*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Selasa, 02 Juni 2009

yang disukai belum tentu baik

Umumnya kita menggolongkan suatu peritiwa yang menimpa menjadi dua kelompok besar, yaitu peristiwa yang baik menurut kita dan peristiwa buruk. Sudut pandang ini juga bergantung pada latar belakang, budaya serta pandangan keyakinan masing-masing. Baik dan buruk suatu peristiwa seringkali menjadi bahan perdebatan yang berlarut-larut. Dan ini wajar karena adanya perbedaann standar keyakinan yang dianut masing-masing orang.

Bagi orang beriman, tentunya dari segala peristiwa yang dialami , selalu tertuju pada keyakinan bahwa hanya Allah yang mengetahui apa yang terbaik dan terburuk untuk hamba-Nya. Dan tentu tidak sama dengan pandangan manusia, sebab pengetahuan Allah tiada terbatas. Manusia hanya sanggup melihat tampilan luaran suatu peristiwa dan hanya mampu bersandar pada penglihatan yang terbatas. Oleh karena kekurangan informasi dan pemahaman ini membuat kita tidak menyukai sesuatu, padahal sebenarnya itu baik buat kita. Sebaliknya bisa saja kita mencintai sesuatu, padahal itu merupakan sebuah keburukan.

Untuk melihat kebaikan itu seorang hamba beriman harus menyerahkan rasa percayanya kepada kebijaksanan Allah yang tiada terbatas dan percaya bahwa ada kebaikan dalam segala hal yang terjadi.

Suatu hal yang dibenci kadang justru mendatangkan kesenangan, suatu hal yang disukai sering malah mendatangkan kesusahan. Janganlah merasa aman dengan kesenangan, karena dibalik itu bisa menimbulkan keudaratan. Saudaraku, janganlah merasa putus asa karena kelsulitan yang dihadapi.

Sebagaimana Allah berfirman, yang artinya ,” diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ,” (Qs. Al-Baqarah : 216).

Allah menyatakan dalam ayat ini, bahwa persitiwa yang dianggap baik oleh manusia , pada suatu ketika justru merugikan manusia itu sendiri. Begitu pula sesuatu yang sebenarnya ingin dihindari karena dianggap merugikan malah bisa menyebabkan kebahagiaan dan kedamaian.

Dengan menyakini hal ini, kita akan memiliki pandangan yang lebih baik. Kita akan selalu merasa bersyukur atas segala yang menimpa kita.

Saudaraku, seorang hamba tidak akan memperoleh kenikmatan surga kecuali ia telah mendapatkan ujian yang dibenci oleh jiwanya. Sebagaimana disabdakan Rasulullah saw, yang artinya ,” Surga itu dikelilingi (dipenuhi) oleh berbagai hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi oleh berbagai syahwat (kesenangan) hawa nafsu”, (Hr Bukhari Muslim).

Sesuatu yang dibenci adalah segala persitiwa atau keadaan yang dibenci oleh jiwa dan jiwa merasa terbebani olehnya. Bisa berupa musibah, bencana, kesungguhan atau pengorbanan jiwa dalam melaksanakan berbagai ketaatan dan menjauhi berbagai perbuatan maksiat, sabar menerima musibah dan berserah diri kepada ketentuan Allah terhadap musibah itu.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah bersabda tentang sahabat yang kehilangan penglihatannya. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam hadits qudsi, yang artinya ,” Jika hamba-Ku diuji dengan (dicabutnya) nikmat dua buah benda yang dicintainya, kemudian ia bersabar, maka Aku akan menggantikan kedua benda tersebut dengan surga ,” (Hr Bukhari).

Dari riwayat Abu Hurairah, bahwa ketika Rasulullah saw menjenguk orang sakit, beliau bersabda, yang artinya ,” Beritakanlah kabar gembira, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla pernah berfirman, “Penyakit itu adalah api-Ku yang aku timpakan kepada hamba-Ku yang mukmin didunia ini, agar ia dapat selamat dari api neraka pada hari akhir nanti”. (Hr Bukhari dan Hakim).

Dengan memahami apa rahasia dibalik segala kesulitan adalah bagian dari ujian yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya, kita dapat mengetahui bahwa cobaan itu adalah sunnah Rabbani yang sarat dengan hikmah dan rahmat-Nya.
Yakinlah saudaraku, sesungguhnya Allah tidak menetapkan sesuatu, baik dalam bentuk suatu ciptaan maupun syariat, melainkan didalamnya terdapat kebaikan dan rahmat bagi hamba-Nya. Terdapat hikmat yang sangat banyak dalam setiap musibah yang tidak diketahui dengan akal manusia biasa.

Inilah yang dinamakan nikmat tersebunyi, maka orang-orang shaleh terdahulu selalu gembira ketika mereka ditimpa suatu penyakit atau musibah, seperti gembiranya kita ketika mendapat kemewahan.
Rasulullah saw pun menyebutkan bahwa cobaan para Nabi dan orang-orang shaleh adalah penyakit, kefakiran dst. Kemudian Rasulullah saw bersabda, yang artinya, “ Sehingga salah seorang diantara mereka, merasa sangat gembira dengan bala yang menimpanya, seperti gembiranya salah seorang diantara kalian ketika mendapatkan kemewahan (kelapangan),” (Hr Ibn Majah).

Bahkan para salaf berkata, ‘Wahai anak Adam, nikmat Allah yang tidak engkau sukai yang telah diberikan kepadamu lebih besar (manfaatnya) dari nikmat Allah yang engkau sukai ‘. (Madarij as-Salikin).

Saudaraku, ingatlah selalu dari Abu Hurairah ra berkata , bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Sesungguhnya seseorang itu untuk memperoleh kedudukan disisi Allah, ia tidak akan mencapainya dengan amal perbuatannya. Allah akan memberikan ujian berupa sesuatu yang dibencinya hingga ia dapat mencapai kedudukan tersebut, “ (Hr Abu Ya’la dan Ibn Hibban).

Kadangkala kondisi kita yang prima, sehat, karier bagus, berlimpahkanya harta, membuat kita mudah bersikap berlebihan, membanggakan diri, dan akhirnya mengkufuri nikmat. Kita menjadi terlalu menikmati kegagahan, kekuatan dan kondisi yang nyaman. Kondisi ini rentan untuk justru membuat kita makin jauh dari sikap taat dan tunduk kepada Allah dan tawadhu dalam menghambakan diri kepada Allah.

Allahu a’lam
Sumber : Hendra Setiawan , agar selalu ditolong Allah,Abdullah bin Ali al-Juaitsin.


Tips, bila mesin overheat

Mesin overheat, bisa jadi menyebalkan bagi anda. Namun malang tak dapat disangka , sial tak urung ditebak. Panas mesin meninggi bikin mobil enggan bergerak nyaman. Untuk langkah darurat, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, diantaranya tentunya segera pinggirkan mobil anda dan segera matikan mesin. Istirahatlah sebentar sambil nunggu suhu mesin menjadi lebih dingin. Nah langkah selanjutnya lakukan pemeriksaan kondisi mobil anda. Anda bisa mencermati beberpa langkah yang praktis, penulis berharap semoga bermanfaat bagi anda. Atau paling tidak , bisa menjadi referensi anda . terimakasih

Sahabatku , kita mulai saja dari Sistem Pendingin.
Perangkat ini umumnya menjadi penyebab utama mesin overheat. Bisa jadi ada beberapa komponennya yang rusak, seperti radiator, tutup radiator dan slang, bisa juga sampai water pump dan kipas. Salah satu komponen ini rusak, bisa menyebabkan volume airnya berkurang sehingga tidak bisa mendinginkan mesin secara sempurna.

Mengatasinya?
Anda bisa menunggu suhu mesin lebih dingin, kemudian baru anda buka tutup radiator mobil anda. Saudaraku, anda harus hati-hati membukanya, sebab uap air bertekanan tinggi bisa saja muncrat keluar. Anda bisa menggunakan kain tebal saat membukanya , untuk menghindari cedera terkena air panas.

Setelah radiator terbuka, biarkan sampai dingin sebelum diisi kembali. Untuk mengetahuinya cukup mudah, cukup anda putar kunci kontak, dan lihat jarum indicator suhu. Jika posisinya sudah turun, monggo saja anda menuangkan air kedalam radiator.

