Minggu, 02 September 2012

sebagai Pelengkap namun vital

Bila sebuah kemeja, pakaian, jilbab atau lainnya yg sobek  atau berlubang pd salah satu bagiannya, lantas anda menambalnya dgn potongan kain yg lain. Maka sesudah selesai ditempel da dijahit mk  potongan kain tersebut menjadi bagian yg menyatu  dgn kemeja,  baju , jilbab atau lainnya. Walaupun sebelum ditempel , potongan kain tsb bukan bagian dari baju, kemeja atau jilbab tetapi sesudah ditempel mk ia menjadi bagian utuh dari satu unit baju atau jilbab tsb.
Saudaraku ini  adalah kiasan dari kesungguhan hamba beriman dlm menjaga perkara fardhu (wajib)  dgn diiringi mengerjakan perkara sunnah sbg tambahan atau bagian yg melengkapi . Dalam shalat fardhu mk pengiringnya adalah shalat sunnah rawatib. 
Tiada seorangpun diantara kita yg sanggup utk sempurna dalam mengerjakan shalat secara khusyu’ dan merasakan kehadiran Allah sbg Maulanya, mulai shalat hingga selesai. Pasti ada kealpaan, kekurangan,kelupaan didalamnya.


Rasulullah SAW  mengajarkan kepada kita semua untukmemohon ampun kepada Rabb seusai mengerjakan shalat . Dicontohkan ucapan , Astaghfirullahal  ‘azhim alladzi la ilaha illa huwa,al-hayyul qayyum wa atubu ilaih (aku memohon ampunkepada Allah Yang Maha Agung, Yang tiada sesembahan kecuali Dia,  Yang Maha Hidup dan Maha Mengurusi  terus menerus dan aku bertaubat kepada-Nya).

Kita semua diajarkan untuk memohon ampunan dari kekurangan, kealpaan dan kekurangan lainnya di kala mengerjakan shalat.

Jika shalat fardhu kita tak akan pernah sempurna sebagaimana dilakukan olah Rasulullah , lantas apa yangbisa menambalkekurangan pada ibadah shalat fardhu kita?

Rasulullah SAW besabda yang kemudian diabadikan dalamhadits yang panjang :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“ Sesungguhnya perkara yang akan dihisap pertama kali dari seorang hamba  pada hari kiamat adalah shalatnya.Apabila shalatnya baik maka ia beruntung dan selamat, sedangkan apabila shalatnya rusak maka ia celaka dan rugi. Jika ada kekurangan di dalam shalat wajibnya maka Allah Ta’ala berfirman :” Perhatikanlah , apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat sunnah yang bisa menutupi kekurangan pada shalat wajibnya. Kemudian seluruh amalannya juga dihisap dengan cara itu”.
(Termaktub dalam kitab at-Targhib wa at-Tarhib, dari Abu Hurairah, diriwayatkan At-Tirmidzi).

Adapun pada riwayat Tamimad-Dari ra dalam Jami’al al-Ahadits wa al-Marasil,  termaktub yang artinya, “ jika ia telah menyempurnakan shalat wajibnya maka itu sudah cukup. Adapaun jika tidak maka dikatakan,”Perhatikanlah, apakah ia biasa mengerjakan shalat sunnah?”.
“ Bila ada maka shalat sunnah itu dapat menutupkekurangan shalat wajibnya. Jika shalat wajibnya tidak sempurna sedangkan ia juga tidak mengerjakan shalat sunnah maka dipegang  ujung-ujung tubuhnya dan dicampakkan ke neraka”.

Fauzi  Muhammad Abu Zayd dalam Kayfa Yubibbukallah Dar Al-Iman Wa Al-Hayah, menyatakan bahawa, bila demikian jelaslah bahwa shalat sunnah dapat menutupi kekurangan pada shalat fardhu. Sehinga apaka ia (shalat sunnah) dianggap sebagai shalat sunnah ataukah berubah menjadi bagian dari shalat fardhu?
Ya benar ia menjadi bagian dari shalat fardhu.  Lantas untuksiapakah shalat rawatib itu dianggap sebagai shalat sunnah?

Untuk itulah sesudah seorang hamba menyelesaikan shalat fardhunya maka hendaklah ia menambah pada shalat sunahnya.

Sungguh amalan sunnah (temasuk shalat sunnah ) akan menyertai amalan-aamalan fardhu (termasuk shalat fardhu). Berkenaan dengan itu ,terdapat sebuah sabda Rasulullah SAW yanga rtinya,” Barang siapa yang mengerjakan shalat sunnah sebanyak sepuluh rekaat dalam sehari maka dibangunkan untuknya istana di surga”.

Amalan-amalan sunnah akan menjadikan seorang hamba menjadi hamba yang dicintai Allah.  “ Tiada henti hamba-Ku itu mendekat kepada-Ku dengan mengerjakan berbagai amalan sunnah sampai Aku mencintai-Nya”.

Allahu  a’lam
Sumber : Kayfa Yubibbukallah Dar Al-Iman Wa Al-Hayah,  Fauzi  Muhammad Abu Zayd
Dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar