*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Selasa, 20 April 2010

Unfinished emotion

unfinished emotion merupakan bentuk respons emosional terhadap apa yang kita persepsikan tidak adil yang terjadi di masa lampau. Bentuknya amat beragam, bisa berupa kebencian, kemarahan, sakit hati atau dendam.
Unfinished emotion dapat terjadi karena manusia tidak segera atau tidak mau menyelesaikan permasalahan emosinya. Manusia tidak mau menerima masa lalu atau memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Emosi itu bertumpuk sedemikian rupa dalam waktu yang lama. Manusia biasanya dapat bertahan karena ia melakukan mekanisme penyangkalan. Mekanisme ini berfungsi ibarat obat simtomatis yang hanya dapat meringankan gejala, tetapi tidak menyembuhkan. Cara ini mungkin efektif hanya sesaat dan sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan.

Sesungguhnya, akibat dari menahan emosi dan memendam rasa tentu akan berakibat pada kesehatan pschychologis seseorang, akan tetapi cara anda dengan berdiam diri dan menghindar dari faktor yang memicu emosi tadi adalah suatu cara yang dapat dikategorikan dengan cara yang tepat, sehingga bisa membuat anda cooling down atau mengurangi ketegangan yang terjadi, hanya saja perlu ditambahkan umpama emosi yang terjadi harus disalurkan secara sadar ke tempat lain.

Menurut Ernie Larsen, pada saat kita merasakan, menyimpan dan menahan emosi di masa lalu saat itulah terjadi suatu siklus unfinished emotion.
Dio Martin dalam Emotional Quality Management prosesnya adalah seperti ini : Mula-mula ada peningkatan persepsi mengenai ketidakadilan atau ketidaknyamanan yang mencetuskan amarah, benci, dendam maupun sakit hati.
Kejadian inilah yang disebut unfair trigerred events. Selanjutnya akan muncul respons dalam diri kita yang menolak atau mempertanyakan, “Kok tega-teganya dia melakukan itu padaku”. Kecenderungannya, kita mengatakan yang membenarkan perasaan tidak nyaman kita dan menolak kejadian tersebut.

Perasaan yang tidak nyaman akan berkembang menjadi energi kemarahan, kebencian dan dendam yang akumulatif dan meningkat. Proses pembenaran terhadap ketidak-adilan tersebut akan semakin menguat. Demikian seterusnya hingga siklus ini terus membesar menimbulkan medan energi negatif yang semakin besar.

Secara umum seseorang bisa saja menahan emosi yang tak terselesaikan ini, dengan melakukan beberapa usaha bentuk penyangkalan terhadap persoalan yang dihadapi.

Bentuk penyangkalan ini beragam.



  1. represi, dimana kita mengaburkan masalah atau berpura-pura tidak ada masalah. Ini adalah cara konyol yang hanya berujung pada penumpukkan masalah di alam bawah sadar kita.

  2. pengalihan dan penghindaran. Contohnya, menenggelamkan diri kita asyik membaca koran saat ada sesuatu yang harus dilakukan. Penghindaran terhadap masalah kecil hanya membuat masalah itu berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Dan saat itu akan semakin sulit kita mengontrolnya.

  3. proyeksi. Hal ini terjadi ketika emosi kita memuncak dan melampiaskan- nya pada benda atau orang lain yang sering tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan permasalahan kita.

  4. perilaku menyamankan. Kita melakukan perilaku yang membuat kita nyaman untuk sementara. Yang paling sering adalah makan, ngemil, dan tidur, atau hal-hal kecil lainnya seperti menggigit pena.

Selanjutnya , sebenarnya bagaimana untuk menghilangkan unfinished emotion ini ?
Untuk menyelesaikan persoalan ini, terdapat beberapa kata kunci. Kunci yang membuka pintu ruang jiwa.Terdapat sebuah kunci yang merupakan kekuatan besar, yaitu…

Memaafkan (forgiveness).
Kata maaf, memang lebih mudah diucapkan dibanding diterapkan. Karena perasaan terluka terkadang meninggalkan bekas tersendiri. /saudaraku ,kita tidak sendiri. Berjuta-juta orang pun pernah terluka, karena memang itulah wajah kehidupan. Kadang senyum, kadang memaki. Sama sekali tidak ada yang salah dengan luka itu, karena itu hanya membuktikan bahwa kita benar-benar menjalani sebuah kehidupan.

