Kamis, 03 Mei 2012

Ujian (musibah) adalah karunia

Rasulullah SAW bersabda, yg artinya, “ Apabila Allah mencintai seorang hamba , mk Allah pasti mengujinya. Mengapa? Apabila ia ridha mk Allah memilihnya, sedangkan apabila ia bersabar mk Allah juga memilihnya”. (Syu’abul Iman lil Baihaqi, dari Ibn Mas’ud).  Fauzi Muhammad Abu Zayd dalam Kayfa Yuhibbukallah Dar Al-Iman Wa Al-Hayyah berkata barangsiapa yg menginginkan karunia tanpa mau menjalani ujian , mk itu adalah keinginan yg mustahil. Mengapa? Karena Allah tidak meridhai hal itu untuk para rasul dan nabi-Nya, padahal mereka adalah makhluk yg paling mulia.
Hanya ada dua sikap bagi hamba beriman dlm menghadapi ujian Allah. Ridha atau sabar. Barang siapa yg menghadapi ujian Allah dgn ridha mk hasilnya adalah Allah akan memilihnya dan menjadikannya sebagai salah satu diantara hamba-hamba-Nya yg terpilih dan terseleksi.


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia;  sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. Al-Hajj : 75)

Ridha ini dimaksudkan adalah memandang bahwa semua tindakan ini berasal dari Rabb nya sehingga ia menyerahkan segala urusannya kepada Rabb nya. Hamba itu tidak mengalami kegalauan diri dengan apa yang diputuskan Rabb nya. Janganlah menghadapi ujian dengan kekesalan, perasaan yang sempit , gelisah dengan apa yang Allah tetapkan.

Ridha disini bukan membiarkan ujian itu terjadi tanpa menolaknya, tetapi hamba itu harus berupaya menolaknya sekuat tenaga. Namun apabila pada akhirnya ia mendapati bahwa dirinya tidak mampu menolak musibah itu maka hendaklah ia mau menyadari bahwa dirinya tidak mampu menolak musibah , dan menyadari bahwa ini adalah kehendak Allah. Lantas selanjutnya ia harus mau ridha kepada Allah. Selanjutnya ia beramal sesuai dengan perintah Allah dan rasul-Nya. Berserah diri kepada ketetapan Allah, terkandung kabaikan dari segala kebaikan.

Kenapa demikian? Karena Allah telah memilihnya , sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi SAW. Apabila seorang hamba tidak sanggup memaksa dirinya untuk menempati posisi ridha maka ia harus mau bersabar.

Sabar dalam hal ini berarti menghadapi ujian Allah dengan sedih, namun ia tidak berkeluh kesah dan tidak menggerutu, tidak mengatakan ucapan apapun yang menjadikan Allah murka dan tidak melakukan perbuatan apapun yang menjadikan Allah marah.
Allah berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
 “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, “  (Qs. al Baqarah :155).

Saudaraku, rahasia ujian diberikan kepada para Rasul, para nabi, orang-orang shalih, para syuhada , hamba-hamba yang beriman , hanyalah untuk mengangkat derajat dan menambah tinggi kedudukan mereka atau minimal untuk menambah pahal mereka atau paling tidak untuk membersihkannya dari dosa-dosa yang mengakibatkan pelakunya layak menanggung siksa.

Saudarku, apabila seorang hamba termasuk kalangan orang yang lemah, tidak kuat menahan dirinya dari berbuat dosa, maka Allah mengujinya untuk membersihkan dari dosa-dosanya, sehingga hal itu bukan malapetaka baginya.

Apabila seorang hamba  termasuk lemah dalam hal ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla , maka Allah akan mengujinya , untuk menambah pahala untuk hamba itu.

Apabila seorang hamba itu adalah orang yang sebenarnya bisa mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan luhur , namun  ia tidak pempunyai motivasi untuk mencapai derajat dan kedudukan itu, maka Allah mengujinya dalam rangka menaikkannya ke derajat atau ke kedudukan itu.

Saudaraku, rahasia yang lain dari sekian banyak rahasia ujian Allah , adalah bahwa allah menghendaki hamba-Nya untuk tidak tersibukkan oleh apapun kecuali kepada Allah. Apabila hati seorang hamba cenderung kearah lain, maka Allah menimpakan ujian terhadapnya agar ia mau kembali kepada Allah dan agar ia mau berdoa ,” Wahai Rabb ku , singkirkanlah petaka ini dariku atau mudahkanlah aku dalam menghadapinya”.  Dengan demikian maka hamba itu kembali kepada Allah, karena tiada yang dapat mengembalikannya kepada Allah kecuali bila petaka datang menerpa dalam kehidupan ini.

Sudah menjadi sifat manusia , manakala manusia diliputi dengan kenikmatan atau berkecukupan maka manusia akan cenderung bertindak melampui batas. Sebagaimana firman-Nya , yang artinya “, Sesungguhnya manusia itu melampui batas. Ia memandang bahwa dirinya telah cukup”. (Qs. Al - ’Alaq : 6-7).

Dalam ayat ini Allah menngisahkan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta lebih dar ncukup , mk sikapnya akan cenderung berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi mudah takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Inilah salah satu tugas yang berat  Rasulullah SAW sebagai  Rasul. Beliau  akan berhadapan dengan manusia, dimana manusia itu pada umumnya mempunyai suatu sifat yang buruk. Yaitu kalau dia merasa dirinya telah berkecukupan, telah menjadi orang kaya dengan harta-benda, atau berkecukupan ,  dihormati orang, disegani dan dituakan dalam masyarakat. Lantaran itu ia tidak merasa perlu lagi menerima nasihat dan pengajaran dari orang lain. Dan harta bendanya yang berlebih itu tidak lagi dipergunakannya untuk pekerjaan yang bermanfaat.

Saudaraku, sering kita berargumen bahwa urusan dan pekerjaan telah menyibukkan kita sehingga menjadi alpa dari taat kepada Allah.  Maka alasan ini akan segaera terpatahkan , “siapakah yang lebih sibuk ? apakah kita ataukan Nabi Sulaiman ‘alaihisshalam yang menjadi raja, dengan segala urusan kerajaannya? 
Allah menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman, Allah menundukkan jin untuknya, Allah memberinya kerajaan besar yang tak pernah diberikan kepada seorangpun sebelum dan sesudahnya. Namun demikian , semua itu tidak menyibukkannya hingga lalai dan alpa kepada Allah sekejapun.

Saudaraku, jangan berprasangka yang tidak baik kepada Allah ketika sedang menghadapi ujian (musibah).  Kita harus menghadapkan diri kita kepada Allah, dan meyakini apa yang akan Allah perbuat kepada kita. Apakah pernah kita melihat orang yang menghadap kepada Allah lalu orang itu dibiarkan begitu saja ? janganlah berputus asa dari rahmat Allah.

Sebagaimana Allah berfirman , Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia pasti  memberi  jalan ke luar dan  memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”. (QS.At-Thalaq:2).

Semoga Allah memberkahi kita semua dan semoga Allah mencintai kita 
Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw, beliau bersabda , yang artinya  “ Jika Allah mencintai hamba-Nya, Allah memanggil Jibril. Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka cintailah si Fulan. Maka Jibrilpun mencintainya ( Si Fulan). Kemudian Jibril memanggil penduduk langit. “ Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan”, maka seluruh penduduk langitpun ikut mencintainya pula. Begitupun penerimaan penduduk bumi ”. ( HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam bishawab.
Sumber : Kayfa Yuhibbukallah Dar Al-Iman Wa Al-Hayyah (Fauzi Muhammad Abu Zayd)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar