*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Senin, 12 April 2010

Mencari makna syukur

Firman Allah SWT, yang artinya ,” Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu “ Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri ; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”, (Qs Luqman : 12)
Sebagian ulama mengungkapkan bahwa kalimat ini diambil dari akar kata syakara yang berarti membuka. Kata tersebut merupakan lawan kata dari kafarat (kufur) yang berarti menutup atau melupakan nikmat dan menutupi segala rahmat yang dirasakan.
Sungguh tak terhitung nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Seringkali potensi ini membawa malapetaka bagi manusia itu sendiri. Hal ini terjadi bila seorang hamba tidak melengkapi potensi diri dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Tiada pernah dapat terhitung kemudahan yang Dia berikan, namun kita sering tidak mensyukuri dan justru mengingkari nikmat tersebut. Manusia juga amat rakus, berlaku aniaya, gemar membantah, kikir dan selalu merasa kekurangan.

Oleh karena itu, berawal dari syukur dan selalu mengawali hari dengan ungkapan syukur akan memberikan energi baru bagi kita untuk selalu melakukan kebaikan, kebaikan yang terus menerus, tidak berhanti oleh rintangan yang menghadang.
Akhirnya, hanya kebaikanlah yang mendiami benak dan hati seorang hamba.

Syukur dapat dimaknai sebagi membuka dan menyatakan kenikmatan. Kita membuka dan menyatakan kenikmatan kepada orang lain dengan lisan.
Sementara itu hakekat syukur adalah suatu kondisi dimana kita menggunakan nikmat Allah SWT untuk lebih taat beribadah kepada-Nya dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya.

Abu Said al-Kharraz mengungkapkan makna yang senada, yaitu ,”Syukur adalah bila kita mengakui nikmat kepada yang memberikan nikmat tersebut dan menyatakan rububiyah-Nya”.

Dalam kamus besar bahasa Arab, syukur diartikan sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an, syukur bermakna menyatakan segala pujian atas kebaikan yang diterima, dirasakan dan diikmati manusia dan didalamnya termasuk ke-ridha-an serta kepuasan, walaupun nikmat itu dirasakannya hanya sedikit.

Allah SWT menjanjikan kepada manusia didalam Al-Qur’an bahwa apabila seorang hamba bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat-Nya. Namun disisi lain, jika seorang hamba meng-ingkari nikmat yang diberikan Allah SWT, maka azab-Nya sungguh amat pedih.
Dalam kehidupan manusia, Allah SWT memberikan banyak ujian, baik berupa ujian kemudahan maupun kesulitan. Adakalanya kemudahan sering kita anggap sebagai nikmat, sesungguhnya merupakan ujian juga dari Allah. Pada dasarnya, apa yang kita syukuri adalah untuk kebaikan diri sendiri.

Jika kita mengingkari nikmat allah sekalipun, hal itu tidak membuat-Nya merugi barang sedikitpun , karena sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia.

Raghib al-Isfahani, seorang ulama ahli bahasa Al-Qur’an, menyatakan bahwa “ syukur mengandung gambaran tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan”.
Syukur juga memiliki arti membuka, maka bisa dianalogikan bahwa kekayaan itu akan datang apabila kita membuka diri untuk menerimanya.

Bila kita kufur (kafarat = menutupi) , menutupi diri dari menyongsong nikmat, maka bagaimana mungkin kita akan menjadi kaya ?

Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, yang artinya “ Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya terdapat sifat sombong, walaupun sebesar biji zarrah.” “ Ada oran laki-laki berkata,”Sesungguhnya seseorang itu suka berpakaian yang bagus dan sandal yang bagus pula”. Nabi saw bersabda,”Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia”. (Hr Muslim).

Setiap hari , mari kita berusaha mengawali hari dengan doa bangun tidur , wudhu, mendirikan shalat malam, shalat subuh, tilawah dsb. Semua itu sungguh akan memberikan energi yang lebih untuk mebuka lembaran hari dengan bersyukur. Rasa syukur yang kita persembahkan kepada Allah , itu menghampiri kita dalam wujud energi untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas ibadah yang indah.

Benar, walaupun kita , kehidupan kita serba terhimpit, mari kita usahakan awali setiap hari dengan bersyukur .


Firman Allah, yang artinya ,” Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu , dan bersyukurlah kepada-Ku , dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku “, (Qs. Al-Baqarah : 152).

Allahu a’lam

Sumber : Inilah rahasia bersyukur ,Rusdin S Rauf , Ummu Alif






Memahami suatu kegagalan

Orang bijak menyatakan bahwa , orang sukses adalah orang yang gagal berkali-kali , orang gagal adalah orang yang gagal sekali terus berhenti. Orang yang sebenar-benarnya gagal (gagal total) adalah mereka yang tidak pernah berani mencoba sama sekali
Apapun yang anda usahakan, tidak ada yang menjamin bisa sukses. Sementara itu jika anda tidak mulai mencoba maka sesungguhnya anda telah benar-benar gagal. Ketika telah memulai usaha, apapun hasilnya, anda telah melangkah menuju sukses. Seharusnya inilah filosofi yang kita pegang.
Pelaku usaha yang sukses selalu belajar dari kesalahan dan kegagalan. Sekali dia gagl, ia akan mencoba lagi dan berupaya tidak mengulangi kesalahan. Dibalik kegagalan selalu ada ilmu untuk sukses. Dibalik kegagalan ada keuntungan lain tidak harus berupa uang, bisa ilmu, teman atau lainnya.

Ada seorang yang gagal menjalankan usaha warung sembako, mengambil ilmu usaha supplier semabako dari mantan suppliernya. Akhirnya ia memulai usahanya lagi berupa usaha supplier sembako ke warung-warung.
Sering kita mengalami, ketika bisnis baru dimulai, di kemudian hari akan kelihatan jelas bahwa kenyataan jauh dari yang kita bayankan. Mungkin kesalahan ada pada kita.

Apakah bila kita melihat banyak usaha yang berjatuhan. Apakah kita lalu mengurungkan niat memulai usaha ?

Apakah kita secepatnya mundur bila melakukan kesalahan sampai mengalami kerugian.
Mario Teguh dalam Becoming a star, menyatakan , kita membutuhkan kesalahan untuk mencapai kualitas hasil yang lebih tinggi. Kita terima saja kemungkinan akan adanya kesulitan, masalah dan kesalahan. Jika kita bersungguh-sungguh bekerja keras, sebenarnya juga sedang bersungguh-sungguh menyediakan kesempatan bagi timbulnya kesalahan. Menurutnya, bagaimanapun kesalahan kita, kita membutuhkannya untuk mencapai hasil yang elbih baik. Timbulnya kesalahan adalah tanda diperlukannya cara-cara perbaikan yang lebih baik.
Membuat kesalahan dan gagal dalam melakukan sesuatu adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun.


Janganlah kita, terlalu teliti dan hati-hati memulai sesuatu. Melakukan perencanaan matang, melakukan analisa dan review berulang-ulang, tetapi tidak juga berani memulai karena takut salah. Bila segara dimulai, mungkin banyak pelajaran yang diperoleh , baik itu berhasil maupun gagal.

Kesalahan dan kegagalan yang tidak kita hadapi dengan sungguh-sungguh, akan timbul lagi pada tempat dan kesempatan lain, bahkan dalam skala yang lebih besar.
Jika kita lari dari kenyataan, maka akan makin buruklah kenyataan yang kita hadapi di hari kemudian.

Bila kita jeli dan belajar dari kesalahan orang lain, maka kita dapat menghemat waktu.
Jika melakukan kesalahan ataupun kegagalan, anda memang tidak mencapai keberhasilan yang hebat,tetapi, masih ada keberhasilan yang sedang, cukup, hampir berhasil. Kita belajar dari kesalahan.

Allahu a'lam

Sumber : Ash showah




The Law of giving

Saudaraku, memberi, sangatlah mudah untuk diperbincangkan. Namun sulit dilakukan , bila seorang hamba belum memahami hakekat dari kemuliaan memberi itu.
Ada pepatah ,semakin kita berusaha menahan , menjaga apapun yang sudah kita miliki bahkan masih berusaha mengambil hak orang lain, maka kita akan semakin banyak kehilangan. Banyak diantara kita ingin disanjung dan dipuji , namun kita pelit untuk memberikan pujian kepada orang lain.
Sebuah hukum (sunatullah) yang pasti , yaitu prinsip kekal yang dinamakan The law of giving, yaitu penghargaan yang kita terima berkorelasi positif dengan pemberian yang kita berikan kepada pihak lain.
Sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim , Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “ Allah senantiasa menolong seorang hamba, selama si hamba itu mau menolong saudaranya ,” (HR Abu Hurairah)*1
Dalam riwayat Ibn Umar disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya, “ Allah senantiasa memenuhi kebutuhan seorang hamba, selama si hamba itu berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya,”

Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi IV, menjelaskan hadits diatas bahwa ini merupakan isyarat tentang keutamaan menolong , membantu sesama dalam segala hal dan urusan mereka. Juga isyarat bahwa kompensasi yang diperoleh seseorang tersebut berupa pertolongan Allah akan relevan dengan pertolongan yang ia berikan kepada sesamanya, baik itu pertolongan dengan hati, dengan jasmani atau keduanya, baik dg cara menyelamatkan orang lain dari kesulitan atau memberinya keuntungan.

Anthoni Dio Martin, dalam artikel motivasinya, menyatakan bahwa ada beberapa hukum memberi, yaitu bahwa :


  1. Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Maka konsekuensinya bahwa, jika kita tidak pernah memberi , maka kitapun tidak akan pernah menerima apapun. Karena kita jarang memberi maka kitapun jarang diberi.

  2. Ketika kita memberi , maka kita mendapatkan balasannya. Hal ini bisa langsung kita terima saat itu juga, atau pasti terjadi di masa yang akan datang. Dan kemuliaan akan bertambah besar bila ada keinginan kita untuk tidak mengharap-harap balasan itu.

  3. Nilai pemberian itu diukur dalam dua hal, yakni ketulusan dan nilai pemberian itu bagi si pemberi. Misalnya pemberian seorang jutawan sebanyak jutaan rupiah, walaupun sebenarnya nilai itu belum ada 1% dari penghasilannya, tentu nilainya tidak sama dengan seorang miskin yang memberikan Rp 5.000 dimana penghasilan tidak menentu.

Saudaraku, kemuliaan memberi , tidak hanya bisa dilakukan oleh orang yang berkecukupan menurut pandangan kita. Namun memberi hanya bisa dilakukan oleh orang yang merasa berkecukupan, walaupun menurut pandangan kita orang tersebut sangat kekurangan.


Sebagaiman sabda Rasulullah dari riwayat Abu Dawud (meski berderajad mursal) , dimana kita bisa mengambil pelajaran berharga ini. (*2).
Rasulullah , pernah bertanya kepada para sahabat, yang artinya ,” Apakah masing-masing dari kalian merasa keberatan untuk menjadi seperti Abu Dhamdam ? “
Saudaraku, siapa Abu Dhmabdan itu ?
Abu Dhamdam adalah salah satu sahabat Rasulullah. Dia bukanlah sahabat yang terkenal dan punya nama besar, dia juga bukan terkenal karena kedudukan, kekayaan, ataupun latar belakang suku (keluarganya).


Ia hanyalah seorang pria yang sangat miskin, bahkan diriwayatkan segenggam kurma pun tak pernah ia miliki.
Suatu kali Rasulullah memerintahkannya untuk bersedekah, padahal ia begitu miskinnya.
Abu Dhamdan sangat antusias memenuhi perintah Rasulullah. Ia mencari-cari kepingya demi keping dirham yang ada dirumahnya, namun ia tidak menemukannya.
Maka dalam keheningan malam , ia bangun , mengerjakan shalat malam dan berdoa, ‘ Ya Allah ya Rabbi ! Orang-orang yang berharta bisa bersedekah dengan harta mereka.
Mereka yang memiliki kuda bersedekah dengan kuda mereka,
Mereka yang memiliki unta juga bersedekah dengan unta mereka.
Sedangkan aku ini, ya Allah, tidak punya harta sedikitpun, tidak ada kuda , tidak ada unta.
Ya, Allah karena itu ,aku sedekahkan kepada-Mu dengan doaku ini.
Ya Allah , kepada setiap orang yang berbuat zalim kepadaku,
Ya Allah , kepada setiap orang yang mencelaku,
Ya Allah , kepada setiap orang yang mencaciku atau menggunjingku, (dari kalangan muslimin).
Maka jadikanlah mereka selalu sehat , selalu mendapat kemudahan dan selalu mendapat maaf dari-Mu’

Akhirnya Allah menerima sedekah Abu Dhamdan, dan Allah berfirman , yang artinya ,” ... Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa ,” (Qs. Al-Maidah : 27).

Saudaraku, siapapun dari kita bisa menolong, bisa memberi, bisa bersedekah kepada orang lain, apapun kondisi kita.
Imam Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala , meriwayatkan seorang salaf, Hakim bin Hazam, berkata,’ jika pagi hari didepan pintu rumahku tidak ada orang yang meminta tolong dariku maka aku pun tahu bahwa itu adalah salah satu musibah, karena aku kehilangan kesempatan melakukan perbuatan yang dengannya kuharap ampunan dari Allah ‘.

Sungguh besar keutamaan dari sikap memberi, apa yang kita berikan kepada orang lain, tidak ada artinya dibandingkan dengan kompensasi yang Allah berikan kepada kita.

