*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Senin, 22 November 2010

Barokah

Barokah atau berkah adalah kata yang sering kita dengar sehari-hari . Barokah atau berkah selalu diinginkan oleh setiap orang. Dalam bahasa Arab, barokah bermakna tetapnya sesuatu, dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu.Tabriik adalah mendoakan seseorang agar mendapatkan keberkahan. Sedangkan tabarruk adalah istilah untuk meraup berkah atau “ngalap berkah”.
Adapun makna barokah dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya. Sebagaimana do’a keberkahan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering kita baca saat tasyahud mengandung dua makna di atas.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Maksud dari ucapan do’a “keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad karena engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim, do’a keberkahan ini mengandung arti pemberian kebaikan karena apa yang telah diberi pada keluarga Ibrahim. Maksud keberkahan tersebut adalah langgeng-nya kebaikan dan berlipat atau bertambahnya kebaikan. Inilah hakikat barokah”.
Semua Kebaikan Berasal dari Allah
Kadangkala kita berharap dari kebaikan dari orang lain, sampai-sampai hati pun bergantung padanya. Namun perlu diketahui bahwa seluruh kebaikan dan keberkahan asalnya dari Allah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, yang artinya ”Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imron: 26).

Yang dimaksud ayat “di tangan Allah-lah segala kebaikan” adalah segala kebaikan tersebut atas kuasa Allah. Tiada seorang pun yang dapat mendatangkannya kecuali atas kuasa-Nya. Karena Allah-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( Ath Thobari).

Dalam sebuah do’a istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan, “Seluruh kebaikan di tangan-Mu.” (HR. Muslim no. 771)

Begitu juga dalam beberapa ayat lainnya disebutkan bahwa nikmat (yang merupakan bagian dari kebaikan) itu juga berasal dari Allah. Dan nikmat ini sungguh teramat banyak, sangat mustahil seseorang menghitungnya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, yang artinya “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl: 53).

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, yang artinya “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah” (QS. Ali Imron: 73).
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, yang artinya “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya” (QS. Ibrahim: 34 dan An Nahl: 18).

Keberkahan hanya berasal dari Allah
Kita telah mengetahui bahwa setiap kebaikan dan nikmat, itu berasal dari Allah. Inilah yang disebut dengan barokah. Maka ini menunjukkan bahwa seluruh barokah, berkah atau keberkahan berasal dari Allah semata.
Setelah kita memahami bahwa datangnya barokah atau kebaikan hanyalah dari Allah.
Perlu diketahui bahwa keberkahan yang halal bisa ada dalam hal diniyah dan hal duniawiyah, atau salah satu dari keduanya.
Contoh yang mencakup keberkahan diniyah dan duniawiyah sekaligus adalah ke-berkahan pada Al Qur’an Al Karim, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat .

Keberkahan juga terdapat pada majelis orang shalih, keberkahan bulan Ramadhan, keberkahan makan sahur. Keberkahan pada hal diniyah saja semisal pada tiga masjid yang mulia yaitu masjidil haram, masjid nabawi, dan masjidil aqsha. Sedangkan keberkahan pada hal duniawiyah seperti keberkahan pada air hujan, pada tumbuhnya berbagai tumbuhan, keberkahan pada susu dan hewan ternak.

Ada satu catatan yang perlu diperhatikan. Keberkahan yang halal di atas kadang diketahui karena ada dalil tegas yang menunjukkannya, kadang pula dilihat dari dampak, di sisi lain juga dilihat dari kebaikan yang amat banyak yang diperoleh. Namun untuk keberkahan dalam hal duniawiyah bisa diperoleh jika digunakan dalam ketaatan pada Allah. Jika digunakan bukan dalam ketaatan, itu bukanlah nikmat, namun hanyalah musibah.

Kami contohkan misalnya keberkahan hamba shalih, yaitu orang yang shalih secara lahir dan batin, selalu menunaikan hak-hak Allah. Di antara keberkahan orang sholih adalah karena keistiqomahan agamanya. Karena istiqomahnya ini, dia akan memperoleh keberkahan di dunia sehingga bias berjalan dia tasa jalan yang diridhai Allah (tidak sesat) dan keberkahan di akhirat.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, yang artinya ,” Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thoha: 123).

