itu dua rakaat dua rakaat” [19]

Dan seorang muslim boleh mengerjakan shalat Dhuha empat rakaat secara bersambungan, sebagaimana layaknya shalat wajib empat rakaat. Hal itu ditunjukkan oleh kemutlakan lafazh hadits-hadits mengenai hal tersebut yang telah disampaikan sebelumnya, seperti sabda Rasulullah SAW :”Ruku’lah untuk-Ku dari permulaan siang empat rakaat”. Dan juga seperti
sabda beliau :”Barangsiapa mengerjakan shalat (Dhuha) empat rakaat maka dia ditetapkan termasuk golongan ahli ibadah”

Wallahu a’lam

Sumber : Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul http://www.almanhaj .or.id/content /2357/slash/0 . Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Foote Note

  • [1]. Kata sulaamaa adalah bentuk mufrad (tunggal) dan jamaknya adalah as-sulaamiyaatu yang berarti ruas jari-jemari. Kemudian kata itu dipergunakan untuk seluruh tulang dan ruas badan. Lihat kitab, Syarh Muslim, An-Nawawi V/233
  • [2]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, di dalam kitab Shalaatut Musaafirin wa Qashruha, bab Istihbaabu Shalaatidh Dhuha wa Anna Aqallaha Rak’aatani wa Akmalaha Tsamaanu Raka’aatin wa Ausathuha Arba’u Raka’aatin au Sittin wal Hatstsu ‘alal Muhaafazhati ‘alaiha, (hadits no. 720). Lihat juga kitab, Jami’ul Ushuul (IX/436)
  • [3]. Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam kitab, Al-Musnad (VI/440 dan 451). Dan juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi di dalam Kitaabush Shalaah, bab Maa Jaa-a fii Shalaatidh Dhuha, (hadits no. 475) Mengenai hadits ini, At-Tirmidzi mengatakan : ‘Hasan gharib” Dan dinilai shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir di dalam tahqiqnya pada At-Tirmidzi. Juga dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam kitab, Shahih Sunan At-Tirmidzi, (I/147). Serta dinilai hasan oleh muhaqqiq kitab, Jaami’ul Ushuul (IX/4370.
  • [4]. Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (II/228), Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak (I/314), dan lafazh di atas milik keduanya. Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani di dalam kitab Al-Ausath (II/279-Majma’ul Bahrain) tanpa ucapan :”Dan ia adalah shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (Awwaabiin)”. Dan hadits di atas dinilai shahih oleh Al-Hakim dengan syarat Muslim. Dan dinilai hasan oleh Al-Albani di dalam kitab, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (hadits no. 1994).
  • [5]. Majmuu’al Al-Fataawaa (XXII/284)
  • [6]. Dan inilah yang tampak, yang ditunjukkan oleh hadits-hadits terdahulu. (Nailul Authaar III/77). Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menetapkan kesepakatan para ulama tas sunnahnya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat Dhuha secara terus menerus, kemudian menetapkan hukum sunnatnya, dimana dia mengatakan : “Muncul pertanyaan : ‘Apakah yang lebih baik, mengerjakan secara terus menerus ataukah tidak secara terus menerus seperti yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Inilah di antara yang mereka pedebatkan”. Dan yang lebih tepat adalah dengan mengatakan ;”Barangsiapa mengerjakan qiyaamul lail secara terus menerus, maka tidak perlu lagi baginya untuk mengerjakan shalat Dhuha secara terus menerus. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan barangsiapa yang tertidur sehingga tidak melakukan qiyamul lail, maka shalat Dhuha bisa menjadi pengganti bagi qiyamul lail” Majmu Al-Fataawaa (XXII/284). Dapat saya katakan, (tetapi) lahiriyah nash menunjukkan disunnatkannya secara mutlak untuk mengerjakan shalat Dhuha secara terus menerus. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan suatu amalan padahal beliau sangat suka untuk mengerjakannya karena beliau takut hal tersebut akan dikerjakan secara terus menerus oleh umat manusia sehingga akan diwajibkan kepada mereka. Dan inilah illat (alasan) tidak dikerjakannya shalat Dhuha secara terus menerus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, nash-nash itu secara mutlak seperti apa adanya. Hal yang serupa seperti itu telah diisyaratkan oleh Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha, lihat kitab Jaami’ul Ushuul (VI/108-109).
  • [7]. Ath-Thibi mengatakan : “Shalat ini disebut shalat Isyraq, yaitu permulaan shalat Dhuha. Dia nukil di dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (I/405) Dapat saya katakan, telah saya sampaikan kepada anda mengenai hal itu yang lebih luas dari sekedar isyarat ini. Lihat pembahasan tentang shalat Isyraq sebelumnya.
  • [8] Hadits hasan lighairihi. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi di dalam Kitaabush Shalah, bab Dzikru Maa Yustahabbu minal Julus fil Masjid Ba’da Shalaatish Shubhi Hatta Taathlu’a Asy-Syams . Mengenai hadits ini, At-Tirmidzi mengatakan :”Hasan gharib”. Dengan beberapa syahidnya, hadits ini dinilai hasan oleh Al-Mubarakfuri di dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (I/406). Dan disepakati oleh Syaikh Akhmad Syakir di dalam tahqiqnya pada At-Tirmidzi (II/481). Juga dinilai hasan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi (I/182). Dan dengan beberapa syahidnya, dinilai hasan oleh muhaqqiq kitab Jaami’ul Ushuul (IX/401). Dapat saya katakan, di antara syahidnya adalah hadist berikutnya.
  • [9]. Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam kitab Al-Mu’jamul Kabiir (VIII/174), 181 dan 209) Sanad hadits di atas dinilai jayyid oleh Al-Mundziri dan Al-Haitsami. Dan dinilai hasa oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih At-Targhiib wa Tarhiib (I/189). Dan lihat juga kitab, Majmu’uz Zawaa’id (X/104)
  • [10]. Di dalam kitab, Syarh An-Nawawi (VI/30). Imam Nawawi mengatakan : Ar Ramdhaa’ berarti kerikil yang menjadi panas oleh sinar matahari. Yaitu, ketika anak-anak unta sudah merasa panas. Al-Fushail berarti anak unta yang masih kecil”. Lihat juga, Nailul Authaar (II/81)
  • [11]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shalaatul Musaafirin wa Qasruha, bab Shalatut Awaabiin Hiina Tarmudhil Fihsaal, hadits no. 748.
  • [12]. Takhrijnya telah diberikan sebelumnya
  • [13]. Takhrijnya telah diberikan sebelumnya
  • [14]. Hadits shahih lighairihi. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi di dalam kitab Asy Syamaa’il, bab Shalatudh Dhuha, (hadits no. 273) hadits ini dinilai shahih lighairihi di dalam kitab, Mukhtashar Asy-Syamaailil Muhammadiyyah, (hal. 156). Beberapa sahid dan jalannya telah disebutkan di dalam kitab Irwaaul Ghaliil (II/216).
  • [15]. Di dalam hadits tersebut terdapat bantahan bagi orang yang mengaku bahwa shalat ini adalah shalat al-fath (pembebasan), bukan shalat Dhuha. Lihat kitab, Zaadul Ma’ad (III/4100 dan juga Aunul Ma’buud (I/497)
  • [16]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam beberapa tempat di antaranya : Kitaabut Tahajjud, bab Shalaatudh Dhuhaa fis Safar (hadits no. 1176). Dan juga Muslim di dalam Kitaabul Haidh, bab Tasturuk Mughtasil bi Tsaubin au Nahwahu (hadits no. 336). Dan lafazh di atas adalah miliknya. Dan lihat juga kitab Jaami’ul Ushuul (VI/110).
  • [17]. Hadits ini disebutkan oleh Al-Haitsami di dalam kitab Majma’uz Zawaa’id (II/237) dan dia mengatakan : Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam kitab Al-Kabiir. Di dalamnya terdapat Musa bin Ya’qub Az-Zam’i. Dinilai tsiqah oleh Ibnu Mu’in dan Ibnu Hibban serta dinilai dha’if oleh Ibnul Madini dan lain-lainnya. Dan sisa rijalnya adalah tsiqah. Dapat saya katakan, Musa bin Ya’qub seorang yang shaduq, yang mempunyai hafalan buruk, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab, At-Taqriib (hal. 554). Dan diriwayatkan oleh Al-Bazzar di dalam kitab Kasyful Astaar (II/334), yang diperkuat oleh syahid dari Abu Dzar. Dan disebutkan oleh Al-Mundziri di dalam kitab At-Targhiib. Hadits Abud Darda dan Abu Dzar Radhiyalahu ‘anhuma dinilai hasan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih At-Targhiib wat Tarhiib (I/279).
  • [18]. Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shalatul Musafirin wa Qasruha, bab Istihbaabu Shaalatid Dhuha wa Anna Aqallaha Rak’ataani wa Akmalaha Tsamaanu Rak’atin wa Ausathuha Arba’u Rak’atin au Sittin wa Hatstsu ‘alal Muhaafazhati Alaiha, (hadits no. 719).
  • [19]. Hadits shahih. Takhrijnya sudah diberikan sebelumnya Peringatan. Ada sebuah riwayat untuk hadits Ummu Hani terdahulu dengan lafazh : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam pernah mengerjakan shalat Dhuha delapan rakaat. Beliau mengucapkan salam setiap dua rakaat’. Dan hadits Ummu Hani asalnya terdapat di dalam kitab Ash-Shahihain, tetapi tidak dengan lafazh ini. Dan diriwayatkan oleh Abud Dawud di dalam Kitaabush Shalaah, bab Shalatudh Dhuha (hadits no. 1234, II/234). Dan dalam sanad yang ada pada keduanya terdapat Iyadh bin Abdillah. Yang meriwayatkan darinya adalah Abdullah bin Wahb. Mengenai pribadi Iyadh ini. Abu Hatim mengatakan :”Dia bukan seorang yang kuat”. Dan Ibnu Hibban menyebutnya di dalam deretan tsiqat. As-Saaji mengatakan : “Darinya, Wahb bin Abdillah meriwayatkan beberapa hadits yang di dalamnya masih mengandung pertimbangan”. Yahya bin Ma’in mengatakan :”Dia seorang yang haditsnya dha’if”. Abu Shalih mengatakan ;”Ditegaskan, dia memiliki kesibukan yang luar biasa di Madinah, di dalam haditsnya terdapat sesuatu” Al-Bukhari mengatakan : “Haditsnya munkar” Tahdziibut Tahdziib (VIII/201). Dapat saya katakan, haditsnya di sini diriwayatkan oleh Ibnu Wahb, darinya. Yang tampak secara lahiriyah dari keadaan orang ini, bahwa dia tidak dimungkinkan untuk meriwayatkan seorang diri, sedangkan lafazh ini dia riwayatkan sendiri. Wallahu a’lam Dengan lafazh ini, hadits ini dinilai dha’if (lemah) oleh Al-Albani di dalam , komentarnya terhadap kitab Shahih Ibni Khuzaimah (II/234). Dalam penjelasannya, dia menguraikan secara rinci illatnya di dalam kitab. Tamamul Minnah (hal. 258-259)



