*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Senin, 22 Maret 2010

Seputar hadits Mutawatir (4)

Beberapa waktu lalu, kita telah mulai membahas seputar pengertian umum hadits. Dalam bahsan kali ini kita coba sedikit kupas tentang hadits mutawatir. Dari pengertian pembagian hadits menurut banyaknya rawi yang meriwayatkan hadits, pembagian hadits dibagi menjadi tiga kategori : yaitu , a. hadits mutawatir. b. Hadits Aziz dan c. hadits ahad.
Sekarang kita mulai dari kategori pertama, yaitu hadits mutawatir.
Hadits mutawatir.
Kata mutawatir menurut lughat adalah mutatabi yang diartikan sebagai beriringan (berturut- turut) antara satu dengan yang lain. Sedangkan menurut istilah, diartikan sebagai suatu hasil hadits tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul kemudian bersepakat untuk dusta.

Jadi hadits mutawatir adalah suatu hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang menurut adat adalah mustahil mereka bersepakat untuk berbuat dusta, hal ini seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah apda setiap tingkatan.
Tidak termasuk kategori pengertian dalam hadits mutawqtir, yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti


- Meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia, baik terpuji maupun tercela,
- Juga segala berita yang diriwayatkan orang banyak, namun mereka berkumpul untuk sepakat mengadakan berita-berita dusta.

Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini ke-benarannya. Karena kita tidak mendengar hadits itu langsung dari Rasulullah Muhammad SAW, maka jalan penyampaian hadits itu dan orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan (bisa diuji kebenenarannya) tentang kebenaran hadits itu.

Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara pereawi menerima dan menyampaikan suatu hadits. Ada yang


- Melihat atau mendengar
- Ada yang dengan jalan tidak melalui perantaraan pancaindera, misalya dengan lafadz diberitakan dsb.
- Dapat juga diketahui pula banyak sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu. Misalnya jumlah yang meriwayatkan sedemikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa banyak perawi itu tidak mungkin sepakat untuk dusta.

Adapun syarat keabsahan hadits mutawatir adalah sbb ;



  • a. Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap pancaindera). Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya. Atau dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak.

  • b. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil bahwa mereka berdusta. Dalam kriteria ini ada perbedaan pendapat dari para ulama tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat untuk berdusta.



  1. Abu Thayib , menentukan minimal 4 orang, diman hal ini diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.

  2. Asbabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang, hal ini diqiyaskan jumlah sahabat utama Rasulullah .

  3. Sebagian ulama menetapkan minimal 200 orang, berdasarkan ketentuan yang difirmankan Allah tentang orang-orang beriman yang sabar, yang dapat mengalahkan 200 orang kafir. (lihat Qs. Al- Anfal ; 65)

  4. Sebagian ulama menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang, hal ini diqiyaskan dari firman Allah , yang artinya ,” Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu) (Qs. Al-anfal : 64).


  • c. Seimbang jumlah para perawinya, sejak dalam thabaqat (lapisan / tingkatan) pertama maupun thaqabat berikutnya.


hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat diatas tidak banyak jumlahnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Salah.
Ibn Hajar Al-Asqalani berbeda pendapat, bahwa jumlah hadits mutawatir banyak jumlahnya, sebagaimana kitab-kitab yang khusus menghimpun hadits mutawatir, seperti Al-Azharu al-mutanatsirah fi al-Akhabri al Mutawatirah (Imam as-Suyuti , 911 H), Nadmu al-Mutasir Mina al-Hadits al Mutawatir (Muhammad Abdullah bin Jafar a-Khattani , 1345 H).

Keutamaan Hadits Mutawatir ;
Hadits ini memberikan faedah ilmu daruri, yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath’i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Rasulullah benar-benar mensabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.

Allahu a’lam
Sumber : dari beberapa sumber bacaan


Minggu, 21 Maret 2010

hamba mulia yang terlupakan

Saudaraku, disekitar kita , ada sebagian orang yang tidak memperdulikan pandangan orang terhadap dirinya. Hamba ini menyembunyikan perbuatan baiknya dengan rapat, ia hanya bertujuan untuk mendapatkan ridha Allah dengan sepenuh-penuh ikhlas. Mereka adalah orang-orang yang memahami benar bahwa beramal hanya karena Allah ta’ala saja. Tidak untuk yang lain.
Orang-orang ini selalu ada menghiasi setiap zaman. Seringkali mereka adalah orang-orang yang biasa saja atau bahkan terlewatkan dari perhatian orang lain. Mereka gembira bila amalan yang dikerjakannya tidak diketahui oleh orang lain , dan hanya diketahui oleh Allah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui , karena mereka selalu menyembunyikan amalan-amalannya , mereka adalah orang-orang yang tersembunyi (al-akhfiya). Mereka adalah sebagaimana dimaksud dalam firman Allah, yang artinya "Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (Qs. Al-Bayyinah: 5).

Firman Allah , yang artinya "Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas" (Qs Al-A'raf : 55).
Kata "suara yang lembut" dalam ayat ini merupakan terjemahan dari kata "khufyah", yang secara harfiyah bermakna "tidak tampak" atau "tersembunyi".
Imam Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkamil-Qur'an, menjelaskan makna ini sebagai berdoa secara sembunyi dalam nafs (jiwa/hati), agar terhindar dari sifat riya.

Sebagaimana Allah memuji Zakariya AS, dalam firman-Nya yang artinya ,"Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabb-nya dengan khafiyya (suara yang lembut)" (QS Maryam : 3).

Dari riwayat Muslim dalam Az-Zuhd , Rasulullah bersabda, yang artinya, “ Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya (mencukupkan apa adanya), dan yang beribadah secara khafi (sembunyi-sembunyi)" (Hr Muslim )

Walid bin Sa'id Bahkum dalam bukunya, Al-Akhfiya-al-Manhaj was-Suluk, menyatakan al-akhfiya ini sebagai orang-orang yang mengetahui bahwa salah satu syarat iterimanya amal adalah al-ikhlas lilllah. Karena ketersembunyian, ketertutupan dan kerahasiaan ini pulalah, sehingga para salik (pejalan Ilahi) sering pula disebut sebagai al-akhfiya (orang-orang tersembunyi).

Saudaraku, hamba beriman ini menyadari benar arti ikhlas , berjuang untuk menyem-bunyikan beragam amalnya itu, menghindari getaran hati yang mengarah pada sifat riya’ , karena sangat ingin meraih ridha Allah semata . Karena ketersembunyian, ketertutupan dan kerahasiaan ini pulalah, sehingga para salik (pejalan Ilahi) sering disebut sebagai al-akhfiya (orang-orang tersembunyi).

Dalam riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi, Rasulullah bersabda, yang artinya " Sebaik-baik dzikir adalah dzikir khafi (diam-diam/tersembunyi), dan sebaik-baik rezeki adalah yang memberikan kecukupan."

Dalam Shahihut-Targhib wat-Tarhib, sebuah riwayat yang di-tahqiq Al-Albani , bahwa Nabi bersabda, yang artinya , "Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi itu memadamkan kemarahan Rabb (Allah) Tabaraka wa Ta'ala."


Sebagaimana ulama Al-Junaid , menyatakan bahwa mendefinisikan ikhlas sebagai ,’Rahasia antara Allah dan seorang hamba yang tidak diketahui oleh malaikat sehingga mencatatnya, tidak diketahui oleh syaitan sehingga merusaknya, dan tidak bisa diendus oleh hawa nafsu sehingga memalingkannya.’

Riwayat inilah yang mendorong kaum al-akhfiya untuk merahasiakan berbagai macam amal kebajikannya dari pandangan manusia, karena mereka takut dihinggapi sifat riya, sum'ah, dan 'uzub (arogan).

Imam Syafi'i, berkata bahwa ,’pujian manusia terhadap dirinya itu bisa mengurangi pahala dan mencoreng sifat khifa (ketersembunyian) yang menjadi tambatan orang-orang salih’.Bila para Salafus Salih banyak yang menyembunyikan amalnya, maka hal itu mereka lakukan karena khawatir dihinggapi sifat riya dan sum'ah.

Suatu ketika Umar bin Khattab keluar dari masjid dan mendapati Mu’adz bin Jabal sedang menangis.
Umar bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai Muadz?”
Aku menangis karena (teringat) hadits yang aku dengar dari Rasulullah Shalallah ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda: “……..Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, yang bertakwa dan yang menyembunyikan amalnya, yang sekiranya mereka tidak ada mereka tidak dicari-cari, dan jika hadir maka mereka tidak dikenali. Hati mereka adalah pelita petunjuk. Mereka keluar dari setiap sudut yang gelap.” (Shahibut Targhib wat Tarhib, Al-Mundziry, ditahqiq Al-Albany)

Saudaraku, mereka senantiasa berusaha untuk berbuat baik tanpa mencari nama atau kemasyuran , mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal .

Dikisahkan , Maslamah bin Abdul Malik bersama pasukannya suatu ketika mengepung salah satu benteng musuh . Namun pengepungan sekian lama itu belum memberikan hasil , sehingga Maslamah berseru: “Siapa yang berani menerobos pintu, maka jika dia mati dia akan mendapatka surga insyaAllah. Jika dia selamat, maka tanah yang ada di balik pintu itu akan jadi miliknya….”
Tiba-tiba ada seorang anggota pasukannya yang tertutup cadar, minta dilemparkan ke dalam benteng, sehingga dengan keberaniannya benteng itupun dapat ditaklukkan. Selama tiga hari Maslamah meminta orang yang memakai cadar untuk menemuinya namun ternyata tidak datang juga.
Akhirnya Maslamah bersumpah dan memohon agar siapa yang memakai cadar kemarin untuk menemuinya. Barulah pada tengah malam datang seseorang yang mengenakan cadar diam-diam menemuinya dan dia berkata: “Aku meminta tiga syarat, engkau tidak boleh mengumumkan namanya, engkau tidak boleh memberi imbalan apapun padanya dan engkau tidak boleh menganggapnya orang yang istimewa…”
Maslamah, menerima syarat itu .
Akhirnya orang tersebut melepas cadarnya.
Maka setiap kali Maslamah berdo’a dia selalu berkata: ” Ya Allah himpunkan aku ber-sama orang yang bercadar. Himpunkan aku bersama orang yang bercadar…”
Orang itu jika masuk ke dalam pertempuran menutup mukanya dengan kain cadar dan kemudian meletakkan ghanimah di jalan , lalu pergi meninggalkannya , sehingga orang-orang tidak mengetahui namanya.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : ”Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang taqiy, ghaniy, dan khafiy.” (HR. Muslim).

Sedangkan yang dimaksud ;

  1. Taqiy adalah mereka yang melaksanakan segala yang diwajibkan oleh Allah dan menjauhi segala laranganNya, semata-mata ingin meraih keridhaanNya dan takut akan adzab dan sikasaanNya.

  2. Ghaniy adalah mereka yang senantiasa menjaga dirinya , dengan tidak meminta kepada manusia lain . Ia bersyukur dan tawakal terhadap rezeki pemberian Allah yang ia dapatkan dari usahanya sendiri .

  3. khafiy adalah mereka yang tidak menyebut-nyebut amal kebaikannya dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah.

Hudzaifah bin Qatadah berkata: ,jika engkau menaati Allah secara sembunyi-sembunyi, niscaya Allah memperbaiki hatimu, tidak peduli apakah engkau menginginkannya ataukah tidak menginginkannya.’

Seseorang bertanya kepadan Abul Hasan bin Basyar':"Bagaimana jalan kepada Allah?" Maka dia menjawab:" Sebagaimana engkau mendurhakai Allah secara sembunyi-sembunyi, maka engkau manaati-Nya secara sembunyi-sembunyi pula sehingga kebajikan merasuk ke dalam hatimu."

Ibnul Mubarak berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih tinggi derajatnya daripada Malik. Dia tidak banyak memiliki shalat dan puasa, namun dia memiliki banyak hal yang disembunyikan dan dirahasiakan."

Tabi’in bernama Ayyub As-Sikhtiyany mengatakan : “Sungguh demi Allah ! Seorang hamba belum benar-benar jujur menghamba kecuali bila ia telah merasa gembira saat tidak ada satu mahluk pun tahu di mana mereka. (Dan apa yang mereka kerjakan)”

Saudaraku, masihkah kita merasa bangga dengan amalan-amalan kita.
Wallahu a'lam.


Sumber kutipan : http://pustakahikmah.multiply.com, Tarbiyah Jihadiyah 1 - Asy-Syahid DR. Abdullah Azzam), dll




Kamis, 18 Maret 2010

Membaca Al Qur'an

Dari segi bahasa, Al-Qur’an berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Kitab agung Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, sehingga kitab ini mudah dipelajari dan mudah dihafal.
Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:, Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”.
Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut, bahwaAl-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan ditutup dengan surah An-Nas"

Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Al-Qur'an adalah sumber hukum yang pertama bagi kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran serta kemuliaan para pembacanya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi." (Qs. Faathir : 29).

Al-Qur'an adalah ilmu yang paling mulia , karena itulah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya bagi orang lain, mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari pada belajar ilmu yang lainya.

Dari Utsman bin Affan ra , bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari).

Para ahli Al-Qur'an adalah orang yang paling berhak untuk menjadi imam shalat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya , "(Yang) mengimami suatu kaum adalah yang paling qari bagi kitab Allah, maka jika mereka sama dalam bacaan maka yang paling 'alim bagi sunnah (hadits), maka jika mereka dalam As-Sunnah juga sama maka yang paling dulu hijrah, maka jika mereka juga sama dalam hijrah maka yang lebih tua usianya." (Hr. Muslim)

Diriwayatkan juga oleh Imam Al-Bukhari, bahwa yang duduk di majlis Khalifah Umar Shallallahu 'alaihi wa sallam di mana beliau bermusyawarah dalam memutuskan berbagai persoalan adalah para ahli Qur'an baik dari kalangan tua maupun muda.

Keutamaan membaca Al-Qur'an di malam hari
Suatu hal yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur'an pada malam hari. Lebih utama lagi kalau membacanya pada waktu shalat.

Firman Allah , yang artinya: "Diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus (yang telah masuk Islam), mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu malam hari, sedang mereka juga bersujud (Shalat)." (Qs. Ali Imran: 113)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ini menyebutkan bahwa ayat ini turun kepada beberapa ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Asad bin Ubaid, Tsa'labah bin Syu'bah dan yang lainya. Mereka selalu bangun tengah malam dan melaksanakan shalat tahajjud serta memperbanyak membaca Al-Qur'an di dalam shalat mereka. Allah memuji mereka dengan menyebut-kan bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh, seperti diterangkan pada ayat berikutnya.

Beberapa peringatan bagi Umat tentang Al-Qur'an

1. Menghindari riya' dalam membaca Al-Qur'an
Karena membaca Al-Qur'an merupa-kan suatu ibadah, maka wajiblah ikhlas tanpa dicampuri niat apapun.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , yang artinya: "Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menuaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (Qs. Al-Bayyinah: 5).

Kalau timbul sifat riya' saat kita membaca Al-Qur'an tersebut, kita harus membuang pikiran dan niat riya' dan mengembalikan niat kita, yaitu hanya karena Allah. Karena kalau sifat riya' itu cepat-cepat disingkirkan maka ia tidak mempengaruhi pada ibadah membaca Al-Qur'an tersebut. (lihat Tafsir Al 'Alam juz 1, hadits yang pertama).


Kalau orang membaca Al-Qur'an bukan karena Allah tapi ingin dipuji orang misalnya, maka ibadahnya tersebut akan sia-sia.
Riwayat dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah shalallahu alaihi was salam bersabda, yang artinya, "Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an maka di bawalah ia (dihadapkan kepada Allah), lalu (Allah) mengenalkan-nya (mengingatkannya) nikmat-nikmatnya, iapun mengenalnya (mengingatnya) Allah berfirman: Apa yang kamu amalkan padanya (nikmat)? Ia menjawab: Saya menuntut ilmu serta mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an padaMu (karena Mu). Allah berfirman : Kamu bohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan orang "alim", dan kamu mem-baca Al-Qur'an agar dikatakan "Qari', maka sudah dikatakan (sudah kamu dapatkan), kemudian dia diperintahkan (agar dibawa ke Neraka) maka diseretlah dia sehingga dijerumuskan ke Neraka Jahannam." (HR. Muslim)
Semoga kita terpelihara dari riya'.

2. Jangan menjadikan Al-Qur'an sebagai sarana untuk mencapai tujuan dunia.
Misalnya untuk mendapatkan harta, agar menjadi pemimpin , untuk mendapatkan kedudukan , dst.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , yang artinya ,”…Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya kebaha-gianpun di akhirat." (Qs. As-Syura: 20).
Firman Allah, yang artinya "Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki …" (Qs. Al Israa' : 18)

3. Jangan mencari makan dari Al-Qur'an
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya ,"Bacalah Al-Qur'an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya." (HR. Ahmad, Shahih).

Imam Al-Bukhari dalam kitab shahih-nya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur'an, "Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur'an dan makan denganNya", Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain ra bahwa dia sedang melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur'an di hadapan suatu kaum . Setelah selesai membaca iapun minta imbalan. Maka Imran bin Hushain berkata: Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya "Barangsiapa membaca Al-Qur'an hendaklah ia meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al- Qur'an lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya (Al-Qur'an) (HR. Ahmad dan At Tirmizi dan ia mengatakan: hadits hasan)

Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur'an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti 'Atha, Malik dan Syafi'i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut.Wallahu A'lam.

4. Jangan meninggalkan Al-Qur'an.
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , yang artinya: "Dan berkata Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan". (Qs. Al-Furqan: 30).

Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan Al-Qur'an adalah hanya tidak membacanya saja, padahal yang dimaksud di sini adalah sangat umum. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini. Dia menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sebagai berikut;
Apabila Al-Qur'an di bacakan, lalu yang hadir menimbulkan suara gaduh dan hiruk pikuk serta tidak mendengarkannya. Tidak beriman denganNya serta mendustakan-Nya.
Tidak memikirkanNya dan memahami-Nya. Tidak mengamalkanNya, tidak menjunjung perintah-Nya serta tidak menjauhi larangan-Nya.
Semua ini termasuk meninggalkan Al-Qur'an serta tidak memperdulikan-nya. Semoga kita tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur'an. Amin.

5. tidak ghuluw terhadap Al-Qur'an
Maksud ghuluw adalah berlebih-lebihan dalam membaca-Nya.
Hadits riwayat Abdullah bin Umar ra , bahwa beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . Apakah benar bahwa ia puasa dahr (terus-menerus) dan selalu membaca Al-Qur'an di malam hari. Ia pun menjawab: "Benar wahai Rasulullah!"
Kemudian Rasulullah memerintah padanya agar puasa seperti puasa Nabi Daud alaihis salam , dan membaca Al-Qur'an khatam dalam sebulan.
Ia pun menajwab: Saya sanggup lebih dari itu.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: bacalah pada setiap 20 hari (khatam).

Iapun menjawab saya sanggup lebih dari itu.
Rasulullah berasabda : Bacalah pada setiap 10 hari.

Iapun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu,
lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah pada setiap 7 hari (sekali khatam), dan jangan kamu tambah atas yang demikian itu." (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abdu Rahman bin Syibl ra dalam hadits yang disebutkan diatas: "Dan janganlah kamu ghuluw padanya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Wallahu 'a'lam bishshawab.
Sumber kutipan : http://www.alsofwah.or.id

catatan :
 Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 306
 Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Muhktasar).
 Fathu Al Bari jilid 10 kitab fadhailil Qur'an, Al Hafiz IbnuHajar
 At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur'an, An Nawawi Tahqiq Abdul Qadir Al Arna'uth.
 Fadhail Al-Qur'an, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Tahqiq Dr. Fahd bin Abdur Rahman Al Rumi.




Selasa, 16 Maret 2010

pribadi yang pemaaf

Firman Allah, yang artinya ,” Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh” . (Qs. . Al A’raf :199).
Firman Allah, yang artinya ,” .....dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur :22)
Al-Qur’an banyak mengulas pentingnya sifat memaafkan . Meskipun kita mungkin telah merasa memaafkan seseorang yang menyakiti kita , namun masih perlu waktu untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah .
Sikap memaafkan orang beriman seharusnya tulus. Ini adalah ujian yang sungguh berat untuk dapat belajar dari kesalahan , berlapang dada dan bersifat pengasih. Hamba beriman seharusnya bisa memaafkan walau sebenarnya berada dipihak yang benar dan orang lain salah. Saudaraku, seberapa besarkah hikmah sifat memaafkan ?

Firman Allah, yang artinya ,” ... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang “ . (Qs. At Taghaabun : 14)
Firman Allah, yang artinya , “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qs. Asy Syura : 43)


Hamba yang tidak mengikuti Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sehingga akan mudah memendam kemarahan terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik, sungguh pemaaf adalah sifat mulia dan terpuji. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Hamba beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan :134)

Dr. Frederic Luskin dalam Forgive for Good , bahwa sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderita-an, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak buruk ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Penelitian bertajuk "Forgiveness" diterbitan Healing Current Magazine, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel ini juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan , dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Saudaraku banyak penelitian membuktikan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, meskipun terasa berat, namun terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin.

Sebagaimana Allah telah berfirman dalam Surat Asy-Syuuraa : 40-43, yang artinya ,“ Dan balasan suatu kejelekan adalah kejelekan serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (40). Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka (41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih (42). Tetapi orang-orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (43).”

Di dalam ayat ini Allah telah mensyariatkan keadilan qishash. Namun Allah menganjur-kan kepada yang lebih utama yaitu memberi maaf. Perbuatan itu tidak akan disia-siakan begitu saja di sisi Allah,

sebagaimana tentang hal itu telah ditegaskan di dalam sebuah hadits, yang artinya ,“ Dan Allah tidak akan memberikan tambahan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Abu Hurairah ra berkata, bahwa “Seseorang telah mencela Abu Bakar ra, Abu Bakar pun diam, sedangkan Nabi SAW ketika itu bersama mereka. Nabi merasa kagum, lalu tersenyum.
Ketika orang itu memperbanyak cercaannya , maka Abu Bakar mulai membalas cercaan mereka . Nabi pun marah dan beranjak pergi.
Abu Bakar kemudian menyusul beliau dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, orang itu telah mencerca diriku dan engkau tetap duduk. Namun di saat aku membalas sebagian yang diucapkannya, mengapa engkau marah dan berdiri?’
Rasulullah pun menjawab, yang artinya “Bersamamu tadi ada malaikat yang membalas cercaan orang itu sementara engkau diam. Akan tetapi ketika engkau membalas sebagian yang diucapkannya, setan pun datang, dan aku pun tidak mau duduk bersama setan.”

Kemudian beliau bersabda, yang artinya ,”Hai Abu Bakar, ada tiga perkara yang semuanya adalah hak,



  • Tidak ada seorang hamba yang dizalimi dengan satu kezaliman kemudian dia memaaf-kannya karena Allah, melainkan Allah akan memuliakannya karena perbuatannya itu dan akan menolongnya.

