*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Rabu, 30 Desember 2009

Keinginan yang tersembunyi

Al Muhasibi dalam Ar-Ria’yah , menyatakan bahwa setiap jiwa seorang hamba adalah ingin mencari kenikmatan, dan keinginan hawa nafsu yang selalu tersembunyi bagaikan api dalam sekam. Setiap hamba beriman yang berupaya mengendalikan syahwatnya dengan berjuang menjalankan ketaatan dan ibadah, maka nafsu (syahwat) akan selalu berusaha menghiasinya agar mendapatkan pujian atau pengakuan atau penghargaan, atau bentuk penghormatan lainnya dari orang lain.

Kecenderungan dari hawa nafsu untuk mendapatkan pujian atau sanjungan, menyebabkan sifat riya akan selalu menyelinap dalam hati. Sehingga seseorang mengira bahawa apa yang telah dila jalankan masih masuk dalam koridor ikhlash , padahal sebenarnya dia sudah terseret bersama arus riya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumudin, menjelaskan beberapa tingkatan riya ;
Pertama
Bila seorang hamba memperbaiki shalat dan amal shalihnya karena ada orang lain yang melihat. Sehingga mereka memandangnya dengan pandangan penghormatan, kemudian kekhusyu’an jasmaninya semakin bertambah . Maka ini dinamakan sebagai riya lahiriah.

Kedua
Ketika seorang hamba telah menyadari dan memahami riya lahiriyah, dan berusaha untuk menghindarinya.
Namun syetan akan mendatanginya dari sisi yang lain, syetan akan berusaha menipu dan memperdaya. Seperti mengajaknya untuk memperbaiki shalat dan memperindah , memperpanjang bacaan ayat , karena ia adalah teladan dalam masyarakat.
Oleh karena itu, dia mesti memperbaiki shalatnya, agar pahala orang-orang yang mencontoh dan meneladaninya juga ia dapatkan.
Ini meupakan penipuan, dimana tujuannya adalah untuk mendapatkan kelezatan jiwa dan mendapatkan apa yang dia harapkan selain ridha Allah.
Alasan-alasan yang dikemukakan, untuk melanggengkan kebatilan dalam bentuk kebenaran, agar orang lain tidak menolaknya secara mutlak.

Ketiga,
Bila seorang hamba beriman, telah menyadari akan derajat kedua diatas merupakan bagian dari riya. Maka syetan akan mengajaknya untuk shalat yang lebih khusyu’ pada siang hari (selain shalat yang dijaharkan) dan memanjangkan bacaan ayat, sehingga ibadah yang dilakukan dengan sir (tidak dijaharkan) berbeda dengan shalat yang dia lakukan dengan jahar.

Keempat,
Ini adalah yang paling tersembunyi, yaitu dimana seorang hamba beriman telah mengetahui tiga tingkatan sebelumnya. Ketika itu syetan tidak lagi mempu menghampirinya dari sisi ibadah. Sehingga syetan akan mengajaknya untuk meningkatkan kekhusyu’an dalam shalat, seperti ketika shalat dihadapan orang banyak, syetan akan membisikkan kepadanya : pikirkanlah keagungan Allah, mersa malulah kepada-Nya bahwa Allah akan melihat ke dalam hatimu ketika kamu sedang lalai.
Ketika itu, hati akan bertambah khusyu’. Namun demikian, ini adalah riya yang sangat tersembunyi. Karena kekhusyu’an orang yang beribadah akan berbeda ketika dia shalat sendirian dan jauh dari pandangan manusia.
Allahu a’lam
Sumber : al-ikhlas , Dr Umar Sulaiman Abdullah al-Asygar


Selasa, 29 Desember 2009

tips praktis Merawat Kulkas

Hampir di setiap rumah terdapat kulkas. Yap, piranti yang satu ini memang sudah menjadi kebutuhan dasar di dapur. Pasalnya, kulkas merupakan solusi paling tepat bagi mereka yang tak punya waktu setiap hari ke pasar untuk untuk sekedar membeli daging dan sayur-sayuran.
Lantaran dipakai setiap hari, tentu kulkas bisa menjadi kotor. Bahkan bisa juga menyebarkan bau tidak sedap yang ditimbulkan oleh aneka bahan mentah yang tersimpan di sana.

Oleh karena itu, ada beberapa langkah / tips perawatan yang bisa dilakukan secara periodik pada kulkas. Hal ini perlu dilakukan agar kulkas awet dan bisa bekerja secara optimal. Langkah-langkah tersebut antara lain adalah:

1. Membersihkan dinding bagian dalam minimal sebulan sekali agar tidak menimbulkan bau tidak sedap.

2. Membersihkan bagian belakang (kompresor) dari debu.
Sebelum dibersihkan, sebaiknya cabut kabel dari stop kontak terlebih dulu.

3. Bersihkan bagian luar kulkas agar untuk menjaga penampilan luarnya.

4. Jangan mencungkil bunga es dengan benda yang tajam karena akan merusak evaporator. Untuk mencairkan bunga es, Anda cukup mematikan aliran listrik atau menekan tombol agar bunga es mencair.

5. Usai dibersihkan, atur suhu secara benar, yaitu medium untuk freezer dan minimum atau maksimum untuk refrigerator. Hal ini perlu karena kalau suhu pada freezer diatur maksimum, maka refrigerator akan berkurang dinginnya.

6. Setelah kulkas selesai dibersihkan, jangan langsung mengisinya dengan barang. Biarkan suhu dingin di dalamnya stabil terlebih dulu (sekitar 20-30 menit) baru setelah itu mengisinya.

7. Jangan pernah menaruh makanan yang masih panas ke dalam kulkas (contohnya agar-agar) karena akan membuat kompresor bekerja keras.

8. Agar kulkas tahan lama dan mampu mendinginkan dengan sempurna, jangan pernah menaruh kulkas dekat dengan sumber panas seperti halnya kompor.

9. Jika kulkas diletakkan di kitchen set, berikan ruang masing-masing 5 cm untuk kestabilan sirkulasi udara di kulkas agar dinginnya maksimal.

semoga bermanfaat

Source: Klasika Kompas 26 Maret 2008http://kumpulantipspilihan.blogspot.com




Rela dengan ketentuan Allah

Dalam menghadapi sesuatu yang tidak disenangi, seorang hamba dapat bersikap, marah sabar, rela atau bahkan bersyukur. Sikap sabar adalah wajib bagi seorang hamba yang beriman, sedangkan rela (ikhlas) adalah sikap utama yang disunahkan.
Hamba yang ikhlas lebih mampu melihat hikmah dan kebaikan dalam cobaan yang ditimpakan Allah kepadanya, dan terhindar dari prasangka buruk terhadap ketentuan-Nya. Bahkan para ahli makrifat, dalam menghadapi musibah yang menimpa, dirasakannya sebagai suatu nikmat, lantaran jiwa bertemu dengan kecintaanya.

Diantara sabar dan ikhlas, dimana sabar adalah menahan diri dan mencegahnya dari kemarahan serta kesal pada saat merasakan derita, sakit dikala musibah. Sambil berharap , dan berdoa agar derita ini segera berakhir.
Sedangkan ikhlas (rela), adalah berlapang dada dalam menerima ketentuan-Nya dan menerimanya dengan sepenuh hati. Dan menjauhi keinginan-keinginan atau harapan agar derita ini segera berakhir.

Imam Tirmidzi mentakhrijkan hadits dari Anas ra, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya, “ Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia mengujinya (dengan musibah). Barangsiapa yang rela, maka mereka mendapat ridha Allah. Dan barang siapa yang tidak rela bahkan benci, maka mereka akan dibenci pula oleh Allah “, (Hr Tirmidzi dalam Az-Zuhd (7.77). Ia menyatakan ,’hadits ini hasan gharib.Assuyuthi menghasankan hadits ini dalam Jami’as Shaghir 3,459).

Sahabat Ibn Mas’ud, berkata bahwa ‘Allah SWT dengan keadilan dan Kemahatahuan-Nya menjadikan kebahagiaan dan kesenangan ada pada keyakinan dan kerelaan hati, dan menjadikan duka dan kesusajan pada keraguan dan ketidak relaan,’

Abdul Wahid bin Zaid, berkata, bahwa Rela itu pintu Allah yang paling agung surge dunia dan tempat istirahatnya para ahli ibadah ,.

Bahkan Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz , berkata ,’tak ada kebahagiaan bagiku kecuali menerima datangnya takdir,’

Dan ketika ditanya ‘Apa yang tuan sukai ?’

Dijawabnya ,’ Yang aku sukai adalah apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah ‘azza wa jalla’.

Imam Hasan Basri berkata ,bahdwa barang siapa yang rela terhadap bagian (takdir yang telah ditentukan) untuknya niscaya Allah akan melapangkan jalan dan memberkahinya. Namun barangsiapa yang tidak rela, maka Allah tidak akan melapangkannya dan tidak akan member keberkahan baginya ,’

Saudaraku, semoga kita mendapat hidayah-Nya untuk menjadi hamba-hamba yang bersyukur.

Allahu a’lam
Sumber : Ibtihadj Musyarof, Rahasia sifat ikhlas



Senin, 28 Desember 2009

Merindukan datangnya malam

Untuk mendapatkan kenikmatan yang besar , para salaf sangat bergembira menyambut kedatangan malam dan menyesali bila malam telah berlalu. Karena disiang hari mereka tidak bisa menikmati manisnya bermunajad dan bertahajud.

عن عبد اﷲ بن أبي قيس قل ٭ قلت لي عاءسة رضي اﷲ عنها ؛ لا تد ع قيام الليل، فإ ن رسو ل اﷲ صلى اﷲ عليه و سلم كا ن لا يد عه، و كن إذامرض أو كسل صلى قا عدا ؛ رواه أبو داودوابن حزيمة؛
“Dari Abdillah bin Abu Qays ra bahwa Aisyah ra berkata ,”Janganlah kamu meninggalkan qiyamullail ! karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan-nya. Jika beliau sakit atau malas, maka beliau shalat sambil duduk “. (diriwayatkan Abu Dawud dan Ibn Majah).

Bangunlah saudaraku, untuk menegakkan tahajud , karena didalamnya ada ridha Allah yang menjaga dirimu. Dan ini adalah kemuliaan hamba beriman dihadapan-Nya.
Hamba yang beriman akan memanfaatkan kesempatan ini dengan akal dan melihat dirinya,lalu mengambil bagiannya , sehingga merasa bergembira ketika datangnya waktu malam.

Waktu malam adalah waktu dimana ruh manusia hidup, aktif dan bernafas, sehingga merasakan kegembiraan dan kesenangan di dalamnya,memperbanyak permohonan, dengan memohon kebaikan dari Rabb-nya.
Saat itu hamba yang beriman bersimpuh dihadapan-Nya, beriktikaf untuk bermunajat kepada-Nya, menggapai cahaya kedekatan, serta mengingat dosa-dosanya . Begitu mulianya waktu malam, bahkan Ali bin Bikar dalam Al-Jarh wa At ta’dil (Ibn abi Hatim) berkata bahwa sejak empat puluh tahun yang lalu, tidak ada yang membuatku sedih kecuali terbitnya fajar.

Diantara hal penting dalam proses pendidikan iman adalah unsur rutinitas dan istiqomahnya dalam ketaatan walaupun sedikit. Karena sebagaimana hadits diatas , suatu ketaatan bila dilakukan dengan rutin maka akan lebih melekat dalam jiwa, sehingga jiwa akan terbiasa, merindukan dan bersedih jika terlewatkan.

An Nawawi dalam Syarh Muslim , menjelaskan hadits diatas, bahwa sesuatu yang sedikit namun apabila dilakukan terus menerus lebih baik daripada sesuatu yang banyak tetapi hanya dikerjakan sepotong-sepotong.
Dalam Sairu a’lami an-Nubala (Adz Dzahabi) dikatakan oleh Muhammad bin Himdun berkata, ‘Saya menemani Abu Bakar Ahmad bin Ishak an –Nisaburi bertahun-tahun. Aku tidak pernah melihatnya meninggalkan qiyamullail baik ketika dalam perjalanan maupun ketika muqim.

Begitu mulianya seorang hamba yang bangun malam dan melaksanakan tahajud, sehingga membuat Allah dan malaikat bangga akan hal itu.

Sebagaimana sebuah hadits riwayat Ahmad dan Ibn Hasan, yang artinya ,” Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam berkata ,” Seorang dari umatku bangun malam untuk mengobati dirinya menuju kesucian dan dia terikat. Jika dia membersihkan kedua tangannya maka lepaslah ikatannya ; jika dia membersihkan wajahnya lepaslah ikatannya ; jika dia membasuh kepalanya lepaslah ikatannya ; dan jika dia membersihkan kedua kakinya lepaslah ikatannya. Lalu Allah berfirman kepada orang-orang yang ada di balik hijab (malaikat). “Lihatlah hamba-Ku yang mengobati dirinya dan memohon kepada-Ku ! Apa yang dimohon umat-Ku dari -Ku adalah miliknya “ (Hr Ahmad dan Ibn Hibban). 1.

Saudaraku , bangunlah dalam keheningan malam dan bermunajatlah kepada Allah serta mohonlah ampunan-Nya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Rabb kita heran kepada dua orang, yaitu :


  1. Pertama , orang yang bangun malam meninggalkan istri dan kasurnya yang dicintainya, untuk shalat malam. Maka Allah berfirman ,”Wahai malaikat-Ku, lihatlah hamba-Ku yang meninggalkan kasur dan istri yang dicintainya karena mengerjakan shalat dan lebih mencintai apa yang ada disisi-Ku dan merindukan apa-apa yang ada pada-Ku !”

  2. Kedua , orang yang berperang di jalan Allah dan kawan-kawannya kalah, sedangkan dia tahu kekalahan itu, tetapi dia tidak kembali, melainkan terus berperang hingga darahnya tertumpah. Lalu Allah berfirman kepada malaikat-Nya ,” Lihatlah kepada hamba-Ku yang kembali karena mengharapkan apa yang ada disisi-Ku dan merindukan apa yang ada disisi-Ku hingga darahnya tertumpah “. (Hr Ahmad, Abu Dawud, Ibn Hibban dalam shahihnya).2.

Hasan Basri dalam Az-Zuhud (Imam Ahmad) berkata, ‘ jika seorang hamba tidur dalam keadaan sujud (bangun malam) maka Allah membanggakannya terhadap malaikat seraya berkata “ Lihatlah hamba-Ku ini! Dia menyembah-Ku dan ruhnya adapada-Ku sedangkan dia dalam keadaan bersujud “.
Saudaraku, bukankah suatu tanda kemuliaan bagi seorang hamba yang bertahajud disaat manusia lain tidur, yang menjadikan khalwatnya sebagai kesenangan, menjadikan munajatnya sebagai kegembiraan, zikir dan bacaan Al-Qur’an nya sebagai kenikmatan.

Allahu a’lam
Sumber : Muhammad bin Shalih Ash Shai’ari dalam Kaifa Tatahammasu liqiyan al-lail.
Catatan :
1. Hadits ini menurut Al-Albani dalam shahih at targhib wa at tarhib, berderajad hasan.
2. Diriwayatkan Ibn Mas’ud yang dihasankan oleh Al-Albani didalam shahih at Targhib wa at tarhib



Minggu, 27 Desember 2009

Hati yang berkabut

Hati yang tidak tenang ,membuat kehidupan seorang hamba tidak akan bahagia. Hati yang tidak tenang akan membuat jiwa penuh dengan keluh kesah justru karena keberlimpahan dunia yang ia raih. Semua itu berpangkal dari kemaksiatan yang kita lakukan. Kemaksiatan mengakibatkan tertutupnya hati, pendengaran dan penglihatan. Sehingga hatinya tertutp kabut, kalbu tersumbat kotoran dan juga menghapus kebaikan hati sebelumnya.

Kemaksiatan menjauhkan diri dari ketaatan kepada Allah , karena hati menjadi tuli dan enggan mendengar kebenaran, membuat hati menjadi buta sehingga enggan membicarakan kebenaran. Bahkan kemaksiatan bisa membalikkan hati , dimana akan melihat kebenaran sebagai kebatilan dan melihat kebatilan tampak seperti kebenaran. Yang ma’ruf menjadi kelihatan munkar atau sebaliknya. Seorang hamba merasa membuat perbaikan walaupun sebenarnya justru dia membuat kerusakan. Melihat keburukan justru tampak indah.

Saudaraku,betapa hati menjadi sakit tanpa dirasakan oleh pemiliknya. Banyak diantara kita terjerumus justru karena banyaknya pujian yang diterima. Itu semua karena perbuatan hamba yang tidak mengindahkan peringatan-Nya.

Sebagaimana Allah berfirman,


ومن اعرض عن ذكر فان له ﻤﻋﻴﺸﺔ ضنكا ونحشر ه يو م القيمة اعمى

,”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta “, (Qs. Thaha : 124).

Seorang hamba yang berpaling dari peringatan Allah akan mendapati kehidupannya semakin menyempit. Walaupun terlihat dari luar dia menikmati semua jenis kenikmatan dunia , namun hatinya semakin jauh keterasingan, keluh kesah berkepanjangan , dan semakin jauh dari kedamaian. Akibat terbesar dari maksiat adalah keluarnya seorang hmba darijalan yang lurus.

Untuk menghindari itu kesempitan kehidupan, maka segeralah kembali mengikuti peringatan Allah.Mengikuti jalan-Nya. Berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar diberi ptunjuk kembali kejalan-Nya yang lurus. Tiada sesuatupun yang lebih dibutuhkan dan lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada doa itu. Marikita mulai dari sekarang.

Saudaraku , seorang hamba tidakmemiliki kemampuan untukmendapatkan hidayah dan melakukan semua hal menuju kebaikan secara keseluruhan ,kecuali dengan izin Allah. Akan tetapi seorang hamba yang berupaya mengikuti dan hanya berhanti di titik itu,maka ia tidak akan mendapatkan hidayah mengikuti jalan yang lurus. Allah menjadikan jalan yang lurus ini sebagai cahaya bagi hamba yang beriman kepada-Nya dan rasul-Nya. Allah akan menjaga cahaya itu selama kita menjaga keimanan kita, selama kita menghindari maksiat. Dan Allah akan segera memadamkan cahaya ketika kita mulai melalaikan peringatan-Nya .

Mari kita renungkan firman Allah, yang artinya ,” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan ,” (Qs.an_Nahl : 97)

Saudaraku, hati yang bersih adalah hati yang terhidar dari sifat syirik, dengki,dendam, takabur dan segala bentuk penyakit yang menjauhkan dari Allah. Bersih dari segala keraguan kepada-Nya.

Allahu a’lam
Sumber : Aljawabul kafi dawa ad dawa ,Ibn Qoyyim al Jauziyah


Kegagalan,berarti kita telah belajar

Saudaraku, seorang manusia akan jauh lebih banyak belajar pada saat ia banyak menemui kegagalan daripada saat dia mengalami kesuksesan. Belajar dalam arti yang luas, dalam kehidupan ini. Kegagalan dapat membuat kita banyak belajar tentang jalan-jalan yang telah dilalui. Tenanglah dan nikmatilah kehidupan anda, jika bergerak terlalu cepat anda akan banyak kehilangan pemandangan indah , dan anda juga bisa kehilangan kesadaran kemana sebenarnya kita akan berjalan dan apa alasannya.

Belajar berarti menemukan sudut pandangh yang baru atau sudut pandang yang berbeda bagi setiapkejadian yang kita alami. Dan kegagalan adalah sarana tepat untukmendapatkan hal itu.

Dalam kegagalan , kita mendapati atau terdampar diwilayah asing . Wilayah yang belum pernah kita jalani atau wilayah yang kita ingin hindari sebelumnya. Dan bagi yang mau belajar , maka justru di wilayah asing ini kita melakukan pembelajaran,sehingga ia menjadi paham akan wilayah asing ini.


Apabila anda ingin menuju ke suatu tujuan di lokasi A, anda akan melalui jalan B dan anda tidak mengambil jalan selain B , sehingga anada mengenal benarliku-liku jalan B.
Namun bila suatu ketika anda tersesat karena melalui jalan C, D, atau E, dan kemudian anda ternyata juga menemukan jalan menuju A. Otomatis pengalaman anda akan semakin banyak. Dimana sekarang nada telam belajar banyak tentang 4 jalan sekaligus menuju A. Pengetahuan anda menjadi 4 kali lebih banyak. Bukankah , anda bisa menemukan jalan C,D dan E bermula karena kegagalan atau tersesat jalan?

Kegagalan bukan berarti anda kurang pandai ,namun dengan kegagalan berarti anda telah lebih banyak memiliki kebenaran.

Bersyukurlah kepada Allah, bila anda mendapat masalah, karena masalah yang anda hadapi saat ini akan membuat anda hidup. Masalah yang anda hadapi saat ini membuktikan bahwa Tuhan masih mempercayakan kepada kita untuk tetap hidup.

Dari Anas ra, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghenadaki kebaikan kepada hamba-Nya ,maka Dia akan memberikan hukuman atas dosa-dosanya di dunia. Namun jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keburukan atas hamba-Nya maka Dia akan menahan hukuman atas dosa-dosanya dan akan diberikan kepadanya di hati kiamat “, (Hr Turmudzi).1.

Dari hadits tersebut, Ath Thibbi menyatakan bahwa , sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam “ Dia akan menahan hukuman atas dosa-dosanya” artinya Allah akan menahan apa yang menjadi hak manusia dari hukuman atas dosa-dosa yang dilakukannya. Maksud dari ungkapan ini adalah bawa Allah tidak akan memberikan balasan atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya sewaktu-waktu didunia. Akan tetapi Allah akan menangguhkannya, sehingga di akhirat kelak ia akan datang dengan membawa dosa-dosa yang banyak dan Allah akan memberikan balasan kepadanya atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya ,’ 2.

Sa’id bin Musayyab dalam Ar-Ridha berkata, bahwa ‘ Luqman berkata kepada anaknya ‘
“Wahai anakku ! Tidak stu perkara pun yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadamu ; baik itu yang kau senangi maupun yang kau benci,kecuali akan terdetak dalam hatimu bahwa perkara itu baik bagimu “ .3.


Saudaraku terimalah kehidupan ini apa adanya. Kegelisahan, kesedihan akan muncul ketika kita marah terhadap masalah yang menimpa. Tetaplah tenang , anda akan melihat bahwa solusi darimasalah yang ada akan datang dengan sendirinya. Beroalah serahkan lah masalah apapun yang anda hadapi sat ini. Ketenangan anada akan menarik pintu penyelesaian masalah ini.

Allahu a’lam


Sumber : Yusran Pora, gagal itu indah., Abdullah bin ali Al-Juaitsin.
Catatan :
1. Hr Turmudzi 4/519 no.2396, beliau juga mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Albani mengatakan dalam kitab shalih Sunan at-turmudzi 2/285,’hadit ini adalah hadits hasan shahih. Hadits ini dkuatkan oleh hadits Abdullah bin Mughaffal yang dishahihkan oleh Ibn Hibban dalam Mawarid, no.455 dan Al Manawi dalam At-Taisiir (I/64).
2. Syarah al Musykaah 3/310.
3. Ar Ridha, Ibn Abi Ad-Dunia


Setiap penyakit ada obatnya

Dari hadits riwayat Bukhari, bahwa Rasulullah bersabda,
ماأنزل اﷲ داءإﻻأنز ل له شفا ء ٠ ر و ا ه البخا ري٠
“Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia menurunkan juga obat untuk penyakit itu “, (Hr Bhukari ,10/134 no.5678).
Apabila ditimpa penyakit, maka seorang hamba yang mempunyai pemahaman akan hadits diatas ,maka hatinya menjadi lembut dan akan merasa kuat disamping rasa harap dan optimis dalam menantikan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan jangan merasa enggan untuk berobat dan selalu berupaya untuk mencari sebab-sebab kesembuhan, seperti mencari dokter,pengobatan

Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,”Setiap penyakit ada obatnya, bila diberi obat , maka akan sembuh dengan izin Allah “. (Hr Imam Muslim,4/1729 no.2204).