Belenggu Jiwa

Saat berkaca di cermin dan memandang bayangan yang ada di dalam cermin , mungkin kita tidak akan asing lagi mengenali wajah tersebut. Akan tetapi, sudahkah kita mengenali wajah itu sampai kedalamannya kejiwaan dan hati yang ada? Pernahkah kita diam sejenak dan memutar pikiran kita, membuka hati kita untuk mencari apa yang membelenggu pikiran dan jiwa hari ini, sudahkah kita menjadi jiwa yang merdeka dan bermanfaat untuk diri maupun di sekitar kita?
Sepenggal kisah keluarga Ali bin Abi Thalib r.a . Suatu hari di bulan Ramadhan , hanya ada sedikit roti gandum saja untuk persiapan berbuka. Tak ada yang lain. Disaat itu terdengar seorang yang mengemis mendatangi rumahnya ?

Istri beliau, Fatimah melirik ke arah suaminya , “Bagaimana mungkin menampik permintaan pengemis itu sedangkan kita makan hingga kenyang?”
Ali menyetujui saran istrinya. Wanita mulia Fatimah segera mengemas roti persiapan berbuka mereka dan memberikannya pada pengemis. Tak ada lagi hidangan yang tesisa.
Hari puasa berikutnya tiba dan berakhir dengan terbenamnya matahari. Setelah menunaikan shalat maghrib mereka bersiap-siap menikmati sedikit roti untuk berbuka. Namun terdengar lagi suara mengemis.

Fatimah melihat dua anak yatim meminta makanan dengan suara penuh iba. Ia kembali dan berkata kepada Ali, “Sudah menjadi perintah Allah dan Rasul- Nya bahwa kita seyogyanya membantu orang- orang miskin. Biarkan kedua anak yatim itu memakan makanan kita!”
Ali – pun setuju dan mereka melewatkan malam yang kedua tanpa sesuap makanan pun.