Ibnu Qudamah dalam Minhaju Qashidin menjelaskan bahwa makna memberi maaf di sini ialah sebenarnya engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menun-tut qishash atasnya atau denda atau pembalasan kepadanya.

Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan, bahwa kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran alafwu yang berarti "menghapus" karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya.
Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahaf "masih menahan amarah". Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain.
Saudaraku, memaafkan orang yang pernah melukai kita adalah kunci pembuka pintu kebahagiaan yang utama, dan tentu perbuatan yang sangat berat untuk dijalani. Memaafkan orang lain membutuhkan sebuah ketulusan yang luar biasa, karena mungkin sebenarnya kita bisa membalas tindakannya.

Saudaraku memaafkan orang lain sebenarnya bukanlah untuk musuh kita, melainkan untuk diri sendiri, untuk kebahagiaan kita.
Dr. Frederic Luskin dalam bukunya, Forgive for Good , menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.

Sebaliknya, kebencian adalah pencuri yang dapat mencuri saat bahagia kita. Kebencian adalah kegelapan yang dapat meredupkan cahaya kebahagiaan dalam hati kita. Kebencian adalah mesin penyakit yang mengundang kesengsaraan bagi jiwa dan jasad kita. Kebencian adalah kesesakkan di alam jiwa kita yang dapat melahirkan tindakan kekanak-kanakan, merusak, dan menghancurkan jiwa kita sendiri.

Dendam yang masih berdiri kukuh dalam hati kita mungkin menghalangi kita dari kebahagiaan. Dendam itu selalu mencari-cari pembenaran. Dendam itu mungkin telah melahirkan sedemikian banyak aksi yang tidak seperlunya. Dan sekali lagi… kita mencari-cari pembenarannya. Pembenaran-pembenaran ini justru sesungguhnya hanya memenjarakan kita, semakin mempersempit ruang gerak kita.

Ibarat pupuk, pembenaran-pembenaran yang kita buat itu sebenarnya membuat dendam terus tumbuh berakar dalam hati kita. Pembenaran-pembenaran itu sendiri sebenarnya adalah tanda bahwa jiwa kita jauh dari kedamaian, karena perasaan emosi bisa datang kapan saja dan dimana saja. Jika disadari, pembenaran itu tidak pernah kalah apalagi mengalah. Karena pembenaran itu sebenarnya manifestasi dari ego kita, ego yang lama terpojok, terhina, terluka, dan terpinggirkan. Sekarang ia menunjukkan kekuatannya. Ia ingin berontak. Hanya sayangnya, ego tidak hanya memberontak, tapi juga ingin membalas.

Memaafkan membutuhkan sikap yang sangat besar. Kerelaan, menerima dan ikhlas merupakan sikap yang luhur dan mulia. Tak kan melahirkan sebuah pemaafan jika sikap yang mulia tersebut tidak dimiliki tergabung sepenuhnya. Memaafkan adalah akhlak langit yang luar biasa indah. Memaafkan juga adalah salah satu tiang kukuh dalam bangunan takwa.

Seseorang yang sanggup memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang muttaqin.


Sebagaimana Allah SWT berfirman, yang artinya "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Al-Imran: 133-134).

Saudaraku janganlah kita melakukan pembenaran atas kesalahan atau kezaliman yang pernah kita lakukan. Pembenaran yang dipertahankan, tidak pernah, dan tidak akan pernah mengembalikan perasaan yang terluka menjadi sembuh, Justru menambah luka lain yang semakin besar. Hanya dengan memaafkan luka itu mewujud kebijaksanaan dan meraih titik yang meringankan dan mencerahkan jiwa.

