Selasa, 10 April 2012

sabar thd kesenangan

Salah satu dari bentuk sabar adalah sabar atas cobaan dunia dan bencana zaman. Menyangkut hal ini, tak seorangpun yg luput darinya. Baik hamba beriman maupun tidak beriman , yang miskin atau pun yang kaya, penguasa ataupn rakyat biasa. Sebab hal ini merupakan sunatullah kehidupan dan manusia.Tidak ada seorangpun yang terbebas dari keresahan bathin, penyakit pisik, kehilangan-kerugian harta benda, gangguan orang, kesengseraan kehidupan dan peristiwa yg tiba-tiba terjadi yang tidak dapat diduga. Namun di  lain pihak ada tuntutan kesabaran seorang hamba ketika ia mendapatkan kesenangan , kemudahan , waktu luang  atau rizki yg melimpah. Lalu bagaimana kesabaran seorang hamba atas kesenangan dan rizki yg melimpah?


Sebagaimana, dalam firman-Nya , yang aartinya ,"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dn rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah yang mendapatkan petunjuk”. (QS : Al-Baqarah : 155-157)

Sabar terhadap Keinginan Nafsu
Ini merupakan salah satu medan kesabaran, yaitu sabar dari keinginan nafsu dan kecenderungan naluri, seperti kemewahan dunia, kesenangan dan pehiasannya yang selalu dicenderungi oleh hawa nafsu dan di dorong serta dihiasi oleh setan.

Pertama, apabila seseorang, sedang mendapatkan kemewahan dan kesenangan kehidupan dunia, maka sangat diperlukan kesabaran dari memperturutkan kesenangan dan kemewahan kehidupan dunia tersebut, sebab ini merupakan salah satu bentuk lain dari ibtila( cobaan) , cobaan dengan kesenangan dan kemewahan, bukan dengan kesedihan dan kemiskinan .

Firman Allah Ta’ala, yang artinya ," Kami akan menguji kamu dengna keburukan dan kebaikan sebagai cobaan”. (QS : Al-Ambiya : 35)

Firman Allah Ta’ala, yang artinya ," Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata : Rabbku telah memuliakanku. Tetapi bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizki , maka dia berkata : “Rabbku menghinakanku”. (QS : Al-Fajr : 15-16).

Sungguh , Allah menjadikan kesenangan dan kemewahan sebagai ibtila (cobaan) seperti halnya kemiskinan dan kemewahan.

Setiap mukmin memerlukan kesabaran dari kesenangan dunia, agar tidak terlepas nafsunya mengikuti syahwat, syahwat kepada wanita, anak, kemewahan, kedudukan, dan seb againya. Sebab jjika dia idak dapat mengendalikan nafsunya maka ;pasti akan terseret kepada sikap sombong, menolak kebenaran dan melampui batas.
Oleh karena itu, sebagian kaum bijak bestari mengatakan, bala (cobaan) itu masih bisa disabari oleh setiap Mukmin, tetapi kesenangan itu jarang sekali dapat disabari kecuali oleh orang yagn mempunyai tingkat shiddiq.

Bahkan dikatakan, sabar terhadap kesenangan itu lebih berat daripada sabar terhadap bala (kesengsaraan). Ketika pintu-pintu dunia dibubakan kepada para sahabat, sebagian mereka berkata, “Kami sudah dicoba dengan kesengsaraan lalu kami-pun bersabar, tetapi ketika kami dicoba dengna kesenangan dan kemewahan, maka kami tidak dapat bersabar”.

Sabar dalam kesenangan dalam banyak kondisi justru lebih berat daripada sabar dalam kesusahan, Orang yang susah, tidak memiliki makanan di malam yang dingin tentu akan lebih bersabar dan mendekatkan diri pada-Nya jika dibandingkan dengan orang yang lapar dan didepanya terhidang berlimpah rejeki dan makanan mahal  dst.

Imam al-Gazali berkata, “Sabar terhadap kesenangan itu lebih berat , karena disertai adanya kemampuan. Orang yang lapar ketika tidak ada makanan, lebih dapat bersabar ketimbang ketika terhidang dihadapannya makanan-makanan lezat dan mampu melakukannya. Oleh karena itu, cobaan kesenangan lebih berat”.

Allah memperingatkan hamba-Nya dari cobaan harta, anak, istri, dan semua kesenangan duna, seperti dalam firman-Nya, yang artinya ," Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)”. QS : At-Taghabun : 15).

Sabar seharusnya diterapkan bukan hanya pada saat dilanda kesusahan (musibah) , namun kita  seharusnya juga sabar ketika berada dalam kesenangan, ketika Allah melimpahkan nikmat-Nya kita rasakan itu sebagai suatu kebaikan dari-Nya dan manakala Allah memberi kita cobaan seharusnyalah kita mengambil hikmah dari cobaan yang telah Allah berikan.

Saudaraku ,  dalam hadist Nabi di tegaskan bahwa musibah itu merupakan indikator kecintaan Allah kepada hambanya (“ Sesungguhnya apabila Allah mencintai seseorang hamba maka Dia tenggelamkan hamba tersebut kedalam cobaan, Barang siapa yang tidak pernah mengalami musibah, maka ia jauh dari kasih sayang Allah”). Bukankah dengan musibah itu berarti Allah memberikan peluang kepada kita untuk memperoleh ampunan-Nya.

Semoga kita mendapat keberkahan dan kekuatan dari Allah untuk dapat  bersabar dari  cobaan, baik itu berupa kesenangan maupun kesulitan yang dihadapinya.

Wallahu’alam.
Sumber : Sheikh Yusuf al-Qardawi , Eramulsim.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar