*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Minggu, 30 Agustus 2009

dari pikiran

Segala sesuatu yang ada dan terjadi pada kita , dimulai dari pikiran, selanjutnya menjadi kemungkinan dan menjadi tujuan, melahirkan perbuatan dan akhirnya menjadi kenyataan.
Adanya mesin pesawat terbang, bermula dari pikiran yang hinggap di benak Wright bersaudara. Dst.
Pikiran positif mengantarkan kita pada temuan dan kemajuan yang bermanfaat. Pikiran negatif menyembabkan tindakan-tindakan yang kontraproduktif yang merugikan diri kita sendiri bahkan orang lain. Dalam suatu penelitian di fakultas kedokteran di San Francisco, bahwa sebagian besar penyakit bermula dari pikiran dan kegiatan berpikir.
Saudaraku, ketika memutuskan untuk memilih pikiran tertentu, negatif atau positif, seorang pemikir akan meletakkan pikiran tersebut di otaknya. Disini akal akan mengidentifikasi wilayah dan makna berdasarkan informasi sejenis yang ada di gudang memori. Akal akan membandingkannya dengan pikiran sejenis yang ada. Akal memberinya alasan dan makna yang dibangun berdasarkan berbagai informasi serupa yang telah ada.

Terakhir akan mencarikan berbagai data pendukung pikiran yanga da dalam memori hingga pikiran benar-benar menancap dalam hati. Dengan demikian, pikiran itu telah siap direalisasikan. Pikiran menciptakan perhatian, konsentrasi, perasaan serta tindakan dan akibatnya.

Kita ambil contoh, jika seseorang yang mengeluhkan kondisi keuangan, sosial-keluarga , pekerjaan dst, maka siapakah yang meletakkan pikiran tersebut ke akalnya ?
Tentu dia sendiri.
Karena itulah, kita perlu memperhatikan untuk memilih alternativ yang terbaik. Kita harus memilih pikiran terbaik untuk akal kita sehingga menghasilkan sesuatu yang terbaik juga. Sebagaimana seorang petani yang memilih benih terbaik untuk disemai di kebunnya, kemudian merawat dan menghasilkan hasil yang terbaik.

Berhati-hatilah dalam memilih pikiran sebelum anda meletakkannya dalam akal. Jadi kita sendirilah sebagai pemikir, yang meletakkan pikiran di akal kita. Inilah sebagai sumber segala sesuatu. Pemikir yang menentukan keinginannya, kemudian kita memilih cara dan merealisasikan dengan perbuatan. Kita bebas memilih, apakah kita akan meletakkan pikiran negatif atau positif. Pikiran yang membahagiakan atau menyengsarakan, pikiran spiritual atau duniawi, pikiran yang membangun atau merusak.
Kita adalah petani yang menentukan hasil apa yang kita impikan.

Allahu a'lam
Sumber : Quwwat al-Tafkir, Dr Ibrahim Elfiky





Jumat, 28 Agustus 2009

Apa guna doa bila takdir tak bisa diubah

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)
Sabda Rasulullah saw , “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’ala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)
Imam Al-Ghazali berkata, ,’Kalau anda mengatakan,’Apa gunanya berdoa kalau takdir tak bisa diubah lagi? Maka jawabnya ,’ Ketahuilah bahwa termasuk bagian dari takdir ialah menolak bala’ (musibah) dari doa.
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa, doa adalah obat yang paling bermanfaat. Dialah lawan bala’, yang akan menolak, membereskan dan menahannya agar tidak terjadi, serta mengangkat atau meringankannya bila benar terjadi.
Doa adalah sebab yang dapat menolak bala’ dan mendatangkan rahmat, sebagiamana perisai sebagai penahan panah dan air penyebab tumbuhnya tanaman. Keberadaan doa dan musibah adalah seperti perisai yang menahan laju panah.

Dari riwayat Aisyah ra, bahwa Rasulullah bersabda, “ Kewaspadaan tidak mampu menolak takdir, sedangkan doa mampu memberikan manfaat terhadap musibah baik yang sudah menimpa maupun yang belum menimpa. Apabila musibah turun, ia akan ditemui doa, kemudian keduanya berbenturan hingga hari kiamat ,” (Hr Ath Thabrany dan Hakim, dihasankan Al-Albani).

Saudaraku, doa merupakan sebuah pintu yang agung. Bila seorang hamba mengetuknya, akan datang kepadanya kebaikan yang berturut-turut dan berkah yang melimpah.
Doa menjadikan seorang hamba beriman akan menjadi orang yang optimis. Sebab keadaan hidupnya yang selama ini dirasakan hanya berisi kesengsaraan dapat berakhir dan berubah. Asal ia tidak berputus asa dari rahmat Allah ta’aala dan ia mau bersungguh-sungguh meminta dengan do’a yang tulus kepada Allah ta’aala Yang Maha Berkuasa.

Doa, menurut ilmu bahasa adalah kata benda. Ditinjau dari pendekatan kuantum, doa adalah gelombang energi kuanta yang disebut pikiran dan perasaan (dimana keduanya juga merupakan kata benda).

Saudaraku Doa adalah salah satu bentuk ibadah, ia adalah ketaatan yang paling mulia dan ibadah yang utama, serta Allah tidak menerima sesuatu dari seorang hamba , kecuali yang ikhlash dan mengharap keridhaan-Nya.
Sebagaimana firman Allah , yang artinya ,” Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seorangpun didalamnya disamping berdoa kepada Allah, “ (Qs. Jin : 18)

Sebagaimana firman Allah , yang artinya ,” Maka berdoalah kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya, “ (Qs. Al-Mukminun : 14).


Saudaraku, sering kita setelah berdoa namun masih merasa cemas, takut dan gundah, itu bisa diartikan keyakinan kita akan doa itu sendiri masih perlu dipertebal. Kita sering menyangsikan sendiri, kita sulit untuk yakin terhadap efektivitas doa kita. Justru kondisi inilah yang mengakibatkan berkurangnya kepercayaan kita terhadap Allah.


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah ta’aala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS Az-Zumar 53-54)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, yang artinya ,” …. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan apabila kau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah ….. “,(Hr tirmidzi –ahmad, disahihkan Al-Albani)

Demikianlah, hanya orang yang tetap berharap kepada Allah ta’aala saja yang dapat bertahan menjalani kehidupan di dunia betapapun pahitnya taqdir yang ia jalani. Ia akan senantiasa menanamkan dalam dirinya bahwa jika ia memohon kepada Allah ta’aala dalam keadaan apapun, yakinlah maka derita dan kesulitan yang dihadapi akan berubah.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS Al-Mu’min 60)

Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya, karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah ta’aala yang pedih. Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah ta’aala, maka Allah ta’aala murka kepadaNya.” (HR Ahmad 9342)

Saudaraku, janganlah berputus asa dari rahmat Allah ta’ala. Bila Anda merasa taqdir yang Allah ta’ala tentukan bagi hidup Anda tidak memuaskan, maka tengadahkanlah kedua tangan dan berdo’alah kepada Allah ta’ala. Allah Maha Mendengar dan Maha Berkuasa untuk mengubah taqdir Anda. Barangkali di antara do’a yang baik untuk diajukan sebagai bentuk harapan agar Allah ta’ala mengubah taqdir ialah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (HR Muslim 4897)

Saudaraku , seringkali kita sudah merasa banyak berdoa dan meminta segala keinginan namun pada saat yang sama, kita masih merasa kuatir dan kecemasan dalam pikiran kita. Justru rasa inilah yg akan merusak doa kita. Bila seorang hamba telah menyerahkan segala persoalannya kepada Allah, mengapa mesti cemas ?

Saudaraku sesuatu yang ditakdirkan ini, sungguh ia ditakdirkan dengan sebab. Termasuk dari sebabnya ialah doa. Tidaklah sesuatu itu ditakdirkan dengan sebab. Sehingga selama seorang hamba melakukan sebabnya, maka terjadilah apa yang ditakdirkan. Namun , bila ia tidak melakukan sebabnya, maka yang ditakdirkan pun tidak akan terjadi.
Berkaitan dengan doa Umar bin Khaththab berkata ,’ Saya tidak memikirkan jawaban dari doa . Karena apabila saya diilhami untuk berdoa, maka jawabannya pun pasti ada bersamanya,”.

Saudaraku, cobalah anda baca syair ini,
Sekiranya engkau ya Allah tak ingin aku mendapatkan apa yang kuharap dan kuminta dari kemurahan tangan-Mu
Tentu Engkau tak akan membiasakanku untuk berdoa
Maka barang siapa yang diilhami untuk berdoa berarti doanya pun pasti diijabahi.

Allahu a’lam

Sumber : eramuslim, At-tadawi bil istighfari bis shdaqati bid dua’I bil Qur’ani, bis shalati bis shaumi, Hasan bin ahmad Hamman



Kamis, 27 Agustus 2009

Berobat dengan sedekah

Secara etimologis, sedekah merupakan kata benda yang dipakai untuk suatu hal yang disedekahkan. Kata itu diambil dari huruf shad, dal dan qaf. Serta dari unsur ash-sidq (benar-jujur). Sehingga sedekah itu menunjukkan kebenaran penghambaan seorang hamba kepada Allah. Sehingga sedekah adalah cerminan kejujuran dan kebenaran iman seorang hamba.
Al-Aswad bin Yazid meriwayatkan dari Abdullah, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya,”Obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah, bentengilah harta kalian dengan zakat dan siapkanlah doa untuk menghadapi musibah”,(Hr Baihaqi).1
Al-Jurjani dalam Ash Shihah, menyatakan bahwa sedekah adalah sebuah pemberian yang diberikan karena hanya mengharap ridha dari Allah. Ar-Raghib dalam al-Mufradat, menyatakan bahwa sedekah ialah harta yang dikeluarkan seseorang hamba dengan maksud ibadab, seperti zakat.Namun, sedekah pada dasarnya disyariatkan untuk suatu hal yang disunnahkan, sedangkan zakat untuk hal yang diwajibkan

Al-Ibsyaihi dalam Al-Mustrahtaf , berkata bahwa Umar ra berkata bahwa Amal itu saling berbangga diri satu sama lain. Sedekah berkata, ‘ Saya adalah yang terbaik diantara kalian, saya ialah yang terbaik diantara kalian.’

Abdul Aziz bin Umair, berkata bahwa shalat akan mengantar seorang hamba menuju setengah perjalanan, puasa akan mengantarkan seorang hamba samapi depan pintu sang Raja (Allah SWT), sedangkan sedekah akan memasukkan seorang hamba untuk bertemu dengan-Nya.
Muhammad Hamid abdul Wahab, dalam Raudah al-‘uqala wa nuzhatul fudhala, menyatakan bahwa Al-Laits bin Sa’ad berkata,’Barang siapa mengambil suatu sedekah atau hadiah dariku, hak dirinya atas diriku lebih besar dari hakku atas dirinya. Karena ia telah menerima amalan yang mendekatkanku kepada Allah.
BahkanAl-Fudhail bin Iyadh pernah berkata kepada orang-orang yang menerima sedekah, ‘Mereka membawakan perbekalan-perbekalan kita ke akhirat tanpa upah sedikitpun, hingga mereka meletakkannya diatas timbangan dihadapan Allah.

