Sabtu, 07 September 2013

Efek berantai dari maksiat



Maksiat atau perbuatan dosa , akan menumbuhkan perbuatan maksiat yg serupa dan satu sama lainnya saling mendukung shg melahirkan melahirkan maksiat-maksiat bentuk baru. Shg seorang hamba akan terus terbeenggu dari satu maksiat ke maksiat baru yg lebih besar , dan akhirnya ia tak bisa lagi melepaskan diri dari lingkaran keburukan maksiat itu.
Disisi lain , para ulama salaf berkata, bhw sesungguhnya hukuman dari perbuatan buruk adl munculnya  perbuatan buruk sesudahnya. Sementara pahala dari perbuatan baik adl perbuatan baik selanjutnya. Ketika seorang hamba melakukan kebaikan, mk kebaikan yg lain akan berkata ,’kerjakan aku juga’. Apabila hamba itu melakukan kebaikan kedua, mk kebaikan ketiga akan mengatakan hal serupa dan demikian seterusnya. Shg akhirnya semakin bertambahlah keuntungan , juga motivasi utk melakukan kebaikan selanjutnta dan semakin bertumpuklah aset kebaikannya.

Dr Ibrahim elfiky dalam Quwwat al Tafkir , menyatakan bahwa kebiasaan perilaku manusia terbentuk dari cara yang sama, yaitu pengulangan perilaku, kemudian terikat dalam perasaan. Selanjutnya terbentuklah file khusus yang berkaitan dengan kebiasaan itu . Setiap kali perilaku tersebut diulang, maka makin kuatlah rekaman yang tersimpan di akal bawah sadarnya. Jika pada kesempatan lain ia menghadapi kondisi yang sama maka ia akan berikap sama.

Demikian juga sistem yang berlaku pada seluruh sikap perilaku termasuk di dunia maksiat. Akhirnya , ketaatan dan maksiat itu akan menjadi kondisi yang mendarah daging, sifat yang bersenyawa dalam jiwa seseorang dan watak yang melekat.

Seseorang hamba yang mempunyai kebiasaan perperilaku buruk (maksiat). Sebenarnya ia tahu dan menyadari bahwa kebiasaan ini negatif dan merugikan. Ia juga tahu bahwa perbuatan itu akan menyebabkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Namun yang menjadi keanehan ia tetap melakukan atau mengulai perbuatan itu. Mengapa demikian ?

Ya karena sudah menjadi kebiasaan, yang tersimpan kuat di alam bawah sadarnya bahwa seakan ia mendapatkan kesengangan dari perbuatan itu.

Kalau seseorang hamba yang pada dasarnya baik ( terbiasa dengan perbuatan baik dan bermanfaat) , bila suatu ketika ia menelantarkan kebaikan, maka ia akan merasa hatinya sempit, seakan bumipun terasa sempit baginya. Ia merasa laksana ikan dipisahkan dari air yang menjadi habitatnya. Bila ia sudah dikembalikan lagi ke habitatnya (kebiasaanya yang baik) , maka ia akan merasakan ketenangan dan  kedamaian.

Para pelaku dosa ketika tidak melakukan maksiat dan harus taat kepada Allah, maka akan merasakan hidupnya tertekan dan dadanya sempit sampai akhirnya ia terbiasa dengan perilaku barunya yaitu ketaatan kepada-Nya.
Sehingga kebanyakan orang fasiq akan terjerembab dalam kemaksiatan yang terus menerus tanpa mereka bisa merasakan kelezatannya, dan tidak ada pendorongnya kecuali mereka akan merasakan kesakitan ketika harus berpisah dengan perbuatan maksiat itu.

Seorang hamba yang terus menerus bergumul dalam ketaatan, mengakrabinya, mencintainya , memilihnya , hingga akhirnya Allah memberinya dengan rahmat-Nya malaikat yang mendorongnya dan menganjurkannya untuk terus mengerjakan ketaatan itu.
Pengulangan  perbuatan ketaatan atau kebiasaan dalam ketaatan ini akan berkelanjutan , sehingga tertanam kuat dalam akal seorang hamba, sehingga meyakini kebiasaan ini menjadi bagian terpenting dari perilakunya yang telah mengakar kuat.

Golongan pertama memperkuat pasukan ketaatan dan menambah jumlahnya sehingga mereka menjadi rekan dan pembantunya yang paling dekat.
Sementara golongan yang lain memperkuat pasukan kemaksiatan dalamjumlah yang semakin banyaksehingga akhirnya pasukan itu membisikan ataumemotivasi serta membantunya makin terjerumus dalam kemaksiatan.

Allahu a’lam
Sumber : Dr Ibrahim elFiky ; Quwwat al Tafkir , Ibn Qayyim al-Jauziyah ; Al Jawab al-kafi liman Sa’ala ‘an al jawab al-Syafi, dll

Tidak ada komentar:

Posting Komentar