*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Senin, 03 Oktober 2011

Antara Zuhud dan Wara' (3 dr 4)

Riwayat Al-Bukhari-Muslim dari Nu’man bin Basyir ra berkata: Aku telah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya perkara yg halal itu telah jelas dan perkara yg haram itu telah jelas dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yg masih samar yg tidak diketahui oleh sebagian besar orang, maka barangsiapa yg menjaga dirinya dari perkara-perkara yg syubhat maka dia telah menjaga agama dan kehormatan dirinya dan barangsiapa yg terjatuh dalam perkara yg syubhat maka sungguh dia telah terjatuh dalam perkara yg haram, sama seperti penggembala yg menggembala di sekitar perbatasan yg hampir saja memasuki ladang orang lain dan ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batas-batas dan batasan-batasan Allah adalah segala perkara yg diharamkannya” (Shahih Muslim:1599 dan shahih Muslim: 52 ).
Diriwayatkan Al-Bazzar dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Keutamaan ilmu itu lebih baik dari keutamaan ibadah dan cara terbaik untuk menjaga agamamu adalah bersikap wara’”. (Kasyful Astar: 1/85 no: 139 dan dishahihkan oleh Albani pada kitab shahihul Jami’ : 4214 )

Diriwayatkan Al-Nasa’I dari hadits Hasan bin Ali, dia berkata, “Aku telah mendengar dari Nabi Muhammad SAW, “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukannmu”.( An-Nasa’i: 5711)

Di dalam shahih Muslim dari Nawwas bin Sam’an berkata: Aku telah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang kebaikan dan dosa, maka beliau bersabda, “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang telah merasuk ke dalam hati namun engkau tidak suka jika orang lain melihat hal tersebut”. (Shahih Muslim: 2553).

Syekh Ibnu Utsaimin berkata, “Wara adalah meninggalkan apa-apa yang membahayakan, hal itu terwujud dengan meninggalkan segala sesuatu yang hukumnya belum jelas dan belum jelas pula hakekatnya. Pertama: sesuatu yang belum jelas hukumnya apakah dia halal atau haram. Dan yang kedua adalah samar dalam keadaannya”. (Syarah riyadhus Shalihin: 6/168).

Sikap wara’ ini memiliki jangkauan yang cukup luas, yaitu meliputi pandangan, pendengaran, lisan, perut, kemaluan, jual beli dan yang lain-lain. Banyak orang yang terjebak ke dalam perkara-perkara yang diharamkan dan syubhat karena meremehkan tiga perkara ini, yaitu bersikap wara’ dalam menjaga lisan, perut dan pandangan. Allah SWT berfirman, yang artinya ," Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (Qs . Al-Isro’: 36).

Nabi Muhammad SAW adalah tauladan dalam bersikap wara’, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Anas bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Aku pergi kepada keluargaku, lalu mendapatkan sebiji buah yang terbuang di atas ranjangku, maka aku mengambilnya untuk memakannya, kemudian aku khawatir kalau dia berasal dari buah yang disedekahkan maka akupun membuangnya”. (Al-Bukhari: 2432 dan Muslim: 1070). Sebab sedekah tersebut diharamkan bagi diri beliau dan keluarga beliau Muhammad SAW. Para shahabat mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW ini, mengikuti sunnah beliau.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Aisyah RA berkata, “Abu Bakar memiliki seorang pembantu yang yang selalu memberikannya makanan dari pajak, dan pada suatu hari pembantunya datang memberinya makanan dan Abu Bakr pun memakannya, lalu pembantunya berkata kepadanya: Tahukan anda apakah ini?.
Maka Abu Bakar bertanya: Dari manakah asal makanan ini?.
Pembantunya berkata: Aku, di masa jahiliyah telah meramal seseorang, padahal diriku bukan peramal yang baik, hanya saja aku telah menipunya, lalu dia memberikan upah bagiku dengan makanan ini, dan makanan yang kamu makan ini adalah bagian darinya, maka Abu Bakr pun memasukkan tangannya ke dalam mulutnya sehingga dia memuntahkan apa-apa yang ada di dalam perutnya”. (Al-Bukhari: 3842).

Umar ra berkata, “Kami meninggalkan sembilan persepuluh yang halal karena khawatir terhadap riba”. (Mushannaf Abdur Razzaq: 8/152 :14683).

Yunus bin ubaid, berkata bahwa wara’ artinya keluardari setiap yang subhat dan menghisap diri sendiri setiap saat. Dalam Manazilus Sa’irin, dikatakan wara’ adalah menjaga diri dari hal-hal yangharam dan syubhatserta hal-hal yang membahayakan semaksimal mungkin untuk dijaga. Menjaga diri dan waspada merupakan dua makna yang berkaitan , dimana menjagha diri merupakan perbuatan anggota tubuh, sedangkan waspada merupakan amalan hati.

