*****Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yg sabar.(Qs.Al-Baqarah 2 : 155).*****Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga , padahal (cobaan) belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya , berkata, 'kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(Qs.Al-Baqarah 2 : 214). *****Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan , agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.(Qs.Al-An'am 6 : 42). *****Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yg baik-baik dan (bencana) yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepda kebenaran). (Qs. Al-A'raf 7 : 168). *****Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetar hatinya , dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yg melaksanakan shalat dan yg menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yg benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yg mulia. (Qs.An-anfal 8 : 2-4). *****Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yg berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yg setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan. (Qs. At-Taubah 9 : 16) *****Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya 21 : 35). *****Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh , Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yg dusta. (Qs. Al-'Ankabut 29 : 2-3)

Rabu, 02 Juli 2008

Anda adalah apa yang anda pikirkan


Jika anda percaya sesuatu itu tidak mungkin, pikiran anda akan bekerja bagi anda untuk membuktikan mengapa hal itu tidak mungkin.Akan tetapi jika anda percaya , benar-benar percaya, sesuatu dapat dilakukan, pikiran anda akan bekerja bagi anda
dan membantu anda mencari jalan untuk melaksanakannya Percaya sesuatu dapat memuluskan jalan untuk solusi yang kreatif. Percaya bahwa sesuatu tidak dapat dilakukan adalah cara berpikir yang destruktif. Hal ini berlaku dalam segala situasi

• Anda dapat menemukan cara-cara untuk mendekati seseorang jika anda percaya anda dapat melakukannya.
• Anda dapat menemukan cara untuk membeli rumah baru , jika anda percaya anda dapat melakukannya.
• Anda dapat berangkat ibadah haji, jika anda percaya (yakin) , anda dapat melaksanakannya.
Kepercayaan melepaskan kekuatan kreatif. Ketidak percayaan menjadi rem bagi berpikir kreatif. Percayalah , dan anda pun akan mulai berpikir secara konstruktif.

Pikiran anda akan menciptakan jalan jika adan mengizinkannya.
Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Percayalah sesuatu itu dapat dilakukan. Inilah dasar berpikir kreatif. Ada beberapa cara untuk membantu anda mengembangkan kekuatan kreatif melalui kepercayaan.

  1. Hapus kata tidak mungkin, baik dari pikiran maupun kosakata pembicaraan anda. Tidak mungkin adalah suatu kegagalan. Pikiran “ini tidak mungkin”, argo reaksi berantia mulai berjalan dari pikiran untuk membuktikan bahwa pendapat (anda) itu benar.
  2. Pikirkan sesuatu yang istimewa yang selama ini ingin anda lakukan, tetapi anda rasa tidak anda tidak dapat melakukannya.. Sekarang buat daftar alasan mengapa anda dapat melakukannya.. Banyak dari kita mengalahkan dan menaklukkan keinginan kita hanya karena kita berkonsentrasi pada mengapa kita tidak dapat sementara satu-satunya hal yang layak untuk konsentrasi mental kita adalah mengapa kita bisa.

Tidak ada yang bisa tumbuh dalam es. Jika kita membiarkan tradisi membekukan pikiran kita, gagasan baru tidak mungkin tumbuh. Sebenarnya tidak ada satu cara terbaik untuk mengerjakan apapun. Ada banyak cara terbaik sebanyak adanya pikiran yang kreatif.

Buanglah cara berpikir tradisional yang membekukan pikiran anda, menghalangi kemajuan anda, mencegah anda mengembangkan kekuatan kreatif. Berkiut ini tips cara untuk mememranginya.

  1. Jadilah orang yang bersedia menerima gagasan. Sambut baik gagasan. Singkirkan pikiran penghalang, sepert “tidak akan berhasil”,”tidak dapat dikerjakan”,”ini tidak ada gunanya” dan “ini tindakan bodoh”.
  2. jadilah orang yang suka bereksperimen. Jangan hanya mengikuti rutinitas yang tetap. Pergilah ke restoran baru, beli buku baru, ambil rute yang berbeda dsb.
  3. Menjadi progresif bukan regresif. Hindari” Itulah cara kami bias mengerjakannya maka kami harus mengerjakan dengan cara itu”. Melainkan”Bagaimana kami dapat mengerjakannya lebih baik daripada yang biasa saya lakukan”.

Anda adalah apa yang anda pikirkan mengenai diri anda.
Orang yang berfikir bahwa dirinya inferior, menjadikan dirinya inferior., karena pikiran mengatur tindakan. Jadi ia bertindak dengan cara yang inferior. Orang yang merasa dirinya tidak penting benar-benar menjadi tidak penting.
Sumber : The magic of thingking big, David J Schwartz



Selasa, 01 Juli 2008

Manajemen Amal Shalih


Setiap kita selalu rindu melakukan amal shalih , karen aamalan ini adalah buah dari keimanan kita. Belum disebut beriman jika tidak ada amal shalih yang dilakukan. Untuk beramal shalih dengan benar dan istiqomah memang perlu untuk diperhatikan
Setidaknya ada beberap asyarat yang perlu kita penuhi untuk agar amal shloih kita berjalan secara istiqomah.
Buah keimanan ini memang harus kita pertahankan dan kita tingkatkan kualitasnya.
Ada beberapa kiat yang bisa kita jadikan referensi , agar amalan ini mencapai kualitas yang kita dambakan.
1. Berlandaskan ilmu . Untuk beramal shalih perlu ilmu. Ilmu tantang keikhlasan dan ilmu tentang tuntunan terhadap amal shalih tersebut. Keduanya kita ibaratkan sebagai dua sisi mata uang , dimana hialngnya satu sisi menyebabkan mata uang tersebut tidak laku. Dari hadits riwayat Buchari Muslim, disebutkan ‘ Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan kami (syariat) yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari kami maka amalan itu tertolak”.
2. melakukan mulai sekarang, janganlah kita menunda-nunda amal shalih. karena kebiasaan menunda adalah penyakit malas yang dapat menghapuskan semangat, dan menjerumuskan kita kedalam angan-nagan belaka. Firman Allah,” Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa menundukkan kepalanya di hadapan Tuhan-nya, (mereka berkata) : “Ya Tuhan kami, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (As Sajdah : 12).
3. Tidak meremehkan hal-hal kecil. Tidak ada sesuatu yang kecil kalau dikumpulkan terus-menerus. Amalan shalih, walaupun kelihatannya kecil dan sepele, namun jika dilakukan terus-menerus akan terkumpul menjadi banyak. Sebaliknya janganlah kita meremehkan dosa-dosa kecil, bila hal ini dilakukan berulang kali, akan menjadi dosa yang besar. Firman Allah, “ Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (Az-zalzalah : 7-8)
4. Istiqomah. Adalaah mengerjakan suatu amalan yang berkesinambungan. Amalan yang istiqomah menjadi amalan yang disukai Allah, sekalipun kecil. Tidak disebut banyak bila beramal shalih setahun sekali. Lebih baik sedikit-sedikit tetapi rutin. Firman Allah ,” Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) :” Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih ; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yanag telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushilat : 40).
5. Sabar, tidak ada amal shalih yang tidak ada tantangannya. Semua amal pasti diberi ujian dan tantangan. Tugas kita adalah melatih dan menjaga kesabaran kita. Ujian itulah yang menentukan kita apakah iman kita sudah benar atau belum. Palsu atau asli. Firman Allah ,” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “ Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-ankabut : 2-3).
Wallahua’lam.
Sumber : lembar tausiyah,




tips mudah lakukan shalat malam

Shalat malam adalah dambaan kita setiap muslim. Kalau bisa ya dilakukan rutin setiap malam. Memang berat untuk menjadikan amalan ini menjadi amalan rutin menjadi kebutuhan rutin kita. Namun ada baiknya bagi anda untuk membaca kiat-kiat agar kita dimudahkan Allah melakukan amalan ini. Semoga kiat ini menjadi tambahan informasi buat kita semua, untuk lebih bersemangat.
Salah seorang ahli ibadah mengatakan, “Wahai para hamba, janganlah kalian banyak makan, kerana kalian akan banyak minum, lalu kalian akan tidur, sehingga akan terhalang daripada mendapat banyak kebaikan, dan kalian pun akan mendapat kerugian yang besar.