Sungguh luar biasa keutamaan dari sedekah. Keutamaan yang didapatkan seorang hamba yang diberi bimbingan allah dan dikehendaki untuk mendapatkannya.

Dari riwayat Mua’adz bin Jabal ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “ Sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api”, (Shahih at turmudzi).

Al-Aswad bin Yazid meriwayatkan dari Abdullah, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya,”Obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah, bentengilah harta kalian dengan zakat dan siapkanlah doa untuk menghadapi musibah”,(Hr Baihaqi).

Saudaraku, sedekah bisa menghilangkan penyakit setelah terjangkit dan akan mencegahnya sebelum terjangkit. Sehingga Zaid bin abduk Karim Az-Zaid dalam Rihlah Ash shadaqah, menyatakan bahwa sedekah bisa mencegah penyakit sebagaimana juga bisa menghilangkan penyakit dengan izin Allah.

Saudaraku, kita harus meyakini itu, dimana seorang hamba beriman haruslah bermuamalah dengan Rabb-nya dengan keyakinan kuat, kepercayaan dan tawakal yang benar, serta berbaik sangka kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi , yang artinya,”Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku “,

Wallahu a’lam
Sumber : Al Tadawi bil Istighfari bis shdaqati bid du’ai bil Qur’ani bis shalati bis shaumi , Hasan bin Ahmad Hamman

catatan
1. R Baihaqi dalam Al Sunan al-Qubra III/382, ia berkata,’ Abu Abdullah mengatakan bahwa Musa bin Umairsendiri yang meriwayatkannya’. Asy syaikh berkata ,’Matan riwayat ini diketahui oleh Al-HAsan al-Bashri dari Nabi secara mursal dan al-albani menilainya sebagai hadits hasan dalam al_Jami’ Ash Shaghir.



Rabu, 26 Agustus 2009

Keutamaan shalat malam

firman-Nya :
وَلِلّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya : “Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud : 123)
Rahasia shalat dan ruhnya adalah disaat kita menghadap kepada Allah dengan segala elemen yang ada pada diri kita. Shalat adalah kotak yang terkunci rapat, yang tidak akan terbuka kecuali dengan kunci kedekatan dengan Allah dan berpaling dari selain-Nya. Rahasia shalat tidak diberikan kecuali kepada hamba yang keinginnya hanya satu dan tujuannya hanya satu. Gelas yang penuh air tidak akan bisa diisi lagi kecuali gelas tersebut dikosongkan. Begitu juga hati kita, ia tidak akan bisa dimasuki makna-makna shalat jika hati ini dipenuhi dengan hasrat duniawi semata.

Saudaraku, shalat malam memiliki kenikmatan tersendiri , yang berbeda dengn shalat disiang hari. Jik malam hari bisa menjadi peluang kesempatan bagi orang-oranng fasik atau orang-orang jahat. Maka bagi hamba beriman, waktu malam adalah kesempatan yang mengagumkan . Sebagaimana Allah berfirman, yang artinya ,” Sesungguhnya banun diwaktu malam adalah lebih epat (untuk kusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih bekesan “, (Qs. Al-Muzzammil : 6).

Ibnu Jarir At-Thabari dalam Al-Ausath menafsirkan ayat diatas sebagai bangun malam (shalat tahajud) itu lebih kuat pengaruhnya daripada shalat disiang hari dan lebih berkesan dalam hati, karena mengerjakan suatu pekerjaan dimalam hari lebih tenang daripada mengerjakannya di siang hari.
Ibn Abbas menyatakan bahwa memahami Al-Qur’an dimalam hari itu lebih mudah.

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi disebutkan bahwa Nabi saw bersabda,”Hendaklah kalian menunaikan shalat malam, karena ia adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri dengan Tuhan kalian, mendapatkan ampunan atas kesalahan-kesalahan dan penghapusan dosa-dosa.”

Hasan al Bashri pernah mengatakan bahwa tidak ada suatu ibadah yang aku dapati lebih berat daripada shalat di penghujung malam. Dia ditanya,”Mengapa orang-orang yang sering menunaikan shalat malam adalah orang yang paling baik wajahnya?” dia menjawab,”Karena mereka adalah orang-orang yang berkhalwat dengan Yang Maha Pengasih lalu Dia swt memakaikan mereka cahaya-Nya.’

Sayyid Quthb, dalam tafsir Ath-Thari , memberikan catatan mengenai ayat Al-Qur’an diatas. Bahwa sesungguhnya mengalahkan godaan tidur dan kasur setelah bekerja keras disiang hari , itu lebih berat bagi tubuh, daripada mensucikan ruh, menjawab panggilan Allah dan memilih mengerjakannya. Oleh karena itu bacaanya menjadi lebih fasih karena dzikir disaat itu memiliki kenikmatan dan shalat pada saat itu menjadi obat.

Sesungguhnya shalat itu melahirkan kebahagiaan, ketengangan, kedamaian serta cahaya ke dalam hati yang kadang-kadang tidak didapatinya ketika shalat atau berzikir di siang hari. Allah yang menciptakan hari, mengetahui rahasia dan kendalinya, mengetahui apa yanga da didalamnya dan mengetahui kapan ia lebih terbuka dan siap.

Dari Abu Hurairah ra bahawa Rasulullah saw bersabda, yang artinya, “Halat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat di ujung malam, sedangkan puasa yang paling utama setelah puasa di bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram “, (Hr Muslim)

Saudaraku, sungguh shalat malam mempunyai keutamaan-keutamaan yang besar ,

  • a. Shalat malam lebih membawa ketenangan dan lebih dekat dengan keikhlasan.
  • b. Shalat malam lebih berat bagi jiwa daripada shalat (sunnah) disiang hari karena malam adalah waktu tidur, nberistirahat dan tenang. Berbeda dengan siang hari , karena ia adalah waktu untuk bekerja, beraktivitas.
  • c. Membaca al-qur’a, pada saat shalat malam , membawa seorang hamba lebih bertadabur, khusyu’ dan memahami apa yang dibacanya dibanding membacanya disiang hari. Karena di malam hari telah lepas dari kesibukan aktivitas, hati hadir bersama lidah memahami bacaan itu.

Wallahu A’lam
Sumber : Kaifa Tatahammasu liqiyan al-lail, Muhammad bin Shalih Ash Shai’ari



kita cipta sendiri kebiasaan buruk

Ada ungkapan bahwa sebenarnya kita sendiri yang menciptakan kebiasaan-kebiasaan kurang baik dalam hidup kita, selanjutnya kebiasaan itu justru akan mengatur dan membelenggu kehidupan kita. Kebiasaan kita akan membentuk pola pikiran kita dan selanjutnya dari pola pikiran itu kita melakukan tindakan. Seorang anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang sering menggunakan bahasa kasar, kebiasaan menggunakan bahasa kasar ini . akan berkembang pada jiwa anak dimana bahasa kasar menjadi bahasa kebiasaanya dikala dewasa.
Sama seperti kebiasaan lainnya, penundaan dibentuk secara perlahan-lahan. Tidak ada orang yang terlahir dengan rasa rendah diri.Tidak ada orang yang terlahir dengan pola makan tertentu. Tidak ada orang terlahir stress terus menerus. Demikian juga tidak ada orang yang terlahir dengan kebiasaan menunda-nunda.

Semua kebiasaan adalah perilaku yang kita pelajari dan lakukan terus menerus hingga akhirnya menjadi bagian dari sifat dasar kita. Sama seperti ungkapan John Dryden “Pertama kita membentuk kebiasaan, kemudian kebiasaan tersebut membentuk kita.”

Bila anda menabur benih kebiasaan yang baik dan bermanfaat, maka anda akan menimkati hasil panen yang memuaskan anda.
Mulailah kita membiasakan tidur cepat , agar bisa bangun malam , untuk shalat malam . Coba kita hiasi pertengan malam dengan shalat tahajud , shalat hajat atau berdoa, tafakur. Lama kelamaaan kebiasaan ini akan membantuk jiwa kita . Jiwa yang tenang , penuh barokah. Kegembiraan akan selalu menyelimuti kita.

Bila anda membiasakan diri dengan ketakutan-ketakutan, maka anda akan menjadi terbiasa takut. Sebaliknya bila anda membiasakan diri dengan keberanian-keberanian, maka anda akan berani. Bila ketakutan mendera anda , maka kita pertanyakan kembali tentang kebiasaan kita. Begitu kita berusaha dan berhasil mengubahnya. Maka ketakutan itupun akan sirna.

Rasa ketakutan kehilangan jabatan , rasa takut akan kesepian, akan membuat kita mengalami ketidakseimbangan jiwa. Dan akan menjadikan kita merasa bahwa lingkungan sekitar tak bersahabat dengan kita. Kita akan merasa sepi dan sendirian dalam menghadapi problematika. Memiliki rasa takut dan kesepian bukanlah suatu kesalahan. Namun akan menjadi masalah bila rasa takut dan sepi itu membelenggu kita , sehingga membatasi gerak langkah kita selanjutnya. “Mereka menaklukkan apa pun yang mereka percayai bisa mereka taklukkan. Orang tak akan pernah belajar dari hidup, bila ia setiap hari - tidak mengatasi rasa ketakutannya” kata Ralph Waldo Emerson.

Benarlah ungkapan John Dryden , bahwa Pertama, kita menciptakan kebiasaan-kebiasaan kita. Lalu, kebiasaan-kebiasaan kita menciptakan diri kita sendiri.

Wallahu a'lam bishshawab

Sumber : Yusran Pora dll


ikhlas

Orang yg ikhlas adalah orang yg tak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan dari apa yg dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yg ikhlas cuma satu yaitu bagaimana agar apa yg dilakukan diterima oleh Allah SWT.
Ikhlas merupakan satu amalan yang tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, seperti keinginan untuk memperlihatkan amal tampak lebih indah dimata orang , tidak ingin dicela / sanjungan, atau apapun alasannya yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain hanya karena Allah saja.
Firman Allah, yang atinya ,” Dan, siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan ?” (Qs. An-nisa’ : 125).

Menyerahkan diri kepada Allah diartikan sebagai memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Firman Allah, yang artinya ,” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya , maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutu-kan seorangpun dalam beribdah kepada Rabb-nya”, (Qs. Al-Kahfi : 110) .

Firman Allah, yang artinya “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamany dengan lurus ,” (Qs. Al-Bayyinah : 5).

Apapun yg dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah itulah ikhlas. Seperti yg dikatakan Imam Ali bahwa orang yg ikhlas adalah orang yg memusatkan pikiran agar tiap amal diterima oleh Allah. Seorang pembicara yg tulus tak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona tapi ia akan mengupayakan tiap kata yg diucapkan benar-benar menjadi kata yg disukai oleh Allah. Allah Mahatahu segala lintasan hati Mahatahu segalanya! Makin bening makin bersih semua semata-mata krn Allah maka kekuatan Allah yg akan menolong segalanya.