Sebagaimana Firman Allah , yang artinya ,” ... Dan apa yang kamu infakkan di jalan Allah, maka akan diberikan pengganti dari Allah dan Dia-lah sebaik-baiknya pemberi rizki, “ (Qs. Saba’ : 39).
Sebagaimana Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi , yang artinya ,” Wahai anak cucu Adam, infakkanlah hartamu. Aku pun berinfak kepadamu,”. (Shahih Muslim).



Allahu a’lam


Sumber : Zainuddin bin Qosim dalam The power of giving, Bisnis Indonesia 2010


Catatan :
1. Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya ih Imam Muslim XIII,212, sunan Abu Dawud XIII-110, Sunan At Tirmidzi V-324, Sunan Ibn Majah I-261, Musnad Imam Ahmad XV-159 )
2. Diriwayatkan Abu Dawud (4887) dan Al-‘uqaili dalam Adh-Dhu’fa (IV-93) dengan sanad mursal dari Abdurrahman bin ‘ajlan. Baihaqi meriwayatkannya dalam Asy-Syu’ab (8082-8083), dari Anas Malik. Lihat Muwadhdhih Auhamil Jami’i wat Tafriq karya Khatib Baghdadi (I-36), Al Ishabah (Ibn Hajar VII-229) dan Al’Irwa’ VIII-33.
3. Dalam Sunan Abi Dawud , menegaskan bahwa Abu Dhamdham adalah seorang shalih di masa dahulu, sebelum masa sahabat. Allahu a’lam, namun intinya Rasulullah mengajak para sahabat untuk mempunyai kepekaan sosial , sebagaimana Abu Dhamdham



Rabu, 07 April 2010

pribadi yang pemaaf

Firman Allah, yang artinya ,” Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh” . (Qs. . Al A’raf :199).
Firman Allah, yang artinya ,” .....dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur :22)
Bukan hal mudah untuk menjadi seorang pemaaf. Pemaaf adalah suatu kata yang mudah di ucapkan tapi berat untuk dipraktekkan.Seorang pemaaf tidak perlu memilih kesalahan-ke-salahan mana saja yang pantas dimaafkan dan yang tidak pantas untuk dimaafkan. Hamba beriman seharusnya memaafkan kesalahan orang lain kepada dirinya tanpa syarat khusus.
Sifat pemaaf yang dimiliki manusia tidak datang dg sendirinya, namun harus melalui kesungguh-an dan berlatih terus menerus.
Sikap memaafkan seharusnya tulus. Ini adalah ujian yang sungguh berat untuk dapat belajar dari kesalahan , berlapang dada dan bersifat pengasih. Hamba beriman seharusnya bisa memaafkan walau sebenarnya berada dipihak yang benar dan orang lain salah. Saudaraku, bagaimana dengan kita ?

Firman Allah, yang artinya ,” ... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang “ . (QS. At Taghaabun : 14)
Firman Allah, yang artinya , “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qs. Asy Syura : 43
)

Hamba yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sehingga akan mudah memendam kemarahan terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik, sungguh pemaaf adalah sifat mulia dan terpuji. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Hamba beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan :134)


Dr. Frederic Luskin dalam Forgive for Good , bahwa sifat pemaaf sebagai resep yang telah ter-bukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderi-taan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak buruk ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Penelitian bertajuk "Forgiveness" diterbitan Healing Current Magazine, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel ini juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan , dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Saudaraku banyak penelitian mebuktikan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, meskipun terasa berat, namun terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin.

Sebagaimana Allah telah berfirman dalam Surat Asy-Syuuraa : 40-43, yang artinya ,“ Dan balasan suatu kejelekan adalah kejelekan serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (40). Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka (41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih (42). Tetapi orang-orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (43).”

Di dalam ayat ini Allah telah mensyariatkan keadilan qishash. Namun Allah menganjurkan kepada yang lebih utama yaitu memberi maaf. Perbuatan itu tidak akan disia-siakan begitu saja di sisi Allah,
sebagaimana tentang hal itu telah ditegaskan di dalam sebuah hadits, yang artinya ,“ Dan Allah tidak akan memberikan tambahan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Abu Hurairah ra berkata, bahwa “Seseorang telah mencela Abu Bakar ra, Abu Bakar pun diam, sedangkan Nabi SAW ketika itu bersama mereka. Nabi merasa kagum, lalu tersenyum.
Ketika orang itu memperbanyak cercaannya maka Abu Bakar mulai membalas cercaan mereka . Nabi pun marah dan beranjak pergi.
Abu Bakar kemudian menyusul beliau dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, orang itu telah mencerca diriku dan engkau tetap duduk.