(bersambung …..)

Sumber: Ahmad bin Ali Soleh, Amin bin Abdullah asy‐Syaqawi dalam Al-Wara'
fatawaa syaikhul islam, al-Qaamuus, asaasul-balagaah , minhajul qaasidin, qitabul zuhud ,Qawaa'id wa Fawaa`id minal Arba'iin An-Nawawiyyah , At-Ta'liiqaat 'alal Arba'iin An-Nawawiyyah , Ibn Qayyim al-Jauzi dalam Madarijus Salikin

ISRA' dan MI'RAJ

Isra' dan Mi'raj merupakan salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagai wujud penghormatan dan pelipur lara setelah banyaknya ujian yang menimpa Rasul-Nya. Peristiwa ini juga sebagai penghibur setelah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mendapatkan perlakuan yang buruk penduduk Thaif. Isra', diartikan sebagai perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dimulai dari al-Masjidil-Haram sampai ke al-Masjidil-Aqsha. Sedangkan Mi'raj, merupakan perjalanan Nabi Muhammad saw naik dari al-Masjidil-Aqsha menuju Sidratul-Muntaha (langit tertinggi). Peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Namun para ulama ada yang berbeda pendapat tentang waktu kejadiannya. Yang tidak ada perseselisihan yaitu tentang kebenaran peristiwa ini, karena kejadian ini diabadikan dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits. Allah Azza wa Jalla menyebutkan peristiwa ini di dua tempat dalam Al- Qur`an, yaitu al-Isra'/17 ayat 1 dan an-Najm/53 ayat 13-18.
kita mengimani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah di-isra’-kan oleh Allah dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu di-mi’rajkan (naik) ke langit dengan ruh dan jasadnya dalam keadaan sadar [dasar Qs al-Israa’ ayat 1.1] sampai ke langit yang ke tujuh, ke Sidratul Muntaha.
Kemudian (beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) memasuki Surga, melihat Neraka, melihat para Malaikat, mendengar pembicaraan Allah, bertemu dengan para Nabi, dan beliau mendapat perintah shalat yang lima waktu sehari semalam. Dan beliau kembali ke Makkah pada malam itu juga. [Syarhus Sunnah lil Imaam al-Barbahari (no. 72) tahqiq Khalid bin Qasim ar-Raddadi, Syarhul 'Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 223, 226) takhrij Syaikh al-Albani, Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (IV/328).]

Peristiwa ini terjadi di Makkah sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits. Imam al-Bukhari memiliki 20 riwayat dari enam sahabat Radhiyallahu 'anhum. Imam Muslim rahimahullah memiliki 18 riwayat dari tujuh sahabat Radhiyallahu 'anhu,m. Di antara hadits-hadits ini, tidak ada satupun yang menjelaskan secara lengkap semua kejadian Isra` dan Mi'raj ini dari awal sampai akhir, tetapi masing-masing menceritakan bagian per bagian.

Berdasarkan kandungan hadits dari riwayat-riwayat yang ada, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

1. Adanya Pembelahan Dada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Usai melaksanakan shalat 'Isya` pada malam penuh barakah itu, Malaikat Jibril Alaihissalam mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membedah dada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia mencucinya menggunakan air Zam-am. Kemudian dibawakan bejana emas penuh dengan hikmah dan iman lalu dituangkan ke dada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah itu Malaikat Jibril menutup kembali dada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dibawanya naik ke langit [ Imam al-Bukhâri/al-Fath, 17/284, no. 4709, 4710 dan 15-43-70, no. 3886, 3888, juga 18/242, no. 4856, 4858. Imam Muslim, 1/148, no. 163, 1/151, no. 164. Ibnu Asâkir dalam Tahdzîb Târîkh Dimasq, 1/386-387. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitab as-Sîrah: "Hadits ini adalah hadits yang hasan gharîb".].

2. Isra`.

Dari Anas ra, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku diberi Buraq, yaitu seekor hewan putih yang lebih besar dari himar dan lebih kecil dari keledai. Aku mengendarainya. Dia membawaku hingga sampai ke Baitul-Maqdis. Lalu aku mengikatnya di tempat para nabi menambatkan. Aku masuk ke Baitul-Maqdis dan shalat dua raka'at. Setelah itu aku keluar. Malaikat Jibril menghampiriku dengan membawa satu wadah berisi khamr dan satu wadah berisi susu. Aku memilih susu. Malaikat Jibril Alaihissalam berkata: 'Engkau telah (memilih) sesuai dengan fithrah,' setelah itu, ia membawaku naik ke langit"[ HR Imam Ahmad dalam al-Fathur-Rabbâni, 20/251-252 dan sanadnya shahîh. Imam al-Bukhâri dalam al-Fath, 21/176, no. 5576. Imam Muslim, 1/145 no. 162. Lihat juga Imam al-Bukhâri dalam al-Fath, 21/176, no. 5610.].