Dalam sebuah hadits qudsy shahih, disebutkan bahwa Rasuluulah bersabda bahwa ,”Allah berfirman ,”Aku adalah paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barang siapa mengerjakan suatu amal, yang didalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka ia menjadi milik yang dia sekutukannya dan Aku terbebas darinya “.

Saudaraku, banyak definisi tentang ikhlas namun tujuannya adalah sama. Ada yang berpendapat ,


  • Ikhlas adalah menyendirikan Allah sebagi tujuan dalam ketaatan,

  • Ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk

  • Ikhlas artinya menjaga amal dari perhatian manusia, termsuk dirinya sendiri.

  • Al-Fudhail,menyatakan ‘ meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk menninggalkan keduanya’

  • Dalam manazilus sa’irin, ikhlas adalah membersihkan amalan dari segala campuran.

Bahkan ada yang berpendapat bahwa , siapa yang mempersaksikan (mengaku) ihklas dalam ikhlas, berarti ikhlasnya masih membutuhkan ikhlas lagi.

Buah apa yg didapat dari seorang hamba yg ikhlas itu?
Seorang hamba yg ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa ketenangan batin. Karena ia tak diperbudak oleh penantian utk mendapatkan pujian penghargaan dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yg tak menyenangkan.

Tapi bagi seorang hamba yg ikhlas ia tak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun karena keni’matan bagi bukan dari mendapatkan tapi dari apa yg bisa dipersembahkan. Ketidak ikhlasan akan banyak membawa kecewa dalam hidup ini. Orang yg tak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan krn ia memang terlalu banyak berharap. Karena biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yg pasti aman. Jangan pula disebut-sebut diingat-ingat nanti malah berkurang pahalanya.

Saudaraku. Keikhlasan membuat seorang hamba punya kekuatan ia tak akan kalah oleh aneka macam selera rendah yaitu rindu pujian dan penghargaan.
Menurut manazilus sa’irin :, ikhlas ada tiga derajat;

a. tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal, dan tidak puas terhadap amal.
Ada tiga macam penghalang dan rintangan bagi seorang hamba yang beramal dalam amalnya. : yaitu pandangan dan perhatiannya, keinginan akan imbalan dari amal itu dan puas/ senang kepadanya.
Yang bisa membersihkan penghalang itu, adalah mempersaksikan karunia dan taufik Allah kepadanya, bahwa amal itu datang dari Allah dan bukan datang dari dirinya, kehendak Allah-lah yang membuat amalnya ada dan bukan kehendak dirinya sendiri. Kyakinan bahwa kebaikan yang keluar dari jiwanya hanya berasal dari Allah dan bukan berasal dari hamba.
Sebagaimana firman Allah , yang artinya , “ Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya” . (Qs. An-Nur : 21).

b. Malu terhadap amal sambil tetap berusaha, untuk membenahi amak dengan tetap menjaga kesaksian, memelihara cahaya taufik yang dipancarakan dari Allah.
Dalam kondisi ini , seorang hamba merasa malu kepada Allah karena amalnya, karena dia merasa amal itu belum layak dilakukan karena Allah, namun amal itu tetap diupayakan.

Firman Allah, yang artinya ,” Dan, orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnyamereka akan kembali kepada Rabb mereka ,” (Qs. Al-Mukminun : 60).

Rasulullah saw menjelaskan maksud ayat ini dengan bersabda, “ dia adalah orang yang berpuasa, mendirikan shalat, mengeluarkan shadaqah, dan dia takut amal-amalnya ini tidak diterima”.
Sebagian ulama menyatakan ,’aku benar-benar mendirikan shalat dua rekaat, namun ketika mendirikannya aku tak ubahnya seorang pencuri dan pezina yang tidak dilihat orang, karena merasa sangat malu kepada Allah’.

c. Memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal, membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allah dan membebaskannya dari sentuhan rupa.
Atau dikatakan sebagai membiarkan amal itu berlalu berdasarkan ilmu dan hamba tunduk kepada hukum kehendak Allah. Dalam hal ini seorang hamba bertindak berdasarkan dua perkara, yaitu perintah dan larangan, yang berkaitan dengan apa yang harus dikerjakan atau ditinggalkannya, dan qadha dan qadar, yang berkaitan dengan iman, kesaksian dan hakikat.

Allahu a’lam

sumber : file chm bundel Tausyiah Manajemen Qolbu Aa Gym, Madarijus Salikin, Ibn Qayyim al-Jauziya.



Senin, 24 Agustus 2009

Segera tidur, jangan begadang

Tidur setelah shalat isya merupakan salah satu wasiat Nabi, teladan generasi salaf yang saleh, kebiasaan yang baik dan menyehatkan, menguatkan badan. Rasulullah membenci obrolan setelah shalat isya dan mengingatkan sahabat agar tidak melakukan hal itu, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata bahwa Rasulullah mencela kami jika kami mengobrol setelah shalat isya’ (diriwayatkan ahmad dan Ibn Majah).
Saudaraku, kita perlu belajar begaimana cara tidur yang dianjurkan Rasulullah. Tidur di awal malam merupakan sunnah illahiyah dan sunnah nabawiyah. Allah telah menjadikan kebanyakan makhluk tidur di waktu malam dan bangun di waktu siang, dimana hal ini juga berlaku bagi tumbuh-tumbuhan.Mengapa kita tidak tidur diawal waktu? Mengapa menghabiskan malam dengan begadang sia-sia?
Sebagaimana firman Allah, yang artinya ,” Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya ; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguh-nya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur “, (Qs. Ghafir : 61)
Mengapa kita menghabiskan malamnya hanya untuk begadang, menonton TV. Waktu malam kita akan habis dan tenaga akan hilang sia-sia. Para peneliti memberikan nasihat agar tidur lebih awal dan bangun lebih cepat (sehingga bisa segar bangun lebih awal untuk shalal malam dan shalat subuh). Ini bukan penemuan atau peraturan baru. Semua ini berjalan diatas sunnah kauniah 9aturan alam) yang telah ditetapkan Allah.

Pertanyaan yang sering tertuju ke kita sendiri,
Mengapa kita tidak tidur diawal waktu? Mengapa kita orang Islam menghabiskan malam dengan begadang yang sia-sia?
Diriwayatkan Imam bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah tidak suka tidur sebelum isya (supaya tidak ketinggalan sholat isya) dan tidak suka ngobrol sesudahnya.

Selanjutanya dari Barzah Al-Aslami ra menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senang mengakhirkan shalat isya’ ,membenci tidur sebelumnya dan berbicara sesudahnya , (Hr riwayat Bukhari).

Al-Hafidz bin Hajar dalam Fath Al-Bari (Ibn Hajar), memberikan penjelasan dalam hadits diatas menyatakan bahwa Beliau (Rasulullah) membenci tidur sebelum isya karena menyebabkan keluar dari waktunya secara mutlak atau dari waktu yang dipilih, sedangkan mengobrol setelahnya bisa menyebabkan tidur sebelum subuh atau dari waktunya yang terpilih atau bangun malam.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bersabda , “tidak boleh mengobrol (setelah shalat isya’) kecuali orang yang shalat atau musafir (Hr Ahmad).1.

Para salaf juga saling mengingatkan sesamanya agar mereka tidur segera setelah shalat isya dan menegur orang yang ngobrol setelah isya dengan teguran keras.

Dalam Qiyamullail ,Al Muqrizi menyatakan bahwa dari Kharssyah bin Al-Hurr berkata,’ Saya melihat Umar bin Khaththab memukul orang-orang yang mengobrol setelah isya dengan tongkat seraya berkata,’Ngobrollah di awal malam dan tidur di akhir malam’.

Seseorang datang menghadap Hudzaifah bin Al-Yaman ra, lalu mengetuk pintunya setelah isya. Hudzaifah keluar dan berkata kepadanya ,’Apa maumu?’
Dia menjawab ,’Saya ingin ngobrol denganmu,’
Maka udzaifah langsung menutup pintunya seraya berkata,’Umar bin Khaththab tidak menginginkan kita ngobrol setelah isya’ ‘,.

Urwah bin Zubair berkata, setelah isya akhir aku pulang, lalau bibiku Asiyah ra, mendengarkan suaraku, sedangkan aku berada dalam kamar. Dia berkata,’Wahai Urwah, obrolan apa itu? Aku tidak pernah melihat Rasulullah tidur sebelum shalat isya dan tidak suka ngobrol sesudahnya. Beliau langsung tidur setelah shalat isya hingga selamat dari maksiat atau shalat hingga mendapatkan pahala’.

Dari Imarah ra berkata bahwa Aisyah ra jika mendengar salah seorang keluarganya ngobrol setelah shalat isya maka dia berkata,’ Tidurlah kalian dan diamlah.’ Beliau melanjutkan,’Tidak ada obrolan setelah isya kecuali tiga hal : musafir, bertahajud atau pengantin yang bercumbu rayu dengan istrinya’.

Saudaraku, mari kita biasakan tidur lebih awal , sehingga kita segar untuk bangun di awal pagi atau penghujung malam untuk shalat tahajud, shalat fajar dan berjamaah subuh di masjid.

Allahu a’lam

Sumber : Kaifa Tatahammasu Liqiyam al-Lail , Muhammad bin Shahih Ash –Shai’ari. Misteri Shalat subuh, Dr Raghib As Sirjani.

Catatan :
1. Juga diriwayatkan oleh Ath-thalibi, Ibn Nashr Al-Marwazi dalam Qiyamullail, Abu Na’im dalam Al-Hilyah, abu Ya’la dan ditashih oleh al-Albani dalam Shahih Al-Jami’.



Kamis, 20 Agustus 2009

Apa yang menghalangi kita ?

Rasulullah bersabda, yang artinya, “ Dua rekaat fajar (Shalat sunnah sebelum subuh) lebih baik dari dunia seisinya”, (Hr Muslim).
Shalat fajar adalah shalat sunnah sebelum subuh yang merupakan ibadah sunnah yang sangat agung nilainya. Rasulullah begitu mengistimewakan-nya. Lalu , apa yang menghalangi kita untuk melaksanakan shalat ini dan shalat subuh (berjamaah di masjid) ? Bukankah shalat sunnah-nya saja begitu agung nilainya, apalagi shalat wajibnya dengan berjamaah dimasjid.
Saudaraku, di zaman ini kesuksesan seorang hamba seringkali dinilai dari status social-ekonomi, jabatan,dst. Orang yang sukses terkadang diukur dengan perhitungan matematis. materi, kekayaan dst. Padahal menurut Allah , orang yang kelihatan gagal dimata kita, bisa jadi sebenarnya adalah hamba yang sukses menurut pandangan Allah.
Saudaraku , adakah keterkaitan antara kesuksesan seorang hamba dengan shalat subuh?

Rasulullah telah membuat semacan klasifikasi yang beliau jadikan sebagai tolok ukur yang membedakan antara seorang hamba yang beriman yang meraih kesuksesan hidupnya, dengan hamba yang munafik.
Sebagaimana sabda Rasulullah, yang artinya ,” Sesungguhnya dua shalat ini (subuh dan isya’) adalah shalat yang berat bagi orang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam shalat subuh dan isya’, maka mereka akan mendatanginya , sekalipun dengan merangkak “. (Hr Ahmad dan an-Nasai’).