Saudaraku,setiap hamba harus memahami dua hal tentang ujian sakit, yaitu :


1. bahwa obat adalah hanya sebab kesembuha, sedangkan penyembuh yang sebenarnya hanyalah Allah semata. Oleh karena itu kesembuhan dari Allah melalui melalui obat yang dikonsumsi, dan bisa jadi Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kesembuhan walaupun tanpa obat. Sebagaimana firman Allah ketika menceritakan kisah Nabi Ibrahim, "
وإذا مر ضت فهو يشفين
“Dan apabila aku sakit.Dialah Yang menyembukhkan aku”, (Qs. As-Syu’ara : 80).


2. Bahwa jangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan untuk berobat dengan benda-benda haram dan Allah tidakmenjadikan benda-benda penyembuh dari benda-benda yang diharamkan-Nya.
Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Sesungguhnya Allah Subahanhu wa Ta’ala menciptakan penyakit dan obat,maka berobatlah , akan tetapi janganlah kalian berobat dengan yang haram ,” (Hr Ad-Daulabi). 1.

Sebagaimana hadit, riwayat Abu Ya’la bahawa dari Ummu Salamah ra, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan penyembuh kalian dengan benda-benda haram ,” (Hr. abu Ya’la). 2.

Dari Ibn Mas’ud diriwayatkan sebuah hadits mauquf, baha Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Sesungguhnya Allah Subahanhu wa Ta’ala tidak menjadikan kesembuhan kamu dengan benda-benda yang diharamkan bagi kamu ,” (Hr Bukhari). 3.

Saudaraku, menanti kesembuhan dengan sikap optimis , akan dapat meringankan beban rasa sakit danmembantu seorang hamba untukbersikap sabar.

Ibn Qoyyim , dalam bukunya menjelaskan tentang pengaruh sikap optimismenantikan kesembuhan dalammeringankan cobaan (musibah), bahwa menantikan keringanan atau kesembuhan terhadap cobaan yang menimpa dengan ketenangan dan keikhlasan,maka sesungguhnya penantian dan perenungan seperti itu akan meringankan beban yang berat.
Selanjutnya dengan diiringi motivasi dan harapan yang kuat akan adanya pertolongan, maka sikap ini akan menggantikan cobaan yang sedang menimpa dengan semangat akan adanya pertolongan,ketenangan dan keikhlasan. Hal ini merupakan rahasia darikelembutan dan pertolongan Allah Ta’ala yang akan segera tiba . 4.

Habibbin Ubaid, dalam Asy –Syukr berkata bahwa ‘tidaklah Allah Subahanu wa Ta’ala memberikan suatu cobaan kepada seorang hamba, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan nikmat kepadanya dalam cobaan itu,yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan musibah itu lebih besar dari musibah yang menimpamu ,” 5.

Saudaraku, ingatlah selalu firman Allah yang artinya ,” Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkan selain Dia sendiri.Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiapsesuatu ,” (Qs. Al- An’aam : 17).

Abdullah bin Abdul Ali Al-Juaitsin , dalam bukunya menyatakan bahwa jika kita yakin bahwa dunia ini tempat bagi segala kesulitan dan penderitaan, dan hina dihadapan Allah , niscaya kita akan bisa besrsabar terhadap segala penderitaan yang kita alami dan jiwa pun akan menjadi tenang.

Saudaraku , yakinlah bahwa cobaan yang berupa penyakit ataupun hal-hal yang tidak disukai adalah merupakan bukti cinta Allah kepada hamba-Nya.
Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya , “ Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum niscaya Dia akanmencoba mereka.Maka barangsiapa yang ridha terhadap cobaan tersebut, baginya keridhaan allah, dan barangsiapa murka terhadap cobaan tersebut ,maka baginya murka Allah , “ (Hr Turmudzi dan Ibn Majah). 6.

Allahu a’lam.


Sumber kutipan : Abdullah bin ali Al-Juaitsin
Catatan :
1. Riwayat Ad-Daulabi dalam Al-Kuna ,2/38.Imam al-Albani menyebutkan sanadnya hasan dalam kitab As-Shahihah,no. 1633.
2. Riwayat Abu Ya’la 12,402, hadits no. 6966 , dishahihkan oleh Ibn Hibban , Mawarid , hadits no. 1397.
3. Komentar Imam Bukhari dalam kitab shahihnya 10/78, ‘dalamsusunan kalimat pasti’.Imam Thabrani menggolongkan hadits tsb yang sanandnya besambungdalam kitab Al-Kabir 9/403, hadits no.9714-9717.Ibn Hajar berkata ,’sanadnya shahih menurut syarat Bukhari –Muslim,’ Fath al-Bari 10/79.
4. Madarij As-Salikin.
5. Asy Syukr , Ibn Abi Ad-Dunia .
6. Dari Anas ra, dikeluarkan At-turmidzi 4/519 no.2396. Ibnu hibban 2/1338 .no.4031.Hadits ini dianggap hasan oleh turmudzi dan Al-Albani dalam Shahih Sunan turmudzi 2/286.


Dalam keheningan sujud

Rahasia shalat dan ruhnya adalah saat kita menghadap Allah dengan segala elemen yang ada dalam tubuh kita. Dalam situasi in , kita dilarang memalingkan wajah sebagaimana kita dilarang memalingkan hatidari Allah disaat shalat.
Adapun saat puncak penghambaan seorang hamba adalah saat sujud. Posisi ini adalah posisi puncak dalam kedekatan dan merendahkan diri dihadapan Allah.
Saudaraku, renungkanlah mengapa Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bersujud ?

Allah memerintahkan kepadakita untuk bersujud sebagai bukti kekhusukan dan ketundukan di hadapan-Nya. Tujuannya adalah agar kita berada dalam posisi penghambaan dan merendahkan diri , sehingga bisa mencegah tumbuhnya sifat-sifat kehinaan seperti takabur dan kesombongan.
Dalam keheningan sujud , kita akan merasakan kemenangan dan nikmatnya keberuntungan karena telah berhasil mengalahkan musuh.

Dalam bersujud kita meletakkan bagian tubuh kita yang paling mulia (wajah) di tempat yang paling hina (tanah),agar kita menyadari akan kelalaian, kesalahan, kesombongan, keangkuhan kita , dan menyadari bahawa kita adalah makhluk yang diciptakan dari tanah yang hina.
Ketika anda sedang tekun bersujud ,merataplah tangisan setan di pojok ruangan shalat sambil merintih , “ Celaka !anak adam telah diperintahkan untuk bersujud dan dia mau bersujud sehingga dia mendapatkan surga. Sementara aku telah diperintahkan untuk bersujud, tapi aku membangkang sehingga aku harus masuk neraka “ . (Hadits shahih Hr Ahmad, Muslim dan Ibn Majah dari Abu Hurairah, sebagiman disebutkan dalam Shahih Al-Jami’ .no.727).

Saudaraku, cukuplah sujud sebagai sebuah kehormatan, ketika Allahmenjadikan tanda-tandanya,tereltak di bagian tubuh yang paling mulia, yaitu wajah.
Sebagaimana firman Allah , yang artinya ,” ….. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda – tanda bekas sujud ….“. (Qs.Al-Fath : 29).

Para mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksudkan dengan tanda-tanda ini adalah bekas khusyu’ atau bekas-bekas kekhusyulan, dimana cahaya dan kemuliaan yang terpancar dari wajah-wajah hamba-hamba-Nya yang banyak sujud.

Cukuplah sebagai bukti bahwa sujud merupakan sebuah kemuliaan, ketika Allah mencegah api neraka agar tidak membakar bekas sujud yang ada pada bagian tubuh anak adam.

Ketika ibadah yang paling dicintai Allah adalah tunduk dan merendahkan diri dihadapan Allah, maka hal ini akan terjadi pada hamba yang sedang bersujud.
Pada saat inilah , kita bisa merasakan nikmatnya mendekatkan diri kepada Allah. Rasakanlah kedekatan ini yang tidak mungkin ditemui dalam kesempatan lainnya.
Sebagaimana Allah berfirman kepada Rasul-Nya, yang artinya “ …. dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu kepada Allah “ , (Qs. Al-a’laq : 19).

Inilah rahasianya,mengapa seseorangyang sedang bersujud merasakan ketengan batin yang luar biasa, semakin khusyu ,semakin lama bersujud,maka dia semakinmerasakan halitu. Karena kedekatan inilah Allah langsung mengabulkan do’a seorang hamba yang sdang bersujud.

Saudaraku, karena tingginya keagungan dan kemuliaan sujud dalam shalat,maka waspadalah karena syetan akan berupaya keras untuk merusaknya. Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,” sesungguhnya syetan akan datang kepda seseorang diantara kamu, kemudian dia berkata ,’sebutlah begini, sebutlah begitu (ingatlah masalah ini, ingatlah masalah itu)’. Selama orang itu tidak mengingat (maka) dia terus mengganggu hingga tersesat , (lalu) tidak mengetahui berapa (rekaat) dia telah melaksanakan shalatnya “.

Saudaraku,masalah kekhusukan merupakan masalah yang teramat besar,karena mempunyai peranan yang sangat menetukan dalam shalat kita dalam sujud kita. Dan dia tidak pernah hadir dalam diri seorang hamba kecuali dia telah mendapatkan taufiq dari Allah. Merupakan musibah besar , bila seorang hamba tidak mendapatkan karunia kekhusyukan ini dari Allah.
Oleh karena itu lah , Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam doanya,

اللهم إني أعوذبك من قلب لا يخشع
“ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu ‘ ….” (diriwayatkan oleh At Tirmidzi ,Musnad at Tirmidzi dan kitab Shahihus Sunan at tirmidzi).

Begitu agungnya keutamaan sujud, Masruq pernah berkata kepada Sa’id bin jubair, bahwa tidak ada hal yang paling dicintai seseorang selain membenamkan wajah kita diatas tanah karena Allah . Dan tidak ada sesuatu didunia ini yang lebih menghibur aku selain sujud.

Allahu a’lam
Sumber : 33 sababan lil khusyu’I fish shalaati ,Muhammad Shalih Al-Munajjid. Awwal marrah ‘ushalli –wa kana li al-shalat tha’mun akhar , Dr Khalid Abu Syadi.


Rabu, 23 Desember 2009

Tawadhu’


ﺇﻥاﷲ ﺄﻭحى إلى ﺃﻥ تو اضعو احتى ﻻ يفخر أحد على أحد وﻻ يبع أحد على أحد٭

Dari shahih muslim dari hadits Iyadh bin Himar, bahwa Rasulullah bersabda ,yang artinya,” Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku, agar kalian rendah hati, hingga seseorang tidak membanggakan diri terhadap yang lain dan seseorang tidak berbuat aniaya terhadap yang lain ,”.
Tawadhu, merupakan sikap merendahkan dan menghinakan diri kepada yang berhak yaitu Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, juga kepada orang-orang yang Allah SWT perintahkan kita untuk bersikap tawadhu’.

Saudaraku, sikap tawadhu merupakan salah satu persinggahan menuju ridha Allah , sebagaimana firman-Nya, yang artinya ,” Dan hamba-hamab Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati ,” (Qs. Al-Furqan : 63).

Dalam pengertian ini, tawadhu dikatakan sebagai al-haun (lemah lembut), bukan al-hun (hina). Artinya orang yang tenang, rendah hati, tidak jahat, tidak congkak , berwibawa. Menurut Muhammad bin al-Hanafiah , mereka adalah orang-orang yang berwibawa, menjaga kehormatan diri dan tidak berlaku bodoh, kalaupun dianggap bodoh, maka mereka tetap berlaku lemah lembut.

Adapun bersikap tawadhu’ pada semua makhluq maka hukum asalnya bahwa perbuatan tersebut terpuji jika diniatkan untuk mencari ridha Allah SWT. Sabda Nabi SAW: “Tidak akan pernah berkurang harta karena bersedekah, dan tidaklah seorang hamba bersikap pemaaf kecuali akan ditambah kemuliannya oleh Allah SWT, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu’ kecuali akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.”

Berkata al-Fudhail bahwa, ‘Tawadhu’ adalah sikap menerima kebenaran dan melaksanakannya dan menerima kebenaran tersebut dari siapapun datangnya.’

Berkata ‘Atha: ‘Yaitu sikap menerima kebenaran dari manapun datangnya, sikap ‘izzah adalah bagian dari tawadhu’ juga, tetapi sikap sombong bukan bagian dari tawadhu’, barangsiapa mencari-cari kemungkinan bersikap sombong dari tawadhu’ sama seperti seorang yang mencoba mencari air di dalam api.’

Hamba yang mutawadhi’ yaitu seorang yang tumbuh dalam dirinya kerendahan dan ketinggian semata-mata karena keimanannya pada ALLAH SWT, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan, harga diri, harta dan potensi yang dimilikinya atau orang lain.

Hamba beriman adalah yang bersikap tawadhu’ terhadap kebenaran, merendahkan diri padanya dan tunduk padanya dan tidak berusaha mendebat pada kebenaran tersebut walaupun tidak ia sukai.
Sebagaimana Rasulullah saw telah menafsirkan kesombongan dalam sabdanya, yang artinya ,” Sombong itu ialah menutupi kebenaran dan menipu manusia”.

Salah satu contoh beberapa sikap tawadhu, antara lain ; Bersikap tawadhu’ pada agama, yaitu menerima semua apa yang bersumber dari Allah SWT dan Rasul-NYA, dengan tunduk dan ridha.


  • Tidak menolak sedikitpun baik akalnya, perasaannya, maupun perbuatannya.

  • Tidak meragukan dalil agama tersebut dengan sangkaan bahwa dalil tersebut tidak masuk akal, kurang, atau tidak sempurna; melainkan sebaliknya ia langsung merasa mungkin kefahamannya, akalnya atau pemikirannya yang kurang atau belum mencapai/ memiliki ilmu tentang hal tersebut.

  • Tidak mencari-cari jalan lain yang berbeda dengan dalil tersebut baik dalam batinnya, lisannya atau perbuatannya, karena hal tersebut merupakan sifat orang munafiq.

Seorang yang tawadhu’ adalah Sangat Mengenal Rabb-nya .
Sebagaimana perkataan Abubakar ra bahwa Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan seorang muslim, karena semakin kecil seorang muslim di mata kalian maka ia semakin besar dimata Alllah.

Adalah Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi SAW senantiasa berbuat demikian.

Dari abi Rifa’ah Tamim bin Usaid ra berkata: Aku datang pada Nabi SAW saat beliau SAW sedang berkhutbah, maka aku berteriak: Wahai Rasul Allah! Seorang asing datang ingin bertanya tentang agama karena ia tidak mengerti agama! Maka beliau SAW bersegera menghampiriku dan meninggalkan khutbahnya lalu didudukkannya aku di kursi agar aku beristirahat lalu diajarkannya dari ayat-ayat Allah, lalu setelah aku puas barulah ia kembali ketempatnya dan meneruskan khutbahnya.

Dari Anas ra bahwa adalah Nabi SAW jika makan makanan maka ia menggunakan 3 jarinya, dan ia SAW bersabda: Jika jatuh suapan kalian maka ambil dan bersihkanlah, dan jangan kalian tinggalkan untuk syaithan. Dan beliau SAW juga memerintahkan kami untuk menjilat jemari tangan, beliau bersabda: Karena kalian tidak mengetahui di mana Allah SWT meletakkan barakah-NYA dalam makanan kalian.

Dari abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda, yang artinya ,” Tidaklah Allah SWT mengutus seorang nabi kecuali pernah menjadi penggembala kambing. Lalu sahabat ra bertanya: Lalu bagaimana dengan anda wahai Rasulullah? Jawab Nabi SAW: Ya, aku pun dulu menggembala kambing untuk dengan upah beberapa qirath bagi penduduk Makkah.
Dan dari abu Hurairah ra juga berkata: Bersabda Nabi SAW, yang artinya ,” Seandainya aku diundang makan walau hanya sesuap maka pasti aku mau, dan seandainya ada yang memberiku hadiah walau segenggam maka pasti aku terima.”


Abu Said al-Khudarii ra pernah berkata: ‘Jadilah kalian seperti Nabi SAW, beliau SAW menjahit bajunya yang sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya, memerah susu kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu-pembantunya, memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan memikulnya sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua maupun anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba sahaya sepanjang termasuk orang yang suka shalat.’

Rasulullah saw adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu’ tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau datang sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan dimanapun.

Bahkan ketika syiar Islam memenuhi jazirah Arabia , saat seseorang ‘A’rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering.

Al-Hasan ra pernah berjalan dan bertemu dengan beberapa hamba sahaya yang sedang memakan roti kering tanpa lauk, maka ia turun untuk ikut makan bersama orang-orang miskin tersebut, lalu setelah itu ia membantu mengangkatkan barang-barang yang dibawanya, lalu diajaknya ke rumahnya untuk makan bersama. Lalu ketika orang-orang merasa kagum atas hal tersebut ia berkata: Mereka lebih mulia dariku, karena mereka menjamuku dengan semua yang mereka miliki, sedangkan aku hanya menjamu mereka dari sebagian kecil yang aku miliki.

Ketika Rasulullah saw berhasil menaklukkan Makkah dan pada saat Rasulullah memimpin pasukan muslimin memasuki pintu gerbang kota , beliau saw justru menundukkan kepalanya sampai hampir-hampir menyentuh punggung untanya sambil mengulang-ulang ayat: Inna fatahna laka fathan mubina.. Beliau saw meyakini bahwa semua kemenangan dan keberhasilan yang diperolehnya adalah semata-mata karunia Allah SWT.

Saudaraku, dosa pertama yang menjadi kedurhakaan kepada Allah ada dua macam ,
Yaitu :
1. Takabur
2. Ambisi


Takabur adalah dosa iblis yang terlaknat, sedangkan dosa Adam adalam ambisi (dan syahwat). Perbuatan dosa yang dilakukan Adam, ditebus dengan taubat sehingga mendapatkan hidayah Allah. Adam mengakui dosa tersebut dan memohon ampunan.
Syaikh Islam Ibn Taimiyah, pernah berkata bahwa , takabur lebih jahat dari syirik. Sebab makhluk yang takabur merasa dirinya hebat untuk beribadah kepada Allah, sedangkan orang musyrik masih mau beribadah kepada Allah walaupun masih memuja ke selain-Nya.
Sehingga Allah menjadikan neraka sebagai tempat tinggal makhluk yang takabur, sebagaimana firman-Nya , yang artinya ,” Maka masukilah pintu-pintu neraka jahanam, kalian kekal didalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu “ , (Qs. An-Nahl : 29).

Sebagaaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Takabur itu penplakan terhadap kebenaran dan penghinaan terhadap manusia ,”


Wallahu a’lamu bish shawab
sumber : Al-Ikhwan.,Abi Abdullah, Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam manazili iyyaka na’budu iyyaka nasta’in.


Senin, 21 Desember 2009

Jangan mencaci

Salah satu ibadah menjaga lisan adalah menghindari mengucapkan perkataan laknat (cacian) kepada orang lain. Kata laknat di bahasa Indonesia memiliki dua makna dalam bahasa Arab yaitu bermakna mencerca serta bermakna pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah.
Ucapan laknat ini sering kita dengar di sekitar lingkungan kita dan sepertinya (saling) melaknat merupakan perbuatan biasa dan umum terjadi, padahal melaknat orang lain adalah dosa besar. Tsabit bin Adl Dlahhak ra berkata : “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Siapa yang melaknat seorang Mukmin maka ia seperti membunuhnya.’ ” (HR. Bukhari dalam Shahihnya 10/464)

Ucapan Nabi SW: ((“Fahuwa Kaqatlihi”/Maka ia seperti membunuhnya)) dijelaskan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari : “Karena jika ia melaknat seseorang maka seakan-akan ia mendoakan kejelekan bagi orang tersebut dengan kebinasaan.”

Seringkali kita begitu mudah mencaci orang yang kita benci bahkan orang lain juga keluarganya , apakah itu anaknya, suaminya, hewannya atau selainnya.
Sangat tidak pantas bila ada seseorang yang mengaku dirinya Mukmin namun lisannya terlalu mudah untuk melaknat.
Sebagaimana Nabi saw bersabda , yang artinya “Bukanlah seorang Mukmin itu seorang yang suka mencela, tidak pula seorang yang suka melaknat, bukan seorang yang keji dan kotor ucapannya.” (HR. Bukhari dalam Kitabnya Al Adabul Mufrad halaman 116 dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu. Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i hafidhahullah dalam Kitabnya Ash Shahih Al Musnad 2/24)

Dan melaknat itu bukan pula sifatnya orang-orang yang jujur dalam keimanannya (shiddiq), karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tidak pantas bagi seorang shiddiq untuk menjadi seorang yang suka melaknat.” (HR. Muslim no. 2597)

Pada hari kiamat , orang yang suka melaknat tidak akan dimasukkan dalam barisan para saksi yang mempersaksikan bahwa Rasul mereka telah menyampaikan risalah dan juga ia tidak dapat memberi syafaat di sisi Allah guna memintakan ampunan bagi seorang hamba.
Sebagaimana Nabi SAW bersabda, yang artinya : “Orang yang suka melaknat itu bukanlah orang yang dapat memberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Muslim dalam Shahihnya no. 2598 dari Abi Darda ra)

Perilaku buruk ini besar bahayanya bagi pelakunya sendiri. Bila ia melaknat seseorang, sementara orang yang dilaknat itu tidak pantas untuk dilaknat maka laknat itu kembali kepadanya sebagai orang yang mengucapkan.

Imam Abu Daud meriwayatkan dari hadits Abu Darda ra bahwa Rasulullah saw bersabda, yang artinya : “Apabila seorang hamba melaknat sesuatu maka laknat tersebut naik ke langit, lalu tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu turun ke bumi lalu ia mengambil ke kanan dan ke kiri. Apabila ia tidak mendapatkan kelapangan, maka ia kembali kepada orang yang dilaknat jika memang berhak mendapatkan laknat dan jika tidak ia kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

Ulama Al Hafidh Ibnu Hajar tentang hadits ini : “Sanadnya jayyid (bagus). Hadits ini memiliki syahid dari hadits Ibnu Mas’ud ra dengan sanad yang hasan. Juga memiliki syahid lain yang dikeluarkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari hadits Ibnu Abbas ra. Para perawinya adalah orang-orang kepercayaan (tsiqah), akan tetapi haditsnya mursal.”

Ada beberapa hal yang dikecualikan dalam larangan melaknat ini yakni kita boleh melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Muslimin namun tidak secara ta’yin (menunjuk langsung dengan menyebut nama atau pelakunya). Tetapi laknat itu ditujukan secara umum, misal kita katakan : “Semoga Allah melaknat para perusuh jalanan itu… .”

Setelah kita mengetahui buruknya perangai ini dan ancaman serta bahayanya yang bakal diterima oleh pengucapnya, maka hendaklah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala.
Janganlah kita membiasakan lisan untuk melaknat karena kebencian dan ketidaksenangan pada seseorang. Kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menjaga dan membersihkan lisan kita dari ucapan yang tidak pantas dan kita basahi selalu dengan kalimat yang baik.

Wallahu a’lam bis shawwab.

sumber kutipan : dari MUSLIMAH Edisi 37/1421 H/2001 M Rubrik Akhlaq, MENJAGA LISAN DARI MELAKNAT Oleh : Ummu Ishaq Al Atsariyah. Terjemahan dari Kitab Nasihati lin Nisa’ karya Ummu Abdillah bintu Syaikh Muqbil Al Wadi’iyyah dengan beberapa perubahan dan tambahan , Penulis: Author MUSLIMAH Edisi 37/1421 H/2001 M Rubrik Akhlaq


Keyakinan yang pudar

Rasulullah bersabda , yang artinya ,” Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku , jika ia berprasangka baik maka ia akan memperolehnya, jika ia berprasangka buruk maka ia akan memperolehnya juga ,” (Hr Ahmad) .1*
Para ulama menyatakan bahwa in merupakan peringatan bagi kita untuk menghindari sikap putus asa, dan makna berprasangka baik adalah menyakini bahwa Allah memberikan rahmat dan mengabulkan doa kita. Saudaraku, bila setelah berdoa kita masih merasa cemas, takut dan gundah , maka keyakinan kita perlu dipertanyakan kembali. Tidak ada kata ‘mengapa’ dalam sebuah keyakinan, kata mengapa ini menunjukkan bahwa kita belum yakin dengan doa pengharapan yang kita panjatkan.

Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan pertolongan Allah, maka dengan sangat meyakinkan Allah pasti akan menolongnya. Seorang hamba yang yakin doanya akan dikabulkan, maka Allah akan mengabulkan doa-doa tersebut lebih dari yang kita minta.

Saudaraku, kepasrahan totalitas sangat diperlukan, sedangkan doa yang dipaksakan (dalam arti tergesa-gesa untuk mengharapkan pertolongan) justru tidak bermanfaat. Yang kita perlukan adalah kesabaran .

Dari sini kita layak merenung, mengapa kita banyak kecewa dalam kehidupan ini ?
Boleh jadi kita lebih yakin akan kemampuan diri serta pertolongan makhluk, daripada pertolongan Allah. Sungguh manusia itu sangat lemah. Ia sama sekali tidak kuasa mengatur dirinya sendiri, tidak tahu apa akan terjadi esok, serta berjuta kelemahan lainnya. Sungguh naif jika kita terlalu mengandalkan diri yang serba terbatas dengan melupakan Allah Yang Maha Segala-galanya. Maka, keyakinan yang bulat kepada-Nya menjadi jaminan kebahagiaan hidup kita.

Percayakan semua persoalan kita kepada Allah, dan tunggulah keajaiban akan segera menghampiri kita. Dan jangan percayakan persoalan anda kepada siapapun dan apapun selain-Nya, karena selain-Nya tidak memiliki daya upaya apapun untuk menyelesaikan persoalan yang anda hadapi.

Sebagaimana Allah berfirman, yang artinya ,” Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu ? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal ,” (Qs. Ali ‘Imran : 160).

Saudaraku, banyak dari kita telah berupaya berdoa dan meminta segala keinginan kepada Allah, namun disaat itu juga masih berkutat pada kekhawatiran dan kecemasan dalam pikirannya. Lalu bagaimana upaya untuk meningkatkan kualitas keyakinan kita? Setidaknya ada tiga tahap yang harus kita tempuh usaha meningkatkan kualitas keyakinan.



  1. 'ilmul yaqin. Yaitu meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu atau pengetahuan. Misal, di Mekah ada Kabah. Kita percaya karena teorinya bicara seperti itu. Di sinilah pentingnya belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Sebab, semakin luas pengetahuan kita tentang sesuatu, khususnya tentang Dzat Allah Azza wa Jalla, seakan kita memiliki bekal untuk berjalan mendekat kepada-Nya.

  2. 'ainul yaqin. Yaitu keyakinan yang timbul karena kita telah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang yang telah menunaikan ibadah haji sangat yakin bahwa Kabah itu memang ada di Mekah karena ia telah melihatnya. Keyakinan karena melihat, akan lebih kuat dibandingkan keyakinan karena ilmu.

  3. haqqul yaqin. Orang yang telah haqqul yakin akan memiliki keyakinan yang dalam dan terbukti kebenarannya. Orang yang telah merasakan nikmatnya thawaf, berdoa di Multazam, merasakan ijabahnya doa, keyakinan akan jauh lebih mendalam. Inilah tingkat keyakinan tertinggi yang akan sulit diruntuhkan dan dicabut dari hati orang yang memilikinya.

Cara meningkatkan kualitas keyakinan diri, sejatinya harus melalui proses dan tahapan, mulai dari 'ilmul yaqin, 'ainul yaqin, hingga haqqul yakin.

Saudaraku, sesungguhnya semua yang ada adalah milik Allah. Sungguh rugi orang-orang yang hatinya bergantung kepada selain Allah. Yakinlah, bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mengatur segalanya. Sungguh sayang jika kita mengatakan bahwa Allah Mahakaya, namun kita takut tidak mendapatkan rezeki. Kita tahu bahwa Allah Maha Menentukan segala sesuatu, Dia menciptakan manusia berpasang-pasangan, namun kita sering risau tidak mendapatkan pasangan hidup. Bila demikian, kita masih berada dalam tingkat 'ainul yaqin.

Saudaraku, keyakinan yang hanya sebatas ilmu logis (menurut ukuran manusia) tentu belum cukup membuat kita istikamah. Keyakinan kita harus benar-benar meresap ke dalam sanubari.

Cahaya keyakinan yang tersimpan di dalam hati ternyata datang dari khazanah kegaiban Allah Azza wa Jalla. Alam semesta ini terang benderang karena cahaya dari benda-benda langit yang diciptakan-Nya. Sedangkan cahaya yang menerangi hati manusia berasal dari cahaya Ilahi.

Ibnu Atha'illah mengungkapkan, "Cahaya yang tersimpan di dalam hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban. Cahaya yang memancar dari panca inderamu berasal dari ciptaan Allah. Dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat Allah."
Dengan demikian, keterbukaan hati dalam menerima cahaya inilah yang harus selalu kita jaga.

Bagaimana agar hati kita terbuka?
Berusahalah untuk meneliti dan mengenali aneka hikmah di balik setiap kejadian. Jangan hanya melihat setiap kejadian dengan mata lahir saja, tapi gunakan mata hati kita. Namun, mata hati hanya akan berfungsi jika ia bersih dari noda dosa dan maksiat. Hati yang kotor sangat sulit menangkap sinyal-sinyal Ilahi. Mirip kaca. Ia tidak bisa memantulkan cahaya, tidak bisa merefleksikan sebuah objek jika penuh karatan. Syaratnya, ia harus bersih. Hati akan bersih jika kita merawatnya.


Allahu a’lam
Sumber : KH Abdullah Gymnastiar, abdullah bin Ali al-Juatisin, Yusran Pora
Catatan :
1. Riwayat Ahmad 2/391, dishahihkan Ibn Hibban dalam Mawarid, hadits no.2394 Al Albani berkata dalam Ash shahihah 4/25 sanandnya shahih.



Minggu, 20 Desember 2009

Tips memilih Helm

Bagi kita pengendara sepeda motor (biker) , sudah barang tentu kebutuhan helm bukan sekadar mengikuti aturan berlalu lintas semata, namun juga sebagai pengamanan utama terutama pada bagian kepala. Seiring dengan makin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, maka kebutuhan akan kemanan berkendara semakin menjadi tuntutan serius. Namun dengan kondisi lingkungan yang berklim tropis , tentu perlu trik tersendiri agar pemakain helm pengaman ini tidak mengurangi kenyamanan berkendara.
Oleh karena itu, pemilihan helm tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Bentuknya pun harus memenuhi standar yang telah ditetapkan dan mampu melindungi bagian terpenting pada kepala.

Satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah faktor kenyamanan. Hal ini perlu dipertimbangkan mengingat banyak pengendara motor yang melakukan perjalanan lebih dari 1 jam berkendara. Belum lagi posisi duduk di motor yang tidak bisa sebebas dan senyaman mereka yang duduk di mobil.

Beberapa tips berikut yang semoga bisa dipertimbangkan saat akan memilih dan membeli helm, antara lain:

1. Helm yang baik adalah helm yang bentuknya sudah memenuhi standar keamanan.
Hindari helm berbentuk cetok yang biasa dipakai oleh tukang atau kuli bangunan. Sebaiknya pilih helm yang terbuat dari lapisan cangkang luar yang membungkus seluruh kepala dan menyisakan ruang yang cukup untuk memandang ke depan. Di pasaran, helm ini dikenal dengan nama helm cakil. Pastikan juga helm tersebut memiliki cangkang yang lumayan tebal dan tahan terhadap benturan.

2. Hindari pemilihan helm yang longgar karena nyaris tak memberi manfaat.
Jangan pula membeli yang terlalu sempit karena dapat mengganggu aliran darah dalam kepala, sehingga bukan tidak mungkin jika Anda merasakan pusing, sakit kepala, atau bahkan sesak napas. Cara terbaik adalah mencobanya di toko tempat Anda membeli. Jika terasa nyaman, baru dibeli.

3. Kenyamanan helm harus ditunjang dengan beratnya yang cukup ringan, sehingga tidak membebani kepala jika dipakai untuk perjalanan jarak jauh.

4. Pastikan kaca helm yang terpasang nyaman untuk memandang.
Kalau bisa, pilih mika yang bening dan tidak memiliki efek cembung atau cekung agar tidak membuat pusing kepala atau bahkan mengurangi jarak pandang.

Sumber: Klasika 23 April 2008http://kumpulantipspilihan.blogspot.com



Selasa, 15 Desember 2009

Allah menjamin doa kita

Seringkali kita mengeluh, mengapa Allah tidak segera mengabulkan doa kita. Bahkan , kita merasa tidak yakin akan efektivitas doa kita, yang berarti sebesar itu pulakah keyakinan kita bahwa Allah mengabulkan doa. Bagaimana doa bisa terkabul ? mengapa doa sulit terkabul ?
Saudaraku, Allah tidak akan pernah menyusahkan hamba-Nya, akan tetapi kita sendirilah yang justru memilih untuk menghentikan karunia kasih sayang-Nya.
Berapa banyak hamba manusia berdoa , namun dia lebih fokus pada apa yang dia khawatirkan (bahwa doanya tidak dikabulkan), akhirnya justru itulah yang terjadi, karena sebenarnya ia lebih kuat berdoa untuk tidak dikabulkan

Kita sering memvonis bahwa doa tidak terkabulkan, padahal bukan itu maksudnya, namun kita juga harus paham bahwa ada banyak hikmah yang tersembunyi seputar doa.

1. Jika seorang hamba menginginkan pengabulan dengan segera dan dia menganggap lambat pemenuhannya. Orang ini bagaikan menabur benih atau menanam tanaman, menyiangi , menyirami , merawatnya. Namun ketiak dia merasa perkembangan tanaman ini terlalu lambat, akhirnya dia meningalkan tanaman yang sedang tumbuh ini. Dan dia tak mempedulikan lagi.
Rasulullah bersabda , yang artinya ,” Dikabulkan (doa) bagi seorang hamba diantara kalian selagi dia tidak terburu-buru” , seraya berkata ,’Aku sudah memanjatkan doa namun belum juga dikabulkan bagiku ,’” (Hr. Bukhari).


2. Sungguh doa merupakan obat yang sangat bermanfaat untuk mengenyahkan penyakit dan musibah. Tetapi , kelalaian hati dari mengingat Allah menggugurkan kekuatannya. Termasuk didalam pengertian kelalaian ini adalah memakan makanan yang haram dimana dapat menggugurkan kekuatan hati .
Sebagaimana Rasulullah bersabda ,yang artinya ” Hai manusia, sesungguhny Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik-baik, dan sesungguhnya memerintahkan orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan kepda para Rasul , lalu berfirman ,” Hai Rasul-rasul , makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan .” (Qs. Al Mukminun : 51).
Saudaraku, mari kita tata dan koreksi tingkah laku kita, apa sudah sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya. Semoga kita mendapat hidayah dari Allah untuk selalu memperbaiki perilaku kita.
Abu Dzar pernah berkata, ‘ Doa itu dicukupi dengan kebajikan, sebagaimana makanan yang dicukupi dengan garam ,’.

3. Salah satu penyebab tidak terkabulnya doa adalah karena kita sendiri tidak yakin akan kekuatan doa itu sendiri.
Doa adalah senjata, senjata ini berfungsi baik bukan karena kecanggihan senjata ini saja , namun faktor man behind the gun juga berperanan penting.
Saudaraku, kedahsyatan doa adalan buah dari kekuatan keyakinan (akidah). Barangsiapa yang keyakinannya tinggi , niscaya pengabulan doa sudah nampak diodepannya.

4. Ada rahasia Allah dalam pengabulan doa. Bisa jadi pengabulan doa ditunda , atau bisa jadi diganti dengan yang lain. Dan ini baru bisa kita pahami setelah berlalunya waktu.