Keberkahan juga bisa diperoleh jika berlaku jujur dalam jual beli. Dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya ,”Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang”.

Ketika seseorang hamba mencari harta dengan ikhlas tidak diliputi rasa tamak, maka keberkahan pun akan mudah datang.
Sebagaimana Rasulullah bersabda kepada Hakim bin Hizam, yang artinya “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”

Yang dimaksud dengan kedermawanan dirinya, jika dilihat dari sisi orang yang mengambil harta berarti ia tidak mengambilnya dengan zalim (tamak) dan tidak meminta-minta. Sedangkan jika dilihat dari orang yang memberikan harta, maksudnya adalah ia mengeluarkan harta tersebut dengan hati yang lapang.

Ibnu Baththal mengatakan, “Qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ke-tamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.”

Begitu pula keberkahan dapat diperoleh dengan berpagi-pagi dalam mencari rizki.
Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia mendapat keberkahan dari usahanya.

Banyak jalan untuk meraih keberkahan atau ngalap berkah yang dibenarkan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita mencukupkan dengan hal itu saja tanpa mencari berkah lewat jalan yang keliru, bid’ah atau bernilai kesyirikan.

Carilah keberkahan dengan beriman dengan bertakwa pada Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’rof: 96)
Semoga Allah senantiasa melimpahkan kita berbagai keberkahan.

Amin Yaa Mujibbas Saailin.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Allahu a’lam

Sumber bacaan : Muhammad Abduh Tuasikal, www.muslim.or.id

Minggu, 21 November 2010

Indahnya kegagalan

Suatu kegagalaan tidak selalu harus disikapi dengan penyesalan. Ada hal yang tersembunyi disana, yang seringkali kita tidak menyadarinya. Dimana seh letak manisnya kegagalan ? Semua kegagalan yang anda alami itu indah, karena ia dapat mencegah tumbuhnya kotoran-kotoran kesuksesan. Anda perlu mengetahui bahwa kotoran kesuksesan yang amat berbahaya adalah keangkuhan.
Keangkuhan membuat kita tidak dapat tumbuh lebih besar lagi. Keangkuhan akan membuat kita menutup hati dan pikiran dari masukan atau pendapat orang lain. Seorang usahawan yang angkuh akan segera tergeser oleh para pesaing, karena ia tidak dapat membuka diri atas masuknya ide-ide baru bagi perkembangan usahanya.
Seorang ilmuwan yang angkuh akan segera usang, karena ilmu atau hasil penemuannya akan segera tergantikan dengan munculnya penemuan-penemuan baru yang lebih canggih.

Kenapa terjadi demikian, karena ia menganggap apa yang telah diketahuinya merupa-kan kebenaran yang absolute. Keangkuhan akan membuat semuany amenjadi stagnan.
Dalam kegagalan kita akanmenemukan sosok kerendahhatian. Dengan kerendahhatian, seseorang akan lebih mudah untuk banyak belajar. Itulah pertumbuhan yang sebenar-nya . Ia akan terus hidup dan tumbuh . Kerendahhatian adalah laksana bunga indah yang mekar. Keharumannya menarik orang lain untuk mendekat.Dalam kerendahatian terdapat cahaya yang menghangatkan yang menarik perhatian orang.

Dalam kerendahhatian juga muncul adanya kewaspadaaan. Dimana dalam kewaspadaan anda akan terus bersiap. Anda akanmenjadi orang yang reseptif dan open minded. Yang senatiasa membuka diri bagi kebenaran yang datangnya dari manapun dan dari siapapun. Dalam kewaspadaan anda terhidar dari lubang yang sama.

Kotorang sukses yang lain , adalah senang pujian. Kadangkala pujian yang tidak ditem-patkan dengan baik justru akan berakibat buruk. Sebagaimana Rasulullah pernah mem-peringatkan para sahabatnya, bila ada seseorang yang sering memuji, maka lemparkan-lah pasir kepadanya. Ini adalah kiasan untuk tidak mengharapkan puji-pujian karena pujian itu akan melenakan hati. Pujian terasa semanis madu namun sesungguhnya beracun.

Pujian dalam dosis tertentu justru akan merusak kreativitas dan pertumbuhan seseorang. Dengan pujian , ia akan malas bahkan berhenti untuk belajar. Ia akan terlena menikmati setiap pujian yang datang.

Kotoran sukses selanjutnya adalah kesuksesan itu sendiri. Kesuksesan yang berlebihan akan membuat seseorang mabuk dalam keterlenaan. Dan akan memudarkan rasa syukur kepda-Nya , akan memudarkan semangat memohon ampun kepada-Nya. Bagaimana ia akanmemohon ampun kepada Allah, bila disaat yang sama ia tertawa senang meningmati kesuksesannya. Ini berbeda dengan kegagalan , dimana kegagalan akan membuka seorang hamba untuk kembali kepada Allah, memohon ampun atas kesalahan-kesalahannya.

Allahu a’lam
Sumber kutipan : Yusran Pora, gagal itu indah.

Minggu, 14 November 2010

Seputar istiqomah

Allah berfirman , yang artinya ," Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus diatas jalan itu (islam) , niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup ", (Qs. Al-Jin : 16).
Dari Abu 'Amr berkata, 'Ya Rasulullah, katakankalh kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau?'.
Rasulullah menjawab, yang artinya ," Katakanlah, aku beriman kepad Allah kemudian istiqamah-lah", Secara bahasa , istiqamah berarti lurus (al-I'tidal). Sebegaimana dalam kalimat aqamasy syai-a was taqama (lurus dan mapan). Secara syariat istiqmah diartikan sebagai meniti jalan yang lurus dalam agama yang lurus, tanpa menyimpang kekanan atau kekiri. Istilah istiqamah mencakup seluruh pelaksanaan ketaatan, baik yang terlihat maupun tersembunyi dan meninggalkan yang dilarang (jmi'ul 'ulum wal hikam).Beberapa ulama mendefinisikan istiqamah , Ibn 'Abbas dan Qatadah ( dalam tafsir Ibn Katsir tahqiq Sami bin Muhammad as-salamah, menyatakan berlaku luruslah dalam melaksanakan hal-hal yang diwajibkan.
Qadhi 'Iyadh dalam Syarh shahih Muslim, menyatakan maksudnya , mereka men-tauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya kemudian berlaku lurus, tidak menyimpang dari tauhid dan selalu iltizam (konsekuen) dalam melakukan ketaatan.
Al-Qusyairi dalam Syarhul arba'in libni Daqiqi 'ied , menyatakan bahwa istiqaamah adalah sebuah derajad, dengannya berbagai urusan menjadi sempurna dan berbagai kebaikan dan keteraturan bisa diraih. Maka barang siapa yang tidak istiqamah dalam kepribadiannya maka dia akan gagal atau sia-sia. Dan istiqamah tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang besar, karena ia keluar dari hal-hal biasa, meninggalkan adat kebiasaan, dan berdiri dihadapan Allah dengan jujur.
Imam Nawawi dalam Bahjatun Nazhirin , Syarh Riyadus Shalihin, menyatakan bahwa para ulama menafsirkan istiqamah dengan tetap keonsisten dan konsekuen dalam ketaatan kepada Allah.

Istiqamah bisa dimasukkan dalam pengertian bahwa mengikhlaskan amalan (kegiatan) semata-mata hanya karena Allah dan melaksanakan ketatatan sesuai dengan syariat-Nya ( al HAfish Ibn Katsir).
Sebagaimana firman-Nya, yang artinya ," Sesungguhnya orang-orang berkata, 'Rabb kami adalah Allah'. Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dan berkata)," janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati , dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan kepadamu ", (Qs. Fushshilat : 30).
Ini sungguh merupakan kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang istiqamah. Istiqamah juga diartikan sebagai kesabaran meniti jalan agama yang lurus dengan tidak melenceng kekanan dan kekiri.

Sebagaimana Allah memerintahkan Rasulullah dan para pengikitnya agar selalu beristiqamah diatas jalan-Nya yang lurus.
Firman-Nya, yang artinya ," Maka tetaplah engkau (Muhammad) dijalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersama-mu, dan janganlah kamu melampui batas. Sungguh , Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan ," (Qs. Hud : 112).

