*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Kamis, 04 Juni 2009

Bekerja

Firman Allah, yang artinya ,” Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nyaserta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan “. (Qs. At-taubah 105).
Hadits riwayat Ath Thabrani, menyatakan bahwa suatu ketika ada seseorang yang berjalan melewati tempat Rasulullah. Orang tersebut ternyata sedang bekerja dengan giat semangat. Sehingga para sahabat bertanya ,” Wahai Rasulullah, andaikata bekerja seperti orang ini dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya,”
Rasulullah pun menjawab ,”Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil ; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar dia tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah “, (Hr Ath-thabrani).

Saudaraku, kerja pada hakikatnya adalah salah satu perwujudan amal kebajikan. Sebagai sebuah amal perbuatan, maka niat yang tertanam di hati sanubari dalam menjalankannya akan menentukan nilai kebaikan dari amal itu menjadi kebajikan. Amal seseorang dinilai berdasarkan apa yang diniatkan.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasulullah melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitaman seperti lama terpanggang matahari.
Rasulullah bertanya,” Kenapa tanganmu ?” ,
Sa’ad menjawab, “ Wahai Rasulullah, tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku ,“
Seketika itu, Rasulullah mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata ,” Inilah tangan yang tidak pernah tersentuh api neraka,”.


Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mukmin yang giat bekerja” ,(Hr. thabrani).

Saudaraku, juga perlu diketahui bahwa bekerja tentu tidak akan lepas dari bingkai hubungan social antar manusia. Sehingga aturan-aturan yang ada harus dipenuhi. Etika dalam bekerja harus dijaga. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abdullah bin Basri bahwa ,’Carilah kebutuhan hidup dengan senantiasa menjaga harga diri. Sesungguhnya segala persoalan itu berjalan menurut ketentuan’.

Sebagimana dikatakan Umar bin Khathab ,’ apabila kamu merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan itu akan terus kekal. Dan sekiranya kamu bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan segera hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal ‘

Begitu pula dalam kegiatan bekerja , ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam bekerja, agar apa-apa yang kita kerjakan tersebut memiliki nilai lebih dihadapan Allah.

Saudaraku, seorang hamba beriman tetap dianjurkan untuk bekerja dengan sepenuh hati sehingga memberikan kualitas proses dan hasil kerja yang terbaik. Bekerja keras yang dibarengi dengan keikhlasan merupakan salah satu penghapus dosa kita.

Sebagaimana diriwayatkan Ahmad, Bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Sebaik-baiknya pekerjaan ialah usahanya seorang pekerja jika ia berbuat sebaik-baiknya “.

“Siapa bekerja keras hingga lelah dari kerjanya maka ia terampuni (dosanya) karenanya “, (Al Hadits).
“ Berpagi-pagilah dalam mencari rizki dan kebutuhan hidup. Sesungguhnya pagi-pagi itu mengandung berkah dan keberuntungan “, (Hr Ibn Adi dari Aisyah).
“ Sesungguhnya Allah memnginginkan jika salah seorang darimu bekerja, maka hendaklah ia meningkatkan kualitasnya” (Al-hadits).

Saudaraku , marilah kita meluruskan niat kita dalam bekerja , dalam pekerjaan yang halal dan baik, apapun itu profesinya. Yakinkan hati kita bahwa kita berkeja semata-mata ikhlas karena allah. Sehingga apa yang kita lakukan itu merupakan wujud dari usaha kita sebagai jihad fi sabilillah.

Disamping itu juga harus diperhatikan dalam bekerja, yaitu memperhatikan adab dan etika sebagai seorang hamba yang muslim, seperti etika dalam berbicara, bergaul, makan, melayani konsumen, atau relasi dst.
Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya ,” Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkaran-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan …” (Hr Muslim).