  • tidak banyak makan dan minum
    Inilah pesan yang begitu bernilai. Ya, janganlah kita banyak makan agar tidak menghalang kita dari solat malam. Mari kita lakukan, dengan penuh tanggung jawab.
  • tidak terlalu memeras tenaga di waktu siang
    Antara perkara yang akan membantu anda untuk mengerjakan solat malam adalah, janganlah berlebihan dalam menggunakan tenaga diwaktu siang semasa bekerja. anda mungkin akan mengatakan, “Ini adalah kata – kata yang sangat Ideal! Sebab pekerjaan ini bukanlah pilihan sendiri. pekerjaan di waktu siang itu merupakan pekerjaan yang berat. dengan nasihat ini, anda sedang meminta kami untuk melakukan sesuatu yang mustahil!”
    Ya, wahai saudaraku. namun, kita coba meluangkan sedikit masa untuk tidur sekejap di waktu siang serta jangan lupakan niat dan matlamat.
  • menghindari maksiat
    Ini merupakan faktor penolong yang penting. salah seorang Tani’in mengatakan, “Janganlah kalian berbuat maksiat kepada Allah di waktu pagi, nescaya kalian akan mampu mengerjakan solat malam.”
    Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Saya terhalang melakukan solat malam selama lima bulan akibat sebuah dosa yang saya lakukan.” Beliau pun ditanya, “Dosa apakah itu?”. Beliau menjawab, “Saya melihat seseorang sedang menangis, kemudian saya katakan, ‘Ini adalah orang yang riya’!’ ”
    Sesungguhnya dosa adalah tali yang mengikat manusia. Mari kita melepaskan tali ini dengan penyesalan, istigfar, dan taubat.
  • bertahap
    faktor ini juga tidak kurang pentingnya . Janganlah anda menghidupkan semangat sekejap dengan mengatakan, “Saya akan mengerjakan solat sepanjang malam setiap hari!”. Tetapi jadikanlah semangat dan motivasi anda ini sebagai semangat yang seimbang, bertahap dan teratur. Kita waspada terhadap pintu penipuan syaitan. Semangat yang teratur merupakan gerbang menuju perlaksanaan ibadah ini dengan baik. Kita mulai dengan dua rakaat ringan sebelum tidur dan terus tekunlah mengerjakannya . Sehingga tidak ada hari yang dilalui tanpa mengerjakannya. Lalu ditambah sedikit, dan seterusnya tambahlah setahap, demi setahap lagi.
    Hayatilah, saudaraku “Agama itu mudah. Selamilah ia dengan lembut.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra)

Sumber : http://www.dakwah.info , Ibadah Sepenuh Hati; Amru Khalid, dalam bab Shalat)


Penyakit Syuhroh (Popularitas)

Popularitas memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta hanya karena untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian orang. Mereka selalu berusaha tampil beda agar bisa menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal yang aneh dan yang diharamkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas .Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian yang didambakan oleh banyak manusia.
Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.
Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang bentuknya berbeda, namun hakekatnya sama adalah cinta popularitas.

  1. Ahli ibadah juga pingin kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para ahli ibadah yang lain,
  2. ahli ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang yang pandai, sehingga akhirnya martabatnya tinggi dihadapan manusia.
    Penyakit inilah yang dalam kamus agama disebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang) dan sum’ah (pingin didengar orang).

Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan kehormatan dimata manusia.
Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia.

Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, (sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya ,saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya, tidak ada yang mengetahui kebaikannya) , tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas).

Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah.

  1. Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45).
  2. Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 6500 beliau berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”.
  3. Berkata Syaikh Abdul Malik, “Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini? Kenapa?, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah” (Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas).

para imam salaf yang benci ketenaran.
Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.

  1. Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni: “Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal 46)).
  2. Berkata Imam Ahmad: “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210).
  3. Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”. (As-Siyar 11/211).
  4. Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211).
  5. Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”. (As-Siyar 11/211).
  6. Berkata Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab: ”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: ”Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.” Berkata Syaikh Abdul Malik: ”Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d (7/248) dan Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih”. (Sittu Duror hal 47).

inilah akhlak salaf ,berkata Syaikh Abdul Qoyyum, “Adapun orang-orang yang memerintahkan para pengikutnya atau rela para pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata bahwa ia adalah wali Allah maka ia adalah dajjal”).

Namun banyak orang yang malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macam cara.

dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata: ”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata, ”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah”.
Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi, yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Ma’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik.

Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari ”Bagaimana sholat malam engkau”,
maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, “Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia” (Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad).

Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan kita.

Adapun sebagian kita, sudah amalannya sedikit, namun diceritakan kemana-mana
Yang mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia.

Tamim Ad-Dari, dia tidak mau menjawab orang yang bertanya tentang ibadahnya.
Dan kita berusahan , jangan samapai justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa menceritakan seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang ibadahnya, atau dakwahnya, atau perkara yang lainnya.

Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/8).

Berkata Muhammad bin A’yun, ”Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun (bersama tombakku yang ada ditanganku), menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur.

Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar. Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”. Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku.

Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya . Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok” (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim 1/266).

Ikhlas adalah sesuatu yang sangat berat, penuh perjuangan untuk bisa meraihnya. Pintu-pintu yang bisa dimasuki syaitan untuk bisa merusak keikhlasan kita terlalu banyak. Tatkala kita sedang beramal maka syaitanpun berusaha untuk bisa menjadikan kita riya’, kalau tidak bisa menjadikan kita riya’ di permulaan amal, maka dia akan berusaha agar kita riya’ di pertengahan amal. Kalau tidak mampu lagi maka di akhir amalan kita. Oleh karena itu kita dapati para salaf dahulu memngecek niat mereka ditengah amalan mereka, apakah masih tetap ikhlas atau sudah berubah?.

Diriwayatkan dari Sualaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).

Bagaimana hati-hatinya salaf dalam menjaga niat mereka, untuk bisa menyampaikan satu hadits saja (yang mungkin hanya beberapa buah kata) dia memperhatikan niatnya berulang-ulang.
1. Bagaimana dengan kita sekarang?
2. pernahkah kita mengecek niat kita disela-sela pembicaraan kita?