Pada hari ketiga-nya , mereka duduk menunggu berbuka puasa dengan hati penuh gembira.
Ketika mendengar hal ini, Rasulullah sangat bersuka cita. Beliau berseru semua generasi akan mengucapkan selamat karena ia menjadi ayah dari seorang yang berhati emas.
Kalau jiwa tidak terjebak ilusi ego dan bisikan nafsu, kita akan menangkap sinyal nurani ini untuk memenuhi panggilan Allah. Bersikap kasih sayang, peduli dan menolong pada fakir miskin dan orang yang kelaparan. Ali dan Fatimah hidup mulia dan dibanggakan Rasulullah karena. tetap senang berbagi meski dalam kekurangan. Mereka memberikan miliknya yang dicintai untuk meraih rahasia kesempurnaan kebaikan dan kemerdekaan jiwanya.

Tidaklah kalian mencapai kebaktian yang sempurna sehingga menginfakkan apa yang kamu cintai.


Puasa yang mengentas jiwa ego menjadi diri spiritual dengan cerdas hati; lebih peduli dan berbagi.

Mari kita berjuang untuk melawan belenggu jiwa , menuju kemerdekaan jiwa yang hakiki. yg Melemahkan kekuatan.
Firman Allah yang artinya “ syaitan menjanjikan (menakut- nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (QS. Al Baqarah: 268).

Dliuar itu masih banyak prihal yang membeleunggu jiwa kita. Salah satunya dadalah belenggu kegelisahan dan kekhawatiran (Al jaza’u). Dimana sebuah perasaan takut dalam diri yang berlebihan. Takut akan hal-hal yang seharusnya tidak di dasarkan atas ketakutan pada-NYA.
  • Belenggu kecemasan adalah gabungan ketakutan dan rasa buruk sangka atau was was yang muncul dalam diri bahkan menguasai perasaan sehingga timbul perasaan cemas. Padahal belum tentu apa yg dicemaskan dan apa yg menjadi prasangkanya akan terjadi.
  • Belenggu Kemarahan (Al ghodob) belenggu ini dapat fatal akibatnya jika tidakdikendalikan. Kita saat tertentu perlu menyalurkan marah kita secara asertif. Secara benar sesuai dengan porsi dan waktunya yakni tidak sampai lepas control, tetap tenang dan mengedepankan kebenaran dariNYA saja.
  • Belenggu Putus asa (Al ya’su), belenggu satu ini bisa menyerang siapa saja yang tidak lagi memilki sandaran kepada Allah. Manusia sangat terbatas. Dan karenanya Allah adalah sebaik baik tempat bergantung. Kekhawatiran , ketakutan akan masa depan harusnya menjadi pintu bagi khouf dan roja’ kita pada Sang Maha Segala. Dan hendaknya senantiasa bertawakal padaNYA. selanjutnya Allah Tahu yang terbaik untuk kita ( QS.2 :216)
  • Belenggu pesimis (At tasya’um)Hilang harapan. Tidak ada lagi semangat menjalani hidup. Tidak ada lagi cita-cita adalah gejala-gejala yang ditimbulkan karena adanya sikap pesimis. Berbeda dengan optimis yang memandang hari-hari di depan adalah kesempatan yang Allah berikan dimana semua itu sangat berharga untuk kita bisa berbuat lebih baik lagi dan terbaik untuk diri kita dan untuk semuanya.

Wallahu ‘alam bishawab. “

Sumber kutipan : http://juaneetaa.wordpress.com



Rabu, 17 September 2008

Failed is beautiful

Benarkah sebuah atau banyak kegagalan itu berarti tidak menghasilkan apa-apa? Failed is not to succeed in something ? Apakah kegagalan berarti musnah semua harapan ? Semua kegagalan yang anda alami , yang kita alami adalah sangat indah, karena ia dapat mencegah masuknya kotoran-kotoran sukses. Salah satu kotoran sukses yang amat berbahaya adalah keangkuhan.
Keangkuhan (kesombongan) ini membuat kita tidak dapat umbuh lebih besar lagi. Keangkuhan membuat kita menutup hati dan pikiran kita terhadap orang lain. Seorang bintang kelas atau ilmuwan yang angkuh akan segera menjadi orang usang , karena ilmu yang ia miliki sudah tertinggal jauh , berkat penemuan-penemuan baru bidang keilmuan oleh ilmuwan lain. Karena ilmu yang menjadi andalannya dianggapnya merupakan suatu kebenaran yang absolute.

Keangkuhan membuat siapa saja menjadi stagnan dan layu. Air yang tidak bergerak , lambat laun akan mengalami pembususkan. Sehingga habitat yanga da didalamnya juga akan hancur. Inilah akibat dari keangkuhan. Keangkuhan menebarkan bau busuk, yang membuat orang-orang disekitar kita menjauhi kita.

Dalam kegagalan , kita akan betemu sosok kerendahatian. Dengan rendah hati seseorang akan lebih banyak belajar. Dan inilah pertumbuhan yang sebenarnya. Ia bisa terus hidup terus tumbuh. Kerendahatian, laksana keharuman bunga. Dimana aromanya menarik kumbang untuk menghampirinya.Orang yang berada di sekitarnya akan terpesona dan ingin menciumnya. Kerendahatian akan memancarkan daya magis dan daya magnetis yang menarik perhatian orang-orang disekitarnya.

Dalam kegagalan akan muncul juga sifat kewaspadaan. Dalam kewaspadaan anda akan terus terjaga dan bersiap-siap. Anda tidak hanya menjadi orang yang reseptif tetapi juga open minded. Anda akan senantiasa membuka diri bagi kebenaran yang datangnya dari manapun dan dari siapapun. Kewaspadaan membuat anda tidak tergelincir pada lubang yang sama.

Kotoran sukses yang lain, adalah senang pujian. Pujian yang berlebihan dan tidak pada tempatnya akan berimbas buruk pada orang yang mendapat pujian. Rasulullah SAW, pernah memperingatkan sahabatnya bila ada orang yang sering memuji, maka lemparkanlah pasir pada wajahnya. Pujian adalah bagaiakan madu yang diisi racun. Manis rasanya tetapimembahayakan.

Pujian dapat merusak kreativitas dan pertumbuhan seseorang. Dengan pujian orang akan bisa berhenti belajar. Ia merasa telah mengetahui semuanya. Ia akan terlena.

Kotoran sukses lainnya, yang perlu diwaspadai juga adalah kesuksesan itu sediri. Kesuksesan yang kita raih , bisa menjauhkan kita dari keberlimpahan berkah Allah. Saorang ulama sufi Jalal ad Din ar-Rumi , menyatakan bahwa Ada dua hijab yang membuat kita jauh dari keberlimpahan (Tuhan) yakni ; kesehatan dan kekayaan.

Bila seorang merasa sehat, maka ia akan berkata,”Dimana Tuhan ? “.
Bila ia ditimpa sakit ia akan terus berbicara bahka berteriak ,” Oh Tuhan ! … Oh.. Tuhan-ku , dan terus berbicara tentang Tuhan.

Jadi kesehatan itulah yang membuat ia berjarak dengan Allah. tiada Tuhan melainkan Dia.

Sukses, sehat, kaya , unggul, nomor satu, berprestasi, mencapai posisi puncak……. Bisa meracuni kita sendiri. Dengan kesuksesan yang dicapai , bisa menjauhkan diri dari keberlimpahan (berkah) Tuhan.

Sentuhan kegagalan yang diberikan Tuhan harus kita sambut dengan memeluknya. Karena saat inilah yang paling tepat agar dapat bermesraan dengan-Nya. Tuhan selalu memiliki rencana besar dan hebat buat anda tepat setelah anda dilahirkan. Ambillah kenikmatan-kenikmatan sentuhan itu. Anda benar-benar dalam pelukan-Nya. Sentuhan kegagalan yang anda (kita) peroleh adalah rahmat-Nya.


Firman Allah yang artinya ,” Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu,”. (Qs Al-a’raf ; 156).

Sumber kutipan : Yusran Pora , gagal itu indah.




Selasa, 16 September 2008

Kirim naskah blog dari HP

Kesibukan pekerjaan , atau kegiatan rutinitas anda, entah sebagai karyawan, atau profesi-profesi lainnya. Rutinitas ini seringkali menghalagi waktu-waktu kita untuk duduk manis didepan komputer untuk mengupdate postingan blog kita.
Bila anda seorang pekerja yang sering di lapangan (bukan hanya dikantor saja) , tentu saja hobi untuk mengelola blog bisa saja terganggu.
Anda tentu tidak bisa bebas kemana-mana dengan menjinjing komputer atau laptop. Sedangkan hobby anda untuk nge-blog tetap harus bisa tersalurkan. Blogger sudah menyediakan fasilitas online untuk anda . Suatu fasilitas fitur yang memungkinkan anda mengirim naskah blog anda, melalui handphone atau mobile phone sebagai pengganti perangkat komputer anda.

Memang benar , seringkali ide atau hasrat menulis bisa saja muncul setiap saat. Dan ide menulis ini bisa saja hilang , bila tidak langsung dituangkan dalam tulisan atau ke blog kita. Wah kayak inspirasi gitu loh, kan bisa saja muncul tanpa bisa kita atur waktunya. Kan ada perangkat hanphone yang selalu menenmani anda kemana saja. Inilah perangkat yang bisa membantu anda menelorkan hasil inspirasi mendadak tersebut.

Blogger memiliki fasilitas online yaitu fitur yang memungkinkan Anda mengirim naskah blog lewat handphone sebagai pengganti komputer. Sebelumnya Anda harus terlebih dahulu memastikan bahwa handphone Anda memiliki fasilitas untuk mengirim e-mail. Setelah itu Anda tinggal mengatur setting blog Anda agar email yang dikirimkan dari Handphone akan diperlakukan sebagai postingan naskah blog.

Yang menjadi prasyarat bagi anda adalah, pastikan perangkat handphone anda telah memiliki fasilitas untuk pengiriman email (atau bisa untuk koneksi internet). Bila handphone anda Ok, tinggal mengatur setting blog anda agar email yang dikirimkan dari Hanphone anda akan diperlalukan sebagai postingan naskah blog.
Dengan asumsi bahwa HP kita sudah tidak memiliki masalah lagi dengan sambungan internet sehingga dapat digunakan untuk mengirimkan email, maka yang perlu diperhatikan adalah settingan pada kontrol panel blog kita terlebih dahulu. Dan untuk lebih mudahnya, hal ini kita lakukan dengan menggunakan komputer kita yang sudah tersambung dengan internet pada saat kita masih berada di “habitat” internet kita (misal kantor atau rumah

Langkah-langkah pengaturan adalah sebagai berikut ;
  1. Masuk ke dashboard blogger, dan klik Tab Setting.
  2. Klik Tab Email
  3. Anda lihat di bagian bawah , terdapat tulisan Mail To Blogger Address. Di bagian aini ada kotak kosong dan anda masukkan kata sandi atau rahasia sesuai selera anda. Selanjutnya lihat gambar dibawah. Ingat kata sandi ini harus mudah diingat, jangan lupa, dan jangan sampai orang lain tahu. Karena mereka dapat mengirim postingan ke blog anda.
  4. Berikan tanda pada kotak publish bila naskah blog yang anda kirim dari handphone bisa langsung dipublikasikan. Bila tidak ada tanda tik pada kotak publish maka naskah blog anda dari hanphone akan dianggap atau disimpan sebagai draft, dan ini baru bisa muncul bi blog bila anda suda mengubah statusnya.
  5. klik Save Setting dan selesai.

Dengan settingan di atas bila kita akan mengirimkan artikel lewat HP, maka kirimkan saja email kita tersebut ke alamat E-mail-Ke-Blogger kita tadi. Subyek e-mail akan menjadi judul naskah, sedangkan isinya akan menjadi isi naskah blog kita.
Silakan mencoba..?

Let's make a better life with simple things
Allahu a’lam

Sumber : Fajar YS Zebua, dll.



Senin, 15 September 2008

Keutamaan shalat malam

Shalat malam adalah sunah muakkad. Waktunya adalah setelah shalat ‘isya sampai dengan sebelum waktu shalat shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya. Sedangkan jumlah rokaatnya paling sedikit adalah 1 rokaat berdasarkan sabda Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam adalah 2 rokaat (salam) 2 rokaat (salam), apabila salah seorang di antara kamu khawatir akan datangnya waktu shubuh maka hendaklah dia sholat 1 rokaat sebagai witir baginya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Dan paling banyak adalah 11 rokaat berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha, “Tidaklah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam sholat malam di bulan romadhon atau pun bulan yang lainnya lebih dari 11 rokaat.” (HR. Bukhori dan Muslim), walaupun mayoritas ulama menyatakan tidak ada batasan dalam jumlah rokaatnya.


Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa, Allah Subhanallohu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (Qs. Adz Dzariyat: 17-18)

Karena pentingnya sholat malam ini Allah berfirman kepada Nabi-Nya yang artinya, “Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk sholat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. AlMuzammil: 1-4)
Berikut ini akan kami sampaikan beberapa keutamaan sholat malam dengan tujuan agar seseorang lebih bersemangat dan terdorong hatinya untuk mengerjakannya dan selalu mengerjakannya.