Benarlah, apabila kita mengetahui kebaikan yang terkandung dalam shalat berjamaah subuh di masjid, tentu kita akan berupaya semaksimal mungkin mengerjakannya, walaupun dengan merangkak yang berdarah-darah. Inilah ujian bagi kita. Sayang sekali bila kita menukarnya dengan tidur, sungguh perbandingan yang sangat tidak sebanding .

Khusus mengenai shalat subuh dan sunnah sebelum subuh . Alangkah indahnya bila kita bisa mengerjakan keduanya. Subhanallah, nilai yang luar biasa ini bukanlah karena lamanya ibadah shalat ini. Bahkan Rasulullah sendiri sering memendekkan bacaanya dalam dua rekaat sebelum shalat subuh ini.

An Nasa’I meriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa ia berkata,” Sungguh, aku pernah menyaksikan Rasulullah memendekkan bacaannya ketika shalat dua rekaat fajar. Sampai-sampai aku ingin bertanya ,” apakah beliau membaca ummul Kitab (Al-Fatihah) atau tidak?”.

Sungguh keberintungan yang sangat indah bagi hamba beriman, yang bisa melupakan sejenak urusan dunianya dan menegakkan shalat fajar dan berjamaah shalat subuh di masjid.
Bahkan Rasulullah pernah bersabda, yang artinya ,” Tidak ada shalat sunnah yang lebih diperhatikan Rasulullah selain shalat sunnah sebelum subuh “, (Hr Al-bukhari dari riwayat Aisyah ra).

Dalam Fathul Bari, Ibn Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa ketika melakukan perjalanan, Rasulullah saw tidak mengerjakan shalat sunnah (baik dikerjakan sebelum dan sesudah shalat fardhu) kecuali shalat sunnah sebelum subuh.

Begitu mulianya shalat sunnah ini, pernah Rasulullah bersabda, yang artinya, “Janganlah meninggalkan shalat sunnah subuh walaupun kalian dikejar musuh ,” (Hr Abu Dawud dan Ahmad).

Walaupun dalam kondisi terjepit bahkan masih dianjurkan bagi kita untuk tetap menegakkan shalat sunnah sebelum subuh.
Saudaraku , inilah salah satu ujian sesungguhnya bagi kita. Ujian yang sungguh sulit namun bukan suatu yang mustahil kita kerjakan dengan baik. Suatu ujian yang bisa kita kerjakan untuk meraih nilai yang tertinggi, dengan cara melaksanakan shalat sunnah sebelum subuh dan berjamaah shalat subuh di masjid.

Allahu a’lam
Sumber : Kaifa Nuhafidzu ‘alas shalatil fajri, Dr Raghib as-sirjani.



Selasa, 18 Agustus 2009

Istighfar , pelepas kesempitan

Problema kehidupan , sering membuat kita rentan mengeluh atas segala yg kita hadapi baik kesempitan dalam rezeki, kegersangan hidup , depresi dst. Kepada siapakah yang dapt menjadi sandaran , ketika sedang mengalami kesedihan ? Kepada siapakah orang yang mengalami kesulitan meminta pertolongan. Dia-lah tempat bergantung dan tempat meminta bagi hamba. Dia-lah Allah, tiada Tuhan selain Dia. Disaat kesulitan datang silih berganti. Apa yang harus kita lakukan ? Kita membutuhkan pertolongan Allah. Ketika seorang hamba membutuhkan pertolongan Allah, haruslah ia mendekati Allah. Salah satu amalan yang bisa membuka pintu pertolongan Allah adalah istighfar atau memohon ampun.
Firman Allah yang artinya “, Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs : Az Zumar : 53)
Firman Allah yang artinya ,“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal shaleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Qs. Thaahaa : 82)
Firman Allah , yang artinya “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Qs. Al Anfaal : 33)

Rasulullah SAW pernah bersabda , yang artinya “Barang siapa yang membiasakan Istighfar, maka Allah akan membebaskan dari segala kesusahan, melapangkan dari segala kesempitan, dan memberikan Rezeqi dari yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. H.R. Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Hakim)

Rasulullah SAW, bersabda yang artinya ,“Sesungguhnya dalam Qolbu itu ada karat seperti pada tembaga/besi, maka bersihkanlah karat itu dengan Istighfat dan taubat.” (H.R. Baihaqi)

Suatu ketika orang-orang mengadu kepada Hasan Al Basri tentang berbagai kesulitan hidup mereka, Beliau menganjurkan mereka untuk sering beristigfar. Menurutnya kesulitan yang terjadi karena banyaknya maksiat yang dilakukan dan dengan istighfar diharapkan Allah akan mengampuninya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohon ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’ maknanya: bertobatlah kamu dari kemusyrikan dan esakanlah Dia Yang Maha Tinggi. Karena barangsiapa yang bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya walaupun dosanya besar.Atau jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa mentaatiNya, niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang didalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu untuk kalian”

Bahwa memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam ayat diatas menurut para ulama tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan hanya dengan lisan saja akan tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan apabila seseorang memohon ampun kepada Allah hanya dengan lisan saja tanpa disertai dengan perbuatan maka itu adalah pekerjaan para pendusta. (Al-Mufradat fi ghariibil Qur’an hal:362)

Ya,Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang pandai beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya didunia maupun akhirat . Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin.Wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya.

Kebiasaan beristighfar juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan riwayat Imam Bukhari , bahwa Rasulullah beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali (Bukhari Muslim).
Pelajaran dan contoh Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini berlangsung senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali.
Para malaikat, sebagai makhluk yang senantiasa taat kepada perintah Allah justru senantiasa beristighfar memohon ampunan untuk orang-orang yang beriman sebagai sebuah pelajaran yang berharga bagi setiap hamba Allah yang beriman.

Firman Allah SWT, yang artinya, “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala”. (Qs. Al-Mu’min : 7)

Sungguh tinggi nilai istighfar sehingga selalu berdampingan dengan perintah beribadah kepadanya. Sehingga merupakan satu kewajiban sekaligus kebutuhan seorang hamba kepada Allah swt karena secara fithrah memang manusia tidak akan bisa mengelak dari melakukan dosa dan kesalahan sepanjang hidupnya. Peluang ampunan ini merupakan anugerah rahmat yang terbesar bagi hamba-hamba-Nya yang beriman

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat”. (Hud: 3)

Terkait dengan hal ini, kebiasaan beristighfar mencerminkan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan pengakuan akan Ke-Maha Pengampunan Allah swt. Istighfar juga merupakan cermin dari sebuah akidah yang mantap akan kesediaan Allah membuka pintu ampunannya sepanjang siang dan malam.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah senantiasa membuka tanganNya di siang hari untuk memberi ampunan kepada hambaNya yang melakukan dosa di malam hari, begitu pula Allah swt senatiasa membuka tangan-Nya di malam hari untuk memberi ampunan bagi hamba-Nya yang melakukan dosa di siang hari”.

istighfar sungguh dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah swt.
Ibnu Katsir dalam tasfir surat Al-Anfal: 33 “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”

Dari riwayat Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelemat bagi umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat, yaitu istighfar”.
Bahkan Ibnu Abbas menuturkan bahwa ungkapan istighfar meskipun keluar dari pelaku maksiat dapat mencegah dari beberapa kejahatan dan bahaya.

Istighfar juga memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rizki dan memelihara seseorang. Dalam konteks ini, Ibnu katsir menafsirkan suarat Hud : 52 dengan menukil hadits Rasulullah saw yang bersabda, “Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”. (Ibnu Majah)

Allahu A’lam.
Sumber : Istighfar, Pesan Para Nabi Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA, http://jilbab.or.id




Senin, 17 Agustus 2009

Sabar dalam ketaatan

Firman Allah SWT, yang artinya ,” Dan , sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” ,(Qs. Al-Baqarah : 155).
Sabar bisa dikategorikan dalam tiga macam : Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari kedurhakaan kepada Allah dan sabar dalam ujian Allah.
Ibn Tamiyah pernah berkata,’ Sabar dalam melaksanakan ketaatan lebih baik daripada sabar menjauhi hal-hal yang haram. Kerena kebaikan melakukan ketaatan lebih disukai Allah daripada kemaslahatan meninggalkan kemaksiatan, dan keburukan tidak taat lebih dibenci Allah daripada keburukan adanya kedurhakaan’.

Dalam kitab Manziluz-Sa’irin, dikatakan ada tiga derajad sabar ,:

1. Sabar menghindari kemaksiatan.
Sabar dalam menghindari kemaksiatan (kedurhakaan). Dengan memperhatikan peringatan, tetap teguh dalam iman dan mewaspadai hal yang haram. Dan yang lebih utama adalah sabar menghindari kedurhakaan karena malu. Jadi ada dua faedah sabar dalam menghindari kemaksiatan, dimana dua sebabnya adalah
•Takut akan peringatan , sebagai akibat dari maksiat itu. Faedahnya adalah tetap teguh dalam iman dan mewaspadai hal-hal yang haram.
•Malu terhadap Allah, karena nikmatnya dibalas dengan kemaksiatan. Faedah yang didapat adalah, akan membangkitkan kekuatan iman terhadap pengabaran dan pembenaran kandungannya.
Dan yang lebih utama lagi adalah jika pendorongnya adalah Cinta, dimana seorang hamba tidak mendurhakai-Nya karena cinta kepada-Nya.

2. Sabar dalam ketaatan.
Disini seorang hamba senantiasa menjaga ketaatan itu secara terus menerus, memeliharanya dengan rasa keikhlasan dan lebih menyempurnakannya dengan ilmu. Ketaatan ini akan menjadi energi pendorong untuk meninggalkan kemaksiatan.
Kesabaran dalam tingkatan ini lebih tinggi daripada yang pertama. Benar saudaraku, sungguh bukan perkara yang ringan , bila seorang hamba berusaha senantiasa menjaga ketaatannya secara terus menerus. Maka dihadapannya ada dua penghalang yang lebih besar menghadang, yakni :


• Tidak ikhlas, termasuk segala perbuatan yang tidak dimaksudkan selain Allah
• Pelaksanaan yang tidak berdasarkan ilmu, misalnya tidak mendasarkan pada as-sunnah.

Sabar dalam derajad ini, memang ditopang dalam tiga hal :
• Terus-menerus taat,
• Ikhlas dalam ketaatan
• Melaksanakan berdasarkan ilmu atau menyempernakan dengan ilmu.
Dan bila seorang hamba tidak menjaga ketaatannya secara terus menerus maka, ini akan menggugurkan ketaatannya itu.

3. Sabar dalam musibah.
Seorang hamba dalam pengertian ini adalah dengan memperhatikan pahala yang baik, menunggu rahmat jalan keluar, dan meremehkan musibah sambil menghitung uluran karunia dan nikmat-nikmat yang telah lampau.

Ada tiga pakaian (perhiasan) kesabaran yang dikenakan seorang hamba ketika mendapat musibah ;


  • a. Memperhatikan pahala yang baik. Saudarakan keyakinan kita, perhatian dan pengetahuan terhadap pahala ini, maka sejauh itu pula kita akan menjadi merasa lebih ringan dalam memikul beban musibah. Ini akan menimbulkan keyakinan bahwa akan mendapatkan pengganti. Sebagaimana orang yang sedang membawa beban yang berat , dan saat itu dia juga melihat hasil atau keuntungan yang akan dia dapat.