Wallahu a’lam bish shawab.
Sumber : Ash Showah



Kecewa

Menurut kamus Webster, kekecewaan adalah perasaan yang timbul karena menginginkan seuatu namun tidak berhasil mendapatkannya. Kecewa sangat banyak ragamnya, misalnya orang yang jujur dalam bekerja, rajin dan sunguhn-sungguh, justru mendapati kawan sejawatnya yang brengsek justru lebih laju kariernya. Kecewa pada kawan, kecewa pada tetangga, kecewa pada suami, kecewa pada malam. Bahkan orang pun bisa kecewa pada Tuahn-nya. Kekecewaan ini sesungguhnya tidak perlu terjadi. Tetapi kenyataanya terjadi juga, karena kita bodoh. Sehingga kegembiraan kita yang wajar menjadi terampas, sukacita yang sudah ditangan menjadi hilang. Dengan kebodohan kita, kita mau saja menjadi kecewa, dan membiarkan hati kita larut dalam kepahitan dan dendam, amarah, depresi, benci , fitnah, ghibah, kekerasan dst.

Salah satu jenis kekecewaan adalah kekecewaan karena kebodohan kita. Penyebab utama hal ini adalah harapan yang tidak realistis, ambisi yang tidak masuk akal, keinginan yang mustahil.

Saudaraku , tidak semua keinginan tercapai.

Ingat-lah , Tuhan saja tidak memperoleh semua yang diinginkan-Nya. Buktinya, adalah keinginan Tuhan agar semua manusia masuk surga tetapi kita tahu banyak yang masuk neraka. Jadi janganlah terlalu bernafsu , dengan berharap semua keinginan kita bisa tercapai. Misalnya, orang berharap kaya raya dengan memasang lotere (judi), padahal kita tahu penjudilah yang biasanya justru jatuh miskin.

Tidak semua harapan adalah too good to be true, bahkan sebenarnya mustahil. Kekecewaan seperti ini terjadi karena kebodohan kita sendiri. Secara umum semua ilusi (kekecewaan) diatas berakar pada empat keinginan ;

  • a. Keinginan agar segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak kita dan agar orang lain bertindak sesuai dengan keinginan kita. Dan ini tidak mungkin, karena Allah mengkaruniakan kehendak yang bebas pada setiap orang, dan keinginan orang lain umumnya bebrbeda dengan keinginan kita.

  • b. Keinginan untuk selalu dicintai, disukai dan dikagumi orang lain . Terutama (orang lain tsb) adalah atasan kita, bos kita atau orang-orang yang kita anggap penting dalam pergaulan kita. Ini juga tidak realistis karena sikap dan pikiran orang lain tersebut berada diluar kendali kita.

  • c. Keinginan untuk selalu berhasil / sukses setiap saat. Ini juga sangat tidak realistis, karena untuk mencapai satu kesuksesan, seseorang perlu melalui tahap kegagalan.

  • d. Keinginan agar factor-faktor eksternal selalu mendukung usaha keberhasilan kita. Ini pun salah, kualitas diri kita sendiri-lah yang menentukan apakah faktor-faktor luar itu mendukung atau menghambat kita.


Jadi agar kita terhindar dari kekecewaan bodoh, yang harus dilakukan adalah ;

  1. Hidup realistis, jangan berharap yangterlalu aneh.

  2. Mempelajari hukum alam dan kebenaran yang terdapat didalamnya.

  3. Curigalah pada apa saja yang terlalu indah, terlalu tinggi atau terlalu gampang. Umumnya dibelakangnya ada penipuan.

  4. Ingatlah selalu, bahwa karya anda sendirilah yang akan membuat anda senang, berkecukupan dan merasa bahagia.


Saudaraku apa yang anda terima dengan sangat gampang akan lenyap dengan sangat gampang pula.

Allahu a’lam
Sumber : The Way to happiness, Ghalib ahmad Masri




Rabu, 03 Juni 2009

Pengakuan iblis

Segala puji hanya milik ALLAH SWT, Pencipta semesta alam. Shalawat dan salam sejahtera semoga senantiasa dilimpahkan kepada seorang Nabi yang Ummi, Muhammad saw, dan kepada keluarganya yang bersih serta seluruh sahabatnya yang mulia.
Pada pertemuan kali ini , kita akan membahas pengakuan iblis laknatullah ketika berdialog dengan Rasulullah saw. Semoga menjadikan pelajaran bagi kita semua.