  1. Sebab masuk surga.
    Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan sholatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani)
  2. Menaikkan derajat di surga.
    Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh di dalam surga tedapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Alloh sediakan bagi orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, mengiringi puasa Romadhon (dengan puasa sunah), menebarkan salam dan mengerjakan sholat malam ketika manusia lain terlelap tidur.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)
  3. Penghapus dosa dan kesalahan.
    Rosulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena sholat malam itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)
  4. Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu.
    Rasulullah SAW bersabda, “Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim)
  5. Kemulian orang yang beriman dengan sholat malam.
    Ketika Jibril datang pada Rasulullah SAW lalu berkata, “Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan sholat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain.” (HR. Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani)

Sungguh disayangkan apabila diantara kita kaum muslimin yang meninggalkan sholat malam yang berarti telah menyia-nyiakan keutamaan yang telah Allah sediakan dikarenakan kemalasan yang ada pada mereka atau pun tergoda dengan gemerlapnya dunia.
Dalam riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa ketika Rasulullah ditanya tentang seorang yang tidur sepanjang malam sampai waktu subuh, maka Rasulullah SAW bersabda, “Dia adalah seorang yang kedua telinganya dikencingi oleh setan.”
Hal ini adalah penghinaan setan baginya, lalu bagaimana seorang yang bangun setelah waktu subuh ?

Wallahu Musta’an.

sumber kutipan : Abu Abdillah Rudi Agus H. Artikel www.muslim.or.id



Modal doa efektif : Ikhlas

Ikhlas memang modal utama doa yang efektif . Ikhlas harus kita wujudkan dan jangan hanya sebatas ide saja. Keikhlasan dapat diwujudkan dengan cara mensyukuri segala hal yang ada dalam diri dan sekeliling kita. Bersyukur bukan berarti menunggu nanti kalau problem kita telah hilang, uang kita sudah banyak, atau menunggu kalau kita sudah sembuh dari penyakit. Bukan begitu pola pikir kita . Bersyukur adalah going process dan setiap saat.
Bersyukur juga bukan cuma kata-kata. Syukur adalah merasakan semuanya. Mari kita periksa dan mengawasi kondisi hati kita. Terutama ketika kita merasakan adanya ketidaknyamanan. Latihan yang bisa kita lakukan , agar perasaan kita terus bergerak adalah selalu memupuk rasa syukur. Bila kita bisa mensyukuri apa yang ada disekeliling kita dan selalu mengkaitkan dengan Allah Yang Maha Pencipta. Maka semuanya menjadi mudah.

Kita harus meyakini bahwa stiap doa pasti dikabulkan. Hanya saja kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana doa itu terwujud. Dan yang sering menjadi masalah adalah frekuensi kita saat berdoa/ meminta tidak sinkron dengan frekuensi Allah.


Kenapa sering begitu ? Ya , karena pikiran kita yang sering bahkan selalu berubah-ubah.

Apa yang kita pikirkan, maka kita akan percaya, apa yang kita percaya maka kita akan mencipta, dan apa yang kita cipta maka kita akan hidup dengannya.

Firman Allah yang artinya , “ Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan , dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya “ .(Qs. an-Nisaa : 125).

Ulama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”
Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.

Selanjutnya memang kita harus menyamakan perasaan dan pikiran kita , karena disinilah kuncinya. Jangan biarkan pikiran mengganggu perasaan kita, karena apapun yang kita rasakan itu akan kembali ke kita.
Pikiran manusia adalah medan magnet, dan akan menarik apapun yang ada disekelilingnya. Kita harus mulai hari kita dengan kebahagiaan, kita pertahankan terus kebahagiaan itu, karena kebahagiaan itu akan kembali ke kita.

Pikiran yang membuat baik menjadi jelek, bahagia menjadi sengsara dan kaya menjadi miskin. Kita adalah yang dipikirkan. Kita semua bangkit dengan pikiran. Kita akan menjadi seperti yang kita bayangkan (Claude M Bristol).
Karena itulah kita sering menemui bahwa. Sesuatu situasi mungkin sudah berlalu , suatu kejadian dapat saja sudah terlampui, atau sebuah peristiwa belum terjadi tetapi orang dengan ciri past-future oriented ini akan terus menerus mengalami depresi dan cenderung berpikiran kerdil. Mereka susah melupakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya pada masa lalu.

Allah telah mengajarkan kita menerapkan ikhlas agar kita mendapatkan apa pun yang kita inginkan. Sayangnya, sebagian dari kita malah keliru menafsirkan ikhlas dengan menggolongkannya sebagai sikap yang lemah. Padahal, di dalam ikhlas terdapat sifat-sifat ilahiah, sifat-sifat yang dimiliki Tuhan. Di antaranya, bersyukur, sabar, fokus, cinta, damai, dan bahagia. Karena itu ikhlas justru sangat powerful untuk diterapkan di semua bidang kehidupan.
Kondisi ikhlas bisa membawa manusia menjadi sangat kuat, cerdas dan bijaksana. Karena dengan hati yang ikhlas kita bisa berpikir lebih jernih, mampu menjalani hidup dengan lebih efektif dan produktif untuk mencapai tujuan. Bahkan hubungan dengan siapa pun akan terjalin semakin menyenangkan.

Jika anda selalu berhasil merasa bahagia dan ikhlas di hati, anda akan memiliki hidup yang penuh dengan sukses kebahagiaan lahir batin yang sempurna, ( Erbe Sentanu ).

Wallahu a'lam bishshawab

Sumber : dari beberapa sumber bacaan.





Shalat Dhuha


Segala puji bagi Allah, satu-satunya sesembahan yang berhak untuk disembah. Shalawat dan salam tidak lupa kita tujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya serta para pengikutnya dengan baik hingga hari kiamat. Shalat Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim ketika waktu dhuha.
Waktu dhuha adalah waktu ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Jumlah raka'at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka'at. Dan dilakukan dalam satuan 2 raka'at sekali . Adapun keutamaan-keutamaan sholat Dhuha di antaranya:
Pertama, sholat Dhuha merupakan salah satu wasiat Nabi, dari riwayat hadits Abu Hurairah, beliau berkata, “Kekasihku (Nabi Muhammad) mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dalam tiap bulan, melakukan dua rakaat sholat Dhuha dan melakukan sholat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim)

Kedua, sholat Dhuha dapat mencukupi sebagai sedekah bagi tiap ruas tulang bani Adam. Hal ini berdasarkan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Tiap pagi ada kewajiban sedekah bagi tiap ruas tulang kalian, Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)

Ketiga, sholat Dhuha merupakan sholatnya orang-orang yang bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatnya orang-orang yang bertaubat adalah pada saat berdirinya anak unta karena teriknya matahari.” (HR. Muslim).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahumallah dalam Penjelasan Riyadush Shalihin menjelaskan bahwa sholat yang dimaksud adalah sholat Dhuha. Hadits ini juga menjelaskan bahwa waktu paling afdhol untuk melakukan sholat Dhuha adalah ketika matahari sudah terik.
Mengenai surat-surat yang dibaca setelah surat Al Fatihah, maka sepanjang pengetahuan kami, tidak ada dalil-dalil yang menyatakan tentang surat-surat khusus yang dibaca pada sholat ini. Jadi, kesimpulannya adalah boleh membaca surat apapun dalam Al Quran pada sholat Dhuha.

