Selasa, 25 September 2012

Nikmat yang terabaikan


Firman Allah, yg artinya ,” Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kpd Tuhannya dgn rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yg Kami berikan kpd mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yg akan disembunyikan utk mereka yaitu (bermacam) nikmat yg menyedapkan pandangan mata sbg balasan terhadap apa yg telah mereka kerjakan ,” (Qs.As-Sajdah : 16 – 17).
Ibn Sirin (Tafsir Al-Qurthubi), bhw Hasan Al-Basri menyatakan bhw , kaum itu sembunyikan amal perbuatannya (dari pandangan orang lain), mk Allah-pun menyembunyikan khusus utk mereka, apa yg tidak bisa dilihat mata, tak pernah didengar telinga dan tak pernah terbetik dlm hati manusia. Muhammad bin Ka’ab Al-Qardzy, berkata bhw , mereka sembunyikan amal mereka dari pandangan manusia karena Allah, mk Allah menyembunyikan pahala hanya utk mereka.
Ini  keistimewaan  bagi hamba yg bangun malam , bermunajat kpd-Nya, membaca kalam-Nya, berdoa kpd-Nya, sujud kpd-Nya. Mereka menyendiri dlm keheningan malam utk Rabbnya. Di malam sunyi  mereka menyambut cinta-Nya.

Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Tiada seorangpun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu berbagai nikmat yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan ,” (Hr Bukhari Muslim).

Ibn Abas dalam Tafsir Al-Qurthubi, menyatakan bahwa , masalah ini besar dan agung bagi siapa saja yang memahami penafsirannya.

Sebuah hadits , yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam, Allah berfirman , (yang artinya) ,” Aku telah sediakan untuk hamba-Ku yang shalih , sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata manusia atau didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia “.

Saudaraku, mari kita renungkan bagaimana Allah memberikan pahala instimewa atas ibadah mereka atau bangun malam mereka yang mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi dengan pahala yang disembunyikan, yang tidak diketahui oleh siapapun dan khusus hanya dibuka untuk mereka.

Begitu agungnya shalat malam, maka Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat malam. Diriwayatkan dari Ibnu umar ,bahwasanya dia melihat Rasulullah SAW tetap mengerjakan shalat malam dalam perjalanan walau diatas punggung unta.


Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda , yang artinya , "Pada setiap malam, Allah turun ke langit dunia ketika seperlima malam pertama habis. Lalu Dia berfirman : "AKULAH RAJA ! AKULAH RAJA ! SIAPA SAJA BERDOA KEPADA-KU PASTI AKU KABULKAN. SIAPA MEMINTA KEPADA-KU PASTI AKU BERIKAN  SIAPA MEMOHON AMPUNAN KEPADA-KU AKU AMPUNI. ALLAH TERUS BERFIRMAN DEMIKIAN SAMPAI FAJAR TIBA (Hr Muslim)

Seseorang tidak akan bisa merasakan nikmatnya shalat, indahnya bermunajat dan asyiknya bermesraan dengan Allah, jika shalat belum menempati tempat utama di dalam hatinya. Ia tidak akan merasakan apa-apa jika ia belum sampai pada derajat menjadikan shalat sebagai penyejuk hati, penggembira jiwa, pelapang dada, penyembuh sakit, penghilang rasa gundah, dan pelepas kesempitan.
Rasulullah SAW bersabda , yang artinya , “ Barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca sepuluh ayat Qur'an, dia tidak dituliskan termasuk orang-orang yang lalai. Barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca 100 ayat Qur'an , dia akan dituliskan termasuk dalam orang yang Qunut. Dan barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca 1000 ayat Qur'an dituliskan dalam sebagai orang yang kaya" (HR. Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Ibn Hibban, dihasankan oleh Al Albani dalam SHahih Al-Targib wa Al-Tarhib no.635)

Orang yang tidur dan meninggalkan shalat malam disebut sebagai Rasulullah  sebagai ,” Orang itu telah dikencingi kedua telinganya oleh setan" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sayyid Qutb mengatakan bahwa , dalam ayat ini terdapat kasih sayang dan ketenangan bagi kaum mukminin. Maknanya Allah melihat shalat malam yang kita kerjakan. Anda dan orang-orang yang bersama dengan Anda menghadap dalam timbangan Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa Anda dan mereka yang selalu jauh dari ranjang mereka, meninggalkan empuknya kasur pada malam dingin dan tidak mendengar seruan ranjang-ranjang tetapi mendengar seruan Allah.

Saudaraku, semoga kita diberi hidayah Allah untuk istiqomah mendirikan shalat malam. Shalat malam akan mencegah kita dari sifat lalai. Sifat lalai sungguh  penyakit berbahaya dan menyimpang. Penyakit ini akan menimpa hati yang selalu tenggelam dalam hal mubah ,bermalasan-malasan dalam ketaatan , dan hanyut dalam segala kenikmatan.

Berupayalah untuk fokus bemunajat kepada Allah , sedangkan ketika itu obat yang ampuh akan datang dengan izin Allah, yakni shalat malam.
Sesungguhnya seorang hamba yang  mencintai Allah swt. akan bangun dari tempat tidurnya dan berdoa kepada Tuhannya dengan penuh keyakinan bahwa setiap ucapan dan doa yang ia panjatkan kepada Tuhannya didengar oleh-Nya. Jika ia mencintai Tuhannya, tentu ia akan berdiri di keheningan malam dengan senang hati dan merasa nikmat dengan munajat yang ia panjatkan. Bagaimana ia tidak melakukan hal itu, sementara ia mengetahui bahwa kebahagiaan, kesenangan dan kemuliaan hanya bisa dicapai manusia manakala mereka bermunajat kepada dzat yang Maha Agung di tengah malam. Terlebih lagi jika mereka mengetahui bahwasanya Allah swt. mendengar munajat dan doa yang mereka panjatkan dengan mengabulkan setiap permintaan .


Allahu a’lam
Sumber : Muhammad bin Shalih ash Shai’ari dalam Kaifa Tatahammasu liqiyan al-lail
, dll

Tidak ada komentar:

Posting Komentar