5. Bisa juga, apa yang tidak dapat kita capai walaupun dengan keyakinan doa, sebenarnya itu merupakan rahmat Allah agar kita tetap dekat dengan pintu-Nya. Disisi lain keberhasilan yang kita impikan justru menjauhkan kita dari pintu harapan kepada-Nya. Seringkali justru dengan musibah dari-Nya , kita semakin dekat denganNya.

Yakinlah saudaraku, Allah Maha Mengetahui apa yang harus dilakukan-Nya terhadap hamba-Nya. Banyak kejadian, ketika seorang hamba mendapatkan nikmat , justru dia disibukkan dengan nikmat itu sehingga justru makin menjauh dari-Nya.
Berdoalah penuh keyakinan dan kerendahan hati karena bersyukur mendapatkan jaminan kesuksesan dari-Nya.

Disaat musibah datang, umumnya seorang hamba akan cepat-cepat berjalan mendekati pintu-Nya, memohon kepada-Nya. Sebenarnya inilah nikmat terbesar seorang hamba, walaupun nikmat yang dibalut dengan cobaan atau musibah. Dan perlu diketahui bahwa musibah yang datang , adalah bentuk kasih-sayang-Nya , dimana dengan jalan itu Allah menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya.

Saudaraku, cobaan, musibah yang kita alami , justru mengingatkan kita untuk segera kembali kepada-Nya dari kesibukan-ksesibukan yang melalaikan kita. Seperti obat yang bermanfaat menyembuhkan walaupun tetap terasa pahit.

Saudaraku , dengan kekuatan keyakinan dalam hati, akan membersihkan keraguan-keraguan kita untuk selalu berharap akan cinta Allah. Sebagaimana Abu Bakar, pernah berkata, ‘ ilmu masih dimungkinkan untuk diragukan, sedangkan dia didalam keyakinan tidak ada keraguan sama sekali’.

Sumber : Cara Nabi menghadapi kesulitan hidup, Hendra Setiawan



Minggu, 13 Desember 2009

Rahasia sujud

Pernahkah kita hayati hikmah dan makna sujud di hadapan Allah ? kita simak firman-Nya, yang artinya : “, (Apakah kamu hai orang mussyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah, “ apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?”. Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran “, (Qs. Az-Zumar :9).
Studi Dr Abdullah Muhammad Nasrat , ahli pembedahan dari Mesir menyimpulkan hubungan antara gerakan shalat (sujud) dalam penyembuhan pendarahan otak.

Beberapa riset dan kajian barat menegaskan bahwa olahraga yang berlebihan dapat membahayakan peredaran darah dalam otak. Kegiatan berat ini mengarahkan darah secara langsung menuju otot-otot tubuh dengan mengesampingkan kondisi otak.

Ada beberapa kajian menyatakan bahwa gerakan-gerakan shalat sangat bermanfaat terhadap peredaran darah di otak. Ketika sujud berlangsung maka aliran darah ke otak akan bertambah lancar dengan adanya gerakan memiringkan kepala kebawah. Sebagaimana menundukkan badan ketika sujud dapat memperlancar aliran darah dari seluruh tubuh menuju organ bagian dalam otak.

Sebagaimana berulangkalinya gerakan kepala yang menunduk keika sujud dan rukuk, serta tegak kembali pada saat berdiri dan duduk akan sangat membantu dalam menjaga keseimbangan spontan dari peredaran darah ke otak. Dimana keseimbangan ini akan semakin lemah dengan bertambahnya usia.

Kajian ini mengisyaratkan juga bahwa sistem spontan untu keseimbangan aliran darah pada otak memiliki reaksi spontan ganda ketika sujud. KArena pada awalnya, ia menghalangi mengalirnya darah tambahan pada awal sujud hingga otak siap menerima suplai tambahan darah. Penyumbatan terhadap penyaluran darah ke otak tersebut dapat memelihara dan memberi kesempatan pada aliran darah otak cadangan untuk bersiaga dan bekerja.

Keundian hal itu dilanjutkan tahapan berikutnya yang memperkenankan darah tambahan untuk mengalir ke otak sera membagi-mbagikan ke dalam pembuluh-pembuluh darah cadangan. Dengan demikian, tugas antisipasi dengan menyiapkan pembuluh darah cadangan yang cukup penting ini tetap berjalan normal. Dan telah diketahui bersama baha ia akan rapuh dan sirna seiring dengan bertambahnya usia.

Reaksi ganda terhadap sistem aliran darah otak spontan ketika bersujud ini mengarahkan kita untuk memahami lebih dalam tentang manfaat yang akan diperoleh seorang hamba dalam pelaksanaan gerakan shalat yang dikerjakan perlahan dan tidak tergesa-gesa. Karena hal ini akan menambah manfaat dan faedah yang dapat diambil dari setiap gerakan shalat dalam memperlancara peredaran darah otak.

Saudaraku, masih banyak rahasia shalat tentang kesehatan yang belum terpecahkan dari sudut ilmu pengetahuan. Namun yakinlah , sebagaimana firman Allah, yang artinya ,” Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian ini sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusyuk “, (Qs. Al-Baqarah : 45).

Sebagaimana firman Allah, yang artinya ,” Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaanya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan , “(Qs. Al-Ankabut : 45).


Saudaraku, berdiri dan sujud dihadapan Allah memiliki banyak hikmah dan rahasia dalam meraih kesehatan .

Allahu a’lam
Sumber : Hasan bin ahmad Hamman, At-tadawi bil istighfari, bis shdaqati, bid du’ai, bil Qur’ani, bis shalati , bis Shaumi.




Sabtu, 12 Desember 2009

Antara Sum’ah dan Riya’

Rasulullah SAW pernah bersaba,
من سمع اﷲ به ومن يرﺃي اﷲ به
“ Siapa yang ingin didengar , maka Allah akan menjadikannya sum’ah (menjadi tersohor dan didengar) dan siapa yang ingin dilihat, maka Allah akan menjadikannya ria (senang dilihat),” (Hr Bukhari, dalam fathul bari 11-336).
Sum’ah adalah beramal karena ingin didengar orang lain , ada keterkaitan antara perasaan dan pendengaran. Izz bin Abdus salam dalam Qawa’id al Ahkam , berpendapat bahwa sum’ah adalah bila seorang hamba membicarakan (membanggakan) ketaatannya dan ibadahnya kepada orang lain, sehingga orang lain yang tidak pernah tahu menjadi mengetahui tentang ibadahnya.

Jadi menurut Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul Bari, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sum’ah , hampir tidak berbeda jauh dengan ria, tetapi ia berhubungan dengan perasaan dan pendengaran , sedangkan ria dikaitkan antara perasaan dan penglihatan.

Bisa jadi mendengarkan ini hanya terjadi pada masalah-masalah yang dapat didengar, seperti membaca Al-Qur’an, zikir, shalat malam , atau aktivitas lainnya yang mungkin bisa dilihat namun telah berlalu dimana lawan bicara kita tidak melihatnya waktu itu. Misalnya kita dengan bangga menyatakan telah melakukan ibadah shalat malam kemarin, atau memberi bantuan kepada yayasan yatim diwaktu yang telah lalu.

Sehingga , dalampengertian ini ria tidak akanmenyentuh ibadah yang bersifat kehatian, seperti perasaan takut dan taat kepada Allah.
Ini jelas mempunyai perbedaan dengan unsur-unsur dalam sum’ah. Karena seorang hamba akan berbicara tentang apa yang terlintas dalam pikirannya, bersamaan itu seorang hamba tersebut berharap dengan menceritakan itu, akan mendapat semacam penghargaan atau sanjungan dari lawan bicara atau orang lain.

Jebakan sum’ah ini sangat halus . Seringkali kita tidak merasakan bahwa setiap hari kita melakukan perbuatan hina ini. Saudaraku, mari kita lebih berhati-hati dan selalu mengoreksi perbuatan kita sehari-hari , semoga kita dihindarkan Allah dari perbuatan yang merugikan ini.

Menurut Izz bin Abdus Salam, bahwa amal-amal yang bersifat kehatian (tidak nampak), sebenarnya bisa terjaga dari ria, karena ria hanya akan menghinggapi amal-mala perbuatan baik kita yang bersifat lahiriah. Dimana amalan-amalan ini bisa dilihat atau didengar.

Saudaraku, jangalah kita mengotori amalan dan ketaatan yang telah kita lakukan dengan niatan awal untuk mengharapkan ridha Allah, selanjutnya kita membicarakannya kepada orang lain , sehingga adapeluang menjadikan kita disanjung, dihormati, diberi bantuan atau sebagainya.

Dalam hadits shahih, Rasulullah menjelaskan , yang artinya ,” Orang yang sum’ah terhadap apa yang belum dia lakukan, sama halnya dengan orang yang memakai pakaian curian ,” (Al-Maqashid al-Hasanah).

Saudaraku, ada kecenderungan tinggi dari hawa nafsu setiap hamba untuk mendapat pujian, penghormatan, pengakuan , sanjungan atau apapun bentuknya, dan ia akan selalu mencari peluang untuk menyelinap kedalam hati. Sehingga kita sudah mengira bahwa apa yang telah kita lakukan tela memenuhi kriteria ikhlas , padahal sebenarnya kita sudah terseret dalam arus sum’ah bahkan ria.

Al Muhasibi dalam Ar-Ri’ayah, bahkan menyatakan, bahwa jiwa setiapmanusia ingin mencari kenikmatan, dan keinginan hawa nafsu selalu tersembunyi bagaikan api dalam sekam. Setiap seorang hamba beriman nberupaya mengendalikan nafsunya dengan selalu berupaya menjalankan ibadah dan ketaatan, sepanjang itu pula nafsu tetap berupaya menghiasi ketaatannya agar mendapat pujian, penghargaan, pujian, pengakuan , dukungan atau apapun bentuknya .

Allahu a’lam
Sumber : Dr Umar Sulaiman abudllah al Asyqar ,Al-Ikhlas,


Nikmatnya shalat malam

Dari Amru bin Abasah ,bahwa Rasulullah bersabda , yang artinya ,” Tuhan paling dekat dengan hamba adalah pada waktu pertengahan malam terakhir. Jika kamu punya kesempatan untuk berzikir kepada Allah pada saat itu, maka lakukanlah ,” (Hr. Tirmizi *1).
Seseorang tidak akan dapt merasakan manisnya shalat (malam), lezatnya bermunajat dan nyamannya berkhalwat dengan Allah hingga tenggelam di dalamnya, selama hamba itu tidak menempatkan shalat sebagai obat bagi hatinya dan menjadikan shalat sebagai permata hati, penyembuh penyakit dan penghapus musibah.

Saudaraku, Abdullah bin Wahab, dalam Ash Shalat wa At Tahajjud (Ibn Al Kharith),menyatakan bahwa setiap kenikmatan dunia hanya mempunyai satu kenikmatan, sedangkan ibadah mempunyai tiga kenikmatan, yaitu : ketika mengerjakannya, ketika mengingatnya dan ketika (berharap) diberi pahala di akhirat.
Yazid ar-Raqasyi , dalam Rahbanullai (Al-‘Afani) , menyatakan ‘ saya tidak mengetahui sesuatu yang lebih menyenangkan bagi orang-orang yang beribadah didunia daripada tahajud dalam kegelapan malam dan aku tidak mengetahui kenikmatan surga , …’.

Saudaraku, pergunakanlah waktu malam anda dengan sebaik-baiknya, karena didalamnya pintu dibuka,kekasih didekatkan, suara didengar, jawaban diberikan, dan pahal diberikan bagi orang-orang yang beribadah.
Akankah kita menyia-nyiakan waktu malam berlalu tanpa guna.

Sebagaimana Allah berfirman , yang artinya :

“ Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi denngan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam hari untuk beribadah kepada Tuhan dengan bersujud dan berdiri “ (Qs. Al-Furqan : 63-64).

Jadikan malam hari menjadi malam terindah, dengan bersujud dihadapan-Nya. Saudaraku Qiyamullail umumnya dilakukan oleh bermacam-macam orang, yaitu :


  • a. Orang yang mengharapkan keselamatan, yaitu mereka yang telah berbuat kemasiatan dan ingin bertobat.

  • b. Orang yang berderajad tinggi, yaitu orang-orang yang taat dan bergegas melakukan kebaikan.

  • c. Orang yang ingin bermunajat dengan Dzat yang dikasihinya ketika hamba yang lain dalam keadaan lalai.

Keteguhan dan ketekunan untuk melakukan shalat malam adalah pemberian agung dari Allah, yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang berhak.
Saudaraku, bersemangatlah untuk bangun malam, serahkan semua keluh kesah anda kepada Allah,kemudian memohon mapun,niscaya kesedihan-kesedihan dan keluh kesah kita akan dihapus oleh Allah Yang Maha Lembut dan Maha Pengampun.

Allahu a’lam
Sumber : Kaifa tatahammasu liqiyan Al-Lail, Muhammad bin Shalih Ash-Sha’ari
Catatan :
*1. Dishahihkan oleh An-Nasai dan Al-Hakim bahwa hadits ini dengan syarat dari Muslin , dan begitu juga yang dikatakan Adz-Dzahabi.

Hati yang selalu bergolak

Suasana hati sangat cepat mengalami perubahan,secepat hambusan nafas. Sehingga kita harus selalu menjaga hati agar bisa berjalan di jalan yang lurus. Hati yang sangat halus , sangat mudah terpengaruh oleh berbagai hal yang selalu kita hadapi setiap hari. Dan penyebab berpalingnya hari adalah banyaknya persoalan atau masalah yang kita hadapi. Bahkan Rasulullah selalu berdoa berlindung kepada Allah dari berpalingnya hati , sebagaimana sabdanya,

يامقلب ﺍلقلو ب ثبت قلبي على د ينك

“ Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu “, (Hr Tirmidzi 49-124 dan Ibn Majah).

Hati selalu mengalami perubahan saat menentukan suatu niat. Dan niat bisa berubah dalam waktu yang sangat cepat. Sebagaimana Rasulullah bersambda, yang artinya , ”Semua hati dalam genggaman Allah, jika Allah berkehendak, Dia akan menjadikannya istiqamah, dan jika Allah berkehendak, Dia akan mencabut ke-istiqamah-an-nya. Begitu juga mizan, ia berada dalam gengaman Allah, dan Allah akan mengangkat suatu kaum dan merendahkan kaum yang lain hingga kiamat datang .” (Hr Ahmad dalam musnadnya, Ibn Majah dalam sunannya dan Hakim dalam mustadraknya, Shih al-Jami 5-5623).

Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Sungguh, hati anak adam itu lebih cepat berpaling daripada air yang sedang mendidih ,” (Hr Ahmad dalam musnadnya dan Hakim dalam mustaraknya dari miqdad, Kanzul ‘Ummal 1-216).

Saudaraku, betapa beratnya menjaga hati kita untuk istiqamah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ulama Sufyan ats Tsauri dalam Al-Majmu’ pernah menyatakan bahwa 'aku tidak pernah menghadapi sesuatu yang paling berat untuk diluruskan selain niatku,ia selalu berubah dan menyeretku. '

Saudaraku, seorang hamba yang mengendalikan hatinya, maka Allah akan menuntunya Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya , “ Siapa yang Allahkehendaki menjadi hamba yang baik, maka Allah akan menjadikan baginya penegur dalam hatinya ,”

Namun sebaliknya, barang siapa yang condong terhadap nafsu, maka ia akan menjadi tawanan nafsu yang selalu mencintai keinginan-keinginannya. Ia akan semakin tenggelam sehingga hatinya tidak lagi bisa menerima kebenaran dan faedah. Bararti jua ia telah menanam pohon penyesalan dalam hatinya.

Yahya bin Mua’adz ar Rozi, menyatakn bahwa perangilah nafsumu dengan melakukan ketatatan (kepada Allah dan Rasul-Nya) dan riyadhoh. Riyadhoh adalam mengurangi tidur, sedikit bicara, sedikit makan dan sabar dari gangguan manusia. Menguurangi tidur akan memperbaiki hati , sedikit bicara menyebabkan selamat, sabar dari bencana membuat derajatnya semakin tinggi, dan sedikit makan akan mengurangi kesenangan nafsu.

Saudaraku, mari kita berdoa memohon perlindungan Allah dari berpalingnya hati , sehingga kita dimudahkan Allah untuk menggapai cita-cita untuk mencapai ridha Allah.

Allahu a’lam

sumber : Al-Ikhlas, Dr Umar Sulaiman abudllah al Asyqar


Tenang dalam diam

Pascal dalam bukunya menyatakan bahwa ‘kesengsaraan manusia terletak pada ketidak-mampuannya untuk diam’. Benarkah demikian. Coba kita amati lingkungan disekitar kita, kita dapati kegaduhan yang luar biasa. Setiap hari, setiap waktu, ada suara motor, suara HP, tv,teriakan,makian,obrolan, klakson, pasar,dst. Semua Kegaduhan yang tejadi sepanjang waktu menjadi salah satu pemicu besar akan kegelisahan hidup kita.
Jack Canfield-Mar Victor Hansen dalam The Aladdin Factor ,bahwa setiap hari menusia rata-rata menerima lebih dari 600.000 pikiran (kegaduhan) yang masuk . Ternyata kebisingan/kegaduhan juga masuk dalam pikiran kita. Dr Shad Helmstetter menyatakan dalam bukunya bahwa 80% informasi yang masuk pikiran kita adalah bersifat negatif. Lalu bagaimana hamba beriman dalam menghadapi keadaan ini?

Firman Allah ;


هو١ﱠلذي١نزل١لسكينﺔ في قلو ب ١لموﹰمنين ليزد١و١١ﻱﻤﺎ نﺎ مع ﺍﻲﻤﺎ نهم

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang yang telah beriman, supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang telah ada)…. " (Qs. Al-Fath : 4)

Dalam diri kita juga ada kritik internal sebagai sumber kegaduhan yang membuat kita merasa kurang dibanding orang lain, merasa terzalimi ,rasa tidak aman bahkan takut.

Ketenangan (sakinah) sebagaimana diterangkan dalam firman Allah diatas , adalah ketenangan yang diturunkan Allah kedalam hati hamba-Nya ketika mengalami keguncangan dan kegelisahan karena banyaknya informasi negatif yang masuk ke pikiran /hati hamba-Nya.
Setelah itu hamba tersebut tidak lagi merasakannya, karena ketakutan sudah disingkirkan , sehingga menambah keimanan, kekuatan dan keteguhan hati seorang hamba.

Saudaraku, jika kita perhatikan alam lingkungan sekitar kita, akan kita lihat bagaimana Allah menurunkan ketenangan kepada makhluknya dimana segala sesuatu tumbuh dengan tanang dan perlahan ;



  • Lihatlah matahari terbit dan tenggelam dengan perlahan dan tenang

  • Bintang, pepohonan, bunga muncul dengan tenang

  • Lebah bekerja dengan tenang

  • Laba-laba membangun rumahnya dengan tenang.

Allah menciptakan itu semua dalam ketenangan. Ketika menghadapi masalah , kegaduhan , Syaih Islam Ibn Taimiyah membaca ayat-ayat Allah yang didalamnya terkandung ketenangan.

Allah mengabarkan kepada kita semua akan ketenangan yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah saw dan para sahabat ketika mereka dalam keadaan cemas dan gelisah, seperti saat hijrah dan saat-saat kritis lainnya.



Sebagaimana Firman Allah ;


ﺜﱠم ﺍنزل ﺍﷲ سكينته على رسو له وعلى ﺍﻠﻤؤ منين وﺍنزل جنودﺍﻠم ترو هﺎوعذ بﺍﻠﱠذ ين كفرو ﺍوذلك جزﺍۤﺀﺍلكفرين


“ Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tiada terlihat olehmu, dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir ” (Qs. At-Taubah : 26).

Saudaraku, dengan memenuhi hak pengabdian lahir maupun batin serta diikuti dengan pengagungan Allah yang disembah. Ini akan menghadirkan karunia Allah berupa ketenganan yang hadir dalam hati kita.
Seorang hamba yang tenang (sakinah) akan ridha kepada bagiannya dan tidak menoleh ke bagian yang diterima orang lain, dan ini adalah salah satu energi ketenangan yang besar.


Allahu a’lam
Sumber : Madarijus Salikin,Ibn Qayyim al-Jauziya,Quwwat el Tafkir, Dr Ibrahim elfiky.

Minggu, 06 Desember 2009

Waktu mulai shalat Dhuha

Saudaraku, ini tulisan dikutip dari situs Eramuslim yang berkaitan dengan saat mulai diperbolehkan shalat dhuha. Sering kita ragu kapan saat sudah masuh saat dhuha. Sebagai pekerja, atau orang buruh upahan tentunya perlu mengetahui , sehingga menghilangkan keraguan.
Sebagai karyawan, buruh atau pekerja lainnya, jam kerja kantor biasanya mulai pukul 07.30 sd 08.00 . Kita tidak menginginkan orang lain menuduh kita mencuri jam kerja dengan alasan menjalankan ibadah shalat (dhuha). Disamping itu kita juga menghindari waktu yang diharamkan untuk melaksanakan shalat ,yaitu pada saat matahari terbit & terbenam.
Dalam artikel itu ditanyakan :

Adakah penjelasan dalam Al Qur'an atau hadist yang shahih mengenai hal tersebut dan tepatnya jam berapa waktu tersebut ?
Selama ini saya selalu menunaikan shalat dhuha sekitar pukul 06.15 s/d 07.00 , sehingga tidak mengganggu jam kerja pabrik atau kantor.

JAWABAN
Diantarara dalil-dalil tentang waktu-waktu yang dilarang shalat adalah :
Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abi Sa’id bahwa Nabi saw bersabda,”Tidak ada shalat setelah shalat ashar hingga terbenam matahari dan tidak ada shalat setelah shalat fajar hingga terbit matahari.”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ahmad dari ‘Amr bin Abasah yang berkata : “Saya bertanya,’Wahai Nabi Allah ceritakanlah kepadaku tentang shalat.’ Lalu Nabi saw bersabda,’Lakukanlah shalat shubuh kemudian tahanlah untuk melakukan shalat hingga terbit matahari dan terangkat naik karena ia terbit diantanra dua tanduk setan dan pada saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya. Kemudian kerjakanlah shalat karena shalat itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat sampai engkau melakukan shalat ashar hingga terbenam matahari karena ia terbenam diantara dua tanduk setan dan pada saat itu orang-orang kafir sujud kepadanya.”

Imam Nawawi didalam syarhnya memberikan penjelasan tentang dua tanduk setan dengan menyebutkan beberapa pendapat, diantaranya ada yang mengatakan bahwa ia adalah kelompok dan pengikutnya, ada yang mengatakan bahwa ia adalah kekuatan, kemenangan dan tersebar luasnya kerusakan dan ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah dua tanduk yang ada diujung kepala (lahiriyahnya) dan pendapat inilah yang kuat. Mereka mengatakan bahwa setan mendekatkan kepalanya ke matahari pada waktu-waktu ini agar tampak bahwa orang-orang kafir yang sujud kepada matahari seolah-olah sujud kepadanya (setan).

Pada waktu seperti ini setan dan para pengikutnya tampak menguasai dan mendominasi untuk bisa mengacaukan shalat orang-orang yang melakukannya, Maka dimakruhkan melaksanakan shalat pada saat-saat seperti itu demi menjaga shalatnya sebagaimana dimakruhkannya melaksanakan shalat di tempat-tempat yang mejadi tempatnya setan.

Riwayat lainnya oleh Jama’ah kecuali Bukhori dari Uqbah bin Amir berkata,”Ada tiga waktu yang Nabi saw melarang kami untuk melakukan shalat dan menguburkan mayat pada saat itu. Pertama, ketika matahari terbit hingga terangkat naik. Kedua, ketika tepat berada di tengah langit. Ketiga, ketika ia condong hendak terbenam.”

Dari ketiga hadits diatas didapat bahwa ada lima waktu yang dilarang melakukan shalat didalamnya, yaitu : setelah shalat shubuh hingga terbit matahari, ketika matahari terbit sampai terangkat naik kira-kira sepenggelah, ketika matahari tepat berada di tengah-tengah langit, setelah shalat shubuh hingga terbenam matahari dan saat terbenam matahari.

Kemudian jumhur ulama berpendapat bahwa shalat-shalat yang dilarang pada waktu-waktu tersebut adalah shalat-shalat sunnah, sementara Imam Syafi’i mengatakan bahwa ia adalah shalat-shalat sunnah yang tidak memiliki sebab, berbeda dengan para ulama Hanafi yang melarang melakukan semua macam shalat bahkan shalat fardhu sekali pun kecuali shalat ashar hari itu dan shalat jenazah.

Sedangkan ukuran yang yang dipakai didalam penentuan waktu-waktu yang dilarang shalat adalah dengan melihat keadaan dan kondisi matahari baik ketika ia terbit, naik, berada di tengah-tengah atau tenggelam dan hal ini lebih universal untuk bisa diterima oleh seluruh kaum muslimin di daerah dan negeri mana pun mereka berada.

Lain halnya apabila penentuan itu dengan menggunakan jam (seperti petanyaan anda diatas) maka ini sangatlah relatif dan pasti terjadi perbedaan antara satu negeri dengan negeri lainnya, antara daerah Indonesia bagian barat dengan bagian timur, atau antara bulan ini dengan dua bulan berikutnya.
Adapun tentang apakah shalat dhuha yang anda lakukan antara jam 06.30 – 07.00 sudah masuk waktu shalat dhuha ataukah ia masih termasuk dalam waktu-waktu yang dilarang shalat ?

Sesungguhnya waktu shalat dhuha dimulai dari matahari yang mulai terangkat naik kira-kira sepenggelah dan berakhir hingga waktu matahari tergelincir, meskipun disunnahkan agar dilakukan ketika matahari agak tinggi dan panas agak terik, sebagaimana diriwayatkan Muslim, Tirmidzi dan Ahmad dari Zaid bin Arqam berkata,”Nabi saw keluar menuju penduduk Quba’ dan ketika itu mereka sedang melaksanakan shalat dhuha. Beliau bersabda,’Inilah waktu shalat al-awwabin (shalat dhuha), yaitu sewaktu anak-anak unta telah bangkit karena kepanasan cahaya matahari pagi.”

Ada yang mengatakan bahwa akhir waktu shalat dhuha kira-kira seperempat jam atau lebih sedikit sebelum masuk waktu zhuhur.

Dengan demikian apabila anda melakukan shalat dhuha ( wilayah Malang Jatim) pada pukul 06.30 maka ia sudah masuk kedalam waktu dhuha karena waktu dhuha berawal dari berakhirnya waktu yang dilarang atau pada saat matahari naik sepenggelah dan para ulama kontemporer mengatakan bahwa waktunya adalah kira-kira 15 menit setelah terbit matahari.

Dan pada umumnya waktu terbit matahari untuk wilayah Malang Jawa Timur berkisar antara jam 05.00 atau lebih . Jadi apabila ditambah dengan 15 menit yang menjadi awal waktu shalat dhuha maka ia masih berada pada seputar kisaran jam enaman kurang.

Agar anda lebih tenang dalam melaksanakan shalat dhuha pada masa-masa selanjutnya maka anda bisa melihat daftar waktu shalat yang biasanya dicantumkan di kalender . Anda bisa menghitungnya untuk wilayah anda , dimana disana dicantumkan waktu syuruq (terbit matahari) maka akhir waktu yang dilarang adalah kira-kira 15 menit setelahnya.

Wallahu A’lam

Sumber : Eramuslim



Selasa, 01 Desember 2009

Obat hasad

Seorang hamba yang hasad diibaratkan sebagai orang yang melempar boomerang kepada musush. Bumerangnya tidak mengenai sasaran, namun boomerang justru kembali kepadanya sehingga melukai dirinya sendiri. Selanjutnya dia bertambah kemarahannya dan kembali melempar dengan lebih kuat dan akhirnya boomerang kembali melukai diri sendiri dengan lebih menyakitkan. Begitulah seterusnya.
Hasad (dengki) adalah penyakit hari yang membahayakan diri sendiri., karena dia menyerang hati dan meracuninya.

Saudaraku, kita hendaknya mewaspadainya, karena ini sering dijumpai diatara sesama saudara, sesama teman sejabatan, seprofesi , seperjuangan dst. Penyakit ini pertama kali menyerang iblis , dimana sikap hasad dan takaburnya kepada Adam yang sama-sama makhluk Allah , sehingga ia dilaknat Allah.

Sumber hasad adalah cinta dunia, baik cinta harta, kedudukan, jabatan maupun pujian manusia. Dunia teras makin sempit , dan juga menyempitkan bagi hamba-hamba yang memburu dan terlalu mencintai dunia, sehingga sering terpeleset jatuh kejurang hasad.

Karena hasad adalah penyakit , maka tentu ada obatnya , al


  1. Ilmu. Ilmu yang bermanfaat untuk mengobati penyakit hasad adalah pengetahuan tentang hakikat hasad itu sendiri. Diantaranya adalah menyadari bahwa hasad berbahaya bagi si penderita, baik bagi agamanya maupun dunianya.
    Didunia, hatinya selalu menderita, dimana ia membenci orang lain yang menurutnya mendapat kenikmatan lebih dan mengharap kenikmatan itu musnah darinya. Padahal semua adalah kehendak Allah.

  2. Pemahaman bahwa hasad tidak merugikan dan tidak berbahaya sediktipun terhadap orang yang dihasad, baik bagi agamanya maupun dunianya. Bahkan orang lain itu mendapat keuntungan (pahala) jika hasad yang ditujukan kepadanya berupa perkataan atau perbuatan. Sebab dia termasuk orang yang kita zalimi. Kenikmatan yang ada padanya tidak akan berkurang karena hasad orang lain sebab kenikmatan itu telah ditakdirkan Allah untuknya.

  3. Amal perbuatan. Saudaraku, amal perbuatan yang berlawanan dengan perbuatan yang ditimbulkan hasad bisa menjadi obat yang manjur. Misalnya, akibat godaan hasad memaksa seorang hamba ingin mencela atau meremehkan orang yang dihasad. Jika seperti itu hendaknya , dia melakukan hal yang berlawanan yaitu memuji orang yang dihasad tersebut. Juika hasad itu membuatnya sombong atau merasa lebih kepada orang yang dihasad, maka hendaknya dia tawaddu’ kepadanya. Dst.
    Ibnu Sirin dalam Raudatul Uqala’ Wanuszhatul Fudhala, menyatakan bahwa ‘Aku tidak pernah hasad kepada seorangpun dalam masalah dunia, karena jika dia termasuk ahli surga, maka bagaimana aku hasad kepadanya dalam masalah dunia, padahal dia akan masuk surga ? Dan jika dia termasuk ahli neraka, maka bagaimana aku hasad kepadanya dalam hal dunia, sedangkan dia akan masuk neraka ?’

Saudaraku, semoga kita mendapat hidayah Allah , menjadi seorang hamba yang hatinya bersih dari hasad, tenang, jernih seperti air, lembut sehingga tidak ada tempat bagi kotornya hasad.

Allahu a’lam
Sumber : As-Sunnah no.06-07th. XIII 2009



Senin, 30 November 2009

Jangan Marah,

Keutamaan menahan marah sudah beribu kali disampaikan Rasulullah dan para ulama kita. Larangan ini masuk akal, sebab akibat amarah, seseorang dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan agama. Seperti memukul, berdusta, mencaci, berkata kotor, bahkan bisa lebih dari itu.
Diantaranya, Allah memuji seseorang yang tidak suka membalas dendam dan lebih suka memaafkan. “Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” [QS : Asy-Syura' : 37]

Dalam ayat lain disebutkan, orang yang mampu menahan amarahnya termasuk yang dapat mendapatkan kecintaan-Nya. Firman Allah : "Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." [QS AH Imron : 134].


Dalam sebuah hadist, disampaikan. "Dari Mu'adz bin Anas Al Juhani, Rasulullah bersabda : "Barang siapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebutkan dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki" (HR. Tarmidzi 2021, Abu Daud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad440).


Rasulullah mengatakan, orang yang dapat menahan amarahnya, maka Allah akan menjauhkan-nya dari murka-Nya. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin amr bahwasannya dia bertanya kepada Rasulullah SAW : "Wahai Rasulullah, amalan apa yang dapat menjauhkan aku dari murka Allah ?" Beliau menjawab : "Jangan marah!" (HR. Ahmad)


"Abu Darda' ra. berkata : ada seseorang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya: "Wahai Rasulullah, tunjukilah aku sebuah amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga !" Rasulullah menjawab : "Jangan marah, dan bagimu surga". [Shahih li qharrihi HR Thabrani].


Temuan peneliti dari Yale University di New Heaven, Connecticut (AS) tentang efek marah ini, semakin menunjukkan, betapa nilai-nilai ajaran Islam lebih jauh melampaui batas akal manusia.

Allahu a'lam

Sumber kutipan : [hid/www.hidayatullah.com]



Sabtu, 28 November 2009

selalu ada kesempatan yg baik

Saudaraku, hidup ini penuh kesempatan yang baik.Kehidupan ini tak pernah menghalangi kita untuk berupaya apa saja menuju kebaikan. Selama ada kemauan dan tekad,seorang hamba dapat meraih setiap kesempatan dengan cepat dan tepat. Hindarilah keraguan, sebab keraguan atau ketakutan menghadapi kegagalan, tak lain adalah faktor penyebab terbesar seoranghamba untukmeraih kesuksesan.
Sebagimana pepatah, ‘Siapa takut mendaki gunung, niscaya akan terus hidup diantara celah-celah bukit’.

Bangunkanlah kekuatan tersembunyi anda.Barangsiapa bersungguh-sungguh, ia akan sukses , dan orang yang rajin bangun malam akan berbeda dengan orang yang tidur saja.
Saudaraku, bukalah tabir yang selama ini menutupi diri dan kenalilah bakat dan potensi anda. Seorang hamba tak akan bisa menyingkap bakat dan potensi terpendamnya tanpa melakukan penjajakan, percobaan ataupun latihan.
Yang sering terjadi justru dimana cita-cita dan ambisi seorang manusia tenggelam oleh rasa rendah diri,minder dan tak meyakini bahwa dirinya bisa menangkap dan memanfaatkan suatu kesempatan .

Kita sering mengalami krisis kepercayaan diri dan penghargaan terhadap diri sendiri. Hal ini umumnya disebabkan oleh banyaknya rintangan yang harus dihadapi atau karena kegagalan-kegagalan di masa lalu. Bahkan kita juga menghakimi diri sendiri yang terkadang sadar atau tidak sadar sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang kita yakini lebih unggul dari kita dan merasa tidak mungkin bisa menyamainya.

Krisis kepercayaan ini sangat efektif menghilangkan keseimbangan seseorang, bahkan bisa menghapus kepercayaan diri.

Betapapun begitu, manusia memang sangat lemah apabila harus bersandar pada diri sendiri dalam menghadapi setiap kesulitan kehidupan. Oleh karena ini Rasulullah saw memberi contoh untuk selalu berdoa kepada Allah agar kita tidak menyandarkan diri kepada diri sendiri. Sebagaimana Rasulullah selalu berdoa, yang artinya ,” Ya Allah dengan rahmat-Mu kuberharap agar Engkau tidak membiarkan sedikitpun untuk menyandarkan diri pada diriku sendiri, dan perbaikilah semua keadaanku. Dan sungguh, tiada tuhan melainkan Engaku semata. “ (Hr Abu Daud 4264 dan Ahmad 19535).

Saudaraku , jangan biarkan diri ini terbelenggu masalalu sehingga membinasakan kepercayaan diri, janganlah meragukan diri sendiri dan merasa yakin tidak mampu berbuat dan memperbaiki kesalahan. Yang benar adalah memandang dan menempatkan kesalahan-kesalahan sebagai sumber pengetahuan, penyadaran dan pengalaman yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Sebagaimana doa Rasulullah saw,

اللهم إني أعو ذبك من المأ ثم والمغر م

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesalahan dan kerugian,”


Allahu a’lam
Sumber : Abdulaziz al-husaini ,Lii madza al-khauf min al mustaqbal