  • b. Menunggu rahmat jalan keluar atau kenikmatannya. Ini dapat meringankan beban musibah dan kesulitan yang sedang dihdapi. Terlebih lagi disertai kekuatan harapan, keyakinan dan upaya mencarai jalan keluar.

  • c. Meremehkan musibah. Ada dua cara dalam hal ini , yaitu menghitung0hitung karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada kita, dan mengingat-ingat nikmat yang telah kita terima.

Menurut kitab Manazilus Sa’irin, ada beberapa tingkatan sabar ; yaitu



  • a. Kesabaran yang paling lemah, adalah sabar karena Allah. Kesabaran dimana seorang hamba sabar dalam mengharapkan pahala-Nya dan takut siksa-Nya.

  • b. Kesabaran berkat kekuatan dari pertolongan Allah. Ini adalah kesabaran orang-orang yang menghendaki Allah.

  • c. Yang paling utama , adalah kesabaran orang-orang yang berjalan menuju Allah. Ini adalah kesabaran menurut hukum Allah, artinya sabar dalam mendapatkan hukum-hukum yang berlaku bagi dirinya, baik yang disukai maupun dibencinya.

Allahu a’lam

Sumber : Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Madarijus Salikin , pendakian menuju Allah (terjemahan).




Seputar utang & Kartu Kredit

Assalamu'alaikum wr. wb..kami memiliki beberapa kartu kredit. Kartu kredit ini sangat kami perlukan mengingat di negara ini banyak menerima transaksi non tunai seperti melalui internet, sewa kendaraan, asuransi , deposit apartemen, dll.
Terkadang kalau mendesak, kami gunakan juga untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk membayar lunas setiap jatuh tempo, maka kami bayar cicilan. Hingga kini, utang itu belum lunas.
Kini, kami bermaksud melunasinya. Kami sudah berusaha kirim email ke bank bersangkutan, tapi kami harus menghubungi nomor lain (pihak ke 3). Kami pun faham bahwa utang ini pasti sudah dihapus buku oleh bank karena sudah ditutup oleh asuransi.

Pertanyaan saya, bagaimana utang ini dapat lunas di mata Allah SWT? cukupkah dengan shadaqah sejumlah pokok utang (tidak dengan bunga yang mungkin dikenakan bank) di tempat lain? Terimakasih.
wassalamu'alaikum wr. wb.

jawaban

Waalaikumussalam Wr. Wb
Utang merupakan amanah yang harus ditunaikan sebagaimana firman Allah swt,”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. An Nisaa : 58)

Adapun dalil Hadits adalah dari Adi Dzar yang mengatakan,”Aku bersama Nabi saw dan tatkala aku diperlihatkan Uhud, beliau saw bersabda,”Aku tidak ingin Uhud ini dirubah dengan emas serta masih ada padaku diatas tiga dinar kecuali satu dinar yang aku simpan untuk melunasi utangku.” (HR. Bukhori)

Islam meminta kepada orang yang berhutang dan memiliki kesanggupan membayar agar segera melunasinya hingga waktu yang telah disepakati pembayarannya karena penangguhan dalam hal ini adalah kezaliman sebagaimana hadits Rasulullah saw : “Penangguhan pembayaran hutang bagi orang yang mampu membayarnya adalah kezaliman. “ (HR. Bukhori)

Penangguhan diperbolehkan jika orang yang berhutang tidak memiliki kesanggupan melunasinya sebagaimana firman Allah swt : “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqoroh : 280)

Jika anda sudah berusaha keras untuk melunasi utang kepada pihak yang memberikan utang (bank) namun terus menemui jalan buntu, terlebih lagi anda sudah pastikan bahwa catatan utang anda di bank tersebut sudah terhapus maka anda dapat melunasinya dengan cara mensedekahkannya dengan memisahkan antara utang pokok dan bunga yang ada pada utang anda (jika anda mengetahuinya).

Untuk utang pokoknya anda bisa sedekahkan ke tampat-tempat kebaikan, seperti : masjid, pesantren, anak yatim, fakir miskin dan lainnya.

Hal itu dikarenakan pada hakekatnya harta yang ada pada manusia adalah milik Allah swt, sebagaimana firman-Nya,”Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah (sebagian) dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadid : 7)

Adapun bunga yang ada pada utang anda adalah harta yang diharamkan Allah swt maka tidak bisa disedekahkan ke tempat-tempat kebaikan seperti diatas, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Wahai manusia sesungguhnya Allah swt baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah swt telah memerintahkan orang-orang beriman yang mana juga telah diperintahkan kepada para Rasul dengan firman-Nya,”Wahai para Rasul makanlah oleh kalian yang baik-baik dan beramal sholehlah. Sesungguhnya Aku Mengetahui apa-apa yang kamu lakukan.” Dan firman-Nya,”Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang telah Kami rezekikan kepadamu.’… (HR. Muslim).

Dari para ulama, termasuk Syeikh Yusuf al Qorodhowi, berpendapat bahwa bunga bank itu bukanlah milik si penabung juga bukan milik bank namun milik umum. Jadi bunga itu haruslah diberikan untuk kepentingan-kepentingan masyarakat umum, seperti : pembangunan MCK, perbaikan sarana-sarana umum di sekitar rumah anda, keindahan taman umum, atau yang lainnya.

Tekad (niat) anda untuk membayar hutang mudah-mudahan menjadi bukti kesungguhan anda sehingga akan mendatangkan pertolongan dari Allah swt kepada anda termasuk pelunasan hutang anda kepada pihak bank.
Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa mengambil harta manusia dan ingin membayarnya, maka Allah akan (menolong) untuk membayarnya; dan barangsiapa mengambilnya dan ingin membinasakannya maka Allah akan (menolong) untuk membinasakannya.” (HR. Bukhori)

Ibnu Hajar dalam menjelaskan hadits diatas didalam bukunya “Fathul Bari” mengatakan : “Apabila seorang berniat untuk membayar dengan apa yang akan dianugerahkan Allah kepadanya, maka hadits tersebut telah menyatakan bahwa Allah akan menolongnya untuk membayar hutangnya baik dibukakan rezeki kepadanya di dunia atau Dia menanggungnya di akherat.” (Fathul Bari juz V hal. 62)

Wallahu A’lam.

Sumber kutipan : eramuslim ,Ustadz Sigit Pranowo, Lc



Selasa, 11 Agustus 2009

Jangan mengeluh, Allah menyayangi kita

Saudaraku , ketika sedang menderita penyakit, janganlah mengeluhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada makhluk, akan tetapi jadikanlah keluhan itu hanya kepada Allah . Karena Dia lebih menyayangi hamba-Nya daripada sayangnya hamba kepada dirinya sendiri. Dialah Dzat yang tidak dilemahkan oleh sesuatupun dilangit maupun di bumi. Dia-lah yang menimpakan penyakit dan Dia pulalah yang menghilangkannya.
Mengeluh kepada Allah tidak bertentangan dengan sikap sabar, sebagaimana firman Allah dimana Nabi Ya’qup berkata , yang artinya , “ Sesungguhnya aku mengeluhkan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah , “ (Qs. Yusuf : 86).

Begitu pula dengan Nabi Ayyub as, yang disebutkan Allah dalam firman-Nya, bahwa Ayyub berkata ,yang artinya ,” Sesungguhny aku telah ditimpa penyakit dan Engkau (Allah) adalah Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang ,” (Qs Al-Anbiyaa ‘ :83).
Saudaraku, mengeluhkan penderitaan hanya kepada Allah SWT adalah bagian dari kesabaran. Dan bertentangan dengan eksabaran adalah mengeluhkan kepada selain Allah, sebagaimana sebagaian orang mengeluhkan kepada orang lain akan penderitaan dirinya.

Dalam hadits Abu Hurairah, disebutkan keutamaan menahan diri dari mengeluh kepada selain Allah. Dimana Rasulullah bersabda, yang artinya , “ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ,” Jika Aku menimpakan musibah kepada hamba-Ku yang mukmin, lalu ia tidak mengeluhkan Aku kepada para penjenguknya, maka Aku akan melepaskannya dari tawanan-Ku, kemudian Aku gantikan kepadanya daging yang lebih baik daripada dagingnya dan darah yang lebih baik daripada darahnya, kemudian ia akan memulai pekerjaan ,” (Hr Hakim-Baihaqi).1.

Adapun orang sakit yang memberitahukan penyakitnya tidak dengan cara mengeluh, akan tetapi henay menjawab pertanyaan orang lain yang bertanya tentang keadaanya, atau kepada dokter, maka ini boleh dan tidak bertentangan dengan sikap sabar. Sebagaimana Rasulullah berkata kepada Ibn Mas’ud ra,yang artinya ,” Sesungguhnya aku sakit demam panas sebagaimana demam panas dua laki-laki daripada kamu “.
Ketika Aisyiah ra berkata,’ Aduh, sakit kepalaku ‘. Rasulullah berkata, “Bahkan aku juga sakit kepala”.

Ibnu Qayyim , dalam ‘Uddatu Ash Shabirin, menyatakan bahwa adapun menceritakan kepada orang lain tentang perihal keadaan, dengan maksud meminta bantuan petunjuknya atau pertolongan agar kesulitannya hilang , maka itu tidak merusak sikap sabar ; seperti orang sakit yang memberitahukannya kepda dokter tentang keluhannya, orang teraniaya yang bercerita kepada orang yang diharapkannya dapat membelanya, dan orang yang tertimpa musibah yang menceritakan musibahnya kepda orang yang diharapkannya dapat membantunya.
Sebagaimana Rasulullah saw ketika menjenguk orang sakit, beliau menanyakan tentang keadaanya dan beliau berkata, “ Bagaimana perasaaanmu ?”. Ini merupan bentuk pertanyaan menanyakan kabar tentang keadaanya “. 2.

Ibnu Hajar dalam Fathu Al Baari , menyatakan bahwa adapun pemberitahuan orang yang sakit kepada teman atau dokternya tentang penyakitnya, maka semua sepakat bahwa hal itu tidak menjadi masalah.

Dalam tempat lain, Ibnu Qoyyim dalam ‘Uddatu Ash-Shabirin, menyatakan jika orang yang sakit tetap memuji Allah SWT, kemudian ia memberitahukan tentang penyakitnya, itu bukanlah keluhan. Namun jika ia menceritakan tentang penyakitnya dengan menggerutu dan marah, maka itulah keluhan.


Allahu a’lam
Sumber :Abdullah bin ali Ju’aitsin, hikmah bagi orang sakit

Catatan :
1. Dikeluarkan oleh al-Hakim (1/349), dan Al-Baihaqi (3/375). Berkata Al-Hakim, ‘Sahih berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Dan mereka berdua tidak mengeluarkannya, dan disetujui oleh Az-Zahabi. Berkata Al-‘Iraqi dalam Takhriju al-Ihyaa’ (2/209),”Sanadnya bagus’. Berkata Al-albaani , ‘hadits shahih’ (Shahih Al- Jami’, hadits no.4301). Hadits ini diperkuat dengan hadits mursal ‘Athaa bin Yasar’ menurut Malik dalam Al Muwattha’ (II/940) dan berkata Al Albani ‘sanad shahih mursal’ (ash Shahihah,I/490).
2. ‘Uddatu Ash-Shabirin.