Mengobati penyakit cinta ketenaran
Berkata Abdullah bin Mas’ud, “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian pasti akan melemparkan tanah di kepalaku, aku sungguh berangan-angan agar Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil dengan Abdullah bin Rowtsah”. (Al-Mustadrok 3/357 no. 5382).

Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((“Untaian kalimat ini adalah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi karena tersohornya seseorang mungkin terjadi jika orang tersebut memiliki kelebihan diantara manusia, bahkan bisa jadi orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang memujinya, bisa jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak.

Oleh karena tidaklah suatu hal yang mengherankan jika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada Abu Bakar –padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam - yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam-pen), yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah berkata tentangnya, “Jika ditimbang iman Abu Bakar dibanding dengan iman umat maka akan lebih berat iman Abu Bakar”, namun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkannya untuk berdo’a di akhir sholatnya, “Robku, sesungguhnya aku telah banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau maka ampunilah aku dengan pengampunanMu”. Yang mewasiatkan adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Robnya maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia diagungkan diantara manusia, khawatir diangkat-angkat diantara manusia, karena ia mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.
Diantara manusia ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Diantara manusia ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.

Diantara mereka ada yang menjadi da’i yang terkenal dengan pengorbanannya dan perjuangannya dalam berdakwah maka orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya karena Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaranya. Demikian juga ada yang terkenal dengan sikapnya yang selalu menunaikan amanah, ada yang tersohor dengan sikapnya yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan demikianlah… Posisi terkenalnya seseorang merupakan posisi yang sangat mudah menggelincirkan seseorang, oleh karena itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya sendiri dengan menjelaskan keadaan dirinya (yang penuh dengan dosa), dan menjelaskan apa yang wajib bagi setiap orang yang memiliki pengikut…
Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya diantara manusia dan menampakkan hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan manusia namun agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua kembali kepada keikhlasan, karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia namun agar tersohor dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan. Dan diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia dan Allah mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan dengan Allah, ia takut hari di mana dibalas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada disimpan di hati-hati, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan pembicaraan mereka di hadapan Allah.
Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang diikutinya itu tidak boleh diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya berupa syari’at Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat, karena yang diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka bagi mereka rasa cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut, rendah, dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang di belakangnya.

Oleh karena itu tatkala Abu Bakar dipuji di hadapan manusia maka ia berkutbah setelah itu dan riwayat ini shahih sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata: “Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangkakan dan ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak ketahui”, ia mengucapkan doa ini dengan keras untuk mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa sehingga mereka tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat pada kenyataan dimana orang yang diagungkan semakin menjadi-jadi agar diagungkan dirinya??, orang yang mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang diikutinya?? Ini bukanlah jalan para sahabat radhiallahu ‘anhum, Umar terkadang ujub dengan dirinya -dan dia adalah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan masuk surga setelah Abu Bakar-, maka ia pun memikul suatu barang di tengah pasar untuk merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa dirinya besar.

Diantara kesalahan-kesalahan adalah sifat ujub (takjub dengan diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya waw (hebat). Ada diantara salafus shalih yang jika hendak menyampaikan suatu (mau’idzoh) dan jika ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut, kenapa?, karena keselamatan jiwanya lebih utama dibandingkan keselamatan jiwa orang lain, karena ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari bahwa dirinya mulai merasakan bahwa dirinya senang karena kehadiran mereka, yang pada diam memperhatikannya, dan memperhatikannya, maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akibat hal tersebut, Namun yang paling penting adalah keselamatan jiwa dan hatinya dihadapan Allah. Dan keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan hati orang lain…”)). (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud).

Sumber: http://muslim.or.id , Ikhlas dan Bahaya Riya, Ustadz Firanda
1. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, dar As-Salam, Riyadh, cetakan pertama Tahun 2000 masehi
2. Al-Minhaj syarh Sohih Muslim, Imam Nawawi, Dar Al-Ma’rifah
3. Jami Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rojab, tahqiq Al-Arnauth
4. Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, Syaikh Abdul Malik Romadhoni, maktabah Al-Asholah
5. Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Al-Banna, dar Ibnu Hazm, cetakan pertama
6. Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, Dar Ibnul Jauzi
7. Al-Ikhlash, Sulaiman Al-Asyqor, dar An-Nafais
8. Silsilah Al-Ahadits As-Sohihah, Syaikh Al-Albani
9. Aina Nahnu min Akhlak As-Salaf, Abdul Aziz bin Nasir Al-Jalil, Dar Toibah
10. Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud, transkrip dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh
11. Tazkiyatun Nufus, Ahmad Farid