Selasa, 11 Desember 2012

Yang Terberat dalam Hidup


Barangkali  kita ini  terlalu banyak berpikir. Kalau bisa mereduksi proses ini  dan mulai melaksanakannya , barangkali hidup  akan mengalir  jauh lebih lancar. Kita seringa mengeluh atau merasa diperlakukan tidak  adil .  Pekerjaan menumpuk,  mana yg harus dikerjakan lebih dulu , ada target waktu ini itu , wah pusing.  Dalam Opening the door of your heart (Ajahn Brahm),  diulas bhw setiap manusia juga mengalami hal ini walaupun dlm bentuk/ dimensi yg berbeda. Ia berkata , “Memikirkannya, jauh lebih berat daripada mengerjakannya,”  Bagian terberat dari segala sesuatu dalam hidup adalah… memikirkannya. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Apa yg ada saat ini adalah hasil dari yg kita pikirkan sebelumnya.  Bila seseorang mengedepankan pemikiran positif (husnuzh zhann), maka tindakan positif akan dilakukanya, sebaliknya bila ia menyikapi suatu peristiwa dgn pikiran negatif, maka perilaku negatif pula akan dikerjakannya.
Manusia  memang suka berprasangka negatif, sebagaimana Firman-Nya , yg artinya ,” ... dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.. “, (Qs. Al-Ahzab : 10).

Ibrahim Elfiky  dalam Quwwat el-Tafkir ,menyatakan bahwa
1.  persepsi merupakan awal menuju perubahan dan perubahan adalah awal kemajuan.
2.  menyatakan bahwa kenyataan adalah persepsi anda. Jika anda ingin mengubah kenyataan hidup anda , maka mulailah dengan mengubah persepsi anda.

Ulama Imam Hasan Bashri,menyatakan bahwa manusia akan sama saja ketika sama-sama dilimpahi nikmat, namun ketika ujian datang menimpa, saat itulah akan terjadi perbedaan.

Apa yang anda pikirkan ,anda akan percaya
Apa yang anda percaya , anda akan bertindak
Apa yang anda lakukan, maka anda akan hidup dengannya.

Syaikh Muhammad Muttawalli Al Sya’rawi ( Allah wal al-Nafs al-Basyariyyah ),  menyatakan bahwa anda tidak akan mampu menyelesaikan masalah dengan pikiran (prasangka) . Sebab sebenranya pikiran itu sendiri  penyebab masalah itu. Untuk menyelesaikannya , anda harus mencoba mulai mengerjakannya.

Dr.  Musa Rasyid El Bahdal  dalam Su'ud Bila Hudud , jadi sumber masalah ada dalam sikap, pikiran, jiwa dan cara pandang seseorang terhadap kehidupan ini. Apakah kita memandang kegelapan atau matahari cerah yang Allah perintahkan untuk menyinari kita. Dengan demikian kita akan keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari penderitaan menuju pencerahan dan rasa percaya diri dalam mengahadi permasalahan.

Salah satu cara untuk mengubah pola pikiran adalah dengan mengubah persepsi terhadap suatu hal yang terjadi. Dengan melatih diri untuk mengedalikan persepsi, maka akan tumbuh pemikiran bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti ada sisi baiknya, dan menjadikan setiap kejadian yang menimpa sebagai sarana untuk instropeksi diri.

Seorang pakar psikologi, William James, menyatakan bahwa hidupmu adalah budak dari pemikiranmu, dimana keputusan seseorang untuk mengambil suatu tindakan adalah hasil dari persepsinya tentang suatu peristiwa.

Kita cendrung memikirkan situasi yang sedang terjadi, dalam realitas,serta apa yang menyebabkan terjadinya situasi itu. Apabila kita jujur menghadapi fakta bahwa kita menciptakan keadaan kita, maka dengan mudah kita bisa menciptakan keadaan yang kita inginkan.

Kita sering persepsikan bahwa dunia (lingkungan kita) terkesan tidak adil dan kasar kepada kita, namun sebenarnya itu tidak perlu berpengaruh . Kita bisa bebas, bisa tidur nyenyak. Tak perlu terusik oleh oleh kejadian- kejadian sekitar. Anda tak perlu melakukan hal yang tidak ingin anda lakukan, anda tak perlu hidup dalam rasa frustasi atau konflik.

Apakah ini bisa atau hanya teori belaka ?
Jika kita berpikir demikian,maka itulah kesalahan awal kita. Apabila seorang hamba berpikir demikian, maka ia berpikir negatif dan akhirnya dia pun hanya akan berpikir dengan cara seperti itu.

Firman-Nya “ Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran ,” (Qs. Yunus : 36)  

Firman Allah, yang artinya ,” barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menyediakan jalan keluar untuknya . Dan memberinya rizki dari jalan yang tiada terduga “, (Qs. Al-Tahalaq : 2-3).

Semua yang terjadi diluar (kita) adalah serupa dengan yang terjadi di dalam diri kita yaitu pikiran dan perasaanya (Charles Brodie Patterson).

Ibrahim Elfiky dalam Quwwat a-Tafkir, bmenceritakan tentang makna  persepsi dalam sudut pandang yang berbeda.