Setelah radiator penuh air, hidupkan kembali mesin mobil anda. Kemudian coba anda perhatikan apakah ada tetesan air pada radiator dan dapur pacu. Jika ada, berarti butuh penanganan lebih lanjut. Mobil masih bisa dijalankan, asalkan pelan-pelan saja. Jaga putaran mesinnya agar tidak tinggi dan perhatikan indicator suhu. Lebih baik lagi, bawalah jerigen berisi air, atau bawa beberapa botol besar air mineral dalam kemasan untuk mengisi kembali radiator anda.

Kalau tak ada kebocoran ?
Bisa anda pastikan , ada kompoenen lain yang tidak berfungsi dengan benar.Coba anda lihat aliran dalam radiator saat tutupnya terbuka. Aliran yang lambat menunjukkan water pump nya perlu diganti. Biasanya terlihat dari rembesan air dari water pump. Cek juga kipas mesin, utamanya mobil front whell yang pakai electric fan. Pastikan kipas elektriknya berputar saat sumber tenaga bekerja. Jika tidak, ada 2 kemungkinan yang ada.
Coba anda hubungkan kipas dengan aki. Kalau electric fan hidup, berarti thermoswitch atau sekrin jebol.
Kejadian ini bisa diantisipasi dengan ganti skring atau melangsungkan arus air aki untuk kipas. Ingan jangan sampai terbalik memasang kutup plus minusnya. Perhatikan saja arah angin, harus masuk ke kabin mesin bukan keluar.

Jika kipas enggan berputar, jelas kompoenen ini tak layak pakai lagi, tetap ikuti cara diatas dengan berjalan pelan-pelan.

Selanjutnya kita melangkah ke setelan mesin.
Settingan mesin juga bisa membuat mesin gerah. Indikasinya tidak ada kebocoran setelah radiator kembali diisi. Waktu pengapian terlalu maju, setelan bensin terlalu miskin, dan setelan klep rapat disinyalir sebagai biangnya. Umumnya overheat karena setelan mesin kurang pas jarang terjadi. Karena gejalanya pasti sudah terasa sejak mobil anda dijalankan. Usahakan selalu memantau posisi jarum indicator selama berkendara.

Atau bisa juga aliran udara terhambat.
Pemakaian asesori grill juga bisa menjadi bianga keladi kenaikan temperature. Soalnya berpotensi menghalangi sirkulasi udara masuk ke sisi radiator. Daun dan sampah juga sering menjadi penyebab.
Sehingga mesin tidak mendapat pendinginan angin yang cukup. Jika terjadi buka saja grill depan atau bersihkan kotoran yang menempel di kisi radiator. Perlu anda ketahui bahwa mengontrol keadaan mobil sebelum berjalan bisa menjadi jurus pamungkas. Apalagi dilakukan menyeluruh terhadap semua system yang ada.

Sumber : aneka tips merawat mesin mobil. Otomotif.




hamba beriman penuh ujian

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah menjadikan ujian dan musibah bagi hamba-hamba-Nya sebagai rahmat dan penghapus dosa-dosa mereka. Namun, sayang karena tipisnya pemahaman kita terhadap keyakinan ini, membuat kita sering kali terjebak dalam keluh kesah berkepanjangan ketika ditimpa cobaan atau musibah.
Kita melupakan hakikat sesungguhnya bahwa hikmah dan faedah dibalik musibah dan penyakit, sebenarnya merupakan bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Saudaraku, cobaan dan ujian ini bisa berupa godaan nafsu (syahwat), kemiskinan , penyakit, rasa cemas, kekurangan harta, jiwa dst. Disamping itu cobaan bisa juga berupa, kekayaan yang melimpah, kesehatan yang prima dst. Jadi cobaaan ini bisa berupa sesuatu yang kita senangi yang bisa mendatangkan kegembiraan dan bahkan bisa juga berupa sesuatu yang dibenci yang ingin kita hindari.

Sebagaimana firman Allah,yang artinya ,” Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”, (Qs. Al- A’raf : 168).
Beberapa ulama yang menjelaskan ayat ini, al :


  1. Berkaitan dengan ayat ini Ibn Abbas ra, menyatakan bahwa ,’Allah akan menguji kalian dengan kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, dengan sesuatu yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan’.

  2. Ibn Zaid , menyatakan, bahwa ‘Allah akan menuji mereka dengan sesuatu yang mereka sukai dan mereka benci, Allah akan mengiji mereka dengan semua itu untuk mengetahu I tingkat kesyukuran mereka terhadap hal-hal yang mereka cintai dan tingkat kesabaran mereka terhadap hal-hal yang mereka benci “.

  3. Ibn Jaris dalam tafsirnya, menyatakan ,’Allah akan menguji mereka berupa kelapangan dalam hidup, kemewahan didunia, keluasanaan dan kelapangan rizki. Semua itu adalah kenikmatan yang baik , sedangkan maksud dari hal-hal yang buruk adalah kesempitan dam kesengsaranaan dalam hidup, musibah dan kekurangan harta.

  4. Ibn Katsir, dalam tafsirnya, menyatakan ,’ Maksud dari ayat diatas adalah Allah akan menguji mereka dengan kelapangan dan kesempitan, kesenangan dan kebencian, kesehatan dan musibah,’.
    Semua ini adalah agar kita kembali kepada ketaatan kepada Allah, bertaubat dari segala perilaku maksiat.

    Firman Allah, yang artinya ,”Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan, “ (Qs. Al-Anbiya : 35).

Saudaraku, segala cobaan ini adalah sunnatullah. Yakinlah , bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menetapkan sesuatu baik dalam bentuk suatu ciptaan atau syariat, melainkan didalamnya terdapat kebaikan dan rahmat bagi hamba-Nya.

Sebagaimana firman Allah,yang artinya ,” Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan, “ (Qs. Al-Anbiya : 35).

Saudaraku terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa musibah, penderitaan dan penyakit akan senantiasa mengiringi gerak kehidupan setiap hamba -hamba yang beriman. Seperti sbb :


  1. Firman Allah , yang artinya, “ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya ,’bilakah datangnya pertolongan Allah,’. Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat,” (Qs Al-Baqarah : 214).

  2. Firman Allah, yang artinya, ‘ Kamu pasti akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu pasti akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyriki. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan “, (Qs. Ali Imran : 186).

  3. Firman Allah, yang artinya ,” Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri, “ (Qs. Al-an’am : 42).

  4. Firman Allah, yang artinya, “ …..Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itula orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orangg yang bertaqwa ,” (Qs. Al-Baqarah : 177).

  5. Firman Allah, yang artinya ,” Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit kgetakutan, kelaparan dan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar “, (Qs. Al-Baqarah : 155).
    6. Firman Allah, yang artinya,” Sesungguhnya Kami menciptakan manusia berada dalam susah payah ,” (Qs. Qs. Al-Balad : 4).

Saudaraku, lalu apa yang harus kita lakukan?
Nabi Ibrahim as ketika dilempar ke dalam kobaran api, dia mengucapkan, ”Hasbunallaah wa ni’mal wakil, ” maka Allah menjadikan api yang panas itu dingin seketika. Dan Ibrahim pun tidak terbakar.
Demikian pula yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Tatkala mendapat ancaman dari pasukan musuh dan penyembah berhala, mereka juga mengucapkan, ”Hasbunallaah wa ni’mal wakiil. Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Maka, mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar dari) Allah. Mereka tidak mendapat bencana apa-apa. Mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali Imran 173–174).

Cukuplah Allah Penolongku, inilah kalimat yang semestinya disuarakan terus menerus di hati kita. Ya Allah ampunilah aku, ini kalimat yang semestinya keluar dari lisan, hati, dan pikiran kita. Engkaulah Pengaturku ya Allah. Terserah Engkau mengatur apa, bikinlah hati ini menjadi ikhlas karena-Mu. Begini mestinya. Akhirnya hati menjadi Ikhlas

Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan Nassaa’ (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat”. [Silsilah Hadits Shahih No. 2276].
Hadist ini merupakan hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak pernah terjauhkan dari mereka.

Disamping itu beberapa riwayat hadits yang menjelaskan seperti kondisi tersebut diatas :


  1. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bawa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya ,”Ujian itu akan tetap menimpa seorang mukmin dan mukminah dalam dirinya, anak keturunannya dan hartanya hingga Allah menghapuskan dosa-dosa yang ada pada dirinya ,” (Hr. Turmudzi) 1.

  2. Dari Said bin Abi Waqash, ia berkata, Rasulullah saw pernah bersabda, yang artinya ,” Ujian itu akan senantiasa menimpa seorang hamba hingga ia ditinggalkan berjalan diatas bumi ini tanpa membawa beban dosa ,” (Hr Turmudzi).2.