  • Dan tidaklah seseorang yang membukakan pintu untuk menyampaikan suatu pemberi-an dengan niat bersilaturahim, melainkan Allah akan memperbanyak hartanya.

  • Dan tidaklah seseorang membuka pintu untuk meminta-minta dengan niat memper-banyak hartanya, melainkan Allah SWT akan semakin menyedikitkan hartanya.”

Saudaraku , haruslah disadari bahwa tujuan sebenarnya dari memaafkan haruslah tetap tertuju hanya untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Saudaraku , ketika kita dihina dan disakiti hatinya oleh orang lain maka muncul reaksi negatif di dalam diri kita, kemudian kita marah dengan orang tersebut dan ingin rasanya melampiaskan kemarahan kepada orang yang menghina dan memfitnah kita. Apabila keinginan seperti itu ditahan, maka pada saat itu dinamakan sabar.

Berkenaan dengan kemarahan, Imam Al-Ghazali pernah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang mukmin melampiaskan kemarahan. bahwa kesabaran seseorang memang ada batasnya dan pada saatnya telah melampaui ambang batas itu sangat wajar jika seseorang harus marah. Hanya saja yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengukur kadar marah sesuai dengan tingkat kesalahan orang yang membuat kita marah, dan juga dilampiaskan masih dalam kewajaran dan di bawah kesadaran yang tinggi.

Kita boleh marah dalam hal meluruskan sesuatu yang salah demi kemaslahatan bersama dimana niat kita semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah.


Kita tidak boleh marah karena keinginan kita supaya ditakuti orang lain atau karena ingin mem-peroleh kewibawaan dari kemarahan tersebut.


Kita juga tidak boleh marah karena rasa kekesalan dan kebencian kita terhadap orang lain. Kita sesama muslim bukanlah saling bermusuhan, tetapi adalah bersaudara. Maka jangan sampai kita menjadi penyemai maupun pemupuk rasa kebencian di tengah-tengah masyarakat. Jika kita temui bibit-bibit kemarahan dan kebencian di tengah-tengah kita maka marilah bersama-sama kita redam dengan sabar dan amar ma'ruf nahi munkar.

Agar sifat pemaaf tumbuh dalam diri seseorang maka sifat itu haruslah dilatih secara rutin dan terus menerus. Salah satunya adalah dengan latihan dan mempraktekan "pemaaf" itu dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan demikian "pemaaf" akan menjadi suatu kebiasaan bagi diri seseorang dan memaafkan adalah bukan sesuatu yang aneh dalam hidupnya.

Tips lainnya adalah seperti apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda apabila ingin menjadi pemaaf makan ingatlah dua perkara dan lupakanlah dua perkara. Perkara apakah yang dimaksud oleh Rasul SAW ?


1. ingatlah kebaikan orang lain dan lupakanlah kebaikan kita kepada orang lain.
2. ngatlah keburukan kita kepada orang lain dan lupakanlah keburukan orang lain kepada kita.


Bila dua perkara ini sudah menjadi bagian dari sikap kita dalam pergaulan sehari-hari, insyAllah kita akan menjadi seorang yang pemaaf.

Dengan sabar maka Allah akan memberikan berkah yang sempurna dan rahmat pada kita. Bisa jadi di saat tertentu kita kesal kepada orang lain, kepada istri, atau teman, kekesalan itu se-baiknya ditahan jangan diwujudkan dengan kata-kata dan jangan diwujudkan perbuatan , tetapi kita wujudkan dalam doa, yaitu mendoakan semoga orang yang telah membuat kita kesal diberikan petunjuk oleh Allah dan diampuni dosanya, itulah wujud kesabaran yang sempurna di sisi Allah.

Dengan sifat sabar maka kita akan mendapatkan hidayah berupa keselamatan dari jalan menuju kesesatan dan dengan sifat pemaaf maka tidak ada yang kita dapatkan melainkan kemuliaan.

Allahu a’lam

sumber : Harun Yahya , Agus Haris W, Pribadi Pemaaf- SM Syaripudin Niskala