Wallahu a’lam bishshowwab.

Sumber : Abu Uzair Boris (Alumni Ma’had Ilmi) Murajaah: Ust Asas El Izzi, Lc. (Pengajar IslamicCentre Bin Baz), muslim.or.id



Minggu, 14 September 2008

Bahaya Lisan

Lisan merupakan bagian tubuh yang paling banyak digunakan dalam keseharian kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga lisan kita. Apakah banyak kebaikannya dengan menyampaikan yang haq ataupun malah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat.Pada berbagai pertemuan pembicaraan , seringkali kita mendapati pembicaraan berupa gunjingan (ghibah), mengadu domba (namimah) atau
maksiat lainnya. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut. Allah menggambarkan ghibah dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al-Hujurat: 12)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan makna ghibah (menggunjing) ini. Beliau bersabda, “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui” Beliau bersabda, “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim)
Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama, kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan, dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor.
Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

Wajib bagi orang yang hadir dalam majelis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemunkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan.
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan hal itu, sebagaimana dalam sabdanya, “Barangsiapa membela (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Alloh akan menghindarkan api Neraka dari wajahnya.” (HR. Ahmad)

Demikian pula halnya dalam mengadu domba (namimah). Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar manusia.
Allah mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 10-11).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba).” (HR. Bukhari).
Ibnu Atsir menjelaskan, “Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.” (An-Nihayah 4/11)
Oleh karena itu ada beberapa hal penting perlu kita perhatikan dalam menjaga lisan.
Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (An-Nisa: 114)

Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rosululloh shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Huroiroh ra berkata, Rasululloh SAW bersabda, “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR. Muslim)

Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah SAW bersabda, “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani)

Kelima, Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah ra berkata, “Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya” (HR. Bukhari-Muslim).
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan.
Wallohu’alam.

Sumber : Penulis Abu Ibrahim R. Indra Pratomo P.Artikel www.muslim.or.id



Doa bulan Ramadhan

Dalam rangkaian ayat Al-Qur’an mengenai puasa di bulan Ramadhan terselip suatu ayat yang secara khusus membicarakan soal berdoa. Di dalamnya Allah subhaanahu wa ta’aala perintahkan orang beriman untuk berdoa kepadaNya. Dan Allah
subhaanahu wa ta’aala berjanji untuk mengabulkan doa siapapun asalkan memenuhi tiga syarat: (1) Memohon hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, bukan selainNya. (2) Memenuhi segala perintahNya dan (3) Beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’aala sebagai Rabb yang Maha Kuasa mengabulkan permintaan dan menetapkan taqdir segalanya.

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah ayat 186)

Bulan Ramadhan merupakan bulan di mana orang beriman mempunyai kesempatan begitu luas untuk berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Dan waktu-waktu mustajab (saat doa berpeluang besar dikabulkan Allah) tersebar dalam beberapa momen khusus sepanjang Ramadhan.


ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga golongan yang doa mereka tidak ditolak: (1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, (2) imam yang adil dan (3) doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmidzi 3522)

Subhanallah…! Dalam hal berdoa orang berpuasa disetarakan dengan pemimpin yang adil dan orang terzalimi. Doa orang berpuasa mustajab. Didengar, tidak ditolak Allah subhaanahu wa ta’aala. Bahkan dikabulkan insyaAllah. Setiap orang yang faham hadits ini sangat bergembira menyambut Ramadhan. Sebab itu berarti selama 29 atau 30 hari selama ia berpuasa peluang doanya dikabulkan Allah subhaanahu wa ta’aala sangatlah luas…!

Dan terlebih lagi saat menjelang berbuka ketika menanti tibanya azan Magrib. Kita harus memanfaatkan waktu sebaiknya untuk berdoa saat itu. Maka, saudaraku, manfaatkan kesempatan emas menjelang berbuka dengan mengajukan berbagai permintaan kepada Allah ta'aala. Sebab sebagian masyarakat kita malah menghabiskan waktu dengan ngobrol tidak karuan menjelang magrib di bulan Ramadhan. Padahal coba perhatikan hadits berikut:


سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka.” (HR Ibnu Majah 1743)

Lalu apakahlafal khususNabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelang ifthor berbuka puasa? Beliau membaca sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah ini:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ
وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Jika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam berbuka, ia berdoa: Dhahabazh-zhoma-u wab tallatil-'uruq wa tsabbatal-ajru insyaa Allah “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat dan semoga ganjaran didapatkan, insya Allah.” (HR Abu Dawud 2010)

Mengapa di dalam doa berbuka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan: ”...dan semoga ganjaran didapatkan, insya Allah.”?

Karena sesungguhnya yang sangat diharapkan bukan semata kegembiraan pertama sewaktu berbuka di dunia, melainkan yang lebih diharapkan orang beriman ialah kegembiraan kedua yaitu saat bertemu Allah ta’aala di hari berbangkit kelak. Orang beriman ketika itu bergembira berjumpa Allah ta’aala karena puasanya sewaktu di dunia diterima olehNya. Demikianlah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda dalam hadits sebagai berikut:


لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan. Kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat kelak perjumpaannya dengan Allah ta’aala karena ibadah puasanya.” (HR Bukhary 1771)

Hidup manusia di dunia adalah pergantian antara susah dan senang. Maka selama bulan Ramadhan khususnya, marilah kita membaca yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam biasa baca ketika menghadapi keadaan susah maupun menerima karunia. Untuk mengantisipasi kesusahan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam melazimkan kalimat istighfar sebagaimana hadits berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang tetap melakukan istighfar, maka Allah subhaanahu wa ta’aala akan membebaskannya dari segala kesusahan dan melapangkannya dari setiap kesempitan serta akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak diduganya.” (HR Abu Dawud 1297)

Sedangkan ketika menerima karunia, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan kita membaca sebagaimana hadits berikut:


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً
فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ

“Setiap orang yang diberi karunia Allah ta'aala lalu ia membaca ‘Alhamdulillah’, maka Allah ta’aala akan berikan yang lebih utama daripada apa yang telah ia terima.” (HR Ibnu Majah 3795)

Ya Allah, basahi lidah kami dengan mengingatMu selalu. Cerdaskan kami dalam mengajukan doa-doa kepada Engkau sesuai situasi dan kondisi kami masing-masing mengikuti teladan NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Sya’ban dan Ramadhan. Amin ya rabb...