Sungguh , Allah memberikan karunia yang agung kepada kita untuk menjadi manusia yang mudah meminta maaf dan memaafkan .

Dari Uqbah bin Amir, Bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang artinya "wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu." (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Saudaraku, sesaat ketika melakukan pembebasan Makkah (Fardhu Makkah), dan dihadapan orang-orang yang selama 23 tahun gigih memusuhinya, Rasulullah berkata , yang artinya "Wahai orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu sekalian apa kira-kira yang akan aku perbuat terhadapmu sekarang?
Mereka, menjawab : "Yang baik-baik. Saudara kami yang pemurah. Sepupu kami yang pemurah."
Mendengar jawaban itu Nabi kemudian berkata: "Pergilah kamu semua, sekarang kamu sudah bebas."

Ketika Matsah yang kehidupannya dibiayai oleh Abu Bakar , justru membalasnya menyebarkan gosip yang menyangkut kehormatan putri Abu Bakar (Aisyah yang juga istri Nabi).
Kemarahan Abu Bakar memuncak hingga ia bersumpah tidak akan membiayainya lagi. Tapi, Allah melarangnya sambil menganjurkan untuk memberika maaf dan berlapang dada.(Q.S. an-Nur : 22).

Begitulah teladan yang telah dicontoh Rasulullah , dan para sahabat tentang arti memaafkan. “Memaafkan adalah sebuah perjuangan. Kendalikan emosi Anda dan belajarlah untuk menjadi hamba yang pemaaf.

Allahu a’lam

Sumber: http://alfach.com



Minggu, 18 April 2010

Cinta Allah kepada hamba-Nya

Cinta adalah dermaga akhir dari semua kapal pengharapan dan angan-angan. Cinta diibaratkan sebagai kepala, sedangkan raja’ (harapan) dan takut adalah sayapnya. Seorang hamba dengan berbekalkan rasa cinta dan rasa takut dan harap akan mampu berjalan menuju Allah SWT.
Cinta adalah energi, penyejuk pandangan dan kebahagiaan nurani, cahaya akal dn pelipur lara. Kemuliaan seorang hamba akan diperoleh saat ia mencintai Allah. Secara bahasa cinta adalah terjemahan dari Mahabbah.
Mahabbah berasal dari kata Al-Hubb, ada literatur lain menyatakan berasal dari kata Shafa (bening dan bersih). Ada yang menyatakan berasa dari kata Al-Habab (air jernih yang meluap saat turun hujan).

Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa mahabbah berasal dari kata Al-Habbu, yang berarti biji pohon dan asal muasalnya. Atau berasal dari kata Al-Hibb , yang berarti gelas besar untuk mencampur bahan-bahan yang banyak. Atau berasal dari kata Habbatul Qulub atau buah hati , dimana cinta itu sampai ke buah hatinya.
Beberapa tanda cinta Allah Yang Maha Pencipta kepada hamba-hamba-Nya adalah :






  1. Allah mengarahkan hamba-Nya dengan mendidik dan membibingnya semenjak kecil dengan cara yang terbaik.
    Allah telah menuliskan iman didalam hatinya, menerangi akalnya. Allah telah memilihnya karena cinta dan membersihkannya agar beribadah, lisannya senantiasa berzikir dan anggota badannya bergerak dalam ketaatan. Allah juga menimpakan rasa takut dari semua perbuatan yang menjauhkan dirinya dengan Allah. Allah memberikan kemudahan untuk hamba-hamba yang dicintai-Nya dengan memudahkan segala urusannya tanpa harus merendahkan diri dihadapan makhluk laiinya.


  2. Keberadaan seorang hamba yang diterima oleh penduduk bumi. Maksudnya adalah semua hati manusia menerima, mencintai, ridha dan memuji keberadaan hamba yang dicintai Allah.
    Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,”Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, Dia memanggil jibril dengan berkata ,” Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia, kemudian jibril mencintainya “.
    Lalu /jibril menyeru ke seluruh langit, dengan berkata ,” sesungguhnya Allah mencintai si fulan, karenanya cintailah ia. Maka penghuni langitpun mencintainya.
    Lalu orang tersebut didudukkan sebagai orang yang diterima di bumi.
    Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Allah memanggil jibril , sesungguhnya Aku membenci si fulan, karena bencilah ia, maka jibril pun membencinya.
    Lalu ia menyeru kepada seluruh penghuni langit bahwa sesungguhnya Allah membanci si fulan, karenanya bencilah ia. Lalu orang tersebut didudukkan sebagai orang yang dibenci di muka bumi “. (Hr Bukhari Muslim).


  3. Allah memberinya ujian.
    Sebagaimana Allah berfirman, yang artinya ,” Dan sesungguhnya benar-benar Kami akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu, dan agar Kami menyatakan baik buruknya hal ikhwalmua”, (Qs. Muhammad : 31).
    Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Sesungguhnya besarnya balasan berhubungan dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum. Dia akan mengujinya, maka barangsiapa ridha, Allah pun ridha, dan barangsiapa murka, maka Allah pun murka “,
    Saudaraku ketahuilah bahwa Allah menguji hamba yang dicintai-Nya dengan beragam ujian, hingga dosanya terhapus sehingga tidak lagi disibukkan dengan urusan-urusan dunia yang membelenggu. Allah akan sangat cemburu apabila hamba yang dicintai-Nya sibuk dengan selain-Nya.
    Saudaraku, ketika kita sakit, atau tertimpa musibah, maka kita akan makin banyak mengingat Allah sehingga tidak lagi disibukkan dengan urusan gemerlapan dunia, disamping hal ini akan menjauhkan diri hamba-Nya dari perbuatan maksiat.
    Allah akan menguji hamba-Nya dengan himpitan hidup, keruwetan urusan , atau kekerasan penduduk dunia, agar Allah mengetahui kejujuran dan kesungguhan dalam berjuang.
    Saudaraku, ujian Allah SWT kepada hamba-Nya disesuaikan dengan kadar keimana dan kecintaan Allah kepada hamba tersebut.
    Sebagaimana ketika Sa’ad ibn Abi Waqqas berkata, ‘ Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?’
    Rasulullahmenjawab , yang artinya ,” Para Nabi , kemudian setelahnya dan setelahnya. Allah SWT menguji seorang hamba sesuai kadar keimanannya, apabila agamanya kuat dan kokoh, ujiannya semakin berat, dana apabila agamanya lemah, Dia menguji sebatas kadar agamanya. Dan ujian akan terus ada pada seorang hamba samapi ia meninggalkannya berjalan dimuka buni tanpa ada kesalahan sedikitpun pada dirinya ,” (Hr Tirmidzi, Al-Albani menyatakan hasan shahih).
    Diriwayatkan , Sai’d Al-Khudri ra, berkata, ‘suatu ketika saya menemui Rasulullah Muhammad SAW, pada saat terserang demam. Aku merasakan panasnya saat meletakkan tanganku diatas selimutnya, kemudia aku berkata ,’ Ya Rasulullah , alangkah berat ujianmua ?’
    Beliau menjawab, yang artinya ,” Demikianlah ujian akan dilipatkan kepada kami dan juga pahal dilipatkan untuk kami”.
    Saya bertanya ,’ Ya Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya ?’.
    Beliau menjawab, yang artinya ,” Para Nabi”.
    Saya bertanya lagi,’ Kemudian siapa ya Rasulullah ?’.
    Beliau menjawab, yang artinya ,” Orang-orang shalih, apabila salah seorang dari mereka diuji dengan kefakiran sampai ia tidak mendapati selain jubah (pakaian) yang menutupinya, dan apabila salah seorang mereka berbahagia dengan ujian sebagaimana salah seorang dari kalian bahagia dengan kelapangan “, (Hr. Ibn Majah , dan dishahihkan Al-Albani).