Selalu ada kebaikan & rahmat

Saudaraku yang sedang menderita musibah atau penyakit. Sesungguhnya Allah tidak menetapkan sesuatu, baik berupa bentuk ciptaan maupun syariat, melainkan didalamnya terdapat kebaikan dan rahmat bagi hamba-Nya. Ada hikmah yang sangat banyak dalam suatu penyakit yang tidak dapat dicapai dgn akal sehat manusia . Ibnu Qayyim, dalam Syifa Al-‘alil fi masa’il al Qadha wa Al-hikmah wa at-ta’lil, menyatakan terdapat banyak sekali faedah dan hikmah. Terdapat lebih dari seratus faedah yg ada dibalik pedihnya rasa sakit karena penyakit dan atau musibah. Dalam Asy Syukr, Abdul Malik menyatakan, bahwa tidak ada seorang hamba melainkan akan diuji dgn kesehatan & kelapangan untuk menguji sejauh mana ia akan mensyukurinya dan ia juga akan diuji dengan musibah untuk mengetahui sejauh mana ia akan bersikap sabar dalam menghadapi ujian tsb.1.

Ibnu Taimiyah, berkata dalam Qaidah fi al-Mahabbah, bahwa siapa yang diuji oleh Allah Ta’ala dengan kepahitan, seperti penderitaan, kesempitan, kepedihan dan dibatasi kelapangan rizkinya, sesungguhnya hal itu bukanlah bentuk hinaan Allah kepada dirinya, akan tetapi hal itu merupkanan cobaan dan ujian bagi dirinya. Apabila ia tetap taat kepda Allah terhadap ujian itu, maka ia termasuk orang yang berbahagia. Akan tetapi jika ia mengkhianati-Nya akibat ujian yang diterimanya, maka hal itu tidak lebih hanya menjadi sebuah penderitaan baginya. Ujian dan cobaan merupakan sarana untuk memperoleh kebahagiaan bagi para Rasul dan Nabi dan orang-orang yang beriman. Akan tetapi sebaliknya, ujian dan cobaan itu hanya menjadi suatu penderitaan bagi orang-orang yang inkar dan gemar melakukan perbuatan maksiat .

Saudaraku, mari kita renungkan firman Allah, yang artinya,” Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang memper-sekutukan Allah , gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan ,” (Qs. Ali Imran : 186).

Sebagian ulama menyatakan bahwa, jika seandainya tidak ada berbagai peristiwa pada hari-hari yang dilalui manusia, maka tidak akan diketahui sejauh mana kesabaran orang-orang yang mulia , juga tidak akan diketahui sejauh mana ketidaksabaran orang-orang yang hina.2.

Ibnu Katsir , dalam tafir Ibnu Katsir,(2/155)..nya menyatakan, bahwa seorang mukmin itu harus diuji harta dan jiwanya, atau anak keturunan dan keluarganya. Seorang mukmin juga harus diuji tingkat keagamaannya, jika agamanya kuat maka akan bertambah pula cobaan yang akan diterimanya.

Saudaraku yang sedang mengalami penderitaan, sesungguhnya penderitaan yang sedang menimpa anda merupakan sebab terhapusnya kesalahan anda yang telah dilakukan oleh hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan seluruh anggota tubuh anda. Karena sesungguhnya penderitaan atau penyakit anda sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan dosa kita.
Sebagaimana firman Allah, yang artinya ,” Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” (Qs. Asy syura : 30).

Saudaraku, mempercepat hukuman didunia bagi seorang hamba beriman adalah lebih baik baginya, sehingga seluruh dosanya dapat terhapus dan allah menjadikannya sebagai orang yang selamat dari segala kesalahan.

Dari Anas ra, ia berkata bahwasanya Rasulullah pernah bersabda, yang artinya ,” Jika Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan mempercepat hukuman bagi dirinya di dunia ini. Dan jika Allah menginginkan keburukan bagi seorang hamba, maka Allah akan menangguhnkan hukuman dari segala dosa-dosanya hingga ia akan mendapat-kan balasannya pada hari kiamat nanti ,” (Hr Turmudzi).3.

Saudaraku, yakinlah penderitaan anda karena penyakit atau musibah, yang menyebabkan timbulnya rasa kekhawatiran, atau kelelahan atau putus asa adalah nikmat dan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hibah rabbaniyah (anugerah ilahi) yang diberikan allah kepada hamba-hambaNya. Sehingga para Nabi,orang-orang shaleh terdahulu selalu gembira ketika ditimpa suatu penyakit atau bala, seperti gembiranya salah seorang diantara kita ketika mendapatkan kemwahaan (kelapangan).
Sebagaimana Rasulullah saw, bersabda, yang artinya, “ Sehingga salah seorang diantara mereka, merasa sangat bergembira dengan bala yang menimpanya, seperti gembiranya salah seorang diantara kalian ketika mendapatkan kemewahan (kelapangan), “ (Hr. Ibn Majah).4.

Allahu a’lam bissawab.

Sumber :Abdullah bin ali Ju’aitsin, hikmah bagi orang sakit.

Catatan:
1. Asy-Syukr, karya Ibn Abi Ad Dunya dan Iddah Shabirin , dan Abdul Malik bin Ishaq sepakat dengan kitab ini.
2. Jannah ar-ridha fi at Taslim Lima Qaddarahullah wa Qadha, karya Al-Gharnathi.
3. Ditakhrij oleh tirmidzi (4,519 no.2396), dan ia juga menganggapnya sebagai hadits hasan. Al-albani mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan shahih (Shahih Tirmidzi-2/5), hadits ini juga diperkuat oleh hadits Abdullah bin al-Mughaffal yang dianggap shahih oleh Ibnu Hibban (no.2455, Al Mawarid), al Minawi dalam at-Taisir (1/64).
4. Dikeluarkan Ibn Majah (2/1334-1335), Ahmad dengan lafazhnya sendiri (4024), Hakim (4/307) dengan lafazh sama seperti ahmad dari hadits Abi Sa’ad.


Jumat, 07 Agustus 2009

Bagaimana menjadi hamba yg bersyukur ?

Firman Allah, yang artinya ,” Dan Dia (Allah) telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya ; Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat) Allah , “ (Qs. Ibrahim : 34 ).
Di Kitabus Syukri , seorang ulama berkata, ‘ Kita tidak akan dapat menghitung nikmat Allah SWT, karena banyaknya kemaksiatan yang telah kita lakukan. Kita tidak tahu manakah yang harus kita syukuri? Apakah keindahan yg nampak ataukah kejelekan yg tersembunyi ? Lalu bagaimana cara menjadi hamba yg bersyukur? Walau, manusia tak akan mungkin sanggup membalas kebaikan anugerah Allah & tak akan sanggup mensyukurinya dengan baik.

Saudaraku, bersyukur hakikatnya dilakukan lidah, hati & nggota tubuh. Dan hamba yg bersyukur adalah orang yg menggunakan ketiga anggota tubuh ini untuk mencintai Allah, tunduk kepada-Nya dan menggunakan nikmat-nikmat-Nya di jalan yg diridhai-Nya. Walaupun, manusia tidak akan mungkin sanggup membalas kebaikan atas anugerah Allah, & tidak akan sanggup mensyukurinya dengan baik.

Diakhir ayat diatas , Allah telah menyebutkan bahwa sesungguhnya manusia sangat mengingkari nikmat Allah. Sangat sedikit anak cucu Adam yang mensyukuri nikmat Allah . Sebab bagaimana bisa mensyukuri jika untuk menghitungnya saja susah. Berapa banyak nikmat yang tealh dan sedang kita rasakan, namun kita tidak menyadarinya sebagai sesuatu yang berharga.

Tiada seorang makhlukpun (manusia) yang sanggup menghitung nikmat-nikmat Allah. Masih amat sangat banyak nikmat yang belum diketahui manusia sehingga mereka tidak menyadarinya, kecuali setelah nikmat itu pergi meninggalkan dirinya. Ketika tubuh merasa sakit, beraulah seorang hamba merasa kehilangan (gelisah) sesuatu yang berharga darinya (Fii Dzilalil Qur’an , 5-294).

Selanjutnya, bagaimana caranya untuk bersyukur ?

1. Syukur dengan hati.
Merupakan pengakuan bahwa semua nikmat itu datangnya hanya dari Allah, sebagai kebaikan dan karunia kepada hamba-Nya. Manusia tidak punya daya untuk mendatangkan nikmat itu, hanya Allah yang dapat menganugerahkan tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun dari hamba-Nya. Jikalau ada, orang lain yang membawa kebaikan (menolong) kepada kita, maka sesungguhnya Allah-lah yang menggerakkan kedua tanggan mereka. Karena itu, mari bersyukur kepada Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, tiada tuhan melainkan Dia.
Sebagaimana firman Allah, yang artinya ,” Dan apa saja yanga da pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya) ,” (Qs. An-Nahl : 53).

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa tidak sempurna tauhid seorang hamba hingga ia mengakui bahwa nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya dan kepada mahluk-makhluk lain yang Nampak maupun yang tersembunyi, semua itu hanya dari Allah, lalu ia menggunakannya untuk taat kepada-Nya.

Dalam Al-Qulus Sadid fii Maqaasidit Tauhid, dinyatakan bahwa ‘barang siapa hatinya menyatakan lewat lidahnya bahwa semua nikmat dari Allah Yang Maha Esa, namun kadang-kadang ia menyandarkan diri dan jerih payahnya ataupun usaha kepada orang lain, maka ia wajib bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak sekali-kali menyandarkan nimat kecuali kepada Pemiliknya. Keimanan dan ketauhidan seorang belum terealisasi dengan benar kecuali dengan menyandarkan semua nikmat kepada Allah melalaui ucapan dan pengakuan.

Dalam Al-futuhaatur Rabbaniyyah, Ibn ‘alan, berkata bahwa bersyukur itu mengakui adanya Pemberi nikmat yang hakiki, memandang semua nikmat yang terasa maupun tidak terasa semua berasal dari-Nya, menyempurnakannya dengan menunaikan hak nikmat itu dan menggunakannya untuk keridhaan sang Pemberi nikmat.

Saudaraku, semua hal diatas bukan berarti meniadakan ucapan terima-kasih anda kepda orang yang telah berbuat baik kepada anda, karena orang lain itulah yang menyebabkan anda mendapat nikmat atau menolong anda keluar dari suatu permasalahan.

Allah telah menggerakkan kedua tangan orang itu dan menundukkan hatinya untuk memberikan kebaikan kepada anda, namun hanya sebatas perantara saja. Maka berterimakasihlah kepada orang itu atas kebaikan-kebaikannya, serta meyakini bahwa dia (orang itu) tidak bisa member anda manfaat atau mudharat.
Allah-lah yang memberikan manfaat dan mudharat, melalui perantaraan makhluk yang Dia kehendaki.