Allahu a’lam

Sumber : Ihsan Tandjung , http://www.eramuslim.com




Kamis, 11 September 2008

Malam 1000 bulan

Firman Allah , “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteran sampai terbit fajar ,” (Qs. Al-Qadr : 1-5).
Al Qur’an diturunkan pada malam yang disifati oleh Allah sebagai malam mubarokah (penuh barokah). Sejumlah ulama salaf seperti Ibnu ‘Abbas, Qatadah , Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah , Mujahid dan lain-lain sepakat bahwa yang dimaksud dengan malam yang penuh barokah saat diturunkan al-Qur’an adalah Lailatul Qadar.

Allah menyebut malam itu sebagai Lailatul Qadar karena kedudukannya yang agung dan mulia disisi Allah. Malam ini nilainya lebih baik dari bukan hanya sekedar sama dengan seribu bulan. Pada malam itu ada pengampunan dosa-dosa dan penutupan aib oleh Allah SWT.

Dari hadits riwayat Al Bukhari –Muslim, Rasulullah SAW bersabda , “ Barangsiapa berdiri (shalat) pada Lailatul Qadar atas dsar iman dan mencari ridha Allah, maka akan diampuni segala dosa yang telah lalu “.

Ada juga ulama yang berpandangan lain. Al Khalil bin Ahmad menyatakan ,”Qadar itu artinya sempit. Malam itu disebut Lailatul Qadar karena saat itu bumi penuh sesak oleh para malaikat yang turun dari langit. Dan tentu saja banyak malaikat yang turun ke bumi menunjukkan keutamaan malam itu “.

Mencari Lailatul Qadar.

Dianjurkan untuk memburu Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan khususnya pada sepuluh hari terakhir, dan lebih khusus lagi pada malam-malam ganjil : Malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 dan malam 29.

Hadits riwayat Bukhari – Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda ,” Carilah (Lailatul Qadar) pada sepuluh hari terakhir, pada malam ganjil “.
Dari riwayat hadits Bukhari, bahwa Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda ,” Carilah pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan . Lailatul Qadar pada malam ke dua puluh sembilan, ke dua puluh tujuh, dan keduapuluh lima”.

Jadi apakah kemungkinan besar Lailatul Qadar kemungkinan pada malam-malam witir ini ? Rasulullah tidak menjelaskan secar eksplisit.

Dalam suatu riwayat , diyatakan bahwa Beliau pernah berencana untuk menginformasikannya. Sahabat ‘Ubadah bin Samit melaporkan bahwa Rasulullah SAW keluar untuk mengabarkan tentang Lailatul Qadar. Tetapi dua orang muslim berdebat (bertengkar) tentang kapan terjadinya Lailatul Qadar itu. Maka Rasulullah SAW mengatakan ,” Aku keluar untuk memberitahu kalian tentang Lailatul Qadar. Tetapi si fulan dan si fulan bertengkar maka aku dibuat lupa karenanya. Mudah-mudahan itu menjadi kebaikan bagi kalian. Maka carilah Lailatul Qadar pada malam kesembilan, ketujuh dan kelima. (Al Bukahari).

Datangnya Lailatul Qadar pada malam ke dua puluh tujuh lebih besar peluangnya . Karena Rasulullah SAW pernah bersambda,” Lailatul Qadar adalah malam dua puluh tujuh”, (Musnad Ahmad dan Abu Dawud).

Dan yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam ke dua puluh tujuh adalah jumhur ulama. Sampai-sampai ‘Ubay bin Ka’ab sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, berani bersumpah bahwa Lailatul Qadar itu pada malam dua puluh tujuh. Demikian pula pendapat Ibnu ‘Abbas.

Pada malam Lailatul Qadar ini dianjurkan memperbanyak doa terutama doa yang diajarkan Rasulullah SAW ,” Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku)” (hr At Tirmidzi dan Ibn Majah dengan sanad sahih).

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Berdasarkan hadits-hadits sahih, ada beberapa tanda Lailatul Qadar, misalnya ;

  1. Matahari pada pagi harinya tidak terlalu terang seperti biasanya. Ubay bin Ka’ab menerangkan bahwa Rasulullah SAW menjelaskan tanda-tanda Lailatul Qadar adalah bahwa pada pagi harinya matahari terbit dengan tidak terlalu terang (agak redup dibanding biasanya) (Hr Muslim).
  2. Malam itu cerah dan udara terasa sedang , tidak panas dan tidak pula dingin. Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Lailatul Qadar adalah malam yang cerah tidak panas dan tidak pula dingin. Pada pagi harinya matahari tampak kemerahan redup”. (ibn Khuzaimah dan Ath Thayalisi, sanan sahih).
  3. Tidak ada bintang jatuh (meteor). Rasulullah SAW bersabda ,” Lailatul Qadar adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, dan tidak ada bintang yang jatuh (meteor) “. (hadits hasan riwayat Ath Thabrani).

Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh keistimewaan. Di malam itu Allah benar-benar membuktikan kasih sayang dan rahmat-Nya kepada Manusia.

Sumber : Ash Shohwah



Antara sabar dan musibah

Barang siapa menghendaki selamat dari siksa Allah, yang ingin memperoleh pahala dan rahmat, serta ingin dimasukkan dalam surga-Nya. Maka ia seharusnya mencegah keinginan nafsu dari kesenangan duniawi. Selalu sabar dalam penderitaan dan bencana. Semangat bisa pdam dalam kesedihan. Kesedihan seperti demam yang melumpuhkan segala aktivitas. Menghiasi dengan sikap sabar merupakan sikap orang-orang mulia. Kalau tidak sabar, apa lagi yang harus dilakukan ?
Apakah ada selain sabar yang bisa digunakan untuk menghadapi persoalan hidup ?
Bersabar , sebagaimana kesabaran orang yang optimis akan datangnya pertolongan Allah.
Firman Allah, “ Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (Qs.3 : 146).
Sabar dapat ditinjau dari segi :
1. Sabar selalu taat kepada Allah
2. sabar mencegah larangan Allah
3. Sabar pada pukulan pertama ketika ada bencana

Barang siapa yang sabar melakukan ketaatan kepada Allah, artinya Allah memberikan 300 tingkat surga pada hari akherat. Dan setiap tingkatnya seluas antara bumi dan langit.
Barang siapa yang sabar mencegah tidak melakukan larangan Allah, artinya Allah memberikan 600 tingkat surga di hari akherat. Dimana setiap tingkatnya seluas antara langit ke tujuh dan bumi ke tujuh pula.

Barang siapa yang sabar menghadapi musibah, artinya Allah memberikan 700 tingkat surga di hari akherat. Dimana setiap tingkatnya seluas antara arsy dan bumi.

Diriwayatkan , Nabi bersabda dengan membawa firman Allah, “ Tidak ada seorang hamba yang terkena musibah dan masih berpegang teguh kepada-Ku, kecuali Aku akan memberikannya sebelum ia meminta . Dan tidak ada seorang hamba yang kena musibah, lalu ia bergantung selain dari-Ku, kecuali Aku selalu menutup pintu-pintu langit.”

Wajib bagi yang berakal senantiasa bersabar menghadapi bencana. Seharusnya tidak mengadukan bencana kepada sesama manusia, agar ia selamat. Dan bencana yang paling berat adalah bencana yang ditimpakan kepada para Nabi dan wali.
Kata Imam Junaid al Baghdadi, “ Bencana merupakan penerang bagi orang-orang yangbijak, gerakan kebangkitan bagi orang-orang yang mencari ridha allah, kebajikan bagi orang mukmin, dan kebiasaan bagi orang-orang yang lupa (akan Dzat-Nya). Bukankah tak ada seorang mukminpun yang mampu merasakan manisnya iman kecuali dia memperoleh limpahan bencana , kemudian ia ridha dan bersabar. “

Sabda Rasulullah , “ Barang siapa yang sakit semalam serta bersabar dan ridha kepada Allah SWT , maka dosa-dosanya bersih laksana baru dilahirkan oleh ibunya. “

Ketika kalian sakit, janganlah mengharap sembuh. Kata Dhuhak : “ Barang siapa yang tidak kena musibah atau kesusahan selama 40 hari, maka ia menurut Allah tidak memperoleh kebajikan,”.

Riwayat Mu’adz bin Jabal ra, Rasulullah SAW bersabda, “ Ketika seorang hamba mukmin memperoleh bencana, maka Dia berfirman kepada malaikat sebelah kiri-Nya ; “ Ambilkan alat tulis untuknya ‘ Kemudian Dia berfirman kepada malaikat sebelah kanan-Nya ;’Tuliskan untuk hamba-Ku ini suatu kebajikan yang ia lakukan.”

Kita bisa berdoa kepada Allah tantang apa saja dan berharap bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Sesorang dapat berdoa kepada Allah untuk memohon berbagai hal yang tidak terhitung jumlahnya.
Sabda Rasulullah , “ Maukah aku beritahukan kepadamu sutu senjata yang dapat melindungimu dari kejahatan musuh dan membuat rezekimu bertambah ?”
Mereka berkata ,” Tentu saja wahai Rasulullah. “
Beliau bersabda , “ Serulah Tuhan-mu siang dan malam, karena doa itu merupakan senjata bagi orang yang beriman , “

Namun tidak setiap doa yang dipanjatkan oleh manusia itu bermanfaat. Ketika doa tidak dikabulkan, orang-orang tidak menyadari tentang rahasia ini, mereka mengira Allah tidak mendengar doa mereka. Dia Maha Mengetahui perkataan apa saja yang diucapkan, apa saja yang dipikirkan, dan peristiwa apa saja yang dialami seseorang.
Firman Allah ,” Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu tergesa-gesa ,” (Qs. Al-Isra’ : 11).

Sumber :Rahasia ketajaman hati , Imam Ghazali , terjemahan dari Mukasyafatul Qulub (111 bab) , Imam Ghazali , dsb.




Rabu, 10 September 2008

Bagai rasa lapar , menunggu makanan datang

Rasa lapar akan membuat seseorang mempersiapkan diri untuk membenahi posisinya sehingga ketika makanan tiba ia tinggal menikmatinya. Kesulitan yang kita alami ini, sebelum datangnya kemudahan bagaikan datangnya rasa lapar sebelum datangnya makanan. Bagaikan menahan lapar dan haus saat puasa sambil menunggu datangya saat berbuka.
Benarlah bila dikatakan apa yang kita sukai saat ini belum tentu baik untuk masa depan. Umumnya manusia membagi peristiwa yang menimpanya menjadi dua kelompok besar, yaitu peristiwa baik dan peristiwa buruk. Pembagian ini juga bergantung pada susut pandang orang itu berdasar budaya, lingkungan atau keyakinan yang dianut.

Memang seringkali kita memandang atau menganalisa terlalu cepat sebuah situasi persoalan yang menimpa. Sehingga ada perasaan menyalahkan pihak lain sebagai penyebab kemalangan kita.

Bahkan sering kita mempertanyakan kepada Tuhan.
Dan mengeluh ‘ “Ya Allah , ya Tuhan-ku kenapa hal ini bisa terjadi pada saya ? “
“Saya ini orang yang taat menjalankan perintah-Mu, tetapi kenapa hal ini menimpa padaku ?”
Apakah anda berpikir , semakin anda taat , anda dijamin akan tidak kena musibah ?


Firman Allah , “ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya ; “Bilakah datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Qs. Al-Baqarah : 214).

Kita disini mencoba memandang kondisi ini dari kaidah Islam . Yang menjadi patokan keyakinan kita adalah bahwa hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Dari hadits riwayat Bukhari ,

bahwa Saad Bin Waqqash berkata, “ Aku pernah bertanya ,” Wahai Rasulullah ! Siapakah orang yang paling berat cobaanya ?”

Beliau menjawab ,” Para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang sesudah mereka secara berturut-turut menurut tingkat keshalihannya . Seseorang akan diberi ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, akan ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankannya cobaan baginya . Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikitpun”.


Manusia hanya bisa melihat tampilan luar suatu peristiwa dan hanya mampu bersandar pada kemapuan inderanya. Allah menyatakan kepada kita bahwa suatu peristiwa yang dianggap baik oleh manusia, pada suatu saat terbukti bahwa sebenarnya merugikan manusia itu sendiri.

Firman Allah, “ Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu , Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui “. (Qs. Al-Baqarah : 216).

Dengan meyakini hal ini, kita akan memiliki pandangan lebih luas dan lebih baik. Kita akan merasa bersyukur atas segala yang terjadi pada diri kita. Akibatnya kita, akan berupaya untuk melihat kebaikan dalam segala sesuatu yang kita alami.

Sumber : Hendra Setiawan , Agar selalu ditolong Allah , dll.