  3. Dari Anas ra, bahwa Rasulullah pernah bersabda, yang artinya ,” Jika Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan mempercepat hukuman bagi dirinya di dunia ini. Dan jika Allah menginginkan keburukan bagi seorang hamba, maka Allah akan menangguhkan hukuman dari segala dosa-dosanya hingga ia akan mendapatkan balasannya pada hari kiamat nanti “, (Hr Turmudzi ).3.

  4. Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menguji hamba-Nya dengan penyakit hingga dengannya setiap dosa akan dihapuskan “, (Hr Al Hakim).4.

  5. Dari Aisyiah , bahwa Rasulullah saw pernah menderita suatu penyakit, yang membuat beliau merasa kesakitan hingga beliau bergulingan diatas tempat tidur. Aisyiah kemudian berkata kepada beliau, ’ Jika penyakit ini menimpa sebagian dari kami niscaya engkau akan bersedih kepadanya ‘.
    Rasulullah, kemudian bersabda, yang artinya ,” Sesungguhnya orang-orang shalih akan dilebihkan cobaan kepada mereka, dan sesungguhnya tidaklah seorang mukmin itu tertimpa suatu bencana berupa kecemasan atau sesuatu yang lebih dari itu, melainkan akan dibebaskan kesalahan dari dirinya, dan akan diangkat derajat dirinya,” (Hr ahmad, Ibn Hibban dan Hakim).5.

  6. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata Rasulullah bersabda, yang artinya, “Sesungguhnya seseorang itu untuk memperoleh kedudukan di sisi Allah, ia tidak akan dapt mencapainya dengan amal perbuatannya. Allah akan memberikannya ujian berupa sesuatu yang dibencinya hingga ia dapat mencapai kedudukan tersebut ,” (Hr Abu Ya’la dan Ibn Hibban).6.

  7. Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Surga itu dikelilingi (dipenuhi) oleh berbagai hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi oleh berbagai syahwat (hawa nafsu) ,” (Hr. Bukhari Muslim). 7.

  8. Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Perumpamaan seorang mukmin tak ubahny seperti tanaman, angin akan selalu menghembusnya, ia akan selalu mendapat cobaan. Sedangkan perumpamaan orangmunafik adalah seperti pohon Urza yang tidak akan bergoyang oleh hembusan angin, hatta tastahsidh (hingga ia terputus) ,” (Hr Muslim). 8.

  9. dst

Saudaraku ,dalam hal ini fitnah (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabb-nya.

Saudaraku , tentu para Nabi dan orang-orang shaleh adalah makhluk yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tentu cobaan bagi mereka pun melebihi cobaan yang ditimpakan kepada orang-orang selain mereka.
Diriwayatkan Sa’id bin abi Waqqash berkata bahwa ia berkata, ‘aku berkata,’Wahai Rasulullah , siapa manusia yang paling berat cobaanya ?’
Rasulullah menjawab ,” Para Nabi, kemudian orang-orang terbaik setelah mereka dan orang-orang terbaik setelah mereka. Seseorang itu diberi cobaan sesuai dengan agamanya. Jika agamanya kuat maka cobaanya pun berat, namun jika agamanya lemah maka ia akan diberi cobaan sesuai dengan agamanya. Seorang hamba tidak akan pernah lepas dari cobaan hingga cobaan itu menghapuskan seluruh dosa-dosanya dan dia dapat berjaln di muka bumi in tanpa ada dosa sedikitpun “, (Hr Turmudzi dan Ibn Majah). 9.


Sudaraku Rasulullah pun memberitahukan kepada kita umatnya bahwa seseorang dalam kehidupannya, hampir tidak dapat dipisahkan dari perbuatan –perbuatan dosa yang ia lakukan setiap harinya, hal inilah yang menjerumuskannya ke dalam neraka , jika ia tidak mendaptkan ampunan atas kesalahan-kesalahan dosa-dosa itu.Bahkan Ibn Mas’ud ra berkata bahwa ‘kalian melihat bahwa orang-orang kafir adalah orang-orang yang paling sehat tubuhnya namun paling sakit hatinya, dan kalian dapati bahwa orang-orang mukmin adalah orang-orang yang paling sehat hatinya namun paling sakit tubuhnya. Demi Allah , seandainya hati kalian sakit dan tubuh kalian sehat niscaya kalian lebih hina dimata Allah dari seekor kumbang’ 10.

Saudaraku inilah sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya.
Sebagian salaf berkata,’ Wahai anak Adam , nikmat Allah yang tidak engkau sukai yang telah diberikan kepadamu lebih besar manfaatnya dari nikmat Allah yang engkau sukai. 11.

Allahu a’lam.
Catatan :
1. Diriwayatkan oelh Tirmidzi (4/520, hadits 2399), ia menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Demikian pula Al-Albani mengataakan dalam shahih Tirmidzi (2/286).
2. Diriwayatkan oelh Tirmidzi (4/520, hadits 2399) dan Ibn Majah (2/1234, hadits 4023). Demikian pula Al-Albani mengataakan dalam shahih Tirmidzi (2/286).
3. Ditakhrij oleh tirmidzi (4/519), hadits no. 2396) dan ia menganggapnya hadits hasan. Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih (Shahih tirmidzi 2/5). Hadits ini juga diperkuat oleh hadits Ab Bin Al-Mugha`ffal, yang dianggap shahih oleh Ibn Hibban (hadits no 2455 al Mawarid) Al Minawi dalam at-Taisir (1/64).
4. Riwayat Hakim (1/348) dari hadits Abu Hurairah. Ia berkata,’shahih menurut syarat keshahihhan Bukhari Muslim, dan keduanya tidak mentakhrijkannya. Adz Dzahabi sependapat dengan pendapat ini. Diriwayatkan pula oleh Thbrani dalam Al Kabir (2/133, hadits 1548) dari hadits Jubair bin Math’am. Suyuthi menyebutkannya dalam Al Jami’ Ash Shagir seraya memperkuat kedua sumber yang berasal dari dua sahabat tadi. Al Albani mengatakan shahih dalam shahih al-Jami’ hadits 1870.
5. Ditakhrij oleh Ahmad (6/159-160), Ibn Hibban dalam shahihnya (Mawarid-hadits 702) dan Hakim (1/35-346), dan ia mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai dengan syarat shahih Bukhari Muslim, dan mereka berdua tidak mentakhrijkannya. Haitsami mengatakan dalam Majma’ Az-Zawaid (2/292) bahwasanya rijal pada hadits ini adalah tsiqaat. Al-albani menganggapnya shahih dalam Shahih Al-Jami’ (hadits 1660).
6. Ditkahrij oleh abu Ya’la dalam Musnad-nya (10/482, hadits 6095), Ibn Hibban dalam shahihnya (Mawarid, hadits 693) dan Hakim (1/344), ia mengatakan bahwa isnadnya Shahih. Sedangkan Haitsami mengatakan dalam Al Majma’ (2/292) bahwa rijal hadits ini adalah orang-orang yang dianggap tsiqah. Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini adalah hasan (Shahih al Jami’, hadits 1625).
7. Lihat Al Fathu (11/320).
8. An Nihayah (1/38) Shahih Muslim dengan syarah Nawawi (17/157), al Fath (10/107).
9. Dari At-turmudzi (4/520, hadits no 2398, Ibn Majah (2/1334, hadits no. 4023). Imam At turmudzi berkata bahwa,’hadits ini hasan dan shahih’. Demikian pula dikatakan imam al albaani dalam kitab Shahih sunan At-Turmudzi (2,286). Hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Ibn Hayyan dalam kitab al Ihsaan (7/161, hadits no.2901).
10. 10. Az-zuhdu , karya Hannad , juga terdapat dalam riwayat Ahmad dalam kitab Zuhud.
11. Dalam Madarij as-Salikin (2/216)

Sumber : Majalah Al-Ashalah edisi 15, Th III 15 Dzul Qa'dah 1415H, Majalah As-Sunnah edisi 07/th III/1419-1998, Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183] Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halaby , Al-Manhaj, Abdullah bin Ali Al-Juatitsin.



Senin, 11 Mei 2009

Semua peristiwa , mengandung kebaikan

Saudaraku, setiap kita pasti pernah mengalami masa-masa yang sulit dalam kehidupan ini. Sebagai seorang hamba beriman , kita harus memahani bahwa kesulitan-kesulitan yang diberikan Allah untuk menguji manusia. Kesulitan-kesulitan ini dibuat untuk menjadi batas pembeda antara orang yang benar-benar beriman dengan orang yang dihinggapi penyakit di hatinya, yaitu orang yang belum tulus dalam meyakini keimanan kepad Allah.

Sebagaimana Firman Allah, yang artinya “Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran), “ (Qs. Al-a’raf : 168).
Firman Allah yang artinya, “ Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan ,” (Qs. Al-Anbiya : 35).

Kemampuan untuk melihat kebaikan dalam setiap kejadian, apapun kondisinya baik yang menyenangkan maupun tidak, merupakan kualitas moral yang penting. Ini timbul dari keyakinan tulus kepada-Nya. Pemahaman akan kebenaran ini akan menuntun seorang hamba tidak hanya mencapai keberkahan hidup didunia dan akhirat, namun juga menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang tiada berakhir.

Ibnu Katsir,dalam kitabnya Tafsir Ibnu Katsir (2/155), menyatakan bahwa ‘seorang mukmin itu harus diuji harta dan jiwanya, atau anak keturunan dan keluarganya. Seorang mukmin juga harus diuji tingkat keagamaanya. Jika agamanya kuat maka akan bertambah pula cobaan yang akan diterimanya,’

Seorang hamba beriman tidak akan pernah lupa bahwa kesulitan maupun keberkahan datang untuk menguji mereka. Karena kemulian dan kepatuhan mereka kepada-Nya, Allah tentu akan mengubah apa yang tampaknya buruk menjadi hal-hal yang menguntungkan bagi makhluk-Nya yang sejati.

Kita , memang akan lebih mudah untuk bersyukur ketika menerima anugerah atau kenikmatan atau ujian yang menyenangkan dibandingkan bersabar saat sedang diuji dengan musibah. Seorang hamba bisa menjadi marah, putus asa dengan ujian berupa musibah, dan memandang musibah adalah sesuatu yang harus dihindari.
Misalnya dengan upaya berdoa, dan memohon Insya Allah akan menolak musibah yang akan terjadi sehingga tidak terjadi. Namun , namun jika musibah benar-benar terjadi dan sedang menimpa, kita wajib berusaha menyikapi dengan sabar dan mengambil hikmah dibalik musibah tersebut.

Ibn Abi Ad-dunya dalam Asy-syukur , menyatakan bahwa Abdul Malik Ibn Abjar ra berkata, bahwa ‘tidak ada seorang manusia melainkan akan diuji dengan kesehatan dan kelapangan untuk mengetahui sejauh mana ia akan mensyukurinya dan ia juga akan diuji dengan musibah untuk mengetahui sejauh mana ia akan bersikap sabar menghadapi ujian itu .’

Saudaraku, salah satu bukti adanya keimanan yang kuat adalah tidak adanya rasa kecewa terhadap apapun yang terjadi dalam kehidupan ini. Sebaliknya, jika seorang hamba yang gagal melihat kebaikan dalam setiap peristiwa maka bisa menyebabkan dia terperangkap dalam ketakutan, kekhawatiran, putus asa, kesedihan yang berlarut.

Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur (kepada Allah) sehingga didalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa didalamnya ada kebaikan pula “, (Hr Muslim).

Saudaraku, kita harus meyakini bahwa Allah menciptakan segalanya untuk tujuan yang baik dan menuntun hati seseorang dalam menemukan kedamaian. Sebuah keberkahan besar bagi hamba yang beriman bila memiliki pemahaman akan kenyataan ini. Hindarkanlah ketakutan dan kekhawatiran yang berkelanjutan sehingga terus menderita dalam kesengsaraan yang berkelanjutan. Kita harus menyadari bahwa ada kenyataan , ada tujuan-tujuan Illahiah di balik ciptaan dan kehendak Allah.

Sebagaimana hadits riwayat Turmudzi, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Jika Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan mempercepat hukuman bagi dirinya didunia ini. Dan jika Allah menginginkan keburukan bagi seorang hamba, maka Allah akan menangguhkan hukuman dari segala dosa-dosanya hingga ia akan mendapatkan balasannya pada hari kiamat nanti “, (Hr Turmudzi).

Seringkali kita tidak cukup sabar untuk melihat kebaikan yang berada di balik peristiwa yang menimpa. Dan secara tidak sadar, justru kita malah mengejar sesuatu yang tidak baik buat diri kita. Sebagaimana diperingatkan Allah, dalam firman-Nya, yang artinya ,” Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan manusia bersifat tergesa-gesa “, (Qs. Al-Israa : 11).

Saudaraku, tidak seorangpun yang kebal terhadap peristiwa buruk. Mari kita berupaya untuk selalu meyakini bahwa pada akhirnya ada suatu kebaikan dalam sebuah peristiwa yang pada awalnya tampak merugikan. Dan harus disadari juga, bahwa kita tidak selalu beruntung mampu melihat sisi positif yang ada. Dan Allah akan menunjukkan itu pada suatu ketika.

Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda, yang artinya ,” Tidaklah urat dan mata seseorang melainkan ada dosa padanya. Akan tetapi ampunan dari Allah lebih banyak (dari perbuatan dosa tersebut)”, (Hr Thabrani).

Dan riwayat dari Abu Hurairah dan Abu Said ra, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan, penyakit, kecemasan, kesedihan, kepedihan, kesusahan hingga kebingungan yang dirasakannya , melainkan dengannya Allah akan menghapuskan segala kesalahannya, “ (Hr Bukhari).

Saudaraku sungguh indah sekali hadits diatas. Bahkan Ali pernah menghibur seorang sahabat yang terkena musibah, dengan mengatakan ,’Wahai Fulan, jika engkau bersabar maka keketepan itu tetap berlaku kepadamu dan engkau pun mendapat pahala. Namun , jika kau tidak bersabar maka ketetapan itu pun tetap berlaku dan kau mendapatkan dosa’.

Satu hal yang dibenci kadang mendatangkan kesenangan, satu hal yang disukai kadang mendatangkan kesusahan. Musibah , penyakit jiwa atau jasmani, memang sangat tidak disukai oleh hati kita. Penyakit jiwa bisa berupa kecemasan (al-hammu), kesedihan (al huznu), kesusahan, penderitaan batin (al ghammu) dsb. Seringkali kita baru menyadari bahwa , kita sulit untuk bersikap sabar dalam menghadapi semua ini

Dari Abu Said Al-Khudri ra, bahwa ia berkata, bahwa seorang laki-laki berkata pada Rasulullah saw, ‘Ya Rasulullah, tidakkah engkau melihat penyakit-penyakit yang menimpa kami ini, apa yang akan kami dapatkan dari penyakit-penyakit ini ?’
Rasulullah menjawab,”Penghapusan dosa”.
Ubay bin Ka’ab, bertanya lagi,’Meski hanya sedikit ?’
Beliau menjawab,”Meski hanya berupa kecemasan dan yang lebih dari itu”,

Kemudian Ubay pun berdoa bagi dirinya sendiri agar ia tidak dilepaskan dari penyaki hingga ia wafat, dan ia juga berdoa agar sakit itu tidak menghalanginya untuk selalu menunaikan ibadah haji dan umrah, tidak menghalanginya berjihad dijalan Allah, dan tidak menghalanginya untuk melaksanakan shalat wajib secara berjama'ah. Hingga tak seorangngpun yang menyentuhnya melainkan ia mendapatkan badannya pnas hingga ia wafat.

Namun doa Ubay bagi dirinya adalah ijtihad dirinya. Yang diperintahkan menurut syariat adalah seorang muslim hendaknya senantiasa memohon kesehatan kepada Allah dan tidak berbuat sesuatu yang menimbulkan bencana bagi dirinya sendiri.


Saudaraku segala musibah , balak atau kepedihan ini menunjukkan bahwa betapa fakirnya kita dan betapa kita sangat membutuhkan Allah. Yakinilah bahwa , segala peristiwa yang menyakitkan ini akan mendatangkan kebaikan yang sangat banyak, diantaranya tabungan pahala, dihapuskannya dosa sehingga kita akan mengatahui bahwa dibalik itu akan terungkap betapa indahhnya sebuah kenikmatan terbebas dari bencana yang sesungguhnya yaitu seseorang yang dijauhkan dari agama-Nya.

sumber : Abdullah bin Ali Juaitsin, hikmah bagi orang sakit ,Hendra Setiawan, Cara Nabi menghadapi kesulitan hidup, eramuslim dst.