2. Syukur dengan Ucapan.
, yaitu menyanjung dan memuji Allah atas nikmat yang dianugerahkan-Nya dengan menyebut-nyebut nikmat itu sebagai pengakuan diri hamba akan karunia-Nya dan untuk menunjukkan bahwa diri hamba tersebut sangat membutuhkannya, bukan karena riya’, atau sombong. Sehingga diharapkan hati dan anggota tubuh seorang hamba termotivasi untuk bersyukur.

Sebagaimana, firman Allah, yang artinya ,” Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur), “ (Qs. Ad-Dhuhaa : 11)
Dari riwayat Nu’man bin Basyir, bahwa Rasulullah pernah bersabda, yang artinya ,” Menyebut-nyebut nikmat allah itu termasuk syukur dan meninggalkannya itu termasuk kufur ,” (Hr Ahmad, father Rabbani 19,95, dihasankan oleh Imam Albani dlm kitab Ash Shahihah.667).


Saudaraku, hendaknya kita menyanjung allah atas nikmat-Nya. Sungguh menyebut-nyebut nikmat Allah merupakan salah satu rukun syukur, karena apabila seorang hamba melakukan demikian maka ia akan teringta kepada Pemberinya dan mengakui kelemahan dirinya. Barang siapa tidak mengingat Allah berarti ia tidak bersyukur kepada-Nya.

Sebagaimana firman-Nya, yang artinya ,” Karena itu , ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku “, (Qs. Al-Baqarah : 152).

Namun perlu diketahui pula, bahwa syukur tidak hanya sebatas kata-kata, syukur harus disertai dengan hati dan amalan anggota badan. Seoang hamba tidak dianggap bersyukur hanya sebatas ucapannya saja sedangkan perilakunya bertolak belakang dari syari’at-Nya ( Tafsir Ad-Dawisri 2,498).

3. Syukur dengan anggota badan
Dalam Al Fawaid, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa, syukur itu adalah tunduk dan taat kepda aturan-Nya dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan yang disukai-Nya baik lahir maupun batin.

Syukur dengan anggota badan berarti seluruh tubuh digunakan untuk beribadah kepada Allah, tiada tuhan melainkan Dia, karena masing-masing anggota tubuh memiliki kewajiban beribadah.

Sebagaimana firman-Nya, yang artinya ,” Bekerjalah hai keluarga Daud untu bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih “, (Qs. Saba’ : 13).
Allah menjadikan bekerja sebagai salah satu cara untuk bersyukur. Ayat ini menunjukkan bahwa syukur harus diikuti dengan amal perbuatan.


Rasulullah pun melaksanakan sahalat malam hingga kakinya bengkak, sehingga beliau ditanya ,” Ya Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal ini , bukankah dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni ?”,
Beliau menjawab ,” Apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang selalu bersyukur “, (Hr Al Bukhari- Muslim).

Saudaraku, hadits ini menjadi dasar bahwa syukur haruslah disertai dengan amal dan ketaatan, sebagaimana telah banyak diterangkan dalam Al-Qur’an, dan hadits Rasulullah (Birrul Walidain , Abu Bakar at-Thartusyi).

Allahu a’lam

Sumber : Al Fauzan, Abdullah bin Shalih , Kaifa Nakuuna Minasy syaakiriin


Kamis, 06 Agustus 2009

Tips , meraih cinta Allah

Sungguh, suatu karunia yang tiada ternilai, bila seorang hamba bisa meraih cinta dari Rabb-nya. Semoga kita diberi hidayah Allah sehingga menjadi hamba yang mempunyai keinginan kuat untuk mendapatkan cinta Allah. Apakah kita sebagai hamba yang biasa-biasa ini sanggup meraih cinta-Nya?
Ya, tentu, Allah memberikan kesempatan yang sama kepada semua hamba-hamba-Nya. Untuk mengundang cinta-Nya, kita harus berupaya untuk melakukan amal perbuatan yang menunjukkan kecintaan kita kepada Allah, tiada tuhan melainkan Dia. Semoga kita menjadi hamba yang taat dan patuh kepada semua perintah dan larangan-Nya.

Segala puji hanyalah milik Allah semata. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan dari kejelekan amal-amal kita. Barangsiapa memperoleh hidayah dari allah, maka tidak seorangpun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan dalam kesesatan, tiada satu kekuatan pun yang dapat memberikan petunjuk.
Saudaraku, semoga kita selalu termotivasi untuk berupaya meraih cinta-Nya. Semoga allah memberikan taufik kepada kita agar kita menjadi hamba-hamba yang mensyukuri nikmat dan menjalankan ketaatan kepada-Nya

Berikut beberapa kiat mengundang cinta kasih Allah dengan beberapa cara , antara lain.


  • a. Bersungguh-sungguh ketika melakukan amal perbuatan yang baik, sebagaimana Rasulullah saw bersabda , yang artinya , “ allah sangat mencintai jika seseorang melakukan pekerjaan secara optimal dan sungguh-sungguh atau itqan “, (Hr Baihaqy).

  • b. Seorang hamba yang berada (kaya), namun kekayaanya itu tidak nampak dalam penampilan-nya . Yang tampak adalah sifat kedermawanannya terhadap lingkungan sekitarnya . Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, yang artinya ,” Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa , yang kaya dan menyembunyikan (simbol-simbol kekayaanya), “ (Hr. Muslim).

  • c. Seorang hamba yang selalu berupaya berinfaq dalam segala situasi dan kondisi, selalu berupaya berinfak dikala senang dan susah. Seorang hamba yang mampu menahan amarah dan mudah member maaf kepada pihak yang menzaliminya dalam urusan pribadinya, walaupun di amempunyai kemampuan untuk meluapkan amarahnya. Sebagaimana firman Allah, yang artinya , “ (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan “, (Qs. Ali Imran : 134).

  • d. Seorang hamba yang selalu berupaya mempermudah urusan orang lain atau ketika berurusan dengan orang lain.
    Sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya ,” Barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusanntya didunia dan di akhirat. Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut mau menolong sesame saudaranya “, (Hr Ibnu Majah).
    Sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya, “ Allah sangat mencintai orang yang mudah ketika menjual, mudah ketika membeli, mudah ketika membayar utang. Dan mudah ketika mengambil haknya “, (Hr. Tirmidzi).
    Sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya ,” Menunda-nuda (dalam) membayar utang bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman, yang boleh dikenakan sanksi “. (Hr. Ibn Majah).
    Bahkan dalam urusan utang-piutang, maka Allah berfirman, yang artinya ,” Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui “, (Qs. Al-Baqaraah : 280).

  • e. Seorang hamba yang selalu berlaku jujur, tidak berkhianat dalam bekerjasama dalam kegiatan-kegiatan muamalah (msl kegiatan ekonomi).
    Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, yang artinya , “ Sesungguhnya Allah SWT berfirman,” Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat (berkongsi) selama salah satunya tidak berkhianat kepada yang lainnya. Jika terjadi pengkhianatan, maka Aku keluar dari mereka “, (Hr. Abu Dawud).
    Saudaraku , berlaku gugur dalam kegiata perdagangan (ekonomi dst) akan membawa keberkahan. Seorang hamba yang amanah dalam berdagang maka digolongkan sebagai orang-orang shalih dan mendapat surga disisi-Nya.

  • f. Seorang hamba yang berupaya untuk istiqomah dan terus menerus berupaya dalam melakukan kebajikan.
    Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, yang artinya ,” Amal perbuatan yang paling dicintai Allah, adalah mala yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit “, (Hr. Bukhari-Muslim dari ‘Aisyah ).

Allahu a’lam bissawab.

Sumber : Prof Dr KH Didin Hafidhuddin,Muzakki.


Rabu, 05 Agustus 2009

Syukur, sbg pengikat nikmat

Dijelaskan didalam Al-Qur’an bahwa seorang hamba yang bersyukur sebenarnya bersyukur untuk dirinya sendiri. Dengan bersyukur, ia sedang meraih kehidupan yang lebih baik di dunia dan di akhirat.
Firman Allah, yang artinya ,” Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri ; dan barang siapa yang tidak bersyukur , maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji , “ (Qs. Luqman : 12)
Firman Allah , yang artinya ,” Barang siapa yang kafir , maka di sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan Barangsiapa yang beramal shalih maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan),” (Qs. Ar-Rum : 44)

Saudaraku, bersyukur adalah pengikat nikmat, dan menjaganya agar tidak lenyap. Inilah salah satu buah rasa syukur kita.

Bahkan Allah melipatkgandakan nikmat itu, menambah nikmat yang hilang sehingga me-nyebabkan langgengnya nikmat yang sudah ada.
Sebagaimana firman Allah, yang artinya ,” Dan (inagtlah juga), taktala Rabbmu memaklumkan : “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti , Kami menambah (nikmat) kepadamu “, (Qs. Ibrahim : 7).

Seorang hamba sanggup melanggengkan nikmat allah baginya jika ia menyadari nikmat itu dan bersyukur kepada Pemberi-Nya. Dan ia juga harus menyadari bahwa nikmat itu bisa lenyap jika ia kufur dan bermaksiat.

Dalam Rabi’ul Abrar (4/314), bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, ‘ berhati-hatilah kalian terhadap larinya nikmat, karena setiap kesesatan pasti melenyapkannya.’
Barang siapa tidak mensyukuri nikmat berarti ia sedang berupaya untuk menghilangkannya, dan barang siapa mensyukuri nikmat berarti sedang mengikatnya.

‘ Syukur dapat mengikat nikmat yang ada, dan mengembalikan nikmat yang hilang’. Barangsiapa pujian sebagai penutup nikmatnya, maka Allah menjadikan pembukannya sebagai tambahan ‘. (Rabi’ul Abrar).

Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya, dan janji Allah adalah benar dan perbendaharaan-Nya melimpah. Semuanya bertumpu pada syukur yang terdiri dari tiga hal :

1. Syukur hati
2. Syukur lisan dan
3. Syukur anggota badan.

Syukur tidak hanya melanggengkan nikmat, namun syukur dapat juga menjamin datangnya nikmat baru.
Dalam kitab As-syukr, diriwayatkan bahwa ali bin abi Tahlib berkata,’Nikmat akan diperoleh dengan bersyukur, dan syukur berhubungan dengan pertambahan. Keduanya (nikmat dan syukur) saling berhubungan. Bertambahnya nikmat dari Allah tidak akan berhanti, selama seorang hamba mau bersyukur’.

Puncak dari kebahagiaan balasan bersyukur adalah mendapat ke-ridhaan Allah dan ampunan-Nya.
Keridhaan Allah lebih agung dan lebih mulia dari setiap nikmat, sebagaimana Allah berfirman yang artinya ,” Dan keridhaan Allah adalah lebih besar ; Itu adalah keberuntungan yang besar ,” (Qs. At-Taubah : 72).


Sebagaimana disabdakan Rasulullah, yang artinya , “Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang makan kemudian memuji-Nya, atau minum kemudian memuji-Nya ,” (Hr. Muslim, 2734).

Allahu a’lam

Sumber :Al Fauzan, Abdullah bin Shalih , Kaifa Nakuuna Minasy syaakiriin.


Selasa, 04 Agustus 2009

hanya kepada Allah, kita bergantung

Firman Allah, yang artinya, “ …..dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya “, (Qs. Ali ‘imran : 159).
Firman Allah,yang artinya ,” Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu “, (Qs. Ath-Thalaq : 3)
Tentang hal ini, Ibnu Taimiyah (Majmu’u fatwa Ibn Taymiyah I,131), menyatakan bhw bergantung sepenuhnya pada sarana-sarana yang tersedia merupakan kemusyrikan dalam tauhid. Namun meniadakan sarana-sarana itu merupakan kebodohan akal. Dan berpaling sepenuhnya dari sarana-sarana merupakan aib bagi syariat.

Saudaraku hamba beriman , Allah senatiasa memerintahkan manusia agar menjalani sarana-sarana (alat-alat) yang dibutuhkan seorang hamba dalam usahanya untuk menggapai sesuatu yang diinginkannya. Artinya, tawakal dan memohon bantuan kepada Allah, seharusnyalah dilakukan bersamaan dengan pengerahan segala daya upaya untuk menempuh semua sarana yang dibutuhkan.

Ketika Allah mengatakan kepada Nabi Musa as, sebagaimana dalam firman-Nya, yang artinya ,” Sesunggungnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu “. (Qs. Al- Qashash :20). Maka atas dasar ayat ini Musa as pun pergi meninggalkan negeri itu untuk menghidari pembunuhan atas dirinya saat itu. Jadi ada upaya dari seorang hamba utusan Allah dalam mencapai tujuan yang telah diperintahkan oleh Allah.

Demikian pula telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Beliau pergi meninggalkan Mekkah untuk menghindari konspirasi kaum kafir Mekkah yang berusaha untuk membunuhnya. Dalam perjalanannya itu, sahabat Abu Bakar ra sempat menjaganya dari penglihatan musuh, yakni dengan menutup rapat-rapat mulut gua tempat persembunyian Rasulullah.
Selanjutnya, ketika keduanya berada didalam gua dan tidak ada upaya lain yang bisa dilakukan , Rasulullah dan sahabat Abu Bakar bertawakal dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Allah juga menganjurkan agar manusia selalu berusaha, berupaya dan mengerahkan upayanya untuk mencapai tujuan, sebagaimana firman Allah, yang artinya , “ … maka bertebaranlah kamu di muka bumi ; dan carilah karunia Allah ,” (Qs. Al-Jumu’ah : 10).

Tawakal adalah memanfaatkan segala daya dan upaya yang bisa kita jalankan , yang selalu kita awali, kita barengi dengan memohon pertolongan kepada Allah agar mengizinkan maksud dan tujuan yang dhendak kita capai.

Dengan menghayati kisah wanita mulia Siti Maryam , kita makin meyakini pentingnya sarana (sebab) yang selalu disertai dengan tetap menyandarkan hasil akhirnya kepada Allah sepenuhnya, bertawakal kepada-Nya dan memohon bantuan-Nya.

Ketika Maryam mengasingkan bayinya (Nabi Isa as) dalam suatu tempat yang hanya diketahui penciptanya, allah memerintahkannya agar mengoyang-goyangkan pangkal sebuah pohon kurma untuk bisa dimakan buahnya.
Allah berfirman ,yang artinya ,” Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu , “ (Qs. Maryam : 25).
Padahal saat itu kondisi MAryam masih dalam keadaan nifas dan masih lemah tenaganya. Maka, ia pun berupaya sekuat tenaga untuk mengoyang-goyang pohon kurma dalam rangka menjalani sarana (sebab) dengan satu keyakinan penuh bahwa dirinya tidak memiliki daya upaya dan kekuatan kecuali dari Allah semata. Inilah, bertawakan dan menyandarkan usahanya kepada-Nya.

Allah menegaskan dalam firman-Nya yang artinya ,” Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu “, (Qs. Ath-Thalaq : 3)

Saudaraku, seringkali kita tidak menempatkan persoalan tawakal sebagai persoalan yang besar dan penting. Sehingga seringkali kita tidak sadar bahwa kita lebih bergantung kepada sarana (dan usaha) yang kita tempuh, dan melupakan kepada Dzat yang membuat sarana tersebut. Ini bisa mnejadi problem akidah yang membahayakan.

Misalnya, Walaupun diawal atau selama kegiatan , kita selalu berdoa untuk memohon pertolongan kepada Allah . Namun secara tidak sadar, Kita melakukan suatu pekerjaan dengan mengandalkan dan menyandarkan hasilnya pada kecakapan, keahlian, kepandaian, atau prestasi yang telah kita capai periode lalu atau pada bantuan orang lain dan sarana lain dalam menuju kesuksesan .

Saudaraku, janganlah kita bersandar atau menggantungkan sepenuhnya cita-cita, tujuan dan harapan , semata-mata pada sarana-sarana tersebut. Namun harus tetap mengedepankan tawakal , bersadar sepenuhnya kepada Allah.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa ketika perang Hunain , ketika itu jumlah kekuatan pasukan muslim lebih banyak dari musuh dan persenjataan lebih lengkap. Karena itulah para sahabat yakin akan kekuatan mereka. Bahkan sebagian dari mereka sempat berkata, ‘Kita tak mungkin dikalahkan oleh kekuatan yang lebih kecil dari kita ‘.
Namun , apakah yang didapat dari ucapan ini (yang mengandung kesombongan ini)?

Besarnya jumlah kekuatan dan lengkapnya persenjataan, tidak menolong mereka.

Sebagaimana firman Allah, yang artinya , “ …. dan ingatlah peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai “, (Qs. At-Taubah : 25).

Saudaraku, bila Allah tidak memberikan pertolongan-Nya, maka sarana-sarana dan penyebab itu tak bisa memberikan manfaat sedikitpun kepada manusia.

Saudaraku, marilah kita selalu meminta pertolongan Allah dan bertawakal kepada Allah. Kita tetap berusaha dengan menjalani sarana yang diperlukan, nanun tetap disertai dengan menyerahkan sepenuhnya hasil akhirnya dan percaya sepenuhnya kepada Nya .
Yakinlah bahwa tawakal, merupakan salah penyebab terpenting turunnya rizki dan kemudahan , sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Seandainya kalian semua bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberikin rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikannya kepada seekor burung ; yaitu pergi di pagi hari dengan perut kosong dan pulang disore hari dengan perut kenyang “, (Hr Tirmidzi,4232).

Para ulama salaf bahkan menyatakan bahwa, ‘ bertawakallah, niscaya berbagai rizki akan melimpah pada kalian tanpa susah payah ‘.

Allahu a’lam

Sumber : Al Husaini, Abdulaziz ibn Abdullah , Li Madza al-Khauf min al Mustaqbal.


Senin, 03 Agustus 2009

Nikmat Allah baru disadari setelah lenyap

Dalam Rabi’ul Abrar (4,325), dikatakan bahwa ,’Nikmat Allah itu tidak disadari, kecuali setelah lenyap’.
Saudaraku, kita manusia hidup dalam nikmat yang sangat besar, baik secara umum maupun khusus, namun kita banyak melalaikannya, tidak menyadarinya. Kita tidak menyadari bahwa kita hidup selalu dalam kenikmatan.
Karena buaian nikmat ini , kita mengira bahwa ini memang sudah seharusnya menjadi hak kita. Selama ini kita tidak mengetahui, tidak menyadari, bahawa semua yang kita alami adalah nikmat, sehingga tidak mengetahui bagaimana cara mensyukurinya.
Padahal rasa syukur itu dibangun dengan mengetahui nikmat dan menghadirkannya, serta menyadari bahwa itu nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita menyangka bahwa orang lain disekitar kita juga mendapatkannya nikmat itu seperti kita

Bukankah kita hidup dalam selubung nikmat yang luar biasa. Nikmat yang datang silih berganti beragam jenisnya telah membuat kita lupa akan nikmat itu sendiri.

Kita menyangkan bahwa orang lain disekitar kita juga mendapatkannya nikmat itu seperti kita. Sehingga pemikiran ini akan angat menghambat keinginan untuk bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan nikmat.
Allah mengingatkan kepada kita, melalui firman-Nya , yang aartinya ,” dan ingatlah nikmat Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan al-Hikmah. Allah member pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu “. (Qs. Al-Baqarah : 231).

Kita mengetahui nikmat dan hakikatnya. Namun sulit untuk menyadari bahwa kira sebenarnya selalu dalam buaian nikmat itu. Sungguh celakalah kita, bila menganggap nikmat Allah yang kita nikmati ini hanya sedikit. Karena barang siapa tidak mengetahui nikmat, maka ia tidak akan bisa mensyukurinya.

Kita baru menyadari nikmatnya kesehatan setelah nikmat itu dicabut Allah , baru tersadar saat kita jatuh sakit. Dan apabila kita tidak pernah sakit, maka kita tidak bisa mengetahui bagaimana berharganya nikmat sehat. Itulah kenikmatan (hikmah) sakit, dan kita juga kurang menyadari itu.

Dan salah satu nikmat yang sungguh sangat besar nilainya bagi kita, adalah Allah memberikan kepada kita kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Nya. Sungguh mensyukuri nikmat itu sendiri merupakan suatu hal (nikmat) yang wajib untuk disyukuri. Karena seorang hamba tidak mungkin dapat mensyukuri atas nikmat Allah , kecuali dengan nikmat-Nya juga.

Imam Syafi’I dalam kitab al Risalah, menyatakan bahwa Segala puji bagi Allah, dimana kita tidak mungkin dapat mensyukuri nikmat-Nya kecuali dengan nikmat-Nya juga. Suatu keharusan bagi hamba yang mendapatkan nikmat untuk mensyukurinya,’.

Seorang hamba tidak mungkin dapat memuji dan bersyukur kepada Allah, kecuali atas pertolongan dan karunia Allah.

Bahkan dalam Al-Syukr , Ibnu Abi Dunya menyatakan bahwa, ‘ Setiap nikmat mungkin dapat disyukuri , kecuali nikmat Allah. Karena setiap mensyukuri nikmat-Nya merupakan nikmat juga dari-Nya. Maka seorang hamba harus mensyukuri nikmat kedua untuk mensyukuri nikmat pertama. Demikian pula dengan mensyukuri nikmat ketiga, keemapat dan seterusnya ,’.
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mensyukuri nikmat dan kebaikan yang dilimpahkan kepada hamba-Nya itu. Karena manfaat bersyukurr akan kemi kepada hamba dalam agamannya, dunianya dan akhiratnya, bukan kepada Allah. Justru hamba lah yang akan memperoleh manfaat dengan mensyukuri-Nya.

Sebagaimana Firman Allah, yang artinya ,” Barangsiapa yang bersyukur, maka ia bersyukur untuk dirinya sendiri ,” (Qs. Luqman : 12).

Saudaraku, marilah kita berusaha untuk selalu dan selalu bersyukur kepada Allah.

Allahu a’lam
Sumber : Al-Fauzan, Abdullah bin Shalih, Kaifa Nakuuna Minasy Syaakirin.