Ibn Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa Allah memerintahkan Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman agar teguh dan selalu istiqamah karena itu merupakan sebab untuk mendapatkan pertolongan yang besar dan mengalahkan musuh dan dapat menghindari bentrokan serta terhidar dari perbuatan melampui batas. Dan tentu , Allah Maha Melihat (semua) perbuatan-perbuatan hamab-hamab-Nya, Allah tidak lalai dan tidak ada sessuatu pun yang dapat bersembunyi dari-Nya.

Saudaraku, dsaar dari istiqamah adalah ke-istiqamah-an hati ddiatas tauhid. Jika hati istiqamah maka seluruh anggota tubuhnya ikut istiqamah. Dan anggota tubuh yang perlu mendapat perhatian setelah hati yang istiqamah adalah lisan. Karena lisan adalah media untuk mengungkapkan apa yang tersimpan dalam lubuk hati. Lisan harus dijaga , karena seringkali terlontar ucapan yang dianggap sepele nemaun mengakibatkan pengucapnya menjadi celaka.

Sungguh berat menjaga istiqamah lisan. Sebagaiman sebuah hadits yang meriwayatkan, ketika Sufyan bin 'Abdillah bertanya , Ya Rasulullah, apa yang engkau khawatirkan padaku ?
Rasulullah menjawab ," Ini", sambil memegang ujung lidah beliau".

Seorang hamba baru bisa dikatakan istiqamah , apabila lisannya dapat istiqamah dalam ketatatan atau tidak mengucapkan perkataan yang mendatangkan dosa maupun murka Allah.
Sebagaimana riwayat Abu Sa'id dia memarfu'kannya kepada Rasulullah, bahwa Rasulullah bersabda , yang artinya ," Jika anak Adam berada di pagi hari, seluruh organ tubuh merendahkan diri kepada Allah dengan berkata, ' bertaqwalah kepada Allah pada kami, karena kami bersamamu. Juika engkau istiqamah, kami juga istiqamah. Jika engkau menyimpang, kami juga menyimpang". (Hasan, HR Ahmad III/95-96, at-Tirmidzi 2407, Ibn Abid Dunya dalam Kitabush Shamt 12. Ibnus Sunni dalam 'Alalu Yaum wal lailah dst).

Saudaraku, sungguh menjaga lisan adalah pekerjaan yang penuh tanggungjawab, sebagaimana Allah berfirman, yang artinya ," Tidak ada suatu kata yang diucapkan melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat) ," (Qs. Qaf : 18).

Semua ucapan kita akan tercatat rapi, untuk kita harus berhati-hati dalam berkata-kata. Sungguh beruntung seorang hamba yang sanggup menjaga lisannya dalam kebaikan, sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ," Aku menjamin dengan sebuah istana yang terdapat di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar ; aku menjamin dengan sebuah istana yang terdapat di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia hanya bercanda ; dan aku menjamin dengan sebuah istana di surga yang tertinggi bagi orang yang memperbagus akhlaknya ," (Hr abu Dawud, 4800, al Baihaqi dalam as-sunatul kubra ,X-249 dari sahabat Abu umamah).

Allahu a'lam
Sumber : Ust Yazid bin Abdul Qadir Jawas, as-sunnah 1430.

Pikirkan negatif ke orang lain justru lukai diri

Bila kita koreksi diri dengan mengingat kembali apa yang telah kita pikirkan hari-hari ini, mulai dari bangun tidur sampai saat ini. Berapa banyak hal sia-sia yang telah kita pikirkan. Sering kita menemui seseorang yang mengeluhkan nasibnya. Bahkan juga kita terhinggapi untuk berpikir negatif terhadap orang lain. Dalam sunatullah bisa terjawab bahwa apabila kita berpikir negatif terhadap orang lain, maka energi negatif itu akan memantul dan melukai diri kita sendiri. Sebagaimana pepatah , siapa menggali lubang maka dia sendiri terperosok kedalamnya. Dalam huku itu dikatakan bahwa kita tidak dapat dilukai kecuali apabila kita memanggilnya dalam keberandaan kita dengan memancarkan pikiran dan perasaan negatif itu.
Berpikir negatif adalah candu . Kecanduan itu adalah dampak dari jiwa yang labil dan negatif hingga mendorong orang untuk berusaha menghindar darinya. Kita manusia tidak bisa terhindar dari kemungkinan berpikir negatif namun yang tidak dibenarkan adalah mempertahankan sesuatu yang negatif dan mengulanginya hingga menjadi kebiasaan. Kepribadian yang negatif akan lebih sering meyakini kegagalan daripada keberhasilan. Bayangan kegagalan selalu menyelimuti pikiran. Ia akan melihat orang lain dari sisi negatifnya.
Adapun pikiran negatif bia menghadapi masalah maka tindakannya lebih mengarah pada mempertegas sesuatu daripada menyelesaikan persoalan itu.Jadi yang menjadi masalah yang sebenarnya adalah ada dalam dirinya sendiri.

Bila anda memandang kembali hidup anda dan berfokus pada kesulitan dimasa lalu, anda hanya mendatangkan lebih banyak situasi sulit bagi anda saat ini. Lepaskan lah semuanya , terlepas dari apapun kesulitan itu. Kita lakukan pada diri kita sendiri. Jika kita mendendam atau menyalahkan seseorang untuk sesuatu di masa yang telah lalu, berarti kita hanya akan meukai diri sendiri. Pikiran negatif akan cenderung untuk menyalahkan orang lain , ia tidak mau bertanggungjawab atau bahkan melemparkan tanggung jawab ke orang lain.Andalah satu-satunya pihak yang dapat menciptakan kehidupan yang pantas bagi anda.

Ketika anda berfokus pada apa yang anda inginkan, ketika anda mulai memancarkan perasaan-perasaan yang baik, maka hukum tarik menarik akan merespon. Yang diperlukan hanyalah memulai, dan ketika kita memulai maka keajaiban karunia Tuhan segera muncul. Berpikirlah positif sehingga menimbulkan kepribadian positif. Kepribadian positif adalah kepribadian yang beriman kepad aAllah, tawakal kepada-Nya dan meminta pertolongan-Nya setiap waktu.

Sebagaimana firman-Nya, yang artinya ," Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tawakal kepada-Nya, " (Qs. Ali Imran : 159).

Sebuah fakultas di Universitas di San Francisco , tahun 1986, melakukan penelitian tentang hubungan pikiran dan tubuh. Dalam penelitian ini diteliti tentang hubungan antara merebaknya penyakit (fisik maupun kejiwaan)bila dikaitkan dengan pola pikiran seseorang. Disimpulkan bahwa lebih dari 95% penyebab munculnya penyakit adalah bersumber dari pikiran. Dimana selanjutnya tubuh merespon, respon inilah yang mempengarui keseimbangan tubuh.

Gangguan jiwa memang tidak ada batasnya. Karena pikiran negatif, seseorang harus mengalami penderitaan (yang seringkali orang itu tidak menyadarinya). Ia mengalami kegelisahan.Banyak contoh pikiran bahkan kepribadian yang negatif seperti ragu, was-was, emosional, dengki, benci dst adalah bersumber dari pikiran negatif. Menghindarlah dari pikiran negatif, karena pikiran itu akan menumpuk dan menyebar hingga menjadi kebiasaan yang akan menghalangi kita untuk mencapai kebahagiaan. Pikiran negatif (ke orang lain) justru mendatangkan masalah yang tiada berkesudahan. Dan tentu saja pikiran negatif akan menguatkan ego rendah dan semakin menjauhkan diri dari Allah.

Manusia memang sering berbuat salah, namun tidak dibenarkan adalah memper-tahankan sesuatu yang negatif dan mengulanginya menjadi kebiasaan (Eleanor Roosevelt) . Kemuliaan manusia terletak pada pikirannya (Pascal).

Hari ini adalah keputusan pikiran kita hari kemarin. Hari ini kita bergantung pada pikiran yang datang saat ini, esok kita ditentukan oleh kemana pikiran membawa kita. Mulai saat ini kita hendaknya berlatih berpikir positif, berupaya untuk selalu bersyukur atas karunia-Nya.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala urusan dan aku memohon kepada-Mu sikap lurus dan terpimpin. Dan aku memohon kepada-Mu agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu dengan sebaik-baiknya. Aku memohon kepada-Mu lisan yang benar, hati yang bersih. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa-apa yang Engkau ketahui dan aku memohon kepada-Mu ampunan dari apa-apa yang Engkau ketahui, karena hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib (Hr Tumidzi). Ya Allah, tiada tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau, hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan.

Allahu a'lam
Sumber bacaan : The secret dll..