Diceritakan bahwa seorang geolog berkebangsaan Jepang,  Profesor Yuka, berangkat ke South African bersama dengan beberapa ilmuwan lainnya. Mereka melakukan semacam eksplorasi atau penelitian kandungan emas atau batuan mineralmulai lainnya.  Mereka bekerja mulai pagi hari hingga  malam. Selama sekian  hari penelitian ,mereka belum menemukan tanda-tanda keberhasilan,akhirnya mereaka merasa lelah dan frustasi.

Akhirnya ketika hari masih sore, mereka putuskan untuk kembali ke camp. Dalam perjaslan pulang, Yuka bertemu dengan seorang bocah pribumi  sekitar  10 tahun. Bocah itu sedang bermain dengan sebongkah batu ditangannya, sebongkah batu yang berkilau kena sinar matahari.

Yuka mendekatinya, dan menanyakan apa yang dipegangnya. Sang bocah menjawab, ‘ tidak tahu tuan, aku menemukan batu-batu ini di tepi pantai sana,’.

Yuka mencoba untuk membeli batu itu, dan si bocah tidak keberatan.

‘Berapa uang yang kau minta ? tanya yuka.
‘Entahlah, terserahlah tuan, emm apa tuan punya sesuatu yang lain ?’ kata si bocah.
‘Ya, aku punya beberapa kue dan biskuit, apa engkau mau menerimany sebagai tambahan imbalan ?’ kata Yuka
‘Okelah tuan’, kata si bocah.

Yuka segera kembali ke camp. Dikamarnya ia mencoba untuk meneliti batu itu. Karena tidak yakin dengan pennelitiannya, ia menelitinya hingga puluhan kali. Akhirnya ia berkesimpulan, bahwa batu itu adalah mineral emas murni yang bernilai jutaan dollar.
Yuka berkata, dalam hati, ‘ andai saja bocah itu mengetahui nilai batu ini, ia tentu tidak mau menukarnya dengan harga semurah itu’.

Kisah ini adalah salah satu contoh tentang persepsi . Kisah ini bisa diibaratkan sebagai seorang hamba yang tidakmenyadari potensi yang ada pada dirinya yang luar biasa sebagai augerah Allah. Selama ini kita seringkali mengeluh, menyalahkan orang lain, membandingkan kesialan diri kita dengan keberhasilan orang lain , ini sama artinya membiarkan diri kita tertipu oleh sesuatu yang sangat murah,sebagaimana cerita bocah tadi.

Saudaraku, jika anda berpikir positif, maka hal-hal yang positif akan mendatangi anda,dan kesulitan-kesulitan akan manjadi lebih ringan. Begitu sebaliknya. Ini adalah sunnatullah, hukum alam, hukum universal .

seorang pakar psikologi, Anthony Robbins bahwa sebanrany, bukan peristiwa-peristiwa kehidupan yang membentuk kepribadian anda, namun keyakinan terhadap makna dari suatu peristiwa. Tidak mudah memang mengubah pola pikira , namun usaha ini akan sebanding dengan hasil yang akan kita petik.

Ya begitulah, sebuah persepsi ataupun  interpretasi umumnya berawal dari sebuah keyakinan. Ada yang menyatakan cinta itu nikmat ,namun ada yang menyatakan sebagai penderitaan. Untuk itu jagalah pikiran-pikiran dan keyakinan terhadap suatu peristiwa, karena disitulah awal dari persepsi atau tindakan kita.

Tengoklah suatu ungkapan umum di masyarakat, bahwa ‘yang kaya makin kaya, dan yang miskin semakin miskin’. Pepatah ini seolah sudah merasuk didalam hati dan ikiran masyarakat kita. Dan ini menjelaskan kepada kita mengapa hal ini sering benar-benar terjadi dalam kehidupan keseharian.

Orang kaya makin kaya, sebab pikiran mereka selalu dipenuhi oleh kekayaan yang dimiliki. Terlebih jika orang itu sering bersyukur atas nikmat itu, maka secara hukum daya tarik mmenarik ia akan semakin kaya. Sedangkan orang miskin , diperparah dengan pikirannya yang dipenuhi dengan hal-hal yang tidak dimilikinya, dengan kata lain perasaan miskin memenuhi pikirannya (hatinya).

Saudaraku, mari kita telusuri apa yang membuat kita berpikiran negatif, selanjutnya perbaiki diri dan kembali berusaha maju. Berhentilah mengeluh dan menyesali,  karena ini akan menghabiskan waktu dan energi diri. Kita teriama apa yang telah terjadi. Selanjutnya fokus pada apa yang dapat kit amulai kerjakan . Catatlah hal-hal positif yang ada dalah keseharian kita. Dengan begitu kita mulai belajar bersyukur dan melihat setiap kejadian sebagai anugerah yang wajib kita syukuri.

Kata seorang bijaksana bahwa : Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.

Sumber : Opening the door of your heart (Ajahn Brahm),  Dr.  Musa Rasyid El Bahdal  ( Su'ud Bila Hudud) , Syaikh Muhammad Muttawalli Al Sya’rawi ( Allah wal al-Nafs al-Basyariyyah ), Ibrahim Elfiky  (Quwwat el-Tafkir ) , dll

1 komentar: