Sabtu, 07 September 2013

Bergantung pd amal mengurangi sifat raja’

Hamba beriman dituntut utk selalu meningkatkan amalan (ibadah) guna meraih ridha Allah, dan pada saat yg sama ia tidak boleh bersandar kpd prestasi amalannya itu. Hal ini supaya ia bisa melakukan pendakian menuju ridha Allah, sebab sebesar apapun hebatnya ia beramal, sebenarnya hamba itu tidak dpt sanggup menunaikan hak Allah dan tidak dpt sanggup melaksanakan kewajiban utk mensyukuri-Nya.  Sebagaimana firman-Nya, yg artinya,”  Sekali-kali jangan ; manusia itu belum melaksanakan apa yg diperintahkan Allah kpdnya”, (Qs. ‘Abasa : 23). “ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yg kamu mohonkan kpd-Nya. Dan jk kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dpt menghitungnya. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah),” (Qs. Ibrahim : 34).
Atas dasar itu ,seorang hamba dilarang bergantung pd amalnya. Sebagaimana Rasulullah bersabda, yg artinya ,” Ber-amallah kamu sebenar dan sedekat mungkin. Ketahuilah, amal salah seorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke dlm surga”.
Mereka bertanya,’ Engkaupun tidak ya Rasulullah?’
Beliau bersabda , yg artinya ,” Aku pun tidak, kecuali jk Allah meliputiku dg ampunan dan rahmat-Nya “, (Hr enam imam, Sa’id Hawa dlm Mudzakkirat fi Manazil al-Shiddiqin  wa al-Rabbaniyyin).

                                    
Saudaraku dengan meninggalkan kebergantungan pada amal terkandung  baknya hikmah yang berkaitan dengan pemahaman tentang Allah dan pembersihan jiwa.

Bersandar pada prestasi amalan menyebabkan kita tertipu, ujub, lancang, tidak sopan kepada Allah , bahkan akan tumbuh keyakinan dalam diri hamba itu bahwa dirinya mempunyai hak-hak di sisi Allah, dan semua itu merupakan racun kesesatan yang berbahaya.
Bersandar pada amal adalah sumber kesalahan dan bahaya, dan ini bertentangan dengan sifat-sifat hamba yang shiddiq.

Dalam hal ini, ulama Ibn ‘Athaillah mengawali pembahasannya dengan memberitahukan parameter yang dapat kita gunakan untuk mengukur apakah kita bersandar pada amal-amal kita, lantas kita takabur dan melupakan kewajiban yang  sebenarnya yaitu bersandar kepada Allah?.

Apa tanda-tanda perbuatan bersandar pada amal atau hanya bergantung pada Allah. Tentu saja menurut  Sa’id Hawa dlm Mudzakkirat fi Manazil al-Shiddiqin  wa al-Rabbaniyyin, Syaikh Ibn ‘Athaillah tidak mengatakan ,’tinggalkan amal-amalanmu’.
Syaikh hanya menekankan kepada kita untuk senantiasa beramal, sekaligus mengarahkan perhatian kita pada satu persoalan yang dari celah-celahnya kita dapat mengetahui apakah kita bersandar hanya kepada Allah atau pada amal. Yang demikian itu disebabkan seorang muslim harus  memeiliki keyakinan kuat yang mantap hanya kepada Allah dalam setiap keadaan, dan hendaknya keyakinan ini harus terus ditumbuhkembangkan.

Pada saat kita melakukan perbuatan kesalahan, lantas hal ini mengakibatkan merosotnya keyakinan kepada Allah dan penyandaran diri kepada-Nya, maka ini merupakan bukti  bahwa pada dasarnya kita bersandar pada amal kita dan tidak bergantung kepada Allah.

Karena itulah, Syaikh Ibn ‘Athaillah berkata, ‘ sebagian dari tanda ketergantungan kepada amal adalah kurangnya raja’ (pengharapan kepada Allah) ketika terjadi suatu kesalahan atau dosa’. Bila keyakinan kepada Allah sudah matang dan harapan kepada-Nya juga maksimal, maka segala yang terjadi tidak akan mempengaruhi pengharapan, keyakinan dan tawakal kepada-Nya. Bilapun terjerumus dalam lembah dosa, maka kita bertaubat kepada Allah dengan meyakini taubat kita.  Karena itulah,hendaknya kita terus mengoreksi diri dan memperkuat penyandaran diri kepada Allah dalam segenap keadaan.Kewajiban-kewajiban syariat mesti harus ditunaikan, yaitu taubat, intropeksi diri dan melakukan sebab-sebab usaha.

Allahu a’lam
Sumber : Said Hawa : Mudzakkirat fi Manazil Al-Shiddiqin wa al-Rabbaniyyin, dll

Tidak ada komentar:

Posting Komentar