Dan dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama para nabi sebelum naik ke langit [Diriwayatkan oleh al-Baihaqî dalam ad-Dalâil, 2/388. Doktor Qal'ah Jay dalam Khâsyiyah berkata: "Riwayat-riwayat tentang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama para nabi sebelum mi'râj saling menguatkan". Ibnu Hajar berkata: "Itulah yang lebih jelas". Beliau rahimahullah juga berkata: "Jumhûr sahabat menetapkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di Baitul-Maqdis". Lihat hadits tentang bab ini dalam al-Fathur-Rabbâni, karya Imam Ahmad 20/244-264, beberapa bab tentang kisah Isrâ' dan Mi'râj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.].

3. Mi'raj.

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dibawa naik melewati beberapa langit. Pada setiap langit, Malaikat Jibril minta agar dibukakan pintu langit lalu ia ditanya: "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab,"Muhammad," penghuni langit itupun menyambutnya.

• Di langit dunia, Rasulullah berjumpa Nabi Adam AS,
• di langit kedua berjumpa Nabi Isâ AS dan Nabi Yahya AS,
• di langit ketiga berjumpa Nabi Yûsuf AS,
• di langit keempat Nabi Idris AS,
• di langit kelima Nabi Hârûn AS,
• di langit keenam Nabi Musâ AS, dan
• di langit ketujuh berjumpa Nabi Ibrâhîm AS yang sedang bersandar pada Baitul-Ma'mur.
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan sampai ke Shidratul-Muntaha (langit tertinggi). Di sinilah, Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan umatnya untuk menegakkan shalat 50 kali sehari semalam.

Akan tetapi dalam perjalanan kembali dari mi'raj ini, ketika sampai di tempat Nabi Musâ Alaihissallam, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya: "Apa yang telah diwajibkan Rabbmu atas umatmu?"
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab pertanyaan ini, sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam Musâ Alaihissallam meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk kembali menghadap Allah dan minta keringanan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan saran itu, dan Allah Azza wa Jalla pun berkenan memberi keringanan. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak kembali dan berjumpa dengan Nabi Musâ Alaihissallam, beliau Alaihissallam meminta Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam agar meminta keringanan lagi, dan saran itu pun dilaksanakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai Allah Azza wa Jalla berkenan memberi keringanan. Hingga akhirnya, kewajiban shalat itu hanya lima kali sehari semalam. Setelah itu, ketika Nabi Musâ Alaihissallam meminta

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam memohon keringanan lagi, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Aku sudah memohon kepada Rabbku sehingga aku merasa malu," lalu terdengar suara: "Aku telah menetapkan yang Aku fardhukan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku" [Al-Bukhâri dalam al-Fath, 13/24, no. 3207. Muslim, 1/149, no. 163. Ahmad dalam al-Fathur-Rabbâni, 20/247-248 dari hadits Anas bin Mâlik bin Sha'sha'ah Radhiyallahu 'anhu, dan sanadnya shahîh. Imam an-Nasâ'i, 1/217. ].

4. Perjalanan Kembali Dari Mi'raj.

Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa perjalanan kembali Rasulullah menempuh rute dari langit tertinggi menuju Baitul-Maqdis lalu ke Makkah . Adapun sarana yang dipakai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam saat Isrâ' ialah Buraq. (Dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam ad-Dalâil, 2/355-357 dari riwayat at-Tirmidzi t dengan sanad beliau yang bersambung sampai ke Syadâd bin Aus. Al-Baihaqi berkata: "Ini adalah sanad yang shahih".)

Dari riwayat-riwayat tentang Mi'raj ini juga diketahui, bahwa riwayat yang menceritakan peristiwa ini menggunakan fi'il majhul (kata kerja pasif), sehingga sarana yang digunakan tidak diketahui dengan jelas. Dalam sebagian riwayat disebutkan: "Aku dipasangkan mi'raj". Sehingga Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan perihal itu dengan perkataannya : "Mi'raj, ialah tangga. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik menuju langit melalui tangga itu, bukan dengan Buraq sebagaimana persangkaan sebagian orang". (Al-Bidayatu wan-Nihâyah, 3/122).

Pada pagi hari setelah peristiwa ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam nampak merasa susah karena khawatir dianggap berdusta oleh kaumnya. Dalam keadaan seperti ini, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dihampiri oleh Abu Jahl yang menanyakan keadaannya. Rasulullah pun memberitahukan tentang Isrâ`.

Mendengar penuturan Rasulullah itu, maka spontan Abu Jahl meyakini jika Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berdusta. Namun penolakan Abu Jahl ini tidak ia ucapkan saat itu. Abu Jahl hanya berkata: "Bagaimana pendapatmu jika aku memanggil kaummu? Apakah engkau akan memberitahukan kepada mereka peristiwa yang baru engkau sampaikan kepadaku?"

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,"Ya,"
maka Abu Jahl bergegas memanggil kaum Quraisy. Setelah mereka datang, Abu Jahl meminta kepada Rasulullah n agar menceritakan yang telah ia alami. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakannya.

Orang-orang Quraisy pun terheran mendengar cerita beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antara mereka ada yang pernah melihat Masjid al-Aqshâ, maka orang-orang ini pun meminta Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan sifat Masjidil-Aqshâ. Lalu Allah Azza wa Jalla mengangkat masjid itu, sehingga seolah bisa dilihat oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan sifat-sifatnya.

Mendengar penjelasan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka pun berseru:"Demi Allah, keterangannya benar".[ Al-Bukhâri dalam al-Fath, 17/284, no. 4710. Muslim, 1/156, no. 170. Ahmad, al-Fathur-Rabbâni, 20/262-263 dari hadits Abbâs dengan sanad shahih. Lafazh ini merupakan riwayat Imam Ahmad.]

Dalam sebuah riwayat diceritakan, orang-orang Quraisy mengingkari kepergian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ke Syam lalu kembali lagi ke Makkah yang hanya dalam waktu satu malam saja. Karena perjalanan itu biasa ditempuh jarak waktu dua bulan. Sehingga ada sebagian orang yang kemudian murtad saat itu.
[ Ibnu Hisyâm, 2/45 dari riwayat Ibnu Ishâq secara mu'allaq. Kabar tentang murtadnya sebagian orang terdapat dalam hadits-hadits shahîh, di antaranya hadits yang diriwayatkan al-Hakim dalam al Mustadrak (3/62-63), dan beliau rahimahullah menyatakan hadits ini shahîh. Ini disepakati oleh Imam adz-Dzahabi.]

Berbeda dengan Sahabat Abu Bakr Radhiyallahu 'anhu. Begitu diberitahu peristiwa itu, beliau Radhiyallahu 'anhu langsung mempercayainya tanpa ragu sedikit pun, seraya berkata: "Demi Allah, jika benar ia mengatakannya, maka ia benar. Apa yang membuat kalian heran? Demi Allah, sesungguhnya ia memberitahukan kepadaku bahwa wahyu telah turun kepadanya dari langit ke bumi saat malam atau siang hari. Ini lebih besar dari masalah yang membuat kalian terheran itu!"

Abu Bakr Radhiyallahu 'anhu pun kemudian mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan peristiwa yang telah didengarnya. Dan demikianlah keadaan Sahabat Abu Bakr Radhiyallahu 'anhu, setiap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan sesuatu, maka beliau Radhiyallahu 'anhu berkata: "Engkau benar, aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah…," lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai Abu Bakr, engkau adalah shiddiq," dan mulai saat itulah beliau Radhiyallahu 'anhu dinamai ash-Shiddiq. Artinya orang yang selalu percaya.[ Diriwayatkan al Hakim dalam al-Mustadrak, 3/62-63. Beliau berkata: "Hadits ini sanadnya shahîh, namun tidak dibawakan oleh Imam al-Bukhâri dan Muslim". Ini disepakati oleh adz-Dzahabi dalam Talkhîs al-Mustadrak.]

ISRA' - MI'RAJ dengan RUH dan JASAD
Masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagaimana dikatakan oleh al-Qâdhi 'Iyâdh, bahwa para ulama berbeda pendapat tentang Isrâ' dan Mi'râj Rasulullah. Ada yang mengatakan, semua itu hanya terjadi dalam mimpi. Adapun pendapat yang benar yang dipegangi oleh umat dan sebagian besar ulama salaf serta mayoritas muta'akhhirîn baik ahli fiqih, ahli hadits maupun ahli ilmu kalam, bahwa Isrâ' yang dialami Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ialah dengan jasadnya.

Ibnu Hajar berkata: "Sesungguhnya Isrâ' dan Mi'râj terjadi dalam waktu satu malam dengan jasad dan fisik Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan beliau tersadar, terjadi setelah diangkat menjadi nabi. Pendapat inilah yang dipegangi mayoritas ulama ahli hadits, ahli fiqih dan ahli ilmu kalam. Zhahir hadist yang shahih menunjukkan hal itu. Dan tidak sepatutnya kita berpaling darinya, karena akal tidak memiliki alasan untuk mengatakan persitiwa itu mustahil sehingga perlu dita'wil …." [Al-Bukhâri dalam al-Fath, 15/44, Kitab: al-Mab'ats, Bab: Hadîtsul Isrâ'.]

Jika peristiwa Isrâ' dan Mi'râj itu terjadi hanya dalam mimpi, maka sudah tentu orang-orang kafir Quraisy tidak akan mengingkarinya. Begitu pula, tentu sebagian orang yang sudah beriman tidak akan murtad. Jika hanya dengan mimpi, maka peristiwa Isrâ' dan Mi'râj itu, sama sekali tidak memiliki nilai mu'jizat. Pendapat yang mengatakan peristiwa Isrâ' dan Mi'râj hanya dalam mimpi, juga menyelisihi firman Allah Azza wa Jalla : yang artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil-Aqshâ yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Qs. al Isrâ`:1).

Permulaan ayat dengan tasbih menunjukkan adanya perhatikan kepada sesuatu yang penting. Begitu juga kalimat "bi 'abdihi", memiliki makna gabungan antara ruh dan jasad, sebagaimana dijelaskan oleh 'Urjûn [Muhammad Rasulullah , 2/342-350], dan yang lainnya.

Riwayat Isrâ' dan Mi'râj telah disepakati keshahihannya oleh ulama ahli hadits dan sirah. Juga telah ditetapkan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`aan, hadits-hadits shahih, dan Ijma' kaum muslimin. Peristiwa ini termasuk salah satu mu'jizat yang diterima Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Barang siapa mengingkari peristiwa ini, berarti ia telah mengingkari sesuatu yang ma'lûm bid-dharûrah (diketahui secara pasti).

Peristiwa yang terjadi setelah beberapa ujian menimpa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini, bertujuan untuk memperteguh semangat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Juga sebagai isyarat bahwa penderitaan yang beliau n alami bukan karena Allah Azza wa Jalla meninggalkannya, akan tetapi sebagai sunnatullah bagi orang-orang yang dicintai-Nya.

Penyebutan antara Masjidil-Harâm, Masjidil-Aqshâ dan Mi'raj secara berurutan merupakan bukti yang menunjukkan tingginya kedudukan Masjidil-Aqshâ.

Ketika dibawakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa khamr dan susu, beliau memilih susu. Ini menunjukkan bahwa Islam itu din (agama) yang sesuai fithrah.

Allah Azza wa Jalla mengumpulkan para rasul pembawa risalah untuk menyambut kedatangan pembawa risalah terakhir. Ini menunjukkan bahwa para nabi itu saling membenarkan, dan Nabi Muhammad n merupakan rasul terakhir, serta menunjukkan tingginya kedudukan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam di sisi Rabbnya.

Menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang besar di langit dan bumi memberikan pengaruh dan motivasi yang kuat, sehingga tidak khawatir terhadap tipu daya kaum kuffar yang hakikatnya sangat lemah.

Diwajibkan shalat fardhu pada malam Mi'raj merupakan bukti betapa sangat penting rukun Islam ini. Oleh karena itu, semestinya shalat bisa membebaskan manusia dari perbuatan keji dan mungkar.

Allahu a'lam

sumber : Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad , as-Siratun Nabawiyah fi Dhau-il Mashadiril ashliyah, majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428H

Minggu, 02 Oktober 2011

Magnet kebaikan

Salah satu upaya untuk menjadikan kita magnet kebaikan adalah bersyukur. Bersyukur memang bukan perkara yang mudah, kecuali bagi hamba yang beriman dan mengendalikan hawa nafsunya. Syukur menjadikan seorang hamba menjadi orang yang kaya dan bahagia. Ada banyak kebaikan yang didapatkan dari perilaku bersyukur, sehingga syukur dapat dikatakan sebagai magnetkebaikan. Dengan bersyukur , yakinlah , ada banyak kebaikan yang akan menghampiri hidup kita. Allah menjanjikan kebahagiaan bagi hamba-Nya yang bersyukur, sebagaimana firman-Nya, yang artinya ,” Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Megetahui”, (Qs. An-Nisa’ : 147). Bersyukur merupakan suatu amalan yang sangat mulia. Bersyukur menjadi penyebab mengalirnya nikmat, sehingga nikmat tersebut justru akan semakin bertambah. Bersyukur juga menghadirkan sikap merasa cukup.
Jika seorang hamba menjadi magnet kebaikan, maka orang-orang akan datang mencarinya. Pribadi-pribadi yang menyimpan magnet kebaikan didalam hatinya , akan sanggup mempengaruhi orang lain untuk turut berbuat kebajikan.

Dalam suatu riwayat , dikisahkan ada seorang lelaki datang mengunjungi Rasulullah saw. Dan ia berkata, ‘Ya Rasulullah, ajarilah aku suatu amalan yang membuatku dicintai allah dan para makhluk . Dengan amalan itu pun allah akan memperbanyak hartaku, menyehatkan badanku, memanjangkan umurku dan membangkitkan aku di padang Mahsyar bersamamu’.
Rasulullah menjawabnya, dengan bersabda, yang artinya,” Permintaanmu yang nema perkara itu memerlukan enam perkara lainnya , yaitu ;

1.Bila engkau ingin dicintai Allah, takutlah kepada-Nya dan bertaqwalah.
2.Jika engkau ingin dicintai makhluk, berbuatbaiklah kepada mereka, dan jangan berharap sesuatu dari yang merreka miliki.
3.Andai engkau ingin diperkaya dalam harta, maka berzakatlah atas harta bendamu.
4.Kalau engkau ingin disehatkan badanmu, maka perbanyaklah sedekah.
5.Apabila engkau ingin diperpanjang umurmu, maka bersilaturahimlah dengan kaum kerabatmu.
6.Jika engkau ingin dikumpulkan bersamaku di padang Mahsyar , maka perpanjanglah sujudmu kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa.”

Perbanyaklah sedekah dan sedekah itu luas, tidak hanya berujud emas atau materi. Seorang alim berkata , bahawa letak kebahagiaan hakiki adalah membahagiakan orang lain. Mari kita membiasakan diri untuk mendoakan orang lain.

Seorang laim , Ali ath Thantawi, menyampaikan suatu ungkapan bahawa bila anda membahagiakan saudara anda dengan pemberian, maka Allah akan membahagiakan anda dengan pemberian-Nya yang tak terduga dan tak pernah anda nantikan .

Dr. H Hamzah Ya’qub dalam Tasawuf dan Taqarrub, menyatakan bahwa salah satu kebaikan sedekah yakni orang yang melakukannya akan dilapangkan keadaanya. Dimudahkan urusannya.

Ibn Qayyim , menyatakan bahwa sesungguhnya sedekah itu dapat membebaskan kita dari azab-Nya. Seseorang yang melakukan dosa dan kesalahan, maka ia pantas untuk celaka. Tetapi, jika ia segera mengiringinya deng bersedekah (yang halal), niscaya oa alam terbebas dan terlepas dari azab.

Seringkali ketika kita berbuat baik selalu ada tantangan atau ujian yang mengiringi yaitu rasa pamrih. Kita sering terjebak dalam godaan , sering terbersit keinginan atau berharap bahwa kebaikan kita akan dibalas oleh orang yang kita tolong atau palin tidak ada pengakuan dari orang lain atas kebaikan kita. Dan hasilnya sudah bisa ditebak , kita menjadi kecewa sendiri karena apa yang kita harapkan tidak terjadi.

Ingatlah selalu firman-Nya yang artinya ,” Barang siapa yang mengerjakan kebajikan , dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari (disia-siakan) , dan sungguh, Kamilah yang mencatat untuknya. “ (Qs. Al-Anbiya’ : 94).


Maka dari itu, berhentilah mulai sekarang. Berhentilah memikirkan apa balasan yang akan kita terima ketika berbuat baik. Lakukan saja tanpa berpikir macem-macem , percayalah, Allah sendiri yang akan turun tangan membalas segala kebaikan yang kita lakukan.
Barang siapa berbuat kebaikan walaupun hanya sebesar biji zarah (atom), niscaya dia akan melihat balasannya, Dan barang siapa yang berbuat kejahatan walaupun hanya seberat biji zarah(atom), niscaya dia akan melihat balasannya pula.

Sebagaimana firman-Nya , yang artinya ,” Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun seberat zarrah, dan jika ada kebaikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar disisi-Nya. “(Qs. An-Nisa’ : 4).

Allah tidak akan pernah menzalimi makhluk-Nya, justru kita sendirilah yang menzalimi diri sendiri. Barang siapa tidak bersyukur maka sesungguhnya ia telah membuka jalan hilangnya nikmat dari dirinya. Kita sering menginginkan nikmat , padahal rahasia untuk mengundang nikmat adalah bersykur atas nikmat yang ada. Dan salah satu cara bersyukur adalah berbuat kebaikan sebagaimana yang telah Allah contohkan melalui para Rasul dan Nabi-Nya.

Sebagaimana Allah berfirman, yang artinya ,” Dan Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Qs. Ali – ‘Imran : 148). Sebagaimana Allah berfirman, yang artinya , “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya “ (Qs. Fussilat : 8)

kebahagiaan itu sebenarnya hal sangat sederhana . Tetapi kenapa ya...tidak semua orang merasakannya...? karena tidak setiap orang mampu mensyukurinya. YA..bersyukur adalah kata kunci bila seseorang ingin merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Syukurilah apa-apa yang sudah anda capai dan anda akan merasakan kebahagiaan yang tiada terhingga.

Allahu a’lam.
Sumber : Rusdin s Rauf dalam inilah Rahasia bersyukur

Antara Zuhud dan Wara' (2 dr 4)

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah,
Menyatakan bahwa az-Zuhd adalah menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat, apakah karena memang tidak ada manfaatnya, atau memang karena keadaannya yang tidak diutamakan, karena ia dapat menghilangkan sesuatu yang lebih bermanfaat, atau dapat mengancam manfaatnya, entah manfaat yang sudah pasti maupun manfaat yang diprediksi. Jadi diartikan meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat,sedangkan wara’ diartikan sebagai meninggalkan apa-apa yang mendatangkan mudharat untuk kepentingan akhirat. Ibnul Qayyim, bahwa Zuhud secara bahasa diartikan sebagai lawan dari cinta dan semangat terhadap dunia. Dimana beliau berkata bahwa Zuhud terhadap sesuatu di dalam bahasa Arab yang merupakan juga bahasa Islam, mengandung arti berpaling darinya dengan meremehkan dan merendahkan keadaannya karena sudah merasa cukup dengan sesuatu yang lebih baik darinya.
Dari Abul 'Abbas Sahl bin Sa'd As-Sa'idiy ra, bahwa , 'Datang seseorang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu dia berkata, 'Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku akan suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya niscaya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia?'
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya "Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa-apa yang dimiliki oleh manusia niscaya manusia mencintaimu." (Shahih, HR. Ibnu Majah dan selainnya, Shahiihul Jaami' 935 dan Ash-Shahiihah 942)

Sufyan Ats-Tsauriy,
Berkata, bahwa ,Zuhud terhadap dunia adalah pendek angan-angan, tidak mengumbar harapan dan bukanlah yang dimaksud zuhud itu dengan memakan makanan yang keras dan memakai karung.

Al Junaid berkata bahwa orang yang zuhud tidak gembira karena mendapatkan dunia dan tidak sedih karena kehilangan dunia.

Az-Zuhriy,
Berkata bahwa Zuhud adalah hendaklah seseorang tidaklah lemah dan mengurangi syukurnya terhadap rizki yang halal yang telah Allah berikan kepadanya dan janganlah dia mengurangi kesabarannya dalam meninggalkan yang haram.

Al-Hasan,
Berkata bahwa zuhud terhadap dunia itu bukan berarti dengan mengharamkan yang halal dan tidak pula dengan menyia-nyiakan dan membuang harta, akan tetapi hendaklah engkau lebih tsiqah (mempercayai) terhadap apa-apa yang ada di sisi Allah daripada apa-apa yang ada di sisimu, dan hendaklah engkau apabila ditimpa musibah, engkau lebih mencintai pahala dari musibah tersebut daripada engkau tidak tertimpa musibah.

Yahya bin Mu’adz,
Bahwa zuhud menimbulkan kedermawanan dalam masalah hak milik.

Kesimpulannya bahwasanya hakikat zuhud yang ada di dalam hati adalah dengan mengeluarkan kecintaan dan semangat terhadap dunia dari hati seorang hamba, sehingga jadilah dunia itu hanya di tangannya sedangkan kecintaan Allah dan negeri akhirat ada di dalam hatinya. Disini sifat zuhud dipahami bahwa dunia/harta yang dimilikinya hanya sekedar lewat di tangannya tidak sampai ke hatinya (hatinya tidak terikat dengannya), dia salurkan harta tersebut di jalan Allah, dia infaqkan kepada orang yang membutuhkannya. Ibaratnya kran yang mengalirkan air untuk orang lain. Sedangkan hatinya tetap terikat dengan kecintaan kepada Allah dan akhirat. Banyak sedikitnya tidak menjadikannya bangga dan senang, akan tetapi ketaatan kepada Allah-lah yang menjadi tolak ukurnya. Banyak sedikitnya harta bagi orang yang zuhud sama saja.

Ketika ada seseorang bertanya kepada Al-Imam Ahmad, "Apakah orang kaya bisa menjadi orang yang zuhud?"
Beliau menjawab, "Ya, dengan syarat ketika banyak hartanya tidak menjadikannya bangga dan ketika luput darinya dunia dia tidak bersedih hati."
Karena zuhud itu adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat di akhirat, adapun hal-hal yang bermanfaat seperti menikah, mencari nafkah dan lainnya maka ini semua tidaklah mengurangi zuhudnya selama hatinya tetap terikat dengan akhirat.

Beliau juga membagi zuhud menjadi tiga tingkatan:
1. Meninggalkan yang haram, yang merupakan zuhudnya orang-orang 'awwam, dan ini adalah fardhu 'ain.

2. Meninggalkan kelebihan-kelebihan dari yang halal, dan ini zuhudnya orang-orang yang khusus.

3. Meninggalkan apa-apa yang dapat menyibukkannya dari (mengingat) Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang yang mendalam pengetahuannya tentang Allah.

Imam Ahmad juga menafsirkan tentang sifat zuhud yaitu tidak panjang angan-angan dalam kehidupan dunia. Beliau melanjutkan orang yg zuhud ialah orang yg bila dia berada di pagi hari dia berkata Aku khawatir tidak bisa menjumpai waktu sore. Maka dia segera memanfaatkan waktunya untuk beramal & beribadah sebaik-baiknya. Zuhud diartikan juga sebagai tidak mengumbar harapan di dunia, tidak gembira jika mendapatkan keduniaan, dan tidak sedih jika kehilangan keduniaan.

Definisi al-wara'
Dalam kaitannya dengan pemahaman wara’, Allah berfirman yang artinya,” Hai rasul-rasul,makanlah dari makanan yang baik-baik,dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan,” (Qs. Al-Mukminun : 51)

Secara bahasa dikatakan, sebagai
1. wara'a yara'u war'an wa wara'an wa wari'atan." artinya menjaga dan menghindari dari hal-hal yang diahromkan kemudian digunakan juga untuk perbuatan menahan diri dari hal halal yang mubah. pelakunya disebut wari'un wa mutawarri'un.

2. lafazh wari'a yaura'u wa yauri'u artinya menjadi orang yang wara'.

3. tawarra'a minal-amri artinya menjauhinya. al-wara' dapat menggerakkan ketakwaan.

Secara erminologis, al-wara' artinya menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan mudharat lalu menyeretnya kepada hal-hal yang haram dan syubhat, karena subhat ini dapat menimbulkan mudharat. Sesungguhnya, siapa yang takut kepada syubhat maka dia telah membebaskan kehormatan dan agamanya, dan siapa yang berada dalam syubhat berarti dia berada dalam hal yang haram, seperti penggembala di sekitar tanaman yang dijaga, yang begitu cepat dia masuk ke dalamnya.

Wara’ juga mengandung pengertian menjaga diri atau sikap hati-hati dari hal yg syubhat dan meninggalkan yg haram. Lawan dari Waro adalah subhat yg berarti tidak jelas apakah hal tsb halal atau haram.

Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ," Sesungguhnya yg halal itu jelas dan yg haram itu jelas. Di antara keduanya ada yg syubhat, manusia tidak banyak mengetahui. Siapa yg menjaga dari syubhat, maka selamatlah agama & kehormatannya. Dan siapa yg jatuh pada syubhat, maka jatuh pada yg haram." (HR Bukhari & Muslim).

sebagaimana contoh, Seseorang meninggalkan kesenangan mendengarkan atau memainkan musik karena dia tahu bahwa bermusik atau mendengarkan musik itu ada yg mengatakan halal dan ada yg mengatakan haram.

Dalam riwayat At-tirmidzi disebutkan secara marfu’ kepada Rasulullah, bahwa beliau bersabda, yang artinya ,” Wahai Abu Hurairah , jadilah engkau orang yang wara’, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling banyak melakukan ibadah “.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa, bahwa wara’ adalah menahan diri dari perkara yang terkadang bisa memudharatkan, termasuk di dalam perkara ini adalah perkara-perkara yang diharamkan dan yang syubhat, sebab bisa berdampak negatif, dan orang yang menjaga perkara yang syubhat maka dia telah menjaga agama dan kehormatan dirinya dan orang yang terjebak ke dalam perkara yang syubhat maka dia telah terjatuh pada perkara yang diharamkan, sama seperti seorang penggembala yang menggembalakan gembalaannya di sekitar perbatasan, hampir saja dia melewati batasnya.

Wara’ juga dimaksudkan sebagai membersihkan kotoran hati dan najisnya sebagaimana air membersihkan kotoran pakaian dan najisnya.
Rasulullah telah menghimpun keseluruhan wara’ dalam sabdanya, yang artinya ,” Di antara tanda kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya”.
Meninggalkan apa yang tidak bermanfaat ini mencakup keseluruhan tindakan lahir maupun batin.

Ibrahim bin Adham , bahwa Wara’ diartikan meninggalkan setiap, sedangkan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagimu artinya meninggalkan hal-hal yang berlebih.
Menurut Sufyan Ats-Tsauri, bahwa aku tidak melihat sesuatu yang lebih mudah daripada wara’ , yaitu jika ada sesuatu yang meragukan di dalam jiwamu, maka tinggalkanlah.

Asy-Syibli,
Wara’ diartikan sebagai menjauhi segala sesuatu selain Allah

(bersambung …..)

Sumber: Ahmad bin Ali Soleh, Amin bin Abdullah asy‐Syaqawi dalam Al-Wara'
fatawaa syaikhul islam, al-Qaamuus, asaasul-balagaah , minhajul qaasidin, qitabul zuhud ,Qawaa'id wa Fawaa`id minal Arba'iin An-Nawawiyyah , At-Ta'liiqaat 'alal Arba'iin An-Nawawiyyah , Ibn Qayyim al-Jauzi dalam Madarijus Salikin