Namun di saat aku membalas sebagian yang diucapkannya, mengapa engkau marah dan berdiri?’
Rasulullah pun menjawab, yang artinya “Bersamamu tadi ada malaikat yang menimpali orang itu sementara engkau diam. Akan tetapi ketika engkau menimpali sebagian yang diucapkannya, setan pun datang, dan aku pun tidak mau duduk bersama setan.”

Kemudian beliau bersabda, yang artinya ,”Hai Abu Bakar, ada tiga perkara yang semuanya adalah hak,



  • Tidak ada seorang hamba yang dizalimi dengan satu kezaliman kemudian dia memaafkannya karena Allah, melainkan Allah akan memuliakannya karena perbuatannya itu dan akan menolongnya.

  • Dan tidaklah seseorang yang membukakan pintu untuk menyampaikan suatu pemberian dengan niat bersilaturahim, melainkan Allah akan memperbanyak hartanya.

  • Dan tidaklah seseorang membuka pintu untuk meminta-minta dengan niat memperbanyak hartanya, melainkan Allah SWT akan semakin menyedikitkan hartanya.”

Saudaraku , haruslah disadari bahwa tujuan sebenarnya dari memaafkan haruslah tetap tertuju hanya untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Saudaraku , ketika kita dihina dan disakiti hatinya oleh orang lain maka muncul reaksi negatif di dalam diri kita, kemudian kita marah dengan orang tersebut dan ingin rasanya melampiaskan kemarahan kepada orang yang menghina dan memfitnah kita. Apabila keinginan seperti itu ditahan, maka pada saat itu dinamakan sabar.

Berkenaan dengan kemarahan, Imam Al-Ghazali pernah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang mukmin melampiaskan kemarahan. bahwa kesabaran seseorang memang ada batasnya dan pada saatnya telah melampaui ambang batas itu sangat wajar jika seseorang harus marah. Hanya saja yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengukur kadar marah sesuai dengan tingkat kesalahan orang yang membuat kita marah, dan juga dilampiaskan masih dalam kewajaran dan di bawah kesadaran yang tinggi.

Kita boleh marah dalam hal meluruskan sesuatu yang salah demi kemaslahatan bersama dimana niat kita semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah. Kita tidak boleh marah karena keinginan kita supaya ditakuti orang lain atau karena ingin memperoleh kewibawaan dari kemarahan tersebut.
Kita juga tidak boleh marah karena rasa kekesalan dan kebencian kita terhadap orang lain. Kita sesama muslim bukanlah saling bermusuhan, tetapi adalah bersaudara. Maka jangan sampai kita menjadi penyemai maupun pemupuk rasa kebencian di tengah-tengah masyarakat. Jika kita temui bibit-bibit kemarahan dan kebencian di tengah-tengah kita maka marilah bersama-sama kita redam dengan sabar dan amar ma'ruf nahi munkar.

Agar sifat pemaaf tumbuh dalam diri seseorang maka sifat itu haruslah di-latih secara rutin dan terus menerus. Salah satunya adalah dengan latihan dan mempraktekan "pemaaf" itu dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan demikian "pemaaf" akan menjadi suatu kebiasaan bagi diri seseorang dan memaafkan adalah bukan sesuatu yang aneh dalam hidupnya.

Tips lainnya adalah seperti apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW.


Beliau bersabda apabila ingin menjadi pemaaf makan ingatlah dua perkara dan lupakanlah dua perkara. Perkara apakah yang dimaksud oleh Rasul SAW ?
1. ingatlah kebaikan orang lain dan lupakanlah kebaikan kita kepada orang lain.
2. ingatlah keburukan kita kepada orang lain dan lupakanlah keburukan orang lain kepada kita.



Bila dua perkara ini sudah menjadi bagian dari sikap kita dalam pergaulan sehari-hari, insyAllah kita akan menjadi seorang yang pemaaf.

Dengan sabar maka Allah akan memberikan berkah yang sempurna dan rahmat pada kita. Bisa jadi di saat tertentu kita kesal kepada orang lain, kepada istri, atau teman, kekesalan itu sebaik-nya ditahan jangan diwujudkan dengan kata-kata dan jangan diwujudkan perbuatan tetapi kita wujudkan dalam doa, yaitu mendoakan semoga orang yang telah membuat kita kesal diberikan petunjuk oleh Allah dan diampuni dosanya, itulah wujud kesabaran yang sempurna di sisi Allah.

Dengan sifat sabar maka kita akan mendapatkan hidayah berupa keselamatan dari jalan kesesatan dan dengan sifat pemaaf maka tidak ada yang kita dapatkan melainkan kemuliaan.

Allahu a’lam

sumber : Harun Yahya , Agus Haris W, Pribadi Pemaaf- SM Syaripudin Niskala