Allahu a’lam
Sumber : Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid سلسه ٵعما ل ا لقلو ب



Rabu, 14 April 2010

Hanya Allah yg menyembuhkan

Saudaraku, sakit yang menimpa seorang hamba sesuai dengan ketentuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Dia-lah yang mampu mengangkat penyakit itu. Semua dari Allah segala cobaan, maka hanya dari Allah jualah segala kesembuhan.
Sebagaimana firman-Nya dalam kisah Nabi Ibrahim AS,
و إذا مرضت فهويشفين
“ Dan Apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku”. (Qs. As-Syua’ra : 80).
Kita harus berdoa dengan merendahkan diri di hadapan-Nya semoga Dia memberi kesembuhan dan mengangkat penyakit kita.

Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Dekat dan Meha Menjawab segala doa, Dia mencintai hamba-Nya yang memohon kepada-Nya. Dan pasti membalas permohonan kita dengan pahala yang agung.

Sebagaimana firman-Nya , yang artinya ,” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) –Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku , agar mereka selalu berada dalam kebenaran ,” (Qs. Al-Baqarah : 186).

Sebagaimana firman-Nya , yang artinya ,” Atau siapakah yang memperkanankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan “, (Qs. An-Naml : 62).

Saudaraku, banyak sekali bukti bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu amat dekat dan mengabulkan doa-doa kita. Sesungguhnya doa itu dapat menyebabkan tertolaknya bala’ sebelum turun dan mengangkatnya setelah bala’ itu turun.

Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Doa memberikan manfaat terhadap sesuatu yang belum terjadi maupun yang sudah terjadi, maka hendaklah kalian wahai hamba-hamba Allah untuk selalu berdoa “, (Hr Turmudzi).1*.

Dari Salman ra, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali perbuatan baik ,” (Hr Turmudzi).2*

Dari Tsauban ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Tidak ada yang bertambah dalam usia kecualikebaikan, tidak ada yang menolak takdir kecuali doa, seorang mencegah rizkinya dengan dosa yang ia lakukan ,” (Hr Ahmad , Ibn Majah dan Hakim). 3*

Saudaraku bersabarlah ketika menghadapi kesulitan, dan mari kita berdoa, sebagaimana Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman , menyatakan bahwa Abu Darda’ berkata , siapa yang paling banyak mengetuk pintu , maka pintu akanpasti dibukakan untuknya, dan siapa yang paling banyak berdoa maka akan lebih banyak kesempatan doanya dikabulkan.

Allahu a'lam

Sumber : Abdullah bin Ali al-Juatisin , hukum-hukum seputar orang sakit.

Catatan :
1. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, 5/516 hadits no.5348 , Al-Hakim 1-493. Al-Albany menggolongkan kedalam hadits hasan dalam Shahih Al Jami’ no.3409. terdapat riwayat yang lemah dalam hadits ini, pertama dari Mu’adz dari Ahmad 5-234, sedangkan yang kedua dari Aisyah menurut Al Hakim 1-492. Sedangkan menurut banyak riwayat, hadits ini tergolong hasan.
2. Dikerluarkan At-Tirmidzi 4-390 no. 2139, hasan menurut At Tirmidzi, demikian juga dalam Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ 7687.
3. Diriyatakan Ahmad 5-277, 280 dan 282, Ibn Majah 2/1334 no. 4022, Al-Hakim 1-493, dishahihkan dan disetujui Az Zahabi. Al Iraqi dalam Qurratul’ain bi Al-Masarrah bi wafa’ ad-Din 36, ini shahih. Al Bushiry dalam Misbah Az-Zujajah 4-187, sanad hadits ini hasan. Ibn Hibban mensahihkan dalam Al Ihsan no872.




Selasa, 13 April 2010

Kemuliaan Rawatib

Secara bahasa berarti jalan, menurut fiqih yaitu suatu perbuatan yg berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa bila ditinggalkan..
Shalat Sunnat atau shalat nawafil (jamak : nafilah) adalah shalat yang dianjurkan untuk dilaksanakan namun tidak diwajibkan dengan kata lain apabila dilakukan dengan baik dan benar serta penuh ke ikhlasan akan tampak hikmah dan rahmat dari Allah taala yang begitu indah . Melaksanakan sunnah adalah salah satu realisasi cinta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Meniru dan meneladani sebagai bukti cinta, di antaranya diukur dengan kesungguhan meneladani ucapan dan tindakan beliau.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, menyatakan shalat sunnah Rawatib , sebagai shalat yang terus dilakukan secara kontinyu mendampingi shalat fardhu.Jadi : “Faidah Rawatib ini, ialah menutupi (melengkapi) kekurangan yang terdapat pada shalat fardhu”.

Syaikh ‘Abdullah Al-Basam mengatakan dalam Ta’udhihul Ahkam (II/383-384) bahwa shalat sunnah Rawatib memiliki manfaat dan keuntungan yang besar. Yaitu berupa tambahan kebaikan, menghapus kejelekan, meninggikan derajat, menutupi kekurangan dalam shalat fardhu. Sehingga Syaikh al-Basam mengingatkan, menjadi keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan menjaga kesinambungannya.

Saudaraku , begitu pentingnya, maka Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat sunnah ini kecuali ketika beliau dalam perjalanan. Kalaupun tertinggal karena lupa, sakit atau tertidur, beliau meng-qadha’nya. Keistimewaan shalat sunnah rawatib adalah merupakan penambal kekurangan dan kesalahan seseorang ketika melaksanakan shalat fardlu. Karena manusia tidak terlepas dari kesalahan, maka ia membutuhkan sesuatu yang dapat menutupi kesalahannya tersebut.

Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani , menyebutkan keutamaan-keutamaan shalat sunnah (rawatib) dalam “Himpunan dan Tata Cara Shalat Sunnah” karya yang diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan.

Dari Ummu Habibah -Radhiyallahu ‘anha-, Istri Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ
“Setiap hamba muslim yang shalat sunnah setiap harinya duabelas rakaat, selain shalat wajib, pasti Allah bangunkan untuknya rumah di dalam surga, atau dibangunkan untuknya satu rumah di dalam surga.” (Kemudian) Ummu Habibah -Radhiyallahu ‘anha- berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” (HR. Muslim, no. 728).

Shalat sunnah Rawâtib , yang, baik sebelum maupun sesudah shalat wajib . Ada yang mendefinisikannya dengan shalat sunnah yang ikut shalat wajib.[1]
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin mengatakan, yaitu shalat yang terus dilakukan secara kontinyu yang mendampingi shalat fardhu.[2]

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya ,“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb 'Azza wa jalla berfirman: "Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu' (shalat sunnah)?" Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian” [Hr At-Tirmidzi] [3]

Saudaraku , fungsi utama shalat sunnah Rawâtib adalah untuk menutupi kekurang-sempurnaan yang melanda shalat wajib seseorang. Karena sangat sulit mendapatkan kesempurnaan dari shalat wajib saja ,

Sebagaimana Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya ,“Sesungguh-nya seseorang selesai shalat dan tidak ditulis kecuali hanya sepersepuluh shalat, seper-sembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempat-nya sepertiganya, setengahnya” [HR Abu Dawud dan Ahmad] [4]

Hadits riwayat Ummu Habîbah, yang artinya ,"Tidaklah seorang muslim shalat karena Allah setiap hari dua belas raka'at shalat sunnah, bukan wajib, kecuali akan Allah membangun untuknya sebuah rumah di surga” [5]

Jumlah raka'at ini ditafsirkan dalam riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasâ-i, dari hadits Ummu Habibah sendiri, bahwa “Ummu Habibah berkata,"Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda :'Barang siapa yang shalat dua belas raka'at maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga; empat raka'at sebelum Zhuhur dan dua raka'at setelahnya, dua raka'at setalah Maghrib, dua raka'at sesudah 'Isya`, dan dua raka'at sebelum shalat Subuh."

Dalam riwayat lain dengan lafazh : “Barang siapa yang terus-menerus melakukan shalat dua belas raka'at, maka Allah membangunkan baginya sebuah rumah di surga” [HR An-Nasâ-i] [6]

Saudaraku, sungguh indah bila kita membiasakan dan secara rutin agar kita mengerjakan shalat dua belas raka'at tersebut setiap hari. Sehingga, siapapun yang membiasakan diri melakukan sunnah-sunnah Rawâtib ini, ia termasuk dalam keutamaan tersebut.

Sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu 'Umar berikut ini,” “Aku hafal dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam sepuluh raka'at: dua raka'at sebelum Zhuhur dan dua raka'at sesudahnya, dua raka'at setelah Maghrib, dua raka'at setelah 'Isya, dan dua raka'at sebelum shalat Subuh. Dan ada waktu tidak dapat menemui Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam . Hafshah menceritakan kepadaku, bila muadzin beradzan dan terbit fajar, beliau shollallahu 'alaihi wa sallam shalat dua raka'at.” [7]

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim terdapat tambahan lafazh.“Dan dua raka'at setelah Jum'at. Adapun (shalat sunnah Rawatib) Maghrib dan 'Isya dilakukan di rumahnya” [8]

Hadits riwayat Muslim berbunyi. “Adapun (shalat sunnah Rawâtib) Maghrib, Isya dan Jum'at, aku lakukan bersama Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam di rumahnya” [9]


Adapun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan-keutamaan shalat sunnah rawatib antara lain:



  1. Hadits Ummu Habibah ra, berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:“Barangsiapa menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sesudah Zhuhur, akan Allah haramkan dirinya dari Neraka.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (VI/326))

  2. Hadits Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :“Semoga Allah memberi rahmat kepada seseorang yang shalat sunnah sebelum Ashar empat rakaat.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (II/117).

  3. Diriwayatkan ‘Aisyah ra, bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda:“Dua rakaat sunnah Fajar (Shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab: Dianjurkanya shalat dua rakaat sebelum Shubuh, no. 725).

JUMLAH RAKA'AT SUNNAH RAWÂTIB
Dalam masalah jumlah raka'at sunnah Rawatib ini, di kalangan para ulama ada perbedaan pendapat, yang terbagai dalam dua pendapat.



  1. Ada yang menyatakan jumlah raka'atnya adalah sepuluh dengan dasar hadits Ibnu 'Umar ra, dan ini pendapat para ulama madzhab Hambaliyah dan Syafi'iyyah.[10]

  2. Ada yang menyatakan jumlah raka'atnya ialah dua belas, berdasarkan hadits Ummu Habibah di atas, dan inilah pendapat madzhab Hanafiyyah dan Ibnu Taimiyyah.[11]

  3. Ada yang menyatakan tidak ada batasan jumlah raka'at, bahkan cukup dengan melakukan dua raka'at dalam setiap waktu untuk mendapatkan keutamaan shalat sunnah Rawatib, dan ini pendapat madzhab Malikiyyah.

  4. Ada yang menyatakan jumlah raka'atnya delapan belas, ini pendapat Imam asy-Syairazi dan disetujui Imam an-Nawawi dalam al-Majmû' Syarhul-Muhadzdzab. Pendapat ini berdalil dengan hadits Ummu Habibah di atas, serta hadits Ummu Habibah lainnya yang berbunyi:“Aku mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Barang siapa yang menjaga empat raka'at sebelum Zhuhur dan empat raka'at setelahnya maka Allah mengharamkannya dari neraka." [12]

  5. Dari Ibnu 'Umar ra,bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat sebelum 'Ashar empat raka'at".[13]

  6. Menurut Imam Nawâwi, yang paling sempurna dalam Rawatib yang mendampingi shalat fardhu selain witir, adalah delapan belas raka'at, dan paling sedikit adalah sepuluh, sebagaimana yang beliau sebutkan.

  7. Di antara ulama ada yang berpendapat delapan raka'at dengan menghapus sunnah Isya'; (demikian) ini pendapat al-Khudari.

  8. Dan ada yang menyatakan bahwa jumlahnya dua belas, (yaitu) dengan menambah dua raka'at lain sebelum Zhuhur, dan

  9. ada yang menambah dua raka'at sebelum shalat 'Ashar. Semua ini sunnah, namun perbedaan pendapat ada pada yang muakkad (yang lebih ditekankan) darinya.[14]

Saudaraku, sungguh sayang bila kita melewatkan shalat ini . Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua sehingga istiqomah melaksanakan shalat sunnah rowatib.