Dalam sebuah hadits yang panjang.Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal r.a., dari Ibnu Abbas r.a. yang berkisah: Kami bersama Rasulullah saw. di rumah salah seorang sahabat Anshar, dimana saat itu kami di tengah-tengah jamaah.
Lalu ada suara orang memanggil dari luar, "Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku."
Rasulullah bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu?"

Mereka menjawab, "Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Lalu Rasulullah saw. menjelaskan, "Ini adalah iblis yang terkutuk semoga Allah senantiasa melaknatnya."

Kemudian Umar r.a. meminta izin kepada Rasulullah sembari berkata, "Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?"
Beliau menjawab, "Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk makhluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah diketahui (hari Kiamat)? Akan tetapi sekarang silakan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintah untuk datang ke sini, maka pahamilah apa yang ia ucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian."

Ibnu Abbas berkata: Kemudian dibukakan pintu, lalu ia masuk di tengah-tengah kami. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata.
Ia berjenggot sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda.
Kedua kelopak matanya terbelah ke atas (tidak ke samping). Sedangkan kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau.
Ia datang sambil memberi salam. 'Assalamu'alaika ya Muhammad, Assalamu'alaikum ya Jamaa'atal muslimin," kata iblis.

Nabi menjawab, "Assalamu lillah ya la'iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai makhluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu tersebut wahai Iblis?"

"Wahai Muhammad, saya datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang ke sini karena terpaksa," tutur iblis.
“Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini wahai makhluk terkutuk?" tanya Rasulullah.

Iblis menjawab, "Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan Yang Mahaagung, dimana utusan itu berkata kepadaku, 'Sesungguhnya Allah swt. memerintahmu untuk datang kepada Muhammad saw. sementara engkau adalah makhluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak-cucu Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad dengan jujur. Maka demi Kebesaran dan Keagungan Allah, jika engkau menjawabnya dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah jadikan debu yang bakal dihempaskan oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang.'
‘Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawabnya dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang bakal saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku."

Rasulullah melemparkan pertanyaan kepada iblis, "Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka ceritakan kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci ?"
Iblis menjawab dengan jujur, "Engkau, wahai Muhammad, adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu."

"Lalu siapa lagi yang paling engkau benci?" tanya Rasulullah.
"Seorang pemuda yang bertakwa dimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah swt.," jawab Iblis.
"Siapa lagi?" tanya Rasulullah
"Orang alim yang wara' (menjaga diri dari syubhat) lagi sabar," jawab iblis.
"Siapa lagi?" tanya Rasulullah
"Orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (hadats besar, kecil dan najis; pent.)," tutur iblis
"Siapa lagi?" tanya Rasulullah
"Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya ke pada siapa pun dan juga tidak pernah mengeluh penderitaan yang dialaminya." jawab iblis.

"Lalu dari mana engkau tahu kalau ia bersabar?" tanya Rasulullah.
"Wahai Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaannya kepada makhluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar," jelas Iblis.

"Lalu siapa lagi, wahai lblis?" tanya Rasul.
"Orang kaya yang bersyukur," tutur iblis.
"Lalu apa yang bisa memberi tahu kepadamu bahwa ia bersyukur?" tanya Rasulullah
"Bila saya melihatnya ia mengambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada tempatnya," tutur iblis.

"Bagaimana kondisimu apabila ummatku menjalankan shalat?" tanya Rasulullah.
"Wahai Muhammad, saya langsung merasa gelisah dan gemetar," jawab iblis.
"Mengapa wahai makhluk yang terkutuk?" tanya Rasulullah.

"Sesungguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud, maka Allah akan mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila membaca al-Qur'an, maka saya akan meleleh (mencair) seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila bersedekah maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu memotong saya menjadi dua," jawab iblis.
"Mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis)?" tanya Rasulullah.
"Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan: Dengan sedekah itu, Allah akan menurunkan keberkahan dalam hartanya, menjadikan ia disenangi di kalangan makhluk Nya, dengan sedekah itu pula Allah akan menjadikan suatu penghalang antara neraka dengannya dan akan menghindarkan segala bencana dan penyakit," tutur iblis menjelaskan.

"Lalu bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?" tanya Rasulullah.
"Ia sewaktu jahillyyah saja tidak pernah taat kepadaku, apalagi sewaktu dalam Islam," tutur iblis.

"Bagaimana dengan Umar bin Khaththab?" tanya Rasulullah.
"Demi Allah, setiap kali saya bertemu dengannya, mesti akan lari darinya," jawab iblis.

"Bagaimana dengan Utsman?" tanya Rasulullah.
"Saya merasa malu terhadap orang yang para malaikat saja malu kepadanya," jawab iblis.

"lalu bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib?" tanya Rasulullah.
"Andaikan saya bisa selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya, ia meninggalkanku dan saya pun meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu sama sekali," tutur iblis.
"Segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan ummatku bahagia dan mencelakakan mu sampai pada waktu yang ditentukan," tutur Rasulullah.

"Tidak dan tidak mungkin, dimana ummatmu bisa bahagia sementara saya senantiasa hidup dan tidak akan mati sampai pada waktu yang telah ditentukan.
Lalu bagaimana engkau bisa bahagia terhadap ummatmu, sementara saya bisa masuk kepada mereka melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak bisa melihatku. Demi Tuhan Yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hari mereka dibangkitkan kembali (Kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa membaca al Qur'an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba Allah yang mukhlas (sangat-sangat ikhlas)," tutur iblis.

"Siapa menurut engkau hamba-hamba Allah yang mukhlas itu?" tanya Rasulullah.
Iblis menjawab, "Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad , bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar (harta) adalah belum bisa murni karena Allah swt. Apabila saya melihat seseorang sudah tidak menyukai dirham dan dinar, serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adalah orang yang mukhlis karena Allah, lalu saya tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian, sedangkan hatinya selalu bergantung pada kesenangan-kesenangan duniawi, maka ia akan lebih taat kepadaku daripada orang-orang yang telah saya jelaskan kepadamu.

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu termasuk dosa yang paling besar?
Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta kedudukan adalah termasuk dosa yang paling besar?
Apakah engkau tidak tahu, saya memiliki tujuhpuluh ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuhpuluh ribu setan. Di antara mereka ada yang sudah saya tugaskan untuk menggoda ulama, ada yang saya tugaskan untuk menggoda para pemuda, ada yang saya tugaskan menggoda orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak ada masalah, sedangkan anak-anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya.

Di antara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekun beribadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang zuhud. Mereka keluar masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke pintu lain, sehingga mereka berhasil dengan menggunakan cara apa pun.
Saya ambil dari mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah kepada Allah dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu.

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Barshish seorang rahib (pendeta) yang berbuat ikhlas karena Allah selama tujuhpuluh tahun, sehingga dengan doanya ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang sakit. Akan tetapi saya tidak berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seorang perempuan, membunuh orang dan mati dalam kondisi kafir? Inilah yang disebutkan oleh Allah dalam Kitab Nya dengan firman-Nya:
"(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: Kafirlah kamu maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, 'Sesungguhnya aku cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam." (Qs. al Hasyr: 16).

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari saya, saya adalah orang yang berbohong pertama kali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barangsiapa bersumpah atas Nama Allah dengan berbohong maka ia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan atas Nama Allah, 'Bahwa saya akan memberi nasihat kepada kalian berdua.'

Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah penyejuk mataku dan kesenanganku.
Barangsiapa bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hampir tidak akan bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istrinya akan menjadi haram. Kemudian dari pasangan tersebut menghasilkan keturunan sampai hari Kiamat nanti yang semuanya hasil dari anak-anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka hanya gara-gara satu ucapan.

Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara ummatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak menjalankan shalat maka saya selalu berada padanya dan mengganggu sembari berkata kepadanya, 'Masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan.' Sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat di luar waktunya. Akibatnya dengan shalat yang dikerjakan di luar waktunya itu ia akan dipukul di kepalanya.
Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang dari setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu saya masih kalah, maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan shalat. Ketika dalam shalatnya saya berkata kepadanya, 'Lihatlah ke kanan dan ke kiri.' Akhirnya ia melihat. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya, kemudian saya menghadap di depan matanya sembari berkata, 'Engkau telah melakukan apa yang tidak akan menjadi baik selamanya.'
Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan shalat tersebut. Kalau dalam shalat ia sanggup mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian, maka saya perintah untuk tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan shalat seperti ayam yang mencocok benih-benih untuk dimakan dan segera meninggalkannya.
Kalau ia sanggup mengalahkan saya, dan shalat berjamaah, maka saya kalungkan rantai di lehernya. Ketika ia sedang ruku' saya tarik kepalanya ke atas sebelum imam bangun dari ruku' dan saya turunkan sebelum imam turun.

Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang melakukan shalat seperti itu, maka batal shalatnya, dan di hari Kiamat nanti Allah akan menyalin kepalanya dengan kepala keledai.
Kalau dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perintahkan meremas-remas jari-jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang shalat, karenanya ia termasuk orang-orang yang bertasbih kepadaku padahal ia sedang shalat. Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka saya tiup hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang shalat. Kalau ia tidak menutupi mulutnya dengan tangannya maka setan masuk ke dalam perutnya, sehingga ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu mendengar dan taat kepadaku.

Bagaimana ummatmu bisa bahagia wahai Muhammad, sementara saya memerintah orang-orang miskin untuk meninggalkan shalat, dan saya berkata kepadanya, 'Shalat bukanlah kewajiban kalian, shalat hanya kewajiban orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah.' Saya pun berkata kepada orang yang sakit, 'Tinggalkan shalat, karena shalat bukanlah kewajibanmu. Shalat hanyalah kewajiban orang-orang yang diberi nikmat kesehatan.
Sebab Allah sudah berfirman, , “... dan tidak apa apa bagi seorang yang sedang sakit ...,“(Q.s. an Nur: 61). Kalau engkau sudah sembuh baru melakukan shalat.' Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan meninggalkan shalat ketika sedang sakit, maka ia akan bertemu Allah dengan dimurkai.

Wahai Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendak
nya engkau memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad, apakah engkau masih juga merasa gembira terhadap ummatmu, sementara saya bisa memurtadkan seperenam dari ummatmu untuk keluar dari Islam?"

Kemudian Rasulullah meneruskan pertanyaannya, "Wahai makhluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu?"
"Orang-orang yang suka makan riba," jawab iblis.
"Lalu siapa teman dekatmu?" tanya Rasululah kembali.
"Orang yang berzina," jawabnya.
"Siapa teman tidurmu?" tanya Rasulullah.
"Orang yang mabuk," jawabnya.
"Siapa tamumu?" tanya Rasulullah.
"Pencuri," jawabnya.
"Siapa utusanmu?" tanya Rasulullah.
"Tukang sihir," jawabnya.

'Apa yang menyenangkan pandangan matamu?" tanya Rasulullah.
"Orang yang bersumpah dengan talak," jawab iblis.
"Siapa kekasihmu?" tanya Rasulullah.
"Orang yang meninggalkan shalat Jum'at," jawabnya.
"Wahai makhluk yang terkutuk, apa yang mengakibatkan punggungmu patah?" Tanya Rasulullah.
"Suara ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah," jawabnya.
“Apa yang menjadikan tubuhmu meleleh?" tanya Rasulullah.
"Tobatnya orang yang bertobat" jawabnya.
“Apa yang membuat hatimu panas?" tanya Rasulullah.
"Banyaknya istighfar kepada Allah, baik di malam atau siang hari," jawabnya.

“Apa yang membuatmu merasa malu dan hina?" tanya Rasulullah.
"Sedekah secara rahasia," jawabnya
"Apa yang menjadikan matamu buta?" tanya Rasulullah.
"Shalat di waktu sahur," jawabnya.
“Apa yang dapat mengendalikan kepalamu?" tanya Rasulullah.
"Memperbanyak shalat berjamaah," tuturnya.
"Siapa orang yang paling bisa membahagiakanmu?" tanya Rasulullah
"Orang yang sengaja meninggalkan shalat," tuturnya.
"Siapa orang yang paling celaka menurut engkau?" tanya Rasulullah
"Orang-orang yang kikir," jawabnya
"Apa yang menyita pekerjaanmu?" tanya Rasulullah.
"Majelis orang-orang alim," jawabnya.
"Bagaimana cara engkau makan?" Tanya Rasulullah
"Dengan tangan kiriku dan jari-jemariku," jawabnya
"Di mana engkau mencari tempat berteduh untuk anak anakmu di waktu panas?" tanya Rasulullah
"Di bawah kuku manusia," jawab iblis
"Berapa kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhamnu?" tanya Rasulullah.

"Sepuluh macam," jawabnya
"Apa saja itu wahai makhluk terkutuk?" tanya Rasulullah
Iblis pun menjawabnya, "Saya memintaNya agar saya bisa berserikat dengan anak-cucu Adam dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Tuhan mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah:
"Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka." (Q.s. al Isra': 64).

Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah:
“Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki." (Q.s. al Isra': 64).

Saya memohon kepada Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Saya memohon agar saya punya Al-Qur'an, maka syair adalah al-Qur'anku. Saya memohon agar saya punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku. Saya memohon kepadaNya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku.
Saya memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya mendapatkan teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku. Ia kemudian membaca firman Allah, “Sesungguhnya pemboros pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.s. al Isra': 27)."

Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Andaikan tidak setiap apa yang engkau ucapkan itu didukung oleh ayat-ayat dari Kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu."

Lalu iblis berkata lagi, "Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam, sementara mereka tidak bisa melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku bisa mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku bisa berjalan ke mana pun sesuai kemauan diriku dan dengan cara bagaimana pun. Kalau saya mau dalam sesaat pun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku, 'Engkau bisa melakukan apa saja yang kau minta.' Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari Kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada orang yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari Kiamat.

Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Atamah (Isya'). Andaikan tidak karenanya tentu manusia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan shalat.

Saya juga punya anak yang saya beri nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan (ibadah) dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan di tengah-tengah manusia, sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahalanya. Sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Sebab setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala.

Saya punya anak lagi yang bernama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang berada di majelis pengajian dan ketika khathib
sedang berkhuthbah. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikit pun untuk selamanya.
Setiap kali ada perempuan keluar mesti ada setan yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua setan itu kemudian berkata kepadanya, 'Keluarkan tanganmu.' Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.

Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak bisa menyesatkan sedikit pun. Akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikan saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak membiarkan segelintir manusia pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan dua kalimat syahadat, 'Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya.' Tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa. Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak untuk memberikan hidayah sedikit pun kepada siapa saja. Akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanat dari Tuhan. Andaikan engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang kafir pun di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai argumentasi (hujjah) Tuhan terhadap makhluk-Nya. Sementara saya hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya."

Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah:
"Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat Yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu." (Q.s. Hud: 118 9).

Kemudian beliau melanjutkan dengan firman Allah yang lain:
"Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku." (Q.s. al Ahzab: 38).
Lantas Rasulullah saw. berkata lagi kepada iblis, "Wahai Abu Murrah (iblis), apakah engkau masih mungkin bertobat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk surga.”
Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari kiamat nanti. Maka Mahasuci Tuhan Yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan khatib para penduduk surga. Dia telah memilih dan mengkhususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang celaka dan khatib para penduduk neraka. Saya adalah makhluk yang celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu, dan saya mengatakan sejujurnya."

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, awal dan akhir, dhahir dan bathin. Dan semoga shalawat dan salam sejahtera tetap diberikan kepada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sehabatnya serta para Utusan dan para Nabi

Sumber kutipan : Cerita dan Hikmah Islam , http://www.dtjakarta.or.id



Selasa, 02 Juni 2009

Merasa gagal

Kegagalan dalam hal apa saja terkadang membuat kita merasa kehilangan sesuatu yang tadinya kita miliki. Kegagalan dalam berumah tangga sering membuat masing-masing pasangan merasa kehilangan. Kehilangan berbagai hal yang semula kita merasa memilikinya, misalnya kehilangan benda yang kitsukai, kehilangan cinta, kebiasaan , hobi , perhatian dst.

Kehilangan-kehilangan semacam ini seringkali membuat seseorang merasa tidak memiliki harapan lagi (hopeless). Ia merasa tak berguna lagi tak dihargai lagi. Akibat yang sering terjadi adalah frustasi hingga depresi. Kita bisa masih tersenyum, namun terasa senyuman ini dipaksakan. Orang-orang bisa saja mengatakan bahwa dia bahagia, namun kebahagiaan itu tidak lahir secara penuh dan tulus, masih ada yang mengganjal.

Jadi dari sinilah rasakepemilikan ini muncul. Karena rasa memiliki yang begitu besar terhadap pasangan atau benda-benda lainnya. Bilamana hal-hal tersebut hilang dari kepemilikan, maka kita akan merasa tak berguna atau bahkan merasa tercampakkan.

Mengapa ada rasa tidak enak? Mengapa ada rasa sedih ? Mengapa ada rasa bersalah? Mengapa ada rasa kecewa ? Pertanyaan semcam ini akan banyak mucul di benak kita.

Saudaraku, segala sifat dan karakter dari apapun dan siapapun adalah rapuh dan selalu berubah. Mengapa kita tidak berpaling pada sesuatu yang tidak rapuh dan tidak berubah? Adakah kebenaran yang membuat kita merasa bahagia dan lega?

Firman Allah, yang artinya ,” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ,” (Qs. Ali ‘imran : 189)

Firman Allah, yang artinya ,” (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ‘Ya tuhan kami, tiadalah Engaku menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka’ “. (Qs. Ali ‘imran: 191).

Mengapa kita tidak menyandarkan diri kepada pemilik jagad raya ini ? kenapa harus menyandarkan perasaan kepemilikan terhadap benda-benda yang rapuh. Jadi apapun itu dan siapapun itu orangnya pasti akan berubah. Perubahan adalah hukum alam (sunatullah) bagi semua benda atau semua makhluk ciptaan Allah. Nah kenapa kita mesti kecewa kepada suatu hal yang rapuh dan selalu berubah,

Mengapa kita tidak mengalihkan perhatian pada sesuatu yang tiada pernah berubah, sesuatu yang kekal bukankah Allah-lah kerajaan yang menguasai dan memiliki langit dan bumi, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Saudaraku, kesedihan dan kekecewaan terjadi karena kita terlalu memegang dan mengharapkan sesuatu yang bersifat rapuh, sesuatu yang tidak kekal dan selalu berubah. Semakin erat kita kita memegang maka akan semakin sedih dan kecewa bila pegangan itu lepas. Harta, pangkat, jabatan dan sebagainya adalah rapuh dan tiada kekal. Semakin erat anada menggenggamnya , maka mereka akan segara manyakiti anda.

Berpeganglah kepada Allah Yang Maha Kekal. Percayakan semua persoalan kita kepada Allah, yakinlah keajaiban akan menghampiri kita.
Sebagaimana firman Allah, yang artinya ,” Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkanmu, Jika Allah membiarkan kamu (tidak member pertolongan), maka siapakah greangan yang dapat menolong kamu (selain ) dari Allah sesudah itu ? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal “, (Qs. Ali ‘Imran : 160).

Janganlah anda serahkan persoalan anda kepada siapapin dan apapun, karena mereka hanya makhluk yang tiada memiliki daya untuk menyelesaikan persoalan yang sedang anda hadapi.

Saudaraku, mendekatlah kepada Allah, itulah satu-satunya jawaban. Persoalan apapun yang anda hadapi, akan beres dengan sendirinya dengan cara mendekatkan diri kepada Allah.

Allau a’lam
Sumber : gagal itu indah, Yusran Pora