Allahu a'lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183.telp.0271-5891016], Izzudin Karimi, Rujukan utama Sunan Majhulah Abdul Ilah Abdurrahman Salamah. Oleh Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia sumber file al_islam.chm
Catatan :
[1]. Shahîh Fiqhis-Sunnah, Abu Mâlik Kamâl bin as-Sayyid Sâlim, al-Maktabah at-Taufiqiyyah, Mesir, tanpa cetakan dan tahun (1/372).
[2]. Syarhul-Mumti' 'ala Zâdil-Mustaqni', Syaikh Muhammad bin Shalih al- 'Utsaimin, Tahqîq: Dr. Khâlid al-Musyaiqih dan Sulaimân Abu Khail, Muassasah Âsâm, Cetakan Kedua, Tahun 1414 H (3/93).
[3]. HR At-Tirmidzi no. 413 dan Ibnu Majah no. 1425. Dishahihkan Al-Albani dalam shahih Al-Jami Ash-Shaghir no. 2020
[4]. HR Abu Daud no. 796 dan dihasankan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud dan Shahih at-Targhib Wa at-Tarhib no. 537
[5]. HR Muslim, kitab Shalat al-Musâfir wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah Qablal-Farâ-idh wa Ba'daha, no. 1199.
[6]. HR An-Nasa’i no. 1804 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i. (Lihat no. 1804 no. 1804, 261 dan 1696)
[7]. HR al-Bukhari, kitab Tahajjud, Bab: ar-Rak'atain Qablal-Zhuhur (no. 1180), dan Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah (no. 729).
[8] HR al-Bukhari, kitab Jum'at, Bab: Tathawwu' Ba'dal-Maktubah (no. 1120), dan Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah (no. 1200).
[9]. HR Muslim kitab Shalat al-Musafirîn wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah (no. 1200).
[10]. Syarhul-Mumti' (3/93) dan Shahih Fiqhis-Sunnah (1/372).
[11]. Ibid.
[12]. HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat (no. 428), Ibnu Majah, kitab ash-Shalat (no. 428), Abu Dawud, kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba' Qablal-Zhuhri wa Ba'daha (no. 1269) dan Ibnu Majah, kitab ash-Shalat was-Sunnah fiha, Bab: Mâ Jâ-a fiman Shalla Qablal-Zhuhri `Arba'an wa Ba'daha `Arba'an (no. 1160). Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Majah (1/191).
[13]. HR Ahmad dalam Musnad-nya (4/203), at-Tirmidzi dalam kitab ash-Shalat, Bab: Mâ Jâ-a fil-Arba' Qablal-'Ashr (no. 430), Abu Dawud dalam kitab ash-Shalat, Bab ash-Shalat Qablal-'Ashr (no. 1271), dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Abi Dawud (1/237).
[14]. Al- Majmu' Syarhul-Muhadzab, Imam an-Nawawi dengan penyempurnaan oleh muhammad Najîb al-Muthi'i, Dar Ihyâ-ut-Turats al-'Arabi, Beirut, Cetakan Tahun 1419H (3/502).
[15]. Syarhul-Mumti' (4/96).
[16]. HR al-Bukhari dalam kitab al-Jum'at, Bab: ar-Rak'ata-in Qablal-Zhuhri (no. 1110).
[17]. Zâdul-Ma'âd, Ibnul-Qayyim, Tahqiq: Syu'aib al-Arnauth, Mu-assasah ar-Risalah, Cetakan Kedua, Tahun 1418 H (1/298).
[18]. Ta-udhihul-Ahkâm min Bulughul-Maram, Syaikh 'Abdullah bin 'Abdur-Rahman al-Basâm, Maktabah al-Asadi, Mekkah, Cetakan Kelima, Tahun 1423 H (2/382-383).
[19]. Syarhul